Trump Sebabkan AS sebagai Adidaya Disfungsional

| dilihat 668

Kerusuhan di Amerika Serikat (AS) yang semakin meningkat ketika bentrokan kekerasan meletus di lebih dari 70 kota dengan lebih dari 40 jam malam diberlakukan, tersebab oleh ketidakmampuan Presiden Donald Trump dan pembantu utamanya mengatasi penyebaran epidemi COVID-19, penurunan ekonomi yang parah dan tingkat pengangguran tertinggi dalam beberapa dekade.

Pendapat ini dikemukakan Zhao Minghao, peneliti senior di Charhar Institute dan asistensi di Institut Studi Keuangan Chongyang - Universitas Renmin China.

Dalam artikel opininya yang dipublikasikan Global Times, Rabu (3/6/20), Minghao menyebut bencana itu sebagai badai sempurna bagi Trump.

Presiden AS Donald Trump dan para pembantu utamanya, menurutnya,  bersalah atas meningkatnya kerusuhan. "Tidak ada keraguan bahwa Trump menganjurkan "supremasi kulit putih" dan basisnya sebagian besar adalah pasukan sayap kanan yang percaya pada supremasi kulit putih," ungkap Minghao.

Menurutnya, Trump awalnya meremehkan kematian George Floyd, seorang Afrika Amerika yang meninggal setelah seorang perwira polisi kulit putih menekan lututnya ke lehernya selama beberapa menit. Sikap Trump tidak menunjukkan simpati kepada warga Afro-Amerika. Mestinya, Presdien AS, itu menunjukkan simpatinya.

Minghao mencermati, setelah protes besar pecah di Minnesota dan negara bagian lain, Trump (lebih) memilih untuk mengintimidasi daripada menenangkan demonstran. Trump, bahkan mengancam akan melepaskan tembakan ke arah demonstran.

"Dia mungkin mencoba untuk mengambil kesempatan untuk menunjukkan kepada para pendukungnya bahwa dia adalah presiden yang tangguh, yang pantas mendapatkan kepercayaan mereka. Meskipun Trump berbicara dengan keluarga Floyd melalui telepon, dia tidak memberi kesempatan mereka bicara," ungkap Minghao kemudian.

Minghao mengutip Walikota Washington DC Muriel Bowser, yang mengatakan bahwa, "Kami membutuhkan para pemimpin yang ... di saat terjadi gejolak dan keputusasaan besar dapat memberi kami rasa tenang dan rasa harapan. Sebaliknya, apa yang kami dapatkan dalam dua hari terakhir dari Gedung Putih adalah pemuliaan kekerasan terhadap warga negara Amerika."

Menurutnya, kicauan Trump menambah bahan bakar ke dalam api. Kebrutalan dan ketidakpeduliannya terhadap para korban yang ditampilkan di Twitter telah mendorong lebih banyak orang Amerika turun ke jalan.

Mengutip Robert O'Brien, penasihat keamanan nasional Trump, menolak klaim rasisme sistemik dalam kepolisian, dengan alasan hanya ada "beberapa apel buruk" dalam sebuah wawancara dengan CNN Sunday, dia mengemukakan, sikap Trump, jelas bukan masalah "beberapa apel buruk," tetapi akar pohon itu sudah busuk.

Apa yang terjadi di AS dalam pandangan Minghao, bukan hanya masalah diskriminasi rasial, tetapi krisis tata pemerintahan yang serius. Sejak Trump berkuasa, ia tidak melakukan upaya untuk menjembatani keretakan dalam masyarakat AS, tetapi malah menciptakan perpecahan baru di antara kelompok etnis yang berbeda, antara Amerika dan imigran, serta antara para pendukung dan lawannya.

Selanjutnya, peneliti Institut Studi Keuangan Chongyang - Universitas Renmin China, itu mengemukakan:

"AS telah mencapai tingkat polarisasi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih buruk lagi, Trump mengambil keuntungan dari kerusuhan untuk menyerang walikota dan gubernur Demokrat, seperti yang telah dilakukannya terkait dengan epidemi.

"Tidak ada keraguan bahwa orang Amerika biasa membayar mahal untuk presiden dan pemerintahan yang dipimpinnya, dan sistem demokrasi AS sedang menjalani ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Di belakang kerusuhan, epidemi dan pengangguran adalah perpecahan etnis, keretakan sosial dan krisis kepemimpinan yang semakin serius.

"Seperti halnya Robert Blackwill, mantan duta besar AS untuk India, dan Thomas Wright, seorang senior di Brookings Institution, bersama-sama menulis dalam sebuah laporan, bahwa AS di bawah kepemimpinan Trump "mendapatkan reputasi sebagai negara adidaya yang disfungsional."

"Kemungkinan bahwa kerusuhan yang sedang berlangsung akan memperburuk situasi epidemi tidak dapat diremehkan. Semakin banyak orang Amerika yang kehilangan nyawanya. Jumlah infeksi COVID-19 telah melampaui 1,8 juta dan lebih dari 100.000 telah meninggal. Para ahli telah memperingatkan bahwa gelombang kedua kasus yang terinfeksi menyebar dari kota-kota pantai ke pusat-pusat populasi yang mengancam di tengah Amerika, New York Times melaporkan.

"Kerusuhan pasti akan memperburuk epidemi. Para pengunjuk rasa yang marah tidak memperhatikan jarak sosial. Bahkan jika mereka memakai masker, kemungkinan infeksi akan meningkat secara signifikan. Upaya untuk memerangi epidemi akan terganggu karena pemerintah daerah harus menggunakan sumber daya untuk memadamkan kerusuhan.

"Beberapa bulan terakhir telah melihat tingkat kematian COVID-19 yang lebih tinggi untuk orang kulit berwarna daripada orang kulit putih. Karena sejumlah besar orang kulit berwarna, khususnya Afrika-Amerika, telah turun ke jalan-jalan dan komunitas yang mereka tinggali dalam kondisi medis yang kurang baik, angka kematian dapat meningkat lebih jauh.

"Nasib orang Afro-Amerika dan orang-orang kulit berwarna di AS mengkhawatirkan. Mereka turun ke jalan untuk mencari keadilan terlepas dari ancaman yang ditimbulkan oleh epidemi dan membahayakan hidup mereka, tetapi pada akhirnya mereka mungkin tidak mendapatkan keadilan." |  (Jeanny)

Editor : Web Administrator | Sumber : GlobalTimes
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 306
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 315
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 278
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 606
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 527
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 220
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya