KREATIVITAS DARI RUMAH :

Jurus Estetik Dosen ISBI Melawan COVID 19

| dilihat 744

Catatan Bang Sém

Tari bukan sekadar produk seni - yang belakangan di kelompokkan menjadi seni pertunjukan, karena tarian, kata Martha Graham adalah bahasa jiwa yang tersembunyi.

Ada dimensi kemanusiaan yang tersembunyi di balik gerak dan ekspresi yang didesain seorang koreografer. Keselarasannya menjadi semakin hidup, ketika musik yang melatarinya mengekspresikan bahasa jiwa itu melalui bunyi dan ritme.

Itu sebabnya, filosof eksistensialisme, Friedrich Nietzsche, mewawar, "Setiap hari, kita harus mempertimbangkan ada sesuatu yang 'hilang.' ketika kita  belum menari setidaknya sekali."

Ketika musik ritmik berkembang dan budaya pop menguasai dynamic sense - dinamika rasa manusia -- secara personal dan sosial, tarian bisa beradaptasi dengan ragam ekspresi budaya lainnya. Termasuk senam kebugaran, bahkan jurus-jurus dasar silat.

Karena merupakan bahasa jiwa yang tersembunyi, menurut Endang Caturwati - Guru Besar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) - Bandung, dalam siaran Salam Radio - streaming (Rabu, 15/04/20), tarian pun merupakan medium ekspresi kontemplatif spiritual. Eksplorasi rasa yang menggerakkan nalar (think), naluri (think), rasa (sense), dan dria (feel). Terutama untuk menghidupkan optimisme dan memberi makna atas suwung, sehingga manusia tak terseret menjadi hanya cangkang jasmaniah. Terutama ketika menghadapi musibah yang menekan secara psikis dan psikologis.

ISBI Bandung yang dipimpin penari, Een Herdiani memanifestasikan aneka pemikiran ini, dan menghadirkan aksi kreatif para pensyarah (dosen) tari berkolaborasi dengan pensyarah musik yang juga komposer. Dua Guru Besar (Endang Caturwati dan Anis Sujana) - terlibat berekspresi, selain Een Herdiani sendiri, Edi Mulyana dan Alfiyanto (eksekutor program).

Saya tahu video ini secara tak sengaja, ketika melihat saluran YouTube (Ahad, 19/04/20).

Gagasan dan eksekusi kreatifnya keren, seperti yang saya serap esensi dan substansinya dari video bertajuk Munajat Tubuh - Kami Menari "Di Rumah Saja" ini. Masing-masing penampil, menghadirkan ciri dan karakternya masing-masing, dan serius.

Kreativitas masing-masing penampil juga pantas dipujikan. Een menggunakan daun talas hutan sebagai properti sekaligus mengeksplorasi tiang gazebo sebagai core property. Endang mengeksplorasi setelempap ruang -- pause space -- tangga rumahnya sebagai pentas eksplorasinya, dengan memanfaatkan topeng kertas dan topeng kayu sebagai medium ekspresi sekaligus katarsisnya.

Anis memanfaatkan ruang yang terkesan sebagai 'mini teater arena' dengan minimal properti dan memanfaatkan wardrop - selendang tiga warna. Pun demikian dengan Edi Mulyana dengan pola eksploitasi wardrop untuk simbolisma multi fungsi. Alfiyanto mengekspresikan totalitasnya memanfaatkan hujan dengan kostum dan pola gerak a la para Darwis dari ordo Mevlevi - salah satu aliran Sufi yang berkembang dalam budaya Persia, menjejak elaborasi intelektualitas dan spiritualitas a la Jalaluddin Rumy.

Masing-masing penampil memberi aksentuasi identitas dan dengan karakternya masing-masing.menelangkai sinergi estetis.

Een yang nampak 'jagjag' menyampaikan pesan 'perlawanan langsung' dengan pola pertahanan (imunitas) atas serangan nanomonster COVID-19. Pemanfaatan daun talas hutan sebagai properti, keren. Saya menangkap, dari seluruh gerak tarian Een, tersampaikan pesan pertahanan diri dan reaksi untuk memutus mata rantai virus corona COVID-19. Sapu lidi yang dihentakkan dengan gerak 'menggebah' berulangkali, saya serap sebagai pesar gerakan serempak dan serentak melawan petaka, menumpas virus. Proksimitas gerak tubuh pada tiang bambu gazebo, menggambarkan perjuangan ketat para petugas kesehatan di garis depan perlawanan. Een memanfaatkan ruang 'dalam' dan ruang 'luar' manusia sebagai ruang resonansi pesan yang hendak disampaikannya.

