Ayah yang Kini Tak Hadir

| dilihat 1700

Cerita Pendek Agustian

Saya adalah orang yang pertama kali mengekspresikan kegembiraan saat istri saya melahirkan anak yang pertama, seorang bayi laki-laki. Bukan saja karena mewarisi sifat-sifat maskulin melainkan kesamaan gender setidaknya melekatkan hubungan emosianal antara ayah dan anak lelaki saya yang pertama.

Lalu.., mulailah saya memberikan nama, tentu nama yang memiliki pemaknaan ke-eratan hubungan kedua orang tua dan nama yang mengandung nilai berwatak kebaikan. Saya namai untuk anak lelaki pertama Riza Bayu Pratama, dengan pangilan sehari-hari Iza.

Si buah hati Iza terus menyihir kerinduan yang teramat dalam. Senyum, gelak tawa bahkan tangisan yang suaranya dapat di dengar dari luar rumah mampu membuat perasaan saya ‘gelisah’ yang secara terus-menerus mendorong agar saya menyegerakan cepat pulang kantor menghampiri Iza dalam dekapan ibunya.

Saat bercanda dengan Iza menatap wajahnya dengan jarak sejengkal tangan, walau Iza tidak mengungkapkan kata-kata verbal tetapi Iza mampu merasakan kehangatan dan belaian rasa kasih sayang seorang ayah. Karena Iza merasa ayah selalu hadir dalam hidupnya.

Seiring waktu saya terus menjaga kedinamisan dengan bekerja keras dan menjadi ayah yang dibanggakan. Ayah yang mampu memberikan rasa nyaman dan kehangatan dalam keluarga.

Ternyata menjaga kedinamisan itu saja tidak cukup, kekeliruan terbesar yang saya lakukan adalah orientasi kelanggengan hidup pencukupan materi tanpa meletakan tujuan arah mengarungi bahtera kehidupan yang melibatkan seluruh komponen anggota keluarga yaitu istri dan anak. Masing-masing berjalan menurut kodratnya sendiri-sendiri. Tanpa arahan dari seorang ayah, yang lambat-laun ayah menjadi tidak hadir.

Saya akhirnya menjadi ayah superior dalam keluarga. Karena saya merasa membangun keluarga dengan keringat dan jerih payah yang dilakoninya sendiri. Maka tidaklah heran jika terjadi perselisihan di dalam keluarga terutama dengan istri maka sayalah pemenangnya.

Umpatan kotor dan kekerasan kerap kali saya lakukan terhadap ibunya anak-anak di hadapan Iza. Tentu saja Iza merekam dan merasakan, bisa jadi saya telah men-tranformasikan perangai buruk ke dalam diri Iza. Sehingga nantinya Iza ke depan dapat menularkan perangai tersebut secara copy paste. Terkadang inilah yang dapat menghentikan saya. Apalagi melihat iza dengan kemampuan terbatasnya mencoba melindungi ibunya.

Kini hubungan saya dengan Iza berjarak-jarak, padahal dulu semasa bayi jaraknya cuma sejengkal lengan dari mukanya. Baru setengah hari saja tidak bertemu, rindunya teramat dalam. Saya merasakannya itu, terbukti baru saja mobil memasuki garasi. Iza serta merta meninggalkan ruang keluarga. Menutup pintu kamarnya rapat-rapat Ya, sudah bisa ditebak Iza malas menjawab pertanyaan dari ayah “ hasil ulangan mu, jelek lagi yah?”, “ sudah mengerjakan PR Belum !”, “ kenapa tidak dapat ranking satu, makanya jangan nonton tv terus!”. Ayah yang gemar mencecar pertanyaan, dan tidak lagi hadir dalam menemani Iza belajar. Karena ayah sibuk dan sudah kelelahan menjaga kedinamisan. Tidak punya cukup waktu !

Saya adalah ayah yang kini tidak hadir, saat Iza menunjukan kemampuan motoriknya dengan belajar bersepeda, mestinya saya menemani Iza. Memeganginya dari belakang dan membiarkan Iza menggoes pedal sambil menyeimbangkan diri. Lalu melepaskan secara perlahan-lahan. Jika terjatuh saya yang segera memeriksa lukanya, menjilati luka di kedua lututnya agar rasa perih lebih terasa dingin. Bukan memberikan kewenangan kepada si-Mbak untuk mengganti peran ayah yang mengajari anaknya agar bisa mengendarai sepeda.

Saya adalah ayah yang kini tidak hadir, pernah pada suatu hari. Iza berjalan tertatih-tatih. Pergelangan kakinya terkilir akibat bermain sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Karena sakitnya Iza menangis, dulu ketika Iza masih bayi. Suara tangisannya justru mendatangkan kerinduan. Berbeda sekali dengan sekarang, justru tangisannya membangkitkan kemarahan.

Iza yang semestinya “ditangani” malahan di marahin dan dijewer kedua kupingnya hingga merah. Dan lagi-lagi saya memiliki dalil pembenaran “ sudah ayah bilang, jangan main bola terus !”.

Ah, ayah yang selalu egois, semestinya ayah yang mengajari Iza bermain sepakbola agar bisa melakukan pace ( kecepatan pemain dalam menggiring bola ) dan kalau pun ayah tidak pandai bermain sepakbola, sekali waktu kiranya ayah dapat menonton di tepi lapangan. Bukan memarahi dan menjewer kedua kuping Iza hingga berbekas kemerahan.

Saya adalah ayah yang kini tidak hadir, melihat anak berkelahi dengan temannya itu biasa, tetapi yang luar biasa ketika saya harus merendahkan martabat Iza di muka umum dengan memvonis Iza lah yang bersalah dan yang paling bertanggungjawab. Persoalannya sepele bermula dari rebutan mainan mobil-mobilan yang diakui oleh anak tetangga sebelah rumah. Dan sudah pasti Iza mempertahankan sambil merebut mainan dan berlari.

Apesnya anak tetangga yang mengejar Iza terjatuh dan jidatnya terbentur batu yang menyebabkan luka yang cukup besar. Mestinya ayah lebih dahulu bertanya sebab musababnya. bukan menyalahkan, mungkin ayah panik melihat anak tersebut berlumuran darah. Inikah yang disebut ayah yang bijaksana ? inikah ayah yang mengajarkan prinsip keadilan ? seandainya ayah berlaku bijak dan adil tentu tidak se-enaknya merendahkan martabat Iza di hadapan orang banyak.

Saya adalah ayah yang kini tidak hadir, “ seberapa sibuk sih ayah?” kata Iza kepada ibunya. Ibu pasti selalu melindungi ayah dengan jawaban-jawaban yang menenangkan. Agar ayah selalu terhormat dan berwibawa. Namun saya yakin Iza sudah dapat memberikan penilaian terhadap ayahnya.

Hanya saja ibu selalu menutup semua kekurangan yang dimiliki ayah. Coba bayangkan, selama kurun waktu enam tahun ayah tidak menyempatkan diri untuk mengambil rapor di sekolah. Alasannya pertama, jam pengambilan raport bertepatan dengan jam kantor. Kedua, soal tugas dan kewajiban. Ayah setiap hari harus bekerja dan ibu yang mengurus urusan rumah tangga dan anak. Jadi untuk urusan pengambilan raport cukup ibulah yang mengambil. Ketiga, ayah tidak cukup siap menerima hasil penilaian kalau-kalau rapornya jelek. Jadi selama enam tahun itu, ayah tidak pernah tahu kemajuan dan prestasi anaknya di sekolah. Karena biasanya setiap pembagian rapor setiap wali kelas menyampaikan apa saja yang sudah dan belum dicapai siswanya.

Lucunya, ayah selalu mendominasi dalam menentukan pilihan studi. “ Iza !, kalau SMA nanti ambil jurusan IPA biar kalau kuliah nanti di teknik arsitektur “ padahal Iza suka antropologi. Jaka sembung pergi ke sawah, gak nyambung tuh yah…

Saya adalah ayah yang kini tidak hadir, apa yang menyebabkan saya tidak hadir ? karena saya tidak menakhodai kapal secara benar. Kapal yang tidak memiliki rencana tujuan. Memuat seluruh anggota keluarga mengarungi samudera kehidupan. Mewarisi maskulin dan kesamaan gender kepada Iza adalah keniscayaan. Karena Iza tidak tahu hendak kemana kapal berlabuh. Masing-masing dalam ruang terpisah. Saling tidak percaya, saling tidak toleran dan saling tidak berkomunikasi. Menyebabkan Iza si buah hati telah menghilang padahal luas geladak kapal tidak seberapa.

Saya yang belum menemukan kembali anak lelaki pertama saya yang bernama Riza Bayu Pratama !

 

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 411
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 317
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 248
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 188
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 535
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya