Dari Aktivis Anti Korupsi sampai Penasehat PM Australia Bergembira

Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018

| dilihat 367

Catatan Bang Sem

BANYAK hal menarik yang tak nampak di permukaan, kemudian berkembang menjadi rekacerita alias laporan imajinatif yang mengemuka di beberapa media, seputar pergelaran Jakarta Melayu Festival (JMF) 2018, yang digelar di pantai Ancol Beach City, Sabtu : 27 Oktober 2018, malam.

Menggelikan memang. Tapi, itulah hebatnya JMF, yang kali ini sudah tahun kedelapan penyelenggaraannya.

Beberapa media, dari yang kelas abal-abal sampai media mainstream menulis dengan sudut pandangnya masing-masing.

Beberapa stasiun televisi meliput kegiatan ini, lantaran kehadiran Sandiaga Salahuddin Uno (SSU) yang kebetulan sedang digadang-gadang sebagai Calon Wakil Presiden, bersama Calon Presiden Prabowo Subianto.

Sore hari, ketika sedang berlangsung general rehearsal untuk memastikan proses berlangsung sesuai rundown dan waktu, datang tim dari Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu 2018) Provinsi DKI Jakarta dan Kota Adminsitratif Jakarta Utara.

Mereka mengkonfirmasi laporan yang dikirim entah siapa ke Bawaslu DKI Jakarta. Tentu, isinya kabar wadul alias kabar bohong, seolah-olah JMF digelar atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk kampanye SSU.

Lumayan lama mereka konfirmasi. Geisz Chalifah dan saya sedang mereview rundown pergelaran untuk merespon psychoritme penonton dan antisipasi respon dan aksi bila hujan turun saat pergelaran sedang berlangsung (karena berformat one topic show), sekaligus memastikan slot para penyanyi dan musisi. Untuk menghormati tamu, kami mengalihkan dulu fokus pembahasan, padahal sepasang abang dan none Jakarta yang akan memandu acara, musti segera bersiap, mengganti wardrop dan make up.

Kami menjelaskan, JMF sudah berlangsung 8 (delapan) tahun, jauh ketika Anies masih sesosok intelektual muda, sampai kemudian dia menjadi Rektor Universitas Paramadina, Juru Bicara Jokowi - JK pada Pilpres 2014, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sampai kemudian terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya JMF diselenggarakan dalam konsep indoor, pada tema Malam Berpagar Bintang (2012) di Crowne Plaza Hotel, Bidakara Ball Room (2013), Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki (2014), Café di Sultan (Hilton) Hotel (2015), Ancol Beach City (2016,2017,2018).

Anies Baswedan, selalu hadir dalam pergelaran JMF. Kali ini, pada JMF ke 8, Anies yang sedianya hadir, tak hadir, karena sedang menuju ke Argentina menghadiri pertemuan para pemimpin kota besar negara-negara anggota G20 dalam Urban 20 Mayors Summit (U20). Sudah lumayan lama, acara itu tak dihadiri Gubernur DKI Jakarta, seperti sudah 4 (empat) tahun Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, hanya dihadiri Wakil Presiden RI.

Anies selaku salah satu inisiator dan pendukung Jakarta Melayu Festival (JMF) memang konsisten. Bersama Geisz Chalifah, Ferry Mursidan Baldan, Faisal Motik, saya dan para pengagas - pendukung JMF yang adalah mantan aktivis sejak dekade 70-an -- Anies konsisten mewujudkan tujuan JMF, terpeliharanya pengembangan budaya Melayu sebagai akar budaya Nusantara.  

Kami juga menjelaskan, konsep JMF yang memberi porsi sangat besar kepada musik dan tarian yang nyaris tanpa sambutan resmi. Termasuk momen pembukaan.

Hanya Geisz Chalifah selaku produser yang diberi peluang bicara untuk berterima kasih kepada seluruh pendukung, artis, musisi, panitia dan sponsor untuk bicara.