Endang lebih soft dengan eksplorasi inner energi, menampakkan dimensi kedalaman manusia  yang lebih berorientasi pada depth catarsis. Properti sapu lidi di awal tarian disusul dengan eksploitasi kertas putih dan kain putih yang digebah-gebah, lalu dihempaskan, menyampaikan pesan moral tentang kesadaran untuk melakukan introspeksi diri, sekaligus melakukan aksi distansi fisik dan sosial, serta penyucian diri menemukan hakikat bersih lahir batin, sekaligus mengisyaratkan penyadaran pertobatan insaniah. Endang, lewat tariannya memberi kesan spiritual, bahwa petaka COVID-19 merupakan dampak kausa dari kelakukan manusia juga yang inkonsisten antara ucap - lampah dan tindakan dalam kehidupan nyata. Topeng kertas yang dihempaskan menyimpan simbolisma kemunafikan manusia. Pada tarian Endang, pesan kesadaran spiritual lebih dominan. Khasnya, ketika ia mengenakan topeng panji sebagai simbolisma dialektik penyerahan diri kepada Allah Maha Kuasa.

Anies Sujana memilih pola ritual yang biasa ditemukan dalam tradisi tolak bala, dengan model ritus yang hidup dalam tradisi masyarakat kita. Anis menyampaikan pesan mengusir petaka COVID-19 dengan simbolitas sapu lidi, yang kerap digambarkan sebagai kendaraan peri, Lantas 'mengirim' pesan tentang perlunya pertahanan di dalam diri secara ruhaniah untuk menghidupkan daya luwih yang dimiliki bangsa ini dalam menghadapi petaka. Ekspresinya memindahkan impresi kepada khalayak, merupakan pesan khas, untuk mengingatkan, bahwa kita tak perlu "kapengpeyongan" menghadapi serangan virus ini, sekaligus juga harus waspada dan berhati-hati. Perlawanan terhadap serangan virus, yang tersimbolisasi dalam gerakan tarinya adalah keseimbangan perlawanan kolektif,

Edi Mulyana dengan gerak minimalis terkesan mengeksplorasi pesan leluhur Sunda : ulah ugut ka linduan, ulah geudag kaanginan. Tak perlu panik menghadapi situasi, tapi tidak juga 'menantang-nantang.' Edi, satu-satunya penampil dalam video ini yang mengisyaratkan perlunya mematuhi pembatasan sosial dari skala personal ke skala besar. Perlawanan menghadapi COVID-19 dari gerakan minimalisnya, secara ilustratif saya serap, seolah menyerukan, "berkontribusilah dengan stay at home," -- atau ngajedog di imah, untuk mereka yang tetap ngotot (bedegong) keluyuran saja.

Alfianto mengawinkan gerak a la para darwis dengan gerak olah tubuh dalam beberapa pola yang biasa dikenali lewat tarian tradisional maupun silat. Padupadan pola gerak yang dieksplorasi secaras integral, itu   mampu memadu-padan pesan tentang pertahanan dan ketahanan diri menghadapi serangan COVID-19. Gerak stilatif dan distorsif yang diposisikan secara proporsional, dengan memanfaatkan guyuran hujan dan ruang outdoor, sungguh ekspressif. Alfianto menunjukkan totalitasnya menggarap program ini. Gerak murni dan gerak maknawi dalam penampilannya dengan kostum minimalis, dan disajikan di dalam 'pagar halaman,' juga mengajak siapa saja yang melihat video itu untuk mengikuti alur dan aturan pembatasan sosial sebagai salah satu cara melawan COVID-19.

Yang menarik buat saya adalah semua penampil menunjukkan posisi pengalaman empiris, ilmu, dan pengetahuannya. Semuanya menyajikan beragam cara eksplorasi dan kemampuan mengelola manajemen gerak. Mulai dari gerak ekspresif, imitatif, yang mengeksplotasi emosi dan rasa, dinamika - ritme, juga gerak ilutif sebagai rekayasa gerak dari gerakan murni menjadi gerakan simbolis dan maknawi, tetapi tetap menjaga nilai artistik dan estetis. Para penampil juga memperlihatkan kemampuan mengelola ruang, properti, dan wardrop (kostum) sesuai dengan konsep estetiknya masing-masing. Pun, dimensi etik, sebagai suatu tarian spontan untuk kepentingan mendukung upaya kolektif perlawanan serempak atas nanomonster yang sudah memakan ratusan nyawa dan masih menyiksa ratusan orang yang terpapar.

Seperti ungkapan populer Jalaluddin Rumy, "Menarilah, saat kalian lasak. Menarilah, jika kalian telah merobek perbannya. Menarilah di tengah pertempuran. Menarilah dengan darahmu. Menarilah ketika kalian (sungguh, ingin) benar-benar bebas."

Saya mengapresiasi inisiatif dan aksi ISBI dan penampilan seluruh penari - pensyarahnya. Seperti ketika menonton suatu tarian tematik secara langsung, saya bisa memahami tuah Isadora Duncan. Bahwa menari, perlu bertahun-tahun perjuangan, kerja keras, dan penelitian untuk belajar membuat satu gerakan sederhana. Duncan juga menyebut, menari itu seperti menulis. Dia katakan, "Saya cukup tahu tentang seni menulis untuk menyadari bahwa perlu bertahun-tahun upaya terkonsentrasi untuk menulis satu kalimat sederhana dan indah."

Selebihnya, "Munajat Tubuh," memberi makna tersendiri, bahwa dalam situasi darurat sosial, seniman berjuang dengan menemukan inspirasi secara terpisah. Sebagai tampilan para pensyarah, saya ingin mengatakan statemen popular para peneliti kreativitas seni, bahwa tarian (seminimalis apapun gerakannya) merupakan bentuk seni, di mana gerakan manusia menjadi media untuk merasakan, memahami, dan mengkomunikasikan ide, perasaan, dan pengalamannya.

Tari memiliki konten, kosa kata, keterampilan, dan tekniknya sendiri, yang harus dipahami dan diterapkan untuk menjadi mahir dalam bidang ini. Elemen-elemen tarian adalah konsep dasar dan kosakata untuk mengembangkan keterampilan gerakan serta memahami tarian sebagai bentuk seni. Semua elemen ini secara bersamaan hadir dalam tarian atau bahkan dalam frasa gerakan pendek (Claudio, 2003).

Komposisi musik yang digarap Suhendi Afrianto, mampu mengharmonisasi fanfare dan integrated composition musik tradisi dan techno-sound, sungguh keren, menarik perhatian dan sangat menghormati telinga. Ritmenya dinamis dengan sentuhan flute dan suling yang membawa reviewer ikut masuk ke dalam komposisi musikal dan gerakan penari. Sekaligus membawa perlawanan artistik dan estetik memelihara renjana dan optimisme memenangkan perlawanan atas nanomonster COVID-19.

Satu-satunya yang saya sayangkan, ketika menyimak video ini adalah video editing, yang mengabaikan medium dan platform, untuk siapa video ini dibuat dan pada platform mana hendak dibrodkas. Sebagai sesama praktisi dan pemandu proses desain kreatif, produksi dan brodkas, saya melihat semua hasrat dan pemikiran diikat dalam flatten multi layers, ke dalam satu frame dengan black background. Padahal, melihat kualitas materinya, bisa menggunakan pendekatan one content one focus, sehingga setiap tampilan kreatif para dosen ini bisa menjadi media pembelajaran untuk mahasiswa. Terutama, karena masing-masing penampil, mempunyai karakter dan kepiawaian khasnya sendiri.

Dengan pola jumping visual dalam satu frame, seperti tampilan untuk kuliah daring atau teleconference, menyulitkan viewer menikmati konten yang bagus. Untuk menuliskan artikel ini, saya perlu melakukan replay berulang kali. Karena konten setiap penampil berpindah posisi, tanpa menimbang contact per person untuk medium flat screen seperti Youtube, hanya mengandalkan dua bola mata.

Bila direedit sesuai dengan medium dan platformnya yang pas, dengan perbaikan pada pilihan font character and size, sebagai sajian institusi dengan logo dan nama ISBI, video ini akan keren dan berdaya penetratif hipodermis. Video eksploratif, penting bagi ISBI untuk menghadirkan performa kompetensi profesionalnya sebagai institusi pendidikan tinggi seni dan budaya. ISBI bisa! Tabek |

Editor : Web Administrator | Sumber : video ISBI - Youtube
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 419
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 413
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 365
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Budaya
20 Jul 20, 00:16 WIB | Dilihat : 273
Dimensi Kata di Tangan Sapardi Djoko Damono
06 Jul 20, 09:30 WIB | Dilihat : 389
Puisi, Pandemi dan Kisruh Logika Publik
Selanjutnya