Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar

| dilihat 159

Bang Sém

Bupati Minahasa Selatan, Christiany Eugenia Paruntu yang lebih populer sebagai Tetty Paruntu jadi buah bibir. Pasalnya? Tetty datang ke Istana Negara - Jakarta, Senin (21/10/19) bertepatan dengan momen 'pengenalan calon menteri kabinet Joko Widodo (Jokowi) - Ma'ruf Amin (Ma'ruf).

Tetty terbilang perempuan pertama yang datang ke Istana Negara di antara Mahfud MD, Nabiel Makarim, Wisnutama, dan Erick Thohir. Keempat orang, itu selepas jumpa Jokowi menyatakan dirinya diminta membantu Jokowi - Ma'ruf. Tapi, Tetty seperti 'datang tampak muka, pergi tak tampak punggung.' Berbeda dengan Ketua Umum Partai Golkar, yang 'datang tak tampak muka, pergi tampak punggung.'

Wawancara khas jurnalis utama -- yang juga Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat -- Ilham Bintang  dengan Tetty, yang kemudian tular (viral), akhirnya menguak cerita.

Persis seperti presumsi di benak saya, Tetty yang juga Ketua DPP Partai Golkar, datang ke istana, memenuhi undangan atau 'undangan.' Pratikno -- Menteri Sekretaris Negara di Kabinet Jokowi - JK -- yang mengundangnya datang via pesan whatsapp.

Tetty sudah berada di Istana, sekira pukul 10.00 wib, dan tak tampak 'keluar' sebagaimana yang lain keluar.

Lebih satu jam Tetty di Istana, mengisi borang (formulir) yang disiapkan dan menanda-tangani pakta integritas. Tentu, sebagaimana lazimnya calon petinggi negeri, Tetty mengklarifikasi dirinya: Tidak berkewarganegaraan ganda, tidak pula tersangkut masalah hukum.

Dalam wawancara khas dengan Ilham Bintang, Tetty pun, meluruskan cerita miring yang terhubung dengannya. Antara lain,  pasal dia pernah dipanggil KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terkait kasus Bowo Sidik - yang tertangkap tangan mengumpulkan dana miliaran untuk 'serangan fajar' Pemilihan Umum 2019; Juga, soal mutasi  Aparatur Sipil Negara (ASN) di kantor Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, yang mengakibatkan sekda (sekretaris daerah)-nya diselidiki pihak berwajib.

Febri Diansyah, juru bicara KPK, Senin (21/10) siang, menerangkan, Tetty pernah diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebagai saksi dalam proses penyidikan dan persidangan Bowo Sidik. 

Dari ceritanya dalam wawancara, itu Tetty menegaskan dirinya mengklarifikasi berbagai ihwal abu-abu tentang dirinya kepada Praktikno, bahkan kepada Airlangga Hartarto - selaku Ketua Umum Partai Golkar yang datang kemudian.

Apapun cerita dan ragam informasi yang mengemuka, keberadaan Tetty di Istana Negara saat itu, mengkonfirmasi, ada persoalan intern di lingkungan Partai Golkar yang tidak clear terkait dengan eksistensi kader, yang dipromosi untuk memangku jabatan sebagai petinggi negeri, khasnya jabatan menteri.

Dalam pikiran amah dan logika sederhana, tentu Praktikno, tak akan mengirim pesan personal kepada Tetty (Ahad, 20/10/19) yang memintanya datang ke Istana Negara dan berkoordinasi dengan Kepala Biro Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden, Bey Triadi  Mahmudin.

Kepada pers, Bey mengemukakan, " Tadi ada Bu Tetty dan Bu Tetty usulan Partai Golkar dan di dalam beliau menunggu pak Airlangga. Setelah itu dia lewat ke samping dan tidak bertemu presiden." (Kumparan, 21/10/19, 15:11).

Tak mungkin juga Tetty, ujug-ujug atas inisiatifnya datang ke Istana Negara pada momen 'Spectacle de théâtre du palais,' yang menjadi sorotan jutaan rakyat, hanya untuk menjumpai Ketua Umum Partai Golkar.

Sebagai Ketua DPP Partai Golkar dan Bupati, tentu dia paham tata krama, prosedur, dan momen untuk datang ke Istana Negara. Dia juga paham, bagaimana mesti membuat janji untuk ketemu Ketua Umum Partai Golkar. Tentu tak di istana.

Alhasil, kalimat Bey Mahmudin, "..Bu Tetty usulan Partai Golkar," secara aksentutatif dan konotatif menegaskan, Praktikno mengundang Tetty ke Istana sesuai usulan Partai Golkar untuk bertemu Presiden Jokowi dan dalam konteks pengenalan calon menteri.

Pernyataan itu relevan dengan penjelasan Tetty kepada Ilham Bintang, bahwa dia diusulkan secara resmi oleh Partai Golkar untuk menjadi anggota Kabinet Jokowi - Ma’ruf. Yang mengusulkan kepada Presiden Jokowi , Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.

“Saya diberitahu Pak Ketum di kantor Golkar tiga hari lalu, waktu itu hari Jumat. Pak Airlangga menyampaikan bahwa Tetty termasuk dari empat nama dari Partai Golkar yang diusulkan menjadi anggota kabinet. Tiga lainnya, Pak Zainuddin Amali, Pak Agus Gumiwang, dan Pak Airlangga sendiri. Saya tidak pernah minta-minta untuk diutus Partai Golkar. Catat itu Bang,“ ungkap Tetty dalam wawancara khas itu.

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto kepada pers menjelaskan, karena tak bertemu Presiden Jokowi, Bupati Minahasa Selatan itu, kemungkinan tak masuk dalam kabinet Jokowi - Ma'ruf.

Bagi saya, ada hal yang jauh lebih penting dari Tetty masuk atau tidak ke dalam barisan kabinet Jokowi - Ma'ruf, yakni persoalan kemanusiaan. Tetty barangkali bisa mengabaikan peristiwa yang menimpa dirinya. Tapi, boleh diyakini, peristiwa itu tak akan hilang dari memori kehidupannya. Karena peristiwa itu merupakan historical moment, yang tak hanya berdampak personal pada dirinya, melainkan berdampak sosial bagi lingkungannya.

Di sisi lain, nampak, Partai Golkar yang sudah sangat berpengalaman dalam proses semacam ini, kali ini menampakkan diri sebagai partai yang tak cukup dewasa dalam merekrut kader untuk posisi-posisi penting. Padahal, Partai Golkar mempunyai banyak kader yang punya akses dan relasi baik dengan tokoh-tokoh nasional, regional, dan global yang akan bermanfaat bagi Indonesia ke depan.

Peristiwa Tetty Paruntu adalah cermin kusam Partai Golkar. Sekaligus memberi gambaran, kepemimpinan Ketua Umum Partai Golkar belum mempunyai pengalaman matang sebagai 'the best talent scout.'  Dan boleh diyakini, Partai Golkar yang sudah berusia 55 tahun itu, perlu secara khusus mengagendakan 'cadre (man power) plan' yang menjadi pondasi carrier plan para kadernya.

Ihwal satu ini, agaknya perlu jadi agenda diskusi khas dalam Munas Partai Golkar mendatang. Termasuk cultural audit untuk menjamin good governance partai lima tahun ke depan, untuk kembali menjadi partai yang berwibawa. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 993
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1016
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 989
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 577
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
06 Nov 19, 11:12 WIB | Dilihat : 1395
Penguatan Profesionalisme Transformasi BUMN
05 Nov 19, 11:16 WIB | Dilihat : 896
Jalan Tol Sumatera Telangkai Mega Region
04 Nov 19, 13:44 WIB | Dilihat : 543
Benahi Hukum dan Prasarana Utama Investasi
Selanjutnya