Karena sudah janji (dalam konferensi pers untuk hadir), Anies diberi kesempatan mengabarkan ketidak-hadirannya secara fisik di acara JMF2018. Dia bicara lewat videoscreen.

"Pak Sandi tidak berpidato?" tanya pimpinan Bawaslu DKI yang menemui kami.

"Tidak," jawab Geisz. "Kami malah minta tolong Anda, nanti naik ke panggung untuk membacakan Sumpah pemuda," ungkap Geisz.

"Waduh jangan kami.. Kami serahkan kepada panitia saja. Pak Sandi juga tidak apa-apa kalau hanya membaca sumpah pemuda," serunya spontan.

Geisz cukup sabar menjelaskan hal ihwal independensi JMF kepada unsur pimpinan dan petugas Bawaslu, dan kami memberi jaminan, tak ada atribut semua pasangan Capres / Cawapres.

Kami konsisten. Nong Niken Astri - salah seorang anggota panitia yang membacakan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, diikuti hadirin, antara lain : mantan komisioner KPK Adnan Pandu Praja, wartawan utama Asro Kamal Rokan, musikolog Indonesia (yang kerap keliling dunia) Frangky Raden, tamu dari Kantor Perdana Menteri Malaysia dan Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia, dan Penasehat urusan Agama Islam pada Kantor Perdana Menteri Australia. Dan, Sandiaga S. Uno yang mengenakan kaos JMF.

Sebagai sopan-santun, tentu kami undang Direksi dan Komisaris PT Pembangunan Jaya dan Ancol. Pun para utusan sponsor. Juga terlihat Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI, Hanifah Husein; Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana KAHMI - Antony Hilman; Chairman dan Chief Officer Perkumpulan UMA (Usaha Memajukan Anakbangsa) Sofhian Mile dan Tigor Sihite, Denny JA - LSI (Lembaga Survey Indonesia), aktivis perburuhan Bung Karmin Durin, dan berbagai kalangan lain. Termasuk para caleg beragam partai, pendukung Jokowi - Ma'ruf dan Prabowo - Sandi. Tak terkecuali para mantan petinggi negeri yang mencintai budaya Melayu.

Semua bergembira dan bahagia menikmati sajian musik, lagu, dan tari, dimulai dari penampilan Erie Suzan dengan lagu bertajuk Pemuda, Shena Marsiana memimpin para artis menyanyi bersama Indonesia Pusaka.

Sepasang Abang dan None Jakarta yang memandu acara, melantun pantun :

Joget dan zapin sungguhlah indah

Biduan Melayu disanjung puja

Kasih Budi berlalu sudah

Mari dendangkan lagu Seroja

Kebaya encim bukan kimono

Dipakai none tidaklah canggung

Selamat datang Bang Sandiaga Uno

Bersama Geisz Chalifah dan artis sila ke panggung

 

Sandiaga Uno dan beberapa tamu kehormatan -- tanpa satupun Direksi Ancol yang naik ke panggung -- menyanyikan bersama lagu Seroja, dan ikut berjoget, ketika Takaeda melantunkan lagu Arie Wibowo, Suka-Suka. Ketika itu hujan turun. Penonton menyingkir ke tenda di sekeliling arena.

Menakjubkan, sejumlah emak-emak bertahan dan malah terus berjoget di tempat berjoget depan panggung, sambil menggunakan banner JMF untuk menutup kepala mereka, sampai hujan reda.

Ketika itu, sejumlah reporter dan camera person beberapa stasiun televisi dari berbagai media, menghambur ke sudut panggung, mewawancarai Geisz dan Sandi. Seorang reporter televisi melontarkan pertanyaan, soal 'pengganti Wagub' kepada Sandi.

Geisz langsung memotong. "Maaf ya dik.. nanya tentang acara JMF aja. Ini moment pergelaran musik, yang happy-happy aja..." Sandi tak terpancing dan hanya bercerita tentang musik melayu yang disajikan JMF malam itu.

Begitu hujan reda, Sandi diantar Geisz turun panggung dan kemudian pergi. Pergelaran terus berlangsung, karena hujan juga reda.

