Rakyat Turki Gembira

Tuhan Kembali Disembah di Hagia Sophia

| dilihat 191

Imma Fathema

Erdogan menyatakan Hagia Sophia sebuah masjid setelah putusan pengadilan Turki

Presiden Tayyip Erdogan sudah berketetapan hati dan memaklumatkan kepada dunia (Jum'at, 10/07/20), Hagia Sophia yang bersejarah itu, akan kembali berfungsi sebagai masjid.

“Terima kasih Tuhan hari ini, Hagia Sophia kembali ke tujuan utamanya. Hari ini Tuhan akan disembah di masjid ini," ungkap Erdogan, seperti diwartakan Reuters dari Istanbul, Turki.

Keputusan itu akan ditandai dengan menyelenggarakan salat Jum'at, pada 24 Juli 2020 mendatang, setelah 86 tahun diubah sebagai museum oleh pemerintahan sekuler Turki, Kemal Attaturk.

Erdogan memaklumatkan keputusannya itu, beberapa saat, setelah Dewan Negara, mahkamah administratif Turki memutuskan, "Keputusan kabinet tahun 1934 yang menetapkannya sebagai museum tidak mematuhi hukum."

Dalam keputusannya, mahkamah menegaskan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid dan penetapan kabinet Attaturk, melanggar hukum.

Keputusan mahkamah dan penetapan pemerintah Turki yang dikemukakan Erdogan, disambut ratusan orang yang berkumpul dekat Hagia Sophia di Istanbul, yang sengaja datang untuk menyambut gembira, kembalinya tempat bersejarah, itu sebagai masjid.

"Mereka yang merancang dan membangun gedung bersejarah ini, melakukannya untuk menyembah Tuhan. Bukan untuk menjadi museum," seru  seorang pengunjung,  Osman Sarihan.

Recep Tayyip Erdogan, dikenal sebagai seorang Muslim yang saleh sekaligus seorang penghafal al Qur'an (hafidz) ini, menjabat Presiden Turki atas dukungan Partai Keadilan dan Pembangunan.

Dari awal yang sederhana Erdogan telah tumbuh menjadi raksasa politik, untuk membangun kembali Turki lebih dari pemimpin mana pun sejak Mustafa Kemal Ataturk, yang dianggap sebagai 'bapak kemuliaan' dari republik modern, itu.

Erdogan memimpin Turki, setelah menyingkirkan 'guru' yang sekaligus lawan politiknya, Fethullah Gülen yang hijrah ke Amerika Serikat.

Belakangan hari, sejak sebelum serangan Covid-19, Turki yang dipimpin Erdogan mengalami situasi yang menurun dibanding ketika awal dia memimpin, dengan inflasi naik menjadi sekitar 20 persen, nilai tukar mata uang Lira Turki di pasar uang internasional, juga melemah, dan pengangguran mencapai sekitar 15 persen.

Partai Keadilan yang mendukungnya, pada Pemilihan Umum 31 Maret lalu, memenangkan pemilihan lokal secara nasional, namun kalah di tiga kota terbesar: Istanbul, ibu kota Ankara dan Izmir. Bahkan, partai ini kehilangan kursi Walikota Istanbul yang dimenangkan secara sederhana oleh calon dari oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP). Kehilangan kursi strategis, itu pukulan pahit bagi Erdogan dan partainya. Dalam karir politiknya, Erdigan pernah menjabar walikota kota itu pada  dekade 1990-an.

Meski partainya melakukan gugatan ke pengadilan untuk pemilihan lokal diu Istanbul, sehingga dilakukan pemilihan ulang pada 23 Juni 2020, tapi tetap saja kursi walikota lepas dari tangan, dan diraih oleh Ekrem Imamoglu dengan kemenangan tipis (9 persen). Partai keadilan dan pendukung Erdogan lebih banyak di wilayah perdesaan, sub urban dan daerah konservatif, seperti Anatolia.

AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) menuduh penyimpangan pemungutan suara di Istanbul, dan secara kontroversial hasilnya dibatalkan.

Keputusan Erdogan atas dasar keputusan majelis yang mengadili gugatan status Hagia Sophia, diduga, akan menjadi titik kebangkitan bagi Erdogan dan Partai Keadilan di tengah krisis kesehatan yang sekaligus krisis sosial ekonomi itu.

Pesona Kebangkitan Islam

Kembalinya Hagia Sophia sebagai masjid, itu disambut sukacita di berbagti negara muslim di seluruh dunia. Termasuk di negara-negara berpendudukan mayoritas muslim yang sedang mengalami kesuraman politik.

Keputusan Erdogan, dianggap sebagai contoh kongkret integritas pemimpin muslim berkaliber dunia yang punya kapasitas dan kapabilitas terhormat. Apalagi, keputusan memfungsikan kembali bangunan berusia 1.500 tahun, itu sebagai masjid, menunjukkan keberanian Erdogan dan Turki melawan protes Amerika Serikat, Rusia, dan para pemimpin gereja.

Para pemrotes ini mengekspresikan keprihatinan mereka atas perubahan status Situs Warisan Dunia UNESCO, yangt pernah menandai titik fokus dari kekaisaran Byzantium Kristen dan Kekaisaran Ottoman Muslim, yang selama ini sebagai museum serta tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi di Turki.

