Tuah Jempol dan Telunjuk Anies Baswedan

| dilihat 815

Catatan Ringan Bang Sem

Susan Jane Gilman seorang pelancong berkunjung ke China. Lantas, di tembok Tiongkok yang terkenal itu dia berpose, mengacungkan dua jari (jempol dan telunjuk) kiri dan kanan dengan wajah sukacita.

Usai berpose, seseorang lelaki setempat mendekatinya. Menegurnya dengan bahasa China dengan wajah ekspresif yang terkesan marah. Dengan bahasa isyarat, orang itu menirukan pose Susan.

Teman belianya, gadis China mengingatkan, supaya Susan tak lagi melakukan pose yang sama. Susan, penulis Undress Me in Temple of Heaven, mengangguk, setelah mafhum mengapa lelaki tadi menegurnya. Susan dianggap 'melakukan' penghinaan, lantaran ketika berpose matanya tertuju ke lelaki itu.

Pose yang dilakukan Susan, dilakukan Anies Baswedan, ketika mengakhiri pidatonya yang menggempita di hadapan pimpinan, pengurus dan kader Partai Gerindra di Sentul belum lama berselang.

Seseorang untuk dan atas nama lembaga entah melaporkan Anies ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) Bogor, yang lantas memeriksanya di kantor Bawaslu RI - Jalan Thamrin, Jakarta.

Anies dituding, sebagai Gubernur DKI Jakarta telah melakukan kampanye untuk partai yang mendukungnya di Pilkada DKI Jakarta.

Anies terbiasa mengacungkan telunjuk dan jempolnya ke udara, jauh sebelum rangkaian Pemiku Serentak 2019 dimulai. Salam dua jari berbentuk huruf L adalah salam Jackmania, supporter klub sepakbola kebanggaan Jakarta, Persija.

Anies berbeda dengan sejumlah Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota dan pejabat lainnya, yang mengacungkan satu jari atau jempol untuk mengekspresikan dukungan mereka kepada pasangan Calon Presiden - Wakil Presiden Jokowi - Ma'ruf.

Boleh jadi di mata Bawaslu, memang berbeda. Karena tak ada satupun para pejabat yang mengacungkan satu jari dan atau jempol yang diperiksa Bawaslu, padahal sudah berjelas-jelas menyatakan dukungan dan berkampanye.

"Tak ada yang melaporkan mereka," ungkap salah seorang anggota Bawaslu di Jawa Barat, kepada saya.

Saya jadi ingat. 27 Oktober 2018, jelang pergelaran Jakarta Melayu Festival (JMF), komisioner Bawaslu DKI Jakarta didampingi beberapa petugasnya menjumpai Geisz Chalifah (Produser) dan saya di Ancol.

Mereka memastikan, panggung yang sudah kami gelar selama delapan tahun bersama Anies Baswedan, Ferry Mursidan Baldan, dan beberapa teman lain (yang kini menjadi pendukung berat Jokowi-Ma'ruf), bukan panggung kampanye yang disiapkan untuk Sandiaga Uno.

Ehm. Kami persilakan mereka menonton sampai acara usai. Ujungnya, salah seorang mereka mengirim pesan pada Geisz, mengucapkan terima kasih telah menjaga panggung itu bukan sebagai panggung kampanye. Oo ho'o huwo'o... !!!

Para pejabat pendukung Jokowi-Ma'ruf boleh tetap bersukacita mengacungkan jari telunjuk dan jempol dalam rangka kampanye dan mengekspresikan dukungan, dan tak kan mengalami nasib seperti Anies. Lantaran akal sehat kami, tak akan menjentik siapapun untuk melaporkan mereka ke Bawaslu atau Panwaslu.

Bagi kami, ada yang jauh lebih utama dari itu, yakni bagaimana menjadikan Pemilu Serentak 2019 sebagai ajang demokrasi tempat akalbudi dimuliakan.

Soal ekspresi Anies di Sentul atau di hadapan suporter Jackmania, tak akan pernah berganti, sepanjang The Jackmania masih ada. Persija yang awal kelahirannya difasilitasi oleh putera Bertawi, Muhammad Hoesni Thamrin, akan selalu mendapat simbol itu.

Simbol semangat dan perjuangan konsisten untuk menang dan berjaya. Simbol tangan yang melambangkan huruf 'L' itu (ketika telunjuk teracung ke langit) boleh dilakukan untuk mengekspresikan 'hablum minallah wa hablum minannaas' - hubungan manusia dengan Allah dan insan sesama itu. Pada telunjuk menyatu prinsip: "sebersih-bersih tauhid dan setinggi-tinggi ilmu pengetahuan," dan pada jempol mengalir prinsip "sepandai-pandai siasah" yang menjadi ruh perjuangan HOS Tjokroaminoto menggerakkan perjuangan bangsa dan untuk pertama kali menawarkan nilai nasionalisme. Bukan narrow nationalism yang cekak, melainkan global nationalism.

Simbol jari yang melambangkan huruf "L" itu, kalau dibalik menjadi simbol: mengakar di bumi pertiwi untuk keadilan dan kemakmuran rakyat. Karena itulah bangsa ini harus sungguh berdaulat secara politik, kokoh dan mandiri secara ekonomi, dan unggul dalam peradaban.

Bila jari digerakkan horisontal, jempol ke atas dan telunjuk lurus ke mana saja, simbol jari itu bermakna "yap!" yang menghimpun energi komitmen perjuangan yang konsekuen dan konsisten untuk kepentingan bangsa secara keseluruhan. Artinya, ketika simbol jari itu dipergunakan, urusan kampanye, bukan hal utama.

Meminjam teori Robb Lammle ihwal bahasa isyarat dengan gerak jemari yang simbolis, adalah ekspresi keseteraan kaum egaliter yang memperlakukan pemimpin (dalam budaya Minang) hanya "didahulukan selangkah, ditinggikan seranting."

Buah perjuangan egaliterianisma, itu adalah ketika jari tengah dan telunjuk membentuk huruf "V" alias victory - kedigdayaan yang damai, yang untuk pertamakali dipakai oleh Winston Churchill untuk menunjukkan kebesaran bangsanya.

Simbol perjuangan yang konsisten yang mengalir pada lambang telunjuk dan jempol yang biasa dipakai sebagai salam The Jackmania, itu boleh jadi dianggap sebagai ekspresi "ngecèng" oleh kompetitor yang menjadi pecundang. Seperti yang tertampak dalam begitu banyak adegan dalam film Ace Ventura Pet Detective, yang populer pada awal dekade 90-an.

Ketika simbol itu di tangan Anies Baswedan menyusul kalimat Anies, "Apa yang terjadi di Jakarta akan terjadi di tingkat nasional," oleh kaum taqlidi -- kaum pak turut dan mak turut -- mungkin ditanggapi dengan rasa was-was dan cemas menjadi pecundang.

Teruslah acungkan telunjuk dan jempol yang bertuah itu, Bung Anies.

Ooo.. Ho'o Huwo'o... !!! |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1080
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 789
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 793
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Energi & Tambang