Kehadiran Sandiaga Uno memang menjadi magnit. Sejak datang sampai pergi terlalu banyak emak-emak dan generasi milenial yang hendak mengabadikan, sekaligus mengambil momen welvi. Panitia agak kewalahan menghadapi, tapi akhirnya dapat mengatasi dengan -- terpaksa -- memasang pembatas, seketika.

Dihiasi gerimis dan spirit kebahagiaan, penonton yang sempat menyingkir -- umumnya yang sudah berusia 40 tahun ke atas -- kembali lagi ke arena. Mereka menikmati sajian Husein Alatas (Zakia), Fika Fabiola (Nirmala), Erie Suzan (Termenung - Ditinggal Pergi), Maxi (Cantik), Takaeda (Madu Tiga), Alfin Habib (Mak Inang Pulau Kampai), dan berbagai lagu lainnya.

Sepasang Abnon yang memandu acara, kembali berpantun :

Cantik sungguh anak Mak Inang

Di Madu Tiga Raja Di Laut

Lagu Nostalgia boleh dikenang

Lagu Melayu hati berpaut

Layu bunga sebelum kembang

Kisah nan lalu jangan kenangkan

Joget dan nyanyi sungguhlah riang

Kini Cockpit Band dipersilakan

 

Cockpit Band - bikin sejarah. Pengusung musik rock progressif ini memaku penonton sampai pertunjukan usai, sejak mereka buka dengan Salawat Nabi dalam beat yang rock dengan aransemen yang 'menggedor' kesadaran religi.

Kelompok musik rok Indonesia era 80-an ini melakukan feat dengan Maxi dengan aransemen yang konsisten pada progressive rock, kemudian menghadirkan lagu-lagu melayu karya almarhum Mashabi dengan tetap mempertahan beat dan ritme Melayu. Sajian yang khas dan tak pernah tersajikan sebelumnya. Selebihnya Cockpit menganggit nostalgia dengan lagu hit mereka dan salah satu lagu Genesis.

Pergelaran usai, ketika seluruh artis, musisi, penari, panitia, dan penonton sama berdendang lagu Tanjung Katung.

Bila JMF2017 terhipnotis oleh jam session Daniel Lerman, Henry Lamiri, dan Daud Debu. Kali ini, Cockpit Band memberikan sentuhan. Tahun 2019, JMF akan bernuansa lain, boleh jadi tak lagi Jakarta Melayu Festival, melainkan ASEAN Melayu Festival.

Pastinya, sejak digelar di Ancol, JMF tidak pernah digelar dalam format indoor, apalagi di Mall Ancol.

Penonton juga kian beragam dari beragam kalangan. Di tahun-tahun sebelumnya, penonton, antara lain para penggiat dan pecinta musik Melayu dan para mantan aktivis, dengan beragam profesi dan jabatan publik. Ada pimpinan DPR, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Anggota BPK, Komisioner KPK dan berbagai lembaga negara lainnya, pengusaha, eksekutif profesional, organisasi profesi, wartawan utama, brodkaster, komisaris dan direksi BUMN - BUMD, musisi, budayawan, politisi beragam partai, dan lainnya. Termasuk Duta Besar, dan lainnya.

Taufiqurrahman Ruki, Burzah Sarnubi, Fadli Zon, Ichsan Thalib, U Saefuddin Noer, Dato Seri Zahrain Hashim, Eros Djarot, Ibu Mien Uno, dan banyak tokoh lainnya, beberapa kali hadir di acara ini.  Penyelenggara JMF tak peduli dengan siapa dan apa orientasi politiknya, karena yang utama adalah "Melayu menyatukan negeri," yang menjadi tema sentral JMF2018.

Hujan, emak-emak dan generasi millenial merawat dan menyuburkan spirit budaya Melayu di pantai terbuka Ancol Beach City. |

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto dok JMF dan semhaesy
 
Budaya
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 262
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 368
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 281
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya