Sikap Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu Realistis

| dilihat 1206

PERUBAHAN dinamis peta politik menghadapi Pilkada, bahkan Pilpres adalah sesuatu yang niscaya dan biasa-biasa saja.

Menyusul dukungan Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, dan Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung H. Deddy Mizwar sebagai calon Gubernur Jawa Barat 2018-2023, dikabarkan oleh media, Partai Gerindra Jawa Barat justru mengusung Mayjend TNI (Purn) Sudrajat sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat mendatang.

Deddy Mizwar menyambut baik keputusan DPD Partai Gerindra Jawa Barat, itu setelah sebelumnya berkomunikasi alot dengan Deddy Mizwar. Deddy Mizwar tidak keberatan, meskipun Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto – yang juga sahabat Deddy ketika membangun Satria Muda Indonesia, beberapa waktu lalu – pernah memberi isyarat akan mendukungnya.

“Bagus dan baik-baik saja. Artinya, Partai Gerindra Jawa Barat sudah menyatakan sikapnya untuk menentukan Cagub,” ujarnya kepada pers, Jum’at (8/12/17).

Kendati demikian, sebelumnya, menyikapi rumors yang berkembang di Jawa Barat, dalam suatu kesempatan di Jakarta, Selasa (5/12/17), Sekretaris Jendral Partai Gerinda, Ahmad Muzani menyatakan, Partai Gerinda belum mencabut dukungan kepada Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu untuk Pilkada Jawa Barat 2018.

Dikatakannya, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih belum mencabut keputusan itu. “Pak Prabowo belum pernah melakukan itu (maksudnya, mencabut dukungan). Keputusan mendukung Deddy Mizwar – Akhmad Syaikhu merupakan keputusan bersama antara Partai Gerindra bersama Partai Keadilan.

“Belum ada pembicaraan lain. Artinya, Partai Gerindra masih berkomitmen mendukung Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu,” ujar Ahmad Muzani, menegaskan, ketika jumpa dengan wartawan di Gedumng DPR RI, Rabu (13 September 2017).

"Pertemuan bersama untuk membicarakan hal lain belum pernah terjadi. Sehingga saya masih memahami bahwa komitmen masih terus berlangsung. Insya Allah akan berjalan sebagaimana mestinya," kata Muzani.

Deddy Mizwar sendiri bersikap memegang teguh fatsoen politik, bahwa dia bukan pihak yang menentukan partai apa saja yang akan mendukungnya. Meskipun demikian, dia tak putus melakukan komunikasi secara intens dengan semua pimpinan partai politik.

Karenanya, Deddy Mizwar yakin, pimpinan partai politik yang sudah mendukungnya, pun melakukan komunikasi untuk membentuk koalisi dan kemudian bersama-sama menyusun strategi pemenangan.

Dalam percakapan dengan akarpadinews beberapa waktu berselang, Deddy mengatakan, tiga partai yang sudah menyatakan dukungan kepadanya, juga akan membuka ruang untuk partai lain berkoalisi. Misalnya, Partai Hanura, yang pernah berkoalisi dan memberikan dukungan kepada Ahmad Heryawan dan dia pada Pilkada lima tahun yang lalu.

“Kita bangun sikap saling menghormati, sehingga tak ada sikap saling menyudutkan satu dengan lainnya,” ujar Deddy ketika itu.

Di antara ketiga partai yang mendukungnya, Partai Demokrat termasuk yang paling depan memberikan surat dukungan secara resmi. Tidak hanya kepada Deddy Mizwar, tetapi juga kepada Ahmad Syaikhu sebagai calon wakil gubernur.

Deddy sendiri merasa nyaman-nyaman saja, ketika dia dipasangkan dengan Syaikhu, yang menurutnya, selain seorang auditor, berpengalaman mengelola pemerintahan di tingkat kota, juga seorang hafidz yang rendah hati.

Dengan pengalaman Syaikhu, Deddy membayangkan dirinya akan dapat berbagi peran untuk menyelenggarakan pemerintahan sesuai dengan prinsip good governance.

“Saya yang terbiasa bekerja dengan otak kanan dan Syaikhu yang terlatih bekerja dengan otak kiri, tentu akan saling mengisi, dan dapat mengelola otak tengah sebagai sumber kearifan untuk menyelenggarakan pemerintahan ke depan,”ujarnya sambil terkekeh.

Bagi Deddy, meski kemenangan dalam kontestasi Pilkada itu penting, yang lebih penting lagi adalah bagaimana menghidupkan terus komitmen untuk terus membangun Jawa Barat ke depan.

“Kalau lima tahun kemarin fokus kita pada kesejahteraan, ke depan tentu kesejahteraan yang berkeadilan, sambil terus mengelola demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni kebangsaan,” ungkapnya. “Kuncinya adalah kesungguhan mengelola amanah yang diberikan rakyat.”

Akan halnya Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan menyatakan, dukungan PAN kepada Deddy Mizwar dilakukan setelah menerima dan menyerap aspirasi yang berkembang dari berbagai ormas yang ada di Jawa Barat. Juga aspirasi para ulama dan tokoh masyarakat yang ditemuinya dalam kunjungan ke Jawa Barat.

“Kita kan Partai Amanat Nasional, jadi harus mampu mau dan mampu menindaklanjuti amanat yang disalurkan kepada kita,” ujarnya dalam suatu kesempatan.

Di sisi lain, dalam suatu diskusi kecil di wilayah Bogor, beberapa hari lalu, sejumlah politisi kawasan yang berpengalaman mengelola partai dan memenangkan kandidatnya di Pilkada, bahkan memenangkan Jokowi – Jusuf Kalla di Pilpres 2014 lalu, memandang, sikap Deddy Mizwar dan Akhmad Syaikhu realistis dan rasional. Terutama, apabila terbuka ruang koalisi besar dari partai-partai yang belum menyatakan dukungannya kepada siapa.

Diskusi itu menyimpulkan, tidak ada salahnya partai-partai nasionalis, seperti PDIP, Partai Golkar, dan Partai Hanura bergabung dalam koalisi dengan Partai Demokrat, PAN, dan PKS.

Pilihan lain juga bisa terjadi, misalnya kemungkinan dukungan PDIP kepada mantan Kapolda Jawa Barat, Ispektur Jendral Anton Charliyan. Kalau hal itu terjadi, maka kontestasi akan dinamis antara Deddy Mizwar, Anton Charliyan, dan Ridwan Kamil. Ridwan Kamil sudah memperoleh dukungan dari Partai Nasdem dan PPP.

Kendati demikian, diskusi itu juga memberi isyarat, harus ada kemampuan dan kemauan kolektif untuk mengelola dinamika perpolitikan di Jawa Barat, agar situasi politik terus berlangsung kondusif dan tidak mengorbankan rakyat.

Intinya, semua pihak yang terlibat dalam Pilkada Jawa Barat mendatang mau dan mampu mengendalikan diri, sehingga tidak terulang lagi polarisasi tajam seperti yang terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2016 lalu.

Cermati lebih mendalam, apa tantangan Jawa Barat lima tahun ke depan, kondisi favourable seperti apa yang diperlukan agar situasi tetap terkendali dan peristiwa demokrasi lima tahun ke depan berjalan baik. Termasuk Pilpres 2019. Apalagi kini, di tengah situasi kesejahteraan rakyat belum baik. | Haedar

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 198
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 219
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 191
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 338
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 344
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 147
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya