Tun Dr. Mahathir : Rakyat Bebas Mengeritik Pemimpin

| dilihat 590

Catatan Bung Sem

Setahun sudah berlalu (9/5/18) rakyat Malaysia melakukan aksi perubahan nyata di era post truth yang menjadi ladang subur kebohongan, tipumuslihat dan akal-akalan dalam praktik politik.

Hari Rabu malam, itu seluruh rakyat Malaysia tahu, melalui real count, bahwa koalisi Barisan Nasional (UMNO - Organisasi Bangsa Melayu Bersatu), MIC (Malaysia India Congress), MCA (Malaysia China Association), Gerakan dan lain-lain -- tumbang.

Barisan Nasional (BN) telah memerintah Malaysia selama lebih 60 tahun. Termasuk Tun Dr. Mahathir yang memimpin selama 22 tahun, kala memimpin BN.

Koalisi partai pimpinan Dato Seri Muhammad Najib Tun Razak, itu tersungkur dihempas arus perubahan yang dikehendaki rakyat.

Koalisi Pakatan Harapan pimpinan Tun Dr. Mahathir Muhammad (Dr.M) - dari Partai Bersatu bersama-sama Anwar Ibrahim (Partai Keadilan Rakyat), Lim Kit Siang (Partai Aksi Demokrasi) -- yang karena situasi tak memungkinkan menggunakan tanda gambar sendiri, mesti menggunakan lambang dan tanda gambar PKR - Partai Keadilan Rakyat untuk mengambil hati rakyat.

Tak hanya Fortune, media bergengsi Times juga memilih Tun Dr.M, sebagai satu di antara 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Seperti saya tulis dalam beberapa artikel di portal ini, sejak 2014, Tun Dr.M yang kembali menjadi Perdana Menteri (12/5/18) setelah dua dasawarsa meninggalkan pemerintahan, memang membanggakan. Dalam berbagai kesempatan diskusi, baik di Kuala Lumpur maupun Jakarta, Tun Dr.M selalu menggunakan bahasa terang dalam menyampaikan pemikiran dan gagasannya.

Langkah politik Tun Dr.M, tak muda diprediksi, karena dia selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Termasuk kini, ketika dia harus memimpin perubahan di negaranya di tengah era post truth, sekaligus era proxy war dan perang dagang yang menempatkan rantauan Malaysia dan Indonesia menjadi salah satu zona 'perang' itu.

Tun Dr.M tak mudah terkecoh dengan bleid dari para pemimpin dunia lain, khasnya Donlad Trumph dan Xi Jinping. Dalam pidatonya di Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) China di Beijing belum lama berselang, Tun Dr.M, mengambil langkah sangat strategis.

Beliau bersetuju dengan konsep One Belt One Road yang menghubungkan Barat dengan Timur, tapi dalam konteks investasi China di Malaysia, dia mengambil langkah tegas, menempatkan kedaulatan Malaysia sebagai sesuatu yang utama.

Tun Dr.M sangat menyadari, kondisi negaranya kini tak sekuat ketika dia turun tahta dan melangkah meninggalkan Kantor Perdana Menteri di Putrajaya. Malaysia yang pernah dikenal sebagai 'Macan Asia' di masanya, kini belum lagi bisa mengaum, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sekira 4 persen per tahun. Malaysia tak setangguh dulu, dan mesti bekerja sangat keras mengatasi utang luar negeri.

Menurut Bank Negara Malaysia, pada akhir kuarta ketiga 2018, utang Malaysia menurun hingga 66,2% dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) pada dari puncak utang sebesar 74,3% dari PDB pada akhir-2016. Kendati sebagian besar utang luar negeri adalah utang perusahaan dan bank, di parlemen, Tun Dr.M., menyebut utang beberapa perusahaan itu menjadi tanggungan negara, akibat sistem yang diterapkan Najib, ketika menjabat Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan.

Kini, utang luar negeri dalam mata uang asing mencapai 46,0% dari PDB pada akhir kuartal ketiga 2018, dibandingkan dengan tingkat tertinggi 60,0% dari PDB selama Krisis Keuangan Asia 1997. BNM memberikan catatan, yang perlu diperhatikan, utang luar negeri berdenominasi mata uang asing sangat rendah (1,2% dari PDB).

Terutama, karena risiko seputar kondisi pendanaan eksternal telah meningkat, walaupun risiko utang luar negeri Malaysia, termasuk utang luar negeri jangka pendek, tetap dapat dikelola. Khasnya, karena profil utang luar negeri yang menguntungkan dan kemampuan pembayaran tangguh peminjam.

Tun Dr.M dan pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpinnya menghadapi situasi keuangan yang mencerminkan liberalisasi progresif aturan administrasi valuta asing Malaysia dan desentralisasi cadangan internasional, sehingga entitas Malaysia telah mengakumulasi aset eksternal yang signifikan di luar negeri.

Dengan signifikansi, aset eksternal non-cadangan Malaysia telah berlipat ganda dari RM622 miliar pada akhir 2010 menjadi RM1,3 triliun pada akhir kuartal ketiga 2018. Perusahaan domestik dan bank sekarang memiliki sekitar tiga perempat dari RM1,7 triliun aktiva eksternal Malaysia.

Akumulasi ini, menurut BMN, berkontribusi terhadap Malaysia yang memiliki posisi aset mata uang asing bersih. Ini memberikan pertahanan terhadap depresiasi nilai tukar yang tajam. Meski demikian, BNM mencatat, yang terpenting, aset ini dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban utang luar negeri peminjam tanpa membuat klaim atas cadangan internasional Bank Negara Malaysia.

Dalam konteks itu, sejak memerintah di kali kedua, lelaki 93 tahun, itu mesti fokus mencermati jejak investasi China di negerinya. Tun Dr.M., mesti mendedikasikan waktunya untuk menyelesaikan masalah prioritas, terkait dengan investasi China dan jeratan utang yang ditebarnya. Nampak Tun Dr. M,., memilih jalan berhati-hati, tegas, namun tetap mempertimbangkan keberlanjutan hubungan dengan mitra terbesarnya, itu.

Langkah Tun Dr. M., laiknya langkah dokter menghadapi pasien dengan penyakit yang parah. Segera melakukan diagnosa di pusat persoalan, antara lain pembangunan jalur kereta api cepat jalur pantai timur yang didukung China. Fokusnya adalah efisiensi. Untuk itu, dia memberikan peran kepada Lim Guan Eng, menteri keuangan, melakukan renegosiasi. Terutama berkaitan dengan bunga utang yang tinggi.

Tun Dr.M., mengeluarkan jurus 'keras,' menghentikan proyek itu, bila proyek tersebut memberatkan beban keuangan negara dan tidak lebih efisien.

Dalam satu tarikan nafas, Tun Dr. M tak mudah diseret ke persoalan pembangunan infrastruktur. Tun Dr.M., memilih fokus prioritas pada pembangunan sistem pendidikan.

Dalam perbincangan di kantornya, Tun Dr.M., mengungkap langkah-langkah strategis yang harus ditempuh oleh pemerintahan Pakatan Harapan yang dipimpinnya. Sambil berkelakar, Tun Dr.M., menyatakan, partai-partai anggota koalisi PH yang kini memerintah, memang harus belajar lebih cepat mengubah minda (mindset) dari watak pembangkang (oposisi) menjadi penguasa yang konsisten dan konsekuen dalam mendahulukan kepentingan rakyat. Terutama pemberantasan korupsi.

Tun Dr.M., memberi contoh langsung. Menghadapi kritik pembangkang yang mantan penguasa, beliau lebih banyak menyikapinya secara proporsional, langsung, dan telak. Kadang dengan kelakar pahit, yang membuat para pembangkang tersedak.

Sebagai politisi sekaligus negarawan, Tun Dr.M., yang pernah dijuluki 'Atuk comel,' oleh lawan-lawan politiknya, terus harus mengatur ritme dan suasana batin para koleganya dalam koalisi dengan beragam kepentingan dan prioritas, juga beragam watak dan perilaku yang sangat dikenali khalayak ramai.

Sebagai conductor, Tun Dr.M sangat cerdas dan lincah memainkan peran dirinya untuk menjamin harmoni orkestrasi kebangsaan Malaysia kini, dalam bentuk stabilitas politik, sosial, dan ekonomi. Tapi, beliau juga harus mengakomodasi banyak hal, sehingga terkesan kabinetnya menjadi gemuk. Dikuatirkan pemerintahannya akan berjalam lamban dalam mewujudkan manifesto yang dijanjikannya selama kampanye.

Tapi, seringkali berlaku rumus, "janji kampanye tak sepenuhnya setali tiga uang dalam penyelenggaraan pemerintahan."

Bagi saya, salah satu hal menarik yang dilakukan Tun Dr.M., adalah bagaimana beliau menjamin terpeliharanya kebebasan pers dan media di Malaysia yang melesat dari peringkat ke 145 (2018) ke peringkat 123 (2019).

