Titik Nol Wamena

| dilihat 103

Bang Sém

Airmata itu, boleh jadi sudah kering. Kesedihan itu, boleh jadi berangsur sudah reda. Harta benda yang lantak terbakar marah dilahap emosi yang meluah, itu boleh jadi akan lenyap dari daftar kekayaan pribadi atau daftar inventaris lembaga dan korporat.

Punggung para pendatang yang pulang ke kampung halaman atau kota asalnya dengan beragam kekuatiran, dan was-was, boleh jadi tak terlihat lagi, begitu pesawat yang membawa mereka menembus awan.

Wamena sebagai kota, juga akan berangsur pulih dengan geliatnya sendiri. Tentu dengan suasana yang berbeda.

Akankah luka, rintih, dan kenangan ikut pergi dan sirna dari kehidupan keluarga korban, khasnya anak-anak mereka?

Tak sesiapa bisa menjawabnya, karena tak seorang pun bisa menjawab dengan pasti, bagaimana sisa-sisa kemanusiaan yang teronggok bersama sisa kerusuhan akan menyimpan persoalan laten berkepanjangan hingga entah bila. Ke suatu masa, yang boleh jadi tak kan pernah kita kunjungi.

17 Agustus 2014, saya menulis puisi bertajuk Indonesia Bara Api di Sekam Diam, ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia genap 69 tahun.

Di salah satu kupletnya, saya menulis  begini:

Indonesia bara api di sekam diam/Kelak panasnya buncah membuncah/Tak lagi kobar semangat bersatu tekad/Tapi tikam lidah melontar argumen merangkai kata/Mengubah kebenaran jadi pembenaran/ Mengubah cinta jadi benci/Mengubah rahmat jadi laknat/Mengubah do'a jadi rutuk/Mengubah sunyi jadi ramai/Biar aku ramai dalam heningnya, hening dalam riuhnya//

Menyimak seluruh rangkaian peristiwa yang menimpa Wamena dan berbagai kota dan daerah di tanah air, saya tercenung membaca setiap larik dalam kuplet puisi itu. Sungguhkah cinta telah berubah benci, rahmat berubah laknat, dan do'a berubah rutuk?

Sanggupkah jemari kita memunguti setiap bara api dalam sekam dan melenyapkannya di samodera tak bertepi? Lalu, dengan sisa luka di setiap bagian jemari tangan, kita merajut kembali merah putih yang beberapa bagiannya terpercik bara menjadi utuh seperti semula?

Kita harus mengatakan kepada anak-anak dan cucu yang akan hidup di zaman baru, kelak, "bangsa ini selalu punya cara untuk menjadi utuh kembali, menjadi negeri damai tempat cinta dan kasih sayang disemaikan."

Bila?

Ketika anak-anak dan cucu kita hadir dengan jiwa raga yang sehat, cerdas di atas kearifan dan kebajikan, segar dalam memandang segala persoalan dengan cara terbaik, tak lagi mengikuti cara dan kebiasaan kita: memproduksi alasan (intuitive reason) setiap kali menghadapi persoalan.

Cara itu adalah kesadaran tentang eksistensi kita sebagai sebuah bangsa yang dihidupkan oleh semangat keindonesiaan yang relijius, kesadaran insani untuk selalu antusias memelihara energi persatuan -- lantaran sadar akan pluralitas dan multikulturalisme yang menghidupkannya.

Cara itu adalah simpati dan empati yang terus terpelihara di setiap sanubari, yang daripadanya mengalir sikap saling menghargai dan saling membantu sesamanya.

Simpati dan empati, yang dalam filosofi Bugis dikenal dengan, Pada idi pada ilok sipatua sipatokong (hidup berdampingan tolong menolong, saling menghormati), sipakatau (saling memanusiakan, saling memuliakan) dan taat pada nilai dan komitmen kebersamaan berkeadilan. Karena menyadari hidup dan takdir setiap orang berbeda-beda, pada lao teppada.

Simpati dan empati yang menghidupkan apresiasi kepada orang lain, karena seperti dalam tradisi Minangkabau, setiap orang mesti mempunyai manfaat bagi orang lain: lamak di awak, katuju di urang. Karena sebagai Indonesia yang sesungguhnya, kita dalam perspektif hidup dari utara Sulawesi, torang basudara - kita bersaudara.

Dalam pergaulan persaudaraan itu, berlaku sifat benar dan jujur yang menghidupkan sifat lurus dan ikhlas: nak luruih rantangkan tali, luruih bana dipacik sungguah. Apresiasi yang mendatangkan respek dan menghidupkan cinta. Seperti nilai kebajikan yang hidup di Wamena, "Apuni inyamukut wewek halok yugunat tosu." (Berbuatlah sesuatu yang terbaik atas sesama).

Kata kuncinya adalah saling menghormati adat tradisi, budaya, dan keyakinan kita. Seperti kata bijak dari Ternate, "Kusu ma-bunga yo-sai fo marasai, kano kano ma duko mai fo manggungano," yang beramsal: alang-alang (yang) bunganya melayang kita rasakan, sepucuk rumput tebu kita harapkan.

Hidup mestilah saling mencerahkan, seperti filosofi Jawa, "Urip iku urup." Karenanya, setiap manusia, berkewajiban, "memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara."  Setiap manusia mengemban amanah untuk selalu mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan kolektif, dan berkewajiban memerangi sikap buruk di dalam dirinya: angkara murka, serakah, dan tamak.

Manusia tak bisa hidup dengan komunitasnya sendiri, karena secara alamiah, manusia dalam budaya Sunda, mengemban amanah: nu jauh urang deukeutkeun, geues deukeut urang paheutkeun, geus paheut urang layeutkeun, geus layeut silih wangikeun (yang jauh kita dekatkan, yang dekat kita karibkan, setelah karib, mengikat komitmen saling memuliakan).

Titik Nol Wamena

Bangsa ini mempunyai begitu banyak kearifan dan kecerdasan lokal yang tersebar dari Aceh sampai Papua, tetapi seringkali semua kekayaan budaya itu tak lagi terjamah, ketika kecerdasan palsu ditebar sejumlah orang, melalui hoax alias berita wadul.

Hoax menjadi pemantik friksi dan konflik sosial, karena secara budaya masyarakat bangsa archipelago semacam Indonesia, belum mampu mengatasi kesenjangan dan ketimpangan sosial dan ekonomi. Kesenjangan dan ketimpangan yang menyebabkan terjadinya ambivalensia orientasi budaya di tengah percepatan kemajuan teknologi informasi. Terutama ketika globalisasi dan glokalisasi menghimpit kuat, di tengah berbagai institusi sosial, termasuk partai politik dan negara tidak memainkan peran strategisnya sebagai pendidik rakyat.

Situasi itu mudah menjadi 'api dalam sekam.' Apalagi sikap disulut oleh sikap rasisme yang cepat memilah dan memisah masyarakat dalam dikotomi etnikal: penduduk asli  dan pendatang, pituin dan mukimin. Rasisme yang mudah tersulut, ketika secara alamiah dan fisikal, memang terdapat perbedaan menyolok dalam perspektif ras.

Gagasan tentang harmoni berbasis cinta yang ditawarkan Santo Augustine dan Thomas Aquinas yang didasarkan pada ide-ide neoplatonik berbasis emosi, tak cukup mampu mengintegrasikan antar elemen dan komponen masyarakat. Terutama, karena konsolidasi internal berbasis etnis dan ras, jauh lebih kuat.

Persitiwa di Wamena dilihat dari perspektif pemikiran Thomas Aquinas menemukan realitasnya, bahwa emosi bukanlah subjek. Emosi, serta mereka yang bereksperimen dengannya, memiliki efek yang sama. Apalagi, sejak era reformasi, kebebasan hanya dipahami sebagai kebebasan, yang muaranya adalah anarkisme, kekerasan.

Letupan anarkisme yang bahkan sudah sampai pada tingkatan dehumanitas ini, dimungkinkan oleh aksi orang-orang yang merasa dalam kelompok emosi-emosi ini, mengekspresikan reaksi penolakan yang eksplosif atas sikap penguasa yang lamban dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang meletup sebelumnya.

Pendekatan pemerintah hanya bertumpu pada bagaimana 'memadamkan api,' dan tidak sampai pada upaya 'memadamkan bara dalam sekam.' Berbagai keterangan dan pernyataan publik para petinggi pemerintah, menggambarkan bagaimana realitas dan eksistensi rakyat belum dilihat secara jernih.

Rakyat belum dihampiri secara komprehensip sebagai pumpunan komunitas sosial dan komunitas individu yang berada dalam keadaan emosi yang sama, yang secara penetratif hipodermis dihantui oleh kecemasan, sehingga menempatkan para pendatang, mukimin sebagai ancaman eksternal ini.

Pendekatan keamanan dan pendekatan kesejahteraan, tak disertai dengan analisis kultural, yang memungkinkan untuk menghubungkan orientasi ke-Indonesia-an dengan daya emosional masyarakat pituin. Dimensi emosi masyarakat pituin sebagai bagian sangat penting dari proses governansi - tatakelola masyarakat, belum sepenuhnya tersentuh.

Boleh jadi karena terlalu yakin dan percaya dengan beragam kebijakan dan rekomendasi satuan-satuan tugas yang dibentuk secara khas untuk menangani Papua.

Ke depan, sebaiknya pemerintah melakukan kajian khas seputar orientasi dan cara tatakelola kebijakan dan penyelesaian masalah sampai menemukan kebijakan yang paling tepat dan pas dalam memberi solusi atas beragam persoalan di bawah permukaan.

Sebaiknya pemerintah tak terpaku hanya pada isu-isu permukaan terkait dengan gagasan Papua merdeka yang tak mudah diwujudkan. Melainkan, berusaha menggali secara multidimensi spirit Melanesia - Melanesian, yang kian bergerak dinamis bersamaan dengan kuatnya isu tentang Trans Pacific Partnership (TPP) yang terus dimainkan Australia.

Spirit Melanesia-Melanesians mengandaikan kecemasan sebagai salah satu emosi par excellence, yang tersimpan di dalam Melanesia Way. Kecemasan ini memungkinkan berkembangnya orientasi pemikiran dan gagasan-gagasan progresif, demi kedaulatan yang mengalir ke seluruh komunitas Melanesia, termasuk Papua di dalamnya.

Jadikan peristiwa Wamena sebagai titik nol transformasi dan reorientasi pembangunan sekaligus bukti, bahwa negara hadir secara nyata, dan Indonesia adalah asa terbaik dari begitu banyak harapan hari esok Papua. |

 



BACA JUGA: Dimensi Ketuhanan dan Kemanusiaan di Tengah Pusaran Budaya

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto: KaltimPos dan IndonesiaKaya
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 19, 08:57 WIB | Dilihat : 418
Langkah HK Membentang Masa Depan di Sumatera
04 Okt 19, 22:49 WIB | Dilihat : 180
Suap Menyuap Direksi BUMN
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 368
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 220
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
Selanjutnya
Energi & Tambang