Kementerian kebudayaan Yunani menggambarkan keputusan pengadilan sebagai "provokasi terbuka" bagi dunia beradab, sementara UNESCO menyesalkan, bahwa keputusan itu tidak diberitahukan sebelumnya. UNESCO pun 'mengancam' akan meninjau kembali status Hagia Sophia sebagai situs Warisan Dunia.

Erdogan tak peduli dengan kegalauan, itu. Bahkan tak galau dengan 'ancaman' UNESCO, ia konsisten dengan sikap dan pendiriannya, sejak berjuang, menjadikan Islam menjadi arus utama politik Turki selama 17 tahun memimpin. Erdogan dan negeri di dunia benua (Asia - Eropa), itu terus menegaskan Turki sebagai kiblat masa depan Islam di dunia, meskipun negara berpenduduk muslim terbesar di dunia adalah Indonesia.

Dia telah lama berjuang memulihkan kembali status masjid dari bangunan abad keenam, yang diubah menjadi museum pada hari-hari awal negara Turki sekuler modern di bawah Mustafa Kemal Ataturk.

 

"Dengan putusan pengadilan ini, dan dengan langkah-langkah yang kami ambil sejalan dengan keputusan itu, Hagia Sophia menjadi masjid lagi, setelah 86 tahun, seperti yang diinginkan Fatih, sang penakluk Istanbul," kata Erdogan dalam pidato nasional .

Dalam sebuah penuturan tentang sejarah pada saat-saat kritis terhadap Kekaisaran Bizantium dan pendiri republik modern, Erdogan mengatakan Turki sekarang dapat meninggalkan "kutukan Allah," untuk meraih "keberuntungan dan taman para malaikat" yang pernah dikatakan Fatih - Sultan Ottoman Mehmet II - yang dikatakan, akan selalu berada pada siapa saja yang mampu mengubahnya kembali menjadi masjid.

"Seperti semua masjid kami, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua, penduduk lokal dan asing, Muslim dan non-Muslim," kata Erdogan, yang pada hari Jumat, itu menandatangani prasasti di Direktorat Urusan Agama yang mengelola situs.

Departemen Luar Negeri A.S., yang mendesak Turki untuk mempertahankan bangunan itu sebagai museum, melalui sebuah pernyataan menyatakan, bahwa pihaknya "kecewa" dengan keputusan tersebut. Kendati demikian, Amerika Serikat berharap untuk mendengar rencana Erdogan tersebut ( tetap membuka kunjungan masyarakat dunia non muslim)  "untuk memastikannya tetap dapat diakses tanpa hambatan oleh semua orang."

Tuntutan komunitas masyarakat Turki untuk mengembalikan bangunan bersejarah itu menjadi masjid ke pengadilan, merupakan yang terbaru dalam pertempuran hukum 16 tahun, mengatakan Hagia Sophia adalah milik Sultan Mehmet II yang merebut kota Istanbul pada tahun 1453 H dan mengubah katedral Ortodoks Yunani yang sudah berusia 900 tahun, itu menjadi masjid.

Ottoman membangun menara di samping struktur kubah yang luas, sementara di dalamnya mereka menambahkan panel bertuliskan huruf Arab, nama-nama Allah, Nabi Muhammad, khalifah Muslim, serta cucu nabi Hasan dan Husein. Mosaik emas dan ikon Kristen, dikaburkan oleh Ottoman, lalu ditegaskan kembali kemilaunya, ketika Hagia Sophia menjadi museum.

Membalik Langkah Attaturk

Dengan membalikkan salah satu langkah Ataturk yang paling simbolis, yang menggarisbawahi komitmen mantan pemimpin itu pada republik sekuler, kebijakan Erdogan dinilai oleh Soner Cagaptay, direktur Program Penelitian Turki di Institut Washington untuk Timur Dekat, telah membatasi proyeknya sendiri untuk memulihkan Islam dalam kehidupan publik, kata.

"Hagia Sophia adalah momen puncak revolusi agama Erdogan yang telah berlangsung di Turki selama lebih dari satu dekade," katanya, menunjuk pada penekanan yang lebih besar pada agama dalam pendidikan dan lintas pemerintahan.

Gereja Ortodoks Rusia mengatakan pihaknya menyesalkan bahwa pengadilan tidak mempertimbangkan protesnya, dan mengatakan keputusan itu dapat menyebabkan perpecahan yang lebih besar lagi, sepeti diberitakan kantor berita TASS.

Sebelumnya, Patriark Ekumenis Bartholomew, kepala spiritual dari sekitar 300 juta orang Kristen Ortodoks di seluruh dunia yang berbasis di Istanbul, mengatakan mengubah fungsi bangunan Haiga Sophia menjadi masjid akan mengecewakan umat Kristen dan akan "memecah" Timur dan Barat.

Kendati demikian, berbagai komunitas muslim Turki telah lama berkampanye untuk konversi Hagia Sophia. Mereka menyatakan, keputusan Erdoganm, merupakan kebijakan yang lebih baik dan akan terus mencerminkan Turki sebagai negara yang sangat Muslim. |

BERITA TERKAIT : Hagia Sophia dan Politik di Turki

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 407
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 401
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 357
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Lingkungan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 202
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
11 Jul 20, 20:32 WIB | Dilihat : 365
Nikmati Ancol, Cocol yang Ngocol
21 Jun 20, 12:43 WIB | Dilihat : 302
Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh
04 Apr 20, 21:16 WIB | Dilihat : 434
Gubernur Anies Serukan Warga Pakai Masker
Selanjutnya