Ketika di Indonesia, pemerintah membentuk tim untuk memonitor pikiran dan ujaran kalangan kritis, Tun Dr.M, justru membuka koridor bagi media termasuk media sosial.

Beliau sempat tersentak ketika beroleh kabar, polisi menangkap seorang pengguna media sosial yang mengeritik Sultan Johor. Beliau spontan bereaksi.  Beberapa hari lalu, lewat akun resmi twitter-nya, beliau mencuit pernyataan. Begini:

"Saya dimaklumkan bahawa pihak berkuasa telah membuat satu tangkapan terhadap seorang penggiat media sosial malam tadi. Seperti yang pernah saya tekankan sebelum ini, tidak ada mana-mana pemimpin di Malaysia yang bebas dari kritikan. Rakyat bebas untuk mengkritik pemimpin jika perlu.Kebebasan bersuara adalah penting di dalam sesebuah demokrasi. Kecuali ugutan, fitnah, atau penghinaan terhadap raja-raja yang memerintah, mana-mana pemimpin boleh dikritik tanpa mengakibatkan terjejasnya hak rakyat untuk bersuara. Saya merasa kesal dengan tindakan menangkap penggiat media sosial tersebut."

Ketika memperingati setahun pemerintahan PH yang dipimpinnya, Tun Dr.M., mengatakan, "Banyak yang telah kita lalui bersama. Kitalah yang akan menentukan nasib kita Tidak ada orang lain yang boleh menentukan nasib kita. Bangunlah dan berjuanglah untuk mencapai matlamat negara tercinta ini."  

Beliau melanjutkan, "Memang ada kekurangan dan kesilapan dan untuk itu Kerajaan ini akan terus berusaha untuk memperbaikinya. Kerajaan ini tidak lupa dgn tanggungjawab dan amanah yang telah diserahkan oleh rakyat kepadanya."

Belakangan hari, oleh pembangkang, Tun Dr.M., dan pemerintahannya dikritik. Termasuk kritik terkait dengan perubahan kebijakan yang berhubungan dengan dimensi agama Islam sebagai agama kerajaan.

Persis ketika setahun pemerintahan PH (9/5), Tun Dr.M., menyatakan, "Kritikan terhadap kepimpinan PM adalah lumrah apabila PH mengambil alih tampuk kepimpinan negara. Walaupun keadaan lebih baik daripada sebelum ini, sentimen kaum dan agama terus dimainkan pembangkang bagi memesongkan pemikiran rakyat."

Beliau menjelaskan, pemerintahan PH menghadapi tantangan dalam menyelamatkan ekonomi negara. "Bagaimanapun, setiap cabaran itu boleh diatasi sekiranya rakyat sanggup mengubah cara bekerja seperti masyarakat Jepun, Korea dan China," ungkapnya.

Kepada lawan politiknya, Haji Hadi Awang - pimpinan PAS (Partai Al-Islam Se- Malaysia), Tun Dr.M., menyatakan:

“Sesungguhnya tuduhan yang dilempar terhadap Kerajaan bukan kerana tidak mendaulat Islam, tetapi semata-mata kerana politik. Dalam usaha ini agama Islam yang suci menjadi buruk kerana kepentingan bukan agama.”

“Sekali lagi saya ingin bertanya kepada Haji Hadi dan PAS samada mereka masih nafikan Islam saya dan orang yang bukan menjadi ahli atau penyokong PAS.”

“Dimana-mana juga di luar Negara terdapat orang Islam yang pandang tinggi Malaysia sebagai negara Islam. Mereka nyatakan keinginan melihat negara mereka menjadi seperti Malaysia.,” tegas Tun Dr. M.

Pemimpin berpengaruh kelas dunia, ini tak limbung diserbu kritik pembangkang, pun tak melambung kala disanjung. Pembangkang dan para pengeritiknya, perlu mengubah cara berfikir untuk mengeritiknya. Seorang pembangkang, Ahmad Maslan, di Parlemen mengatakan, dia dan banyak kalangan sangat hormat kepada Tun, dan karenanya tak pernah lupa mencium tangannya. Dan Ahmad Maslan, terus mengeritiknya. Tun Dr. M, membalas kritik itu dengan kelakar pahit yang mengundang gelak anggota parlemen lain. |

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 591
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 430
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 538
Tilik Literasi Betawi
Selanjutnya
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 418
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 847
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1669
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2588
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya