Teroris ISIS dan Separatis Ahvazi Serang Parade Militer Iran

| dilihat 461

IRAN tersentak seketika. Sukacita Teheran terampas sesaat. Sabtu (22/9/18), kala sejumlah teroris separatis Arab menyerang tentara dan warga sipil Iran, saat berlangsung parade militer di Ahvaz, barat daya Iran. Di provinsi ini tinggal etnis Arab.

Serangan itu tak terduga, karena sebelumnya masyarakat muslim Iran, baru saja memperingati Hari Asyura, peringatan duka mengenang syahidnya Imam Hussein, cucu Rasulullah Muhammad, putera Imam Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az Zahra.

Sejumlah kantor berita, baik yang berada di lokasi atau dari pos pemberitaan mereka di luar Iran melaporkan, tak kurang dari 29 orang tewas dan 60 orang luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak.

Serangan itu seolah menyambut pernyataan Presiden Iran, Hassan Rouhani dalam parade militer di Teheran, sehari sebelumnya (Jum’at, 21/9/19), bahwa Republik Islam Iran mempunyai kekuatan untuk mencegah serangan apapun. Jum’at itu, Iran memperlihatkan berbagai drone dan rudal sebagai alat utama sistem persenjataan (alutsista) militernya.

Parade militer itu sendiri merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan Pemerintah Republik Islam Iran berupa “Pekan Pertahanan Suci” untuk memperingati dimulainya perang panjang dengan Irak tahun 1980 yang melibatkan Kuwait dan Saudi Arabia, dan akhirnya melibatkan Amerika Serikat.

Laporan para jurnalis dan keterangan saksi mata menggambarkan, serangan teroris itu berlangsung mendadak, ketika seseorang melakukan  tembakan pertama. Seketika itu juga kerumunan orang, termasuk barusan drumb band yang sedang melakukan devile, pecah.

Beberapa letusan senjata terdengar dan terlihat beberapa tentara yang sedang melakukan devile tersungkur.  Warga sipil yang menyaksikan parade militer itu, lintang pukang, mencari perlindungan.

Tembakan berkelanjutan terdengar. Tentara Iran mengambil posisi membentengi warga sipil dalam jarak dekat, menyelamatkan kaum perempuan dan anak-anak. Garda Revolusi itu, menggunakan tubuh mereka menjadi tameng. Terlihat, pasukan Garda Revolusi dengan seragam lengkap dan berselempang tanda jasa,  melarikan anak lelaki yang berdarah, terkena tembakan.

Seorang lelaki berteriak, “Ya.. Allah.. Pergi.. pergi.. pergi…” Lelaki yang lain menyeru pada warga sipil perempuan, “Tiarap.. tiarap.. tiaraplah,” serunya ketika melihat seorang perempuan Iran berlari sambil melindungi bayinya.

Sejumlah petugas paramedis terlihat sibuk menyelamatkan warga sipil dan tentara yang terluka dan berlumuran darah. Mereka baku bantu melarikan korban ke ke ambulans. Video yang diperoleh dari kantor berita AP (The Associated Press) menunjukkan sejumlah tentara, sudah menjadi mayat, ketika dilarikan ke ambulans.

Beberapa di antara mereka bergelimpangan di tanah bermandi darah, kemudian mergang nyawa. Beberapa lelaki membuka jas mereka, menutupi korban tewas, sambil meraung kesedihan.

ISIS (Islamic State in Iraq and Syria) mengklaim, mereka yang menyerang tentara Iran pada parade militer yang gempita itu.

Menurut pengakuan mereka, militan ISIS dan para teroris yang mereka susupkan ke Teheran, melakukan serangan untuk menunjukkan kepada dunia, Iran tak punya kekuatan yang mereka banggakan.

Serangan ISIS atas Iran, tak berapa lama setelah penguasa di Teheran menyatakan, serangan itu dilakukan oleh Sekutu Amerika Serikat di wilayah itu.

Para penyerang yang diklaim ISIS, itu menyamar ketika tentara melepaskan tembakan salvo saat parade militer Iran tahunan itu berlangsung di Ahvaz, barat daya negara kaya minyak, itu.

Inilah serangan teror paling mematikan bagi Iran dalam satu dekade terakhir.

Pasukan Garda Revolusi Iran bergerak cepat menyelamatkan kaum perempuan dan anak-anak yang terkejut karena kekacauan yang terjadi tiba-tiba, seperti terekam dalam siaran langsung televisi pemerintah.

Klaim ISIS atas serangan itu menandai babak baru kerumitan di Timur Tengah. ISIS selama ini melatih separatis Arab di Iran untuk melakukan serangan malam hari di saluran pipa minyak yang tidak dijaga. Iran, memang tinggal satu dari sangat sedikit negara di Timur Tengah yang masih mempunyai deposit minyak dan gas bumi melimpah.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, sebagaimana Presiden Hassan Rouhani, segera menyalahkan negara-negara regional sekitar Iran, dan Amerika Serikat sebagai biang di balik serangan itu. Menurut Zarif, mereka mendanai dan mempersenjatai kaum separatis, karena ketegangan regional yang tetap tinggi setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir dengan Iran.

"Iran akan merespon dengan cepat dan tegas dalam membela kehidupan Iran," tulis Zarif di akun Twitter-nya.

Sejumlah saksi mata menceritakan apa yang mereka lihat. Serangan bermula dari barisan penonton yang mengenakan seragam militer dan polisi di antara undangan. Delapan orang anggota pasukan Garda Revolusi menjadi sasaran tembak mereka pertama kali.

Kantor Berita Tasnim menyebut, delapan Pasukan Garda Revolusi yang bertugas utama menjaga keamanan para petinggi Iran, itu roboh menyusul terdengarnya suara letusan senjata.

"Kami tiba-tiba menyadari bahwa beberapa orang bersenjata yang mengenakan pakaian militer, itu adalah tentara palsu. Mereka penyusup yang mulai menyerang kawan-kawan dari belakang panggung,” ujar salah seorang polisi.

“Lalu, para penyusup, teroris yang menyerang itu menembaki wanita dan anak-anak," ujar seorang tentara yang terluka, dalam keterangannya di layar televisi, tanpa menyebut namanya. "Mereka menembak tanpa tujuan dan tidak memiliki target khusus,” lanjut tentara yang terlihat berdarah-darah itu.

Beberapa jam lamanya, siaran televisi pemerintah menayangkan siaran terkait peristiwa itu.

Presiden Hassan Rouhani memerintahkan Kementerian Intelijen Iran segera menyelidiki serangan itu. Kantor berita IRNA melaporkan, "Presiden menekankan bahwa tanggapan Republik Islam Iran terhadap ancaman sekecil apa pun akan menjadi keras, tetapi mereka yang mendukung teroris harus bertanggung jawab."

Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menggambarkan serangan itu sebagai upaya teroris untuk mengekspos "kekejaman dan keganasan musuh-musuh bangsa Iran."

"Kejahatan mereka adalah kelanjutan dari konspirasi oleh rezim yang didukung AS di wilayah tersebut yang bertujuan menciptakan ketidakamanan di negara kita tercinta," kata Khamenei dalam sebuah pernyataan. "Namun, mereka kecewa, bangsa Iran akan bertahan pada jalan mulia. Mereka mengambil jalan pongah dalam mengatasi semua pertentangan dan permusuhan, seperti yang terjadi sebelum ini,” ungkap Khamenei.

Tersurat dan tersirat, pernyataan pemimpin tertinggi Iran, itu menggambarkan ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS. Pemerintahan Trump menarik dari perjanjian nuklir 2015 dengan Iran, pada bulan Mei lampau.

Sejak itu, Amerika Serikat telah memberlakukan kembali sanksi yang semula mereda di bawah kesepakatan. Negara itu juga telah melakukan tekanan terhadap Iran secara gradual, dan selalu menempatkan Iran sebagai negara teroris. Sekarang buah fitnah itu, berbalik kepada mereka, karena terbukti yang justru melakukan serangan adalah kaki tangan dan boneka  Washington dengan "kegiatan fitnah yang keji dan nyata" di kawasan itu.

Terlepas dari hubungan-hubungan yang sensitif itu, pemerintah AS sangat menyesalkan serangan itu, dengan mengatakan bahwa "Amerika Serikat mengutuk semua tindakan terorisme dan kehilangan nyawa tak berdosa."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert mengatakan, "Kami berdiri dengan rakyat Iran melawan momok terorisme Islam radikal dan menyampaikan simpati kami kepada mereka pada saat yang mengerikan ini.”

Pemerintah Iran menggambarkan, mereka yang melakukan  serangan bersenjata, itu datang dari kalangan kaum takfiri, yang selalu memnyebut Iran sebagai negara kafir. Kaum Takfiri mengkafirkan Iran, karena membantu Presiden Suriah Bashar Assad dalam perang panjang negaranya, mempertahankan keabsahan pemerintahan.

Kaum takfiri dibantu oleh Saudi Arabia dan sekutu Amerika Serikat di kawasan itu.

Kendati demikian, media dan pejabat pemerintah tampaknya mencapai konsensus untuk menyatakan, bahwa serangan itu dilakukan oleh separatis Arab di wilayah negara itu, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Selama ini, para separatis Arab di Iran mendapatkan dukungan dan pelatihan dari kaum takfiri. Mereka menuduh pemerintah Iran yang didominasi Persia, bertindak diskriminatif terhadap minoritas etnis Arab. Walaupun, kenyataannya, seorang Ahvazi Arab, Jenderal Ali Shamkhani, kini menjabat sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Kaum separatis yang mendapat dukungan ISIS, itu sebelum ini melakukan aksi protes kepada pemerintah Iran. Mereka berteriak menuntut keadilan pelayanan di Provinsi Khuzestan atas kekeringan nasional  yang melanda Iran Mereka juga melakukan protes terkait kondisi ekonomi.

Pemerintah Iran segera menuding Kerajaan Saudi Arabia, yang mereka sebut sebagai  kerajaan lanun di Timur Tengah, karena selama ini mendanai kegiatan separatis Arab di Iran. Media pemerintah di Arab Saudi tidak segera mengakui serangan itu, meskipun saluran satelit berbahasa Arab yang berbasis di Saudi dan Inggris segera melakukan wawancara dengan aktivis Ahvazi yang mengklaim serangan hari Sabtu.

Hamid Baeidinejad, duta besar Iran untuk Inggris, menyebut keputusan saluran itu melakukan wawancara dengan aktivis Ahvazi sebagai "tindakan keji." Pernyataan itu, disampaikan Baeidinejad dalam sebuah posting di akun Twitter-nya dan mengatakan negaranya akan mengajukan protes kepada pihak berwenang Inggris atas siaran tersebut.

Yacoub Hor al-Tostari, juru bicara Gerakan Perjuangan Arab untuk Membebaskan Ahvaz, kemudian mengatakan kepada AP, bahwa serangan itu memang dipimpin oleh anggota kelompok payung aktivis Ahvazi.

Serangan itu ditujukan untuk merusak citra pemerintah Iran. “Pada hari itu, kami ingin memberikan pesan kepada dunia bahwa mereka kuat dan terkendali," kata al-Tostari. Untuk mendukung klaimnya, ia memberikan rincian data tentang salah satu penyerang yang tidak dapat segera diverifikasi oleh AP.

Kelompok IS (Islamic State) yang juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, menyampaikan pesannya melalui kantor berita Amaaq, tetapi tidak memberikan bukti bahwa serangan itu dilakukan oleh mereka.

Mulanya mereka menyatakan, serangan Ahvazi itu ditujukan kepada Rouhani, yang berada di Teheran.

Dari berbagai pemberitaan media yang tidak solid, para militan telah membuat serangkaian klaim palsu di tengah kekalahan besar mereka di Irak dan Suriah.

Mereka kecele, karena Presiden Rouhani, memilih agenda untuk menyaksikan parade militer di Teheran. Bukasn di Ahvaz. Parade militer di Iran, memaerkan rudal balistik yang mampu mencapai pangkalan militer Israel dan AS di Timur Tengah.

Rouhani mengatakan penarikan AS dari kesepakatan nuklir adalah upaya untuk membuat Iran melepaskan persenjataan militernya. Para inspektur PBB mengatakan, Iran masih mematuhi kesepakatan itu, yang melihatnya membatasi program nuklirnya sebagai ganti pencabutan sanksi ekonomi.

"Iran tidak mengesampingkan pertahanannya atau mengurangi kemampuan defensifnya," kata Rouhani. "Iran akan menambah kekuatan pertahanannya hari demi hari."

Jenderal Iran Abolfazl Shekarchi, juru bicara angkatan bersenjata, menuduh, bahwa empat militan yang terlibat dalam serangan hari Sabtu di Ahvaz, itu "bergantung pada dinas intelijen AS dan Mossad" Israel. "Mereka telah dilatih dan diorganisir di dua negara Teluk Persia," katanya, tanpa merinci.

Serangan Sabtu, itu terjadi agaknya telah terkoordinasi, setelah 7 Juni 2017 lampau, mereka mencoba serangan ke Qom, ke makam Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam 1979 Iran.  Kala itu, serangan mereka menewaskan 18 orang dan lebih dari 50 orang terluka.

Presiden Rouhani memilih jalan moderat, tidak seperti Ahmadinejad, pendahulunya, yang memilih jalan keras menghadapi Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan itu.

Karenanya, serangan  yang terjadi di Ahvaz itu mengejutkan Teheran, yang sebagian besar telah menghindari serangan militan dalam beberapa dasawarsa.

Dalam dekade terakhir, serangan militan korban-korban telah sangat langka. Pada tahun 2009, lebih dari 40 orang, termasuk enam komandan Garda, tewas dalam serangan bunuh diri oleh teroris militan di provinsi Sistan dan Baluchistan Iran.

Ketika itu, mereka mati sedikitnya 29 orang termasuk wanita dan anak-anak dalam serangan Sabtu pada parade militer Iran yang diklaim oleh kelompok IS. Ketika itu, Teheran menuduh sekutu AS mendukungan teroris di wilayah serangan itu.

"Kami mengatakan kepada dunia, selama pembicaraan (nuklir) kami tidak mendukung agresi apapun ... Kami mendukung dialog," kata Rouhani dalam siaran langsung.

"Kami tidak menyerang negara manapun dan tidak ingin perang tetapi kami akan dengan tegas menghadapi setiap agresi terhadap Iran," katanya, ketika helikopter dan jet tempur terbang di atas dan para penerjun terjun mendarat di area pawai di selatan ibu kota dekat makam pemimpin revolusioner Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Rouhani, yang pemilihannya pada bulan Juni membuka jalan bagi pencairan besar dalam hubungan dengan Barat, mengacu pada pembicaraan dengan enam kekuatan besar untuk menuntaskan kesepakatan permanen yang bertujuan menyelesaikan kebuntuan nuklir yang telah berusia satu dasawarsa. | Jeehan / Delanova

Editor : Web Administrator | Sumber : AP/IRNA/TIME/Post/ dan berbagai sumber
 
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 293
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 285
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 305
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
Selanjutnya
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 82
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 151
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya