Obituari Datuk Ahmad A Thalib

Tak Kan Patah Pena Meneruskan Perjuangan Tok Mat

| dilihat 226

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Ajal selalu bersama manusia, meski manusia tak pernah tahu kapan akan wafat. Dalam kearifan Ternate - Tidore, "Dola Bololo," yang digubah Habib Hasyim Albaar, qadi di Ternate, yang diteruskan anaknya Habib Abdurrahman bin Hasyim Albaar, disebut "Ajali fo tuda-tuda. Sone fo madodoho ua."

Selepas maghrib, lewat grup whatsapp, jurnalis Malaysia - Indonesia, kabar duka wafatnya sahabat, Datuk Ahmad Thalib (Tok Mat) saya terima. Tok Mat wafat dalam usia 69 tahun di Pusat Perubatan Universiti Malaya (PPUM), akibat penyakit kanser.

Allahyarham yang berasal dari Kuala Kubu Bharu, mengawali karirnya sebagai reporter kadet di Pertubuhan Berita Nasional Malaysia (BERNAMA). Meninggalkan seorang istri, Norsimah Daud (66), empat anak dan seorang cucu.

Setelah berjaya sebagai wartawan di Pertubuhan Berita Nasional Malaysia (BERNAMA) pada 1972, allahyarham menjadi jurnalis di Business Times (Malaysia) Sdn Bhd (yang semula Penerbitan Kwangan Sdn Bhd) -1978. Lalu bekerja di Berita Harian -1985.

Karirnya terus berkembang sampai menjadi redaktur di Berita Harian, lalu redaktur di New Straits Times; untuk selanjutnya menjabat  sebagai pemimpin redaksi, termasuk associate editor untuk grup penerbitan yang dikelola Media Prima Bhd Ketua Pengarang Berita, Pengarang Bersekutu dan Penolong Pengarang Kumpulan (1991-1996). Tahun 1998, allahyarham dilantik sebagai Pengarang Kumpulan, New Straits Times (1998); Lalu, Pengurus Besar Kumpulan dan Komunikasi dan Pemasaran Editorial - 2004.

Beberapa hari sebelumnya, salah seorang puterinya menyampaikan kabar perkembangan kondisi allahyarham, termasuk untuk dan atas nama allahyarham, menyampaikan ma'af kepada seluruh kolega dan memohon do'a untuk allahyarham.

Allahyarham yang juga biasa dipanggil Tok Mat, dimakamkan selepas Isya' pada Selasa, 26 Mei 2020, di sekitaran kediamannya di Bandar Tasik Selatan, setelah sebelumnya disalatkan di masjid Al Muqarrabin di kompleks perumahan itu.

Tok Mat adalah salah seorang jurnalis utama Malaysia yang peduli pada kemesraan hubungan antara Malaysia - Indonesia, salah seorang pendiri dan kemudian memimpin pertama kali ISWAMI (Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia Indonesia).

Sophia Ahmad, 42, puteri sulungnya yang juga berprofesi sebagai jurnalis Berita Harian, mengemukakan, Senin (25/5/20) malam, sebelum tak sadarkan diri, allahyarham masih sempat berbincang dengan dirinya.  

"Semalam pun tutur kata baba (ayah) sudah tidak begitu jelas. Baba sebelum ini ada nyatakan hasrat supaya jenazahnya dikebumikan di kawasan berhampiran rumah kami di Bandar Tasik Selatan, " katanya.  

Meski telah pensiun, Tok Mat masih menulis di kolomnya, Kurang Manis - NST dalam edisi Minggu yang pertama kali muncul pada Agustus 1995.

Pada kolomnya tanggal 3 Mei 2020, allahyarham menyoroti tentang pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar yang disebut MCO (movement control order). Allahyarham menyebut momen MCO merupakan waktu terbaik untuk untuk merenungkan kehidupan.

“Jadi berhentilah mengeluh dan mengeluh tentang MCO. Gunakan itu untuk merefleksikan nilai-nilai keluarga, target, merencanakan karier, dan ikatan yang erat. Anda mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan lain, ”tulisnya dalam kolom berbahasa Inggris, bertajuk "MCO the best time to reflect on life."

Tulisan itu menggugah. Allahyarham mengemukakan, "COVID-19 telah mengubah dunia. Terus melakukannya. Berapa banyak yang telah mengubah Anda, keluarga Anda, gaya hidup Anda? "Bisnis dunia telah berubah, dan beberapa bahkan mungkin tidak pulih dari fluktuasi internal dan eksternal."

Dikemukakan juga oleh allahyarham, "Perubahan politik juga dapat terjadi, seiring meningkatnya permintaan akan solusi untuk perawatan kesehatan dan kebutuhan hidup sehari-hari. Saya yakin Anda mengikuti dengan saksama perdebatan di negara-negara besar seperti Amerika Serikat (dulu perkasa), Spanyol, dan Italia."

Selanjutnya, allahyarham mengemukakan di kolomnya, itu:

"Dengan MCO, gerakan fisik telah sangat berkurang. Demi kesejahteraan yang lebih baik, tentu saja.

Jadi berapa banyak dari kita yang memanfaatkan karantina ini dengan baik? Apakah kita masih terkunci dalam pertempuran sehari-hari untuk memutuskan apa yang harus dimakan, kapan harus pergi ke supermarket dan berdebat tentang bosan di rumah?

Argumen ini tidak bisa dihindari. Begitulah cara Anda berurusan dengan mereka yang dapat memperkuat keluarga Anda atau menyebabkan pertengkaran yang lebih besar. Bagi mereka yang merayakan Ramadhan, bukankah ini waktu terbaik untuk merenungkan kesejahteraan fisik, sosial, mental dan spiritual Anda?

Saya pikir begitu! Memang, ini adalah periode terbaik untuk refleksi pribadi dan keluarga. Juga untuk rekonsiliasi kesalahan masa lalu (jika ada), mencari dan memperluas pengampunan, terlepas dari apakah Anda merayakan Ramadhan atau tidak.

Izinkan saya menyarankan agar Anda memasang bagan analisis SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) Anda di papan tulis. Pelajarilah dengan baik. Adalah baik untuk membuat anggota keluarga lain juga melakukan hal yang sama.

Ini bukan bagan keluarga dari untung dan rugi finansial. Ini adalah analisis kekuatan dan kelemahan keluarga, serta kebersamaan dan kemauan untuk berbagi dan melakukan hal yang benar.

Tidak akan pernah ada kesempatan lain di mana seluruh keluarga dikurung bersama untuk waktu yang lama.

Mungkin ini saat yang tepat untuk mendengarkan cerita anak-anak Anda. Dengarkan harapan, impian, dan ketakutan mereka.

Mungkin sudah waktunya bagi para penatua untuk membagikan beberapa rahasia keluarga dari masa lalu. Harus ada dongeng yang layak diceritakan dan diceritakan kembali. MCO tentu dapat membantu memperkuat ikatan keluarga.

Kami selalu menerima begitu saja keluarga kami. Kami berasumsi bahwa kami tahu apa kebutuhan dan keinginan keluarga kami. (Padahal) Seringkali, mereka jauh dari asumsi kami.

Seorang rekan lama, MKS, memiliki 20 orang di rumahnya. Mereka termasuk anak-anak, cucu-cucunya dan beberapa sepupu. Ini pesta keluarga besar setiap hari, terutama selama bulan Ramadhan ini."

Wartawan Negara Malaysia Tan Sri Johan Jaaffar, menyebut sahabatnya, itu "the man of many colors." ( the Star, Selasa: 26/5/20).

Tulisan lain beliau yang menarik dan layak direnungkan oleh para kolega di Malaysia dan bahkan di Indonesia, dapat disimak dalam kolomnya bertajuk, "Muhyiddin's great opportunity." (NST, 7/5/20).

Dalam tulisan itu, allahyarham menggambarkan dengan jenaka, bahwa "Politik adalah hiburan nasional kita, apalagi jika kita dalam proses menghancurkan negara."  

Allahyarham sangat jeli melihat sosok penguasa baru Malaysia, "Perikatan Nasional," yang kini memerintah dipimpin mantan Timbalan Perdana Menteri - ketika BN berkuasa, Menteri Dalam Negeri - ketika Pakatan Harapan Berkuasa, dan kini Perdana Menteri ketika Perikatan Nasional berkuasa - entah sampai bila.

Terutama dalam melihat banyaknya petinggi UMNO dalam senarai kabinet.

"Dalam satu daftar, banyak menteri Umno satu kali memiliki nama mereka di antara mereka yang kembali. Mereka adalah pemimpin partai tingkat tinggi, telah berada di kabinet sebelumnya dan percaya bahwa mereka dapat kembali untuk melayani rakyat,"tulisnya.

Pada bagian lain tulisan kolomnya, itu allahyarham menulis, " ... Sekarang setelah Umno kembali ke pemerintahan sebagai mitra utama Perikatan Nasional, dan dengan jumlah yang lebih besar dari Parti Pribumi Bersatu Malaysia dari Muhyiddin, partai tersebut mempertaruhkan klaimnya untuk menjadi bagian dari kabinet."

Allahyarham dalam tulisannya, itu memberi aksentuasi menarik, "Setelah Umno, bersama dengan Barisan Nasional, dikalahkan dalam pemilihan umum terakhir, partai tidak berhenti meletakkan tanah untuk pengepungan terhadap Pakatan Harapan. Minggu ini, mitra BN menemukan diri mereka di kursi pengemudi lagi!"

Saya tercenung beberapa saat, membaca bagian artikelnya ini : "Masyarakat tahu bahwa Muhyiddin sedang diperas oleh orang-orang yang bermain bola keras. Mungkin, dia harus mendengarkan suara-suara dari tanah. Dia akan mendapatkan dukungan dari pengadilan opini publik jika dia mengambil wajah-wajah baru milenial dan mengecualikan panglima perang Umno."

"Tunjuk beberapa teknokrat yang hatinya berada di tempat yang tepat; dan yang paling penting, abaikan kaleng dari partai yang pernah ada dalam koalisi yang berkuasa," tulisnya, lugas.

Lantas, allahyarham, memberi isyarat yang menggugah: "Ini peluang bagus. Muhyiddin dapat meninggalkan jejaknya dengan mengadopsi pendekatan yang sama sekali baru dalam memilih anggota kabinetnya. Lagipula, dia telah menyatakan bahwa dia adalah perdana menteri untuk semua orang Malaysia." 

Selamat jalan Tok Matt, insyaAllah husnul khatimah, menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala - Maha Kreator yang memerintah manusia - melalui Rasulullah Muhammad SAW - membaca jejak ilahiah pada semesta, yang mendidik manusia dengan kalam (primapena), dan menempatkan Rasulullah Muhammad SAW, sebagai "jurnalis mulia," dengan misi journalism prophetic.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu wa akrim nuzuulahu, wa wasik madhalahu. InsyaAllah, tak kan patah pena kami meneruskan komitmen perjuanganmu sebagai jurnalis, meski terlalu banyak 'jurnalis' yang menggadaikan idealisme profesionalnya, dan meninggalkan komitmen utamanya sebagai penentu perubahan bangsa-bangsa dan umat manusia, menegakkan kebenaran dengan cara yang benar.

Perjuangan menyempurnakan makna kata sebagai sejarah kebenaran, meskipun pahit - medium penyampai kabar kebenaran dan kabar gembira yang tak ternoda | @stayathome - @jakarta - 260520

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1092
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1930
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1616
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Humaniora
05 Jul 20, 19:40 WIB | Dilihat : 75
Negara Bertanggungjawab Prioritaskan Kaum Tuna
01 Jul 20, 20:27 WIB | Dilihat : 96
Misu Misu
10 Jun 20, 21:37 WIB | Dilihat : 721
Abdul Buthun versus Insaniadiy Menghadapi Petaka
03 Jun 20, 22:49 WIB | Dilihat : 354
Sapu Lidi
Selanjutnya