Cinta Tak Melukai

| dilihat 518

Alonza Ulana

BAGIAN KEDUA

 MEISJ memandang wajah Tyque yang merangkul bahu Jeehan. Mereka tertawa. Tyque melambaikan tangan, memanggil seorang pelayan. Dia memesan cappucino.

Ketika pandangannya saling bertatapan dengan Jeehan, Meisj bertanya. "Akak, mengapa perempuan lebih tertarik menjalin hubungan hanya dengan seorang lelaki saja?"

Jeehan tersenyum.

"Secara kodrati, kita, perempuan ini, empu. Tuhan hanya memberikan hak regeneratif hanya kepada kita. Itu sebabnya kita juga dipilih menjadi ibu. Hal ini membuat banyak perempuan cenderung merasa, dialah pemilih segalanya. Termasuk memiliki suami dan anak-anak yang dilahirkan," ungkap Jeehan.

"Dengan fungsi kodratinya sebagai ibu, perempuan punya kecenderungan menempatkan suami sebagai miliknya sendiri. Dia enggan berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi, ketika dalam pikirannya, yang ada dan menguasai seluruh sikapnya istilah belahan jiwa dalam pandangannya sendiri," sambung Jeehan.

Tyque berpandangan lain.

Dia lebih melihat, kecenderungan itu lebih banyak, karena pada ketertarikan dengan seorang lelaki, yang memimpin perempuan adalah ketidaksadaran. Termasuk ketidaksadaran, bahwa cinta itu tidak logis, datang dari jiwa.

"Dan jiwa tahu, satu atau dua hal dari empat instrumen yang diberikan Tuhan, think, instink, sense dan feel sangat pintar, pasti akan menolak keberbagian," ungkap Tyque.

"Saya bisa memahami, tidak salah dan tidak keliru, kan?" sambung Meisj.

"Sama sekali tidak," jawab Tyque. Jeehan tersenyum. Dia menggeser duduknya ke dekat Meisj, lalu memandangi wajah Meisj.

"Bagi perempuan, cukup hanya dirinya dan seorang lelaki, suaminya yang menjadi titik kecocokan dirinya. Lelaki diberikan sesuatu yang lain dan berbeda. Mereka ditakdirkan mempunyai kecocokan sebagai aksi lanjut ketertarikan dengan lebih dari satu perempuan. Itu sebabnya, kebolehan bagi lelaki untuk memilih perempuan sebagai isteri, hanya empat saja," jelas Jeehan.

"Maknanya, jodoh bagi perempuan dan lelaki, berbeda porsinya?" desak Meisj.

"Tidak mesti begitu. Perempuan bisa berjodoh dengan orang lain, apabila terjadi perceraian, baik karena kematian maupun karena hal lain?" jelas Jeehan.

"Meisj.. ketika kita merasakan energi besar di dalam diri kita yang mendorong kuat untuk memasuki hubungan dengan seseorang, meskipun kita tahu dia sudah menjalin hubungan orang lain, yakinlah, itulah jodoh," ujar Tyque, ikut bicara.

Ketiganya tertawa. Meisj menatap mata Tyque.

"Ada sesuatu di luar empirisma kita yang kita tidak tahu. Jodoh kita, misalnya.." sambung Tyque.

"Saya tahu Abang, suami Diaz. Saya tidak pernah membayangkan menjadi isteri dari abang. Saya terkejut ketika Diaz meminta kesediaan saya menjadi isteri abang. Saya perlu waktu berbulan-bulan meyakinkan diri saya," sambung Tyque.

"Saya berpikir, akankah saya nanti tidak melukai hati Diaz, bila Abang tak mampu berbuat adil. Saya yakin, Abang tak akan mampu berbuat adil. Tapi, ada sesuatu yang tak bisa saya jangkau dengan pikiran dan perasaan saya, sehingga saya menerima kenyataan menjadi isteri Abang," lanjut Tyque.

"Itulah yang saya rasakan ketika kakak Diaz, sœur Tyque, dan akak Jeehan, di hadapan Mak, mengikhlaskan Abang menjadi suami saya," sambung Meisj. "Samakah yang dirasakan akak?" tanya Meisj kepada Jeehan.

"Dalam banyak hal sama. Tapi, ada yang berbeda. Abang tidak pernah meminta saya menjadi isterinya. Abang hanya meminta saya meyakinkan kakak Diaz dan sœur Tyque tentang hijab dalam keseluruhan konteks kepribadian seorang muslimah," ungkap Jeehan.

"Bagaimana akak mulai tertarik dengan abang?" tanya Meisj.

"Sejak awal berjumpa, ketika kami sering berdiskusi, saya sudah tertarik. Saya terpesona tidak dengan sosoknya, saya terpesona dengan pikiran-pikirannya yang tidak biasa," jawab Jeehan.

[BACA SEBELUMNYA : Tiga Isteri di Musim Semi]

Meisj mengangguk sambil tersenyum. "Itu juga yang saya alami," katanya.

"Saya perlu waktu dua tahun untuk sungguh terpesona dengan pikiran-pikirannya, terutama ketika dia meyakinkan saya tentang Islam sebagai jalan kehidupan terbaik," sela Tyque.

"Lalu bagaimana akak mau menerima menjadi isteri Abang?" sambung Meisj.

Jeehan menoleh ke Tyque, lalu tersenyum. "Dia ini dan kakak Diaz yang membuka ruang dalam pikiran dan hati saya untuk menerima Abang sebagai suami," cetusnya.

"Hanya itu?" tanya Meisj sambil mengajuk.

"Tidak. Kakak Diaz dan Tyque meminta saya, menemani mereka menjadi isteri Abang. Dan, Abang langsung berjumpa ayah saya di Isfahan, meminta saya sebagai isterinya, lalu menceritakan tentang kakak Diaz dan Tyque sebagai isteri-isterinya terdahulu. Ayah dan ibuku membebaskanku. Ada pertimbangan spiritual mereka yang tak pernah diceritakan kepadaku sampai kini," jelas Jeehan.

Tyque menyela. "Apa yang dilakukan Abang, nyaris tak banyak dilakukan lelaki lain. Menjelaskan siapa dirinya dan memberi ruang kepada siapapun untuk menilainya," kata Tyque.

"Masih ingat 'kan ketika kita bersedih karena terlambat mengetahui Diaz wafat? Dan Abang, serta anak-anak kita teguh dengan ajaran Islam, untuk segera memakamkan beliau," ujar Tyque.

Meisj bercerita, bagaimana Mak menangis ketika mendapat kabar wafatnya kakak Diaz. "Mak meminta saya segera berangkat ke Jakarta. Keesokan harinya ketika kita dan abang ke makam bersama anak-anak, kesedihan kita ikut bersamanya," sambung Meisj.

"Hari itu, di bawah matahari dan tanah makam yang masih gembur, aku merasa do'a yang dipandu Abang merupakan do'a yang tak pernah kita dengar sebelumnya," ujar Tyque.

"Yang dibaca Abang itu do'a cinta yang penuh. Do'a itu juga yang selalu Abang baca bersama kita di rumah kita masing-masing, ketika Abang sedang berada bersama kita," ungkap Jeehan.

Tyque dan Meisj mengangguk.

"Peristiwa wafatnya Diaz sangat istimewa bagiku, bukan hanya karena Diaz dan saya tak mampu memprediksi. Tapi, karena Diaz sudah meninggalkan kepada kita ketulusan cinta kepada Abang dan kita," sambung Tyque.

"Sebagai kakak dan saudara, sebagai sesama isteri Abang, Diaz sudah menunjukkan kepada kita, cinta itu mendamaikan. Cinta tidak melukai.

"Ya. Kakak Diaz wafat sambil mengingatkan kita, hubungan itu punya batas. Menghadapi beberapa tantangan dengan jodoh tidak lebih berat dari memelihara keikhlasan. Walaupun secara rasional dan perasaan kita tahu, dimana ada potensi cinta terbesar, akan ada juga potensi rasa sakit terbesar. Hubungan belahan jiwa meliputi keduanya," ujar Meisj. "Keadilan suami dan keikhlasan isteri melampaui potensi rasa sakit itu," lanjutnya. | BERSAMBUNG

Editor : Web Administrator | Sumber : ilustrasi berbagai sumber
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1220
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 924
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 922
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Budaya
10 Jun 19, 14:52 WIB | Dilihat : 232
Menjadi Betawi
05 Jun 19, 20:28 WIB | Dilihat : 320
Bubur Lambuk Rasa Johor
18 Mei 19, 01:58 WIB | Dilihat : 387
Gubernur Anies di Sela Ifthar Bamus Betawi
24 Mar 19, 21:09 WIB | Dilihat : 420
Sepercik Ihwal Kelembagaan Kebudayaan
Selanjutnya