Wartawan Muslim di Tengah Ghibah - Buhtan dan Fitnah

| dilihat 528

Bang Sem

SALAH satu tantangan terberat mengelola kemerdekaan pers bagi wartawan muslim, adalah ketika ber­ada dalam suatu lingkungan masyarakat yang sudah tertakluk oleh ghibah (gossip, rumours, pergunjingan), buhtan (rekayasa informasi - hoax), dan fitnah.

Pada situasi demikian, pers berada di kawasan abu – abu, antara kebenaran faktual dan pembenaran presumtif.

Sejarah perkembangan peradaban Islam, men­catat, ada masa Rasulullah Muhammad SAW meng­hadapi situasi seperti ini.  Yakni, ketika istrinya: Aisyah, tertimpa gosip yang ditebarkan kaum munafik.

Situasi itu telah menyebabkan kemarahan luar biasa dari Abu Bakar Shiddiq, yang mengancam akan menghukum puterinya. Namun, Rasulullah Muhammad SAW men­cegahnya, dengan menyatakan keyakinannya terhadap kejujuran Aisyah.

Karena sangat parahnya dampak yang ditimbulkan oleh ghibah, buhtan, dan fitnah, turunlah ayat : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu se­orang fasik membawa suatu berita, hendaklah kamu periksa kebenarannya (karena dikuatirkan) kalau-kalau kamu sampai mencelakakan orang lain, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan (kamu) menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al Hujurat: 6).

Dalam konteks tabayyun itulah ber­laku azas uji sahih, melalui proses verifikasi sumber informasi dan kebenaran faktual atas materi informasi, yang memisahkan fakta dengan rekayasa sosial. Sekaligus membedakan mna kabar benar dan manapula hoax.

Tentang ghibah, Rasulullah Muhammad SAW menyebutnya sebagai perbuatan dosa besar yang hanya terampuni, apabila si pembuat gosip meminta ma’af kepada korbannya, dan korban itu memaafkannya.

Akan halnya buhtan, dosanya lebih besar lagi. Sedangkan fitnah, Allah sendiri yang menegaskan, nilai dosanya melebihi dosa membunuh.

Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Lantaran fitnah merupakan tindakan pembunuhan karakter (character assasination), yang juga dimasukkan ke dalam kelompok perbuatan crime against humanity, kejahatan kemanusiaan.

Masyarakat yang berkemul dan karib dengan ghibah, buhtan, dan fitnah merupakan masyarakat yang sakit. Karenanya, perlawanan terhadap ghibah, buhtan, dan fitnah sering merupakan perlawanan se­panjang masa.

Pada era khulafa’ur rasyidin, kaum munafik meng­gunakan ghibah, buhtan, dan fitnah sebagai taktik polit­ik untuk mengacaukan ukhuwah insaniah, ikhuwah watha­niyah, dan ukhuwah islamiyah, sebagai bagian dari strategi namimah (adu domba).

Kaum munafik, kaum musyrik, dan musuh-musuh Islam menggunakan strategi itu, untuk merusak dimensi harmonitas sosial sebagai ciri peradaban Islam.

Bayangkan dahsyatnya ghibah, buhtan, dan fitnah yang terjadi selama masa kepemimpinan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, masih menjalar hingga kini. Bahkan di penghujung masa itu, selepas terbunuhnya Usman bin Affan dan berakhirnya kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yang syahid terbunuh oleh Abdur­rahman bin Mujlam – pada suatu subuh di bulan ramadan -- , ghibah – buhtan – fitnah telah memecah belah umat Islam. Membuat umat Islam terfirqah-firqah dalam berbagai mazhab.

Dendam kesumat merasuk. Pada masa itulah, teror merajalela, disertai berkecamuknya purbasangka, ghibah (rumors, gossip), buhtan (rekayasa informasi kebohongan - hoax), dan fitnah. Padahal, Allah SWT meme­rintahkan dan Rasulullah Muhammad SAW mengajar­kan, seluruh umat Islam, wajib menghindari dan me­ninggalkan perbuatan yang setara dengan ‘memakan daging mayat saudara sendiri’ itu. Menghindari perbuatan yang merampas dimensi kemanusiaan.

Sayid Syarif Radi melukiskan, ke­biasaan men­cari-cari kesalahan, menggunjing, meng­umpat, dan memfitnah telah membuat naluri manusia sirna, dan telah pula merampas kepekaan manusia untuk merasa­kan kebusukan perbuatan dina itu. Bahkan, “kesucian masjid dengan ketinggian mimbar, tak mencegah orang berbuat nista.”

Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Al Ghazali mengemu­kakan berbagai alasan manusia terjebak dalam kebiasaan buruk dan tak beradab itu. Yakni: untuk memperolok-olok dan menertawakan orang atau untuk menghinakan orang yang diperolok-olok, sehingga terlihat hina.

Ada juga yang melakukannya untuk membuat orang tertawa dan memperlihatkan betapa senangnya si pengolok-olok. Ada yang juga yang dilakukan untuk menunjukkan rasa senang, karena si pengolok-olok dapat melampiaskan amarahnya.

Olok-olok juga dilakukan untuk merusak hubungan atau keterlibatan orang-orang yang digunjing dalam suatu perkara.

Ada pula orang yang menajamkan gosip, mem­benarkan ghibah, dan melancarkan fitnah atas sesesorang atau golongan, agar ia bisa diterima masuk ke dalam golongan yang bermusuhan dengan orang yang difitnah­nya. Lalu mencari keuntungan dengan olok-olok, ghibah, buhtan (hoax), dan fitnah itu. Termasuk untuk menyatakan dirinya bukan merupakan bagian dari kelompok korban olok-olok, ghibah, buhtan, dan fitnah.

Al Ghazali juga menyebutkan, ada pula kalangan yang menjadikan olok-olok, ghibah, buhtan, dan fitnah, sebagai bagian dari siasat untuk mendiskreditkan sese­orang yang dikuatirkan membuka aib si pegunjing.

Dalam konteks politik dan binis, ghibah – buhtan – fitnah dilakukan untuk mengalahkan lawan, musuh, dalam suatu kompetisi. Selanjutnya, untuk mendapat posisi tertentu dalam kekuasaan.

Dalam konteks amar ma’ruf nahyi munkar atau menegakan perbuatan baik dan melawan perbuatan yang buruk, berlakulah prinsip yang diingatkan Allah SWT: tabayyun – uji sahih kebenaran melqalui verifikasi dan rekonfirmasi.

Wartawan muslim yang konsisten, berpegang teguh pada prinsip kebenaran yang tersimpan di dalam al Qur’an. Sikap wartawan muslim juga jelas, berteguh menegakkan prinsip amar ma’ruf nahyi munkar, bukan produsen dan penebar ghibah, buhtan, dan fitnah, apalagi beternak hoax.

Saat ini, seberapa banyak wartawan muslim yang teguh pendiriannya di negeri ini? |

Editor : sem haesy
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 823
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 566
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 572
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 717
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya
Seni & Hiburan
20 Okt 18, 10:31 WIB | Dilihat : 158
Delapan Tahun Konsistensi Jakarta Melayu Festival
17 Okt 18, 17:37 WIB | Dilihat : 454
Melayu Menenun Cindai Keadaban Bangsa
10 Jul 18, 10:28 WIB | Dilihat : 623
Anggi.. Lepaskan
09 Jul 18, 16:34 WIB | Dilihat : 701
Ketika Polisi Berpuisi di Watulumbung
Selanjutnya