Pidato Kebangsaan Prabowo Sandi

Seruan Kebangkitan Memilih Cara Perubahan Bangsa

| dilihat 600

Catatan Bang Sem

Menyimak pidato Calon Presiden Prabowo Subianto dan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno dan mengikuti atmosfir yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), Senin (14/1/17) bagi saya adalah seruan kebangkitan yang bertenaga.

Isinya merupakan komitmen kebangsaan yang surut sejak empat tahun terakhir. Visi "Indonesia Menang," adalah ekspresi visi sesungguhnya, yang di dalamnya mengandung nilai inti (kerakyatan berdimensi daulat rakyat) dan ideologi inti (Pancasila) tempat komitmen menegakkan konstitusi sebagai sokoutama ke-Indonesia-an.

Sebagai seorang imagineer sekaligus anak bangsa yang sering bersentuhan dengan visioneering dalam konteks transformasi sosial dan budaya.

Pidato Kebangsaan itu memberi daya imaji kebangsaan, yang selama ini tercampakkan oleh pragmatisme. Menggelorakan komitmen persatuan, sebagai konsekuensi logis dari keberbagaian - keragaman bangsa.

Prabowo Sandi memberikan tawaran konseptual yang menarik tentang Indonesia dan ke-Indonesia-an, ketika selama empat tahun terakhir masyarakat terkesan dibiarkan terburai oleh pengelompokan invisible-hand yang riuh dan gaduh. Tawaran yang sangat menarik, kala sebagian orang lebih suka bicara kebhinnekaan dan lupa pada esensi ke-tunggal ika-an.

Imaji kebangsaan sebagai deskripsi hasrat dan cita-cita sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diartikulasikan dengan jelas dan gamblang, oleh komitmen dengan strategi 'dorongan besar' untuk mewujudkan Republik Indonesia kekal, kuat, aman, adil, dan rakyatnya makmur.

Secara artikulatif dan ekspressif, Prabowo menyatakan, "Jika mendapatkan mandat dari rakyat Indonesia pada tanggal 17 April 2019, untuk melaksanakan program-program kami, kami akan menyusun barisan yang terdiri dari putra putri terbaik bangsa Indonesia. The best and the brightest sons and daughters of Indonesia."

Pernyataan itu, dipertegas dengan lugas, "Kami tidak akan memandang latar belakang politiknya. Kami tidak  akan memandang etnis, agamanya. Kami tidak akan menilai baju partainya."

Deskripsinya tertampak pada komitmen, "Kami akan pilih putra putri Indonesia yang cerdas, yang memiliki integritas, yang jujur, yang bersih, yang mampu untuk menjalankan aparatur negara sebaik-baiknya. Kami akan bangun barisan lintas identitas, barisan Bhinneka Tunggal Ika."

Basisnya adalah kompetensi, seperti terurai dalam pernyataan, "Barisan yang cerdas dan mampu untuk melaksanakan pembangunan untuk kepentingan rakyat banyak. Yang mampu untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Menang."

Akalbudi yang sehat, dimensi kebangsaan, dan sifat kenegarawanan, terasakan dalam pernyataan-pernyataan tersebut.

Terasa, Prabowo Sandi mampu menyimak dan menyerap dinamika nyata dari realitas pertama rakyat, dari kunjungan langsung menjumpai rakyat, yang menurut Sandiaga Uno lebih dari 1000 titik, meliputi hampir seluruh wilayah negara Republik Indonesia.

Pidato Kebangsaan Prabowo Sandi, membuka ruang yang luas bagi partisipasi rakyat, bahkan partisipasi kritis dan korektif -- yang sesungguhnya akan menjaga penyelenggaraan negara di atas rel yang tepat.

Terutama, karena di balik berbagai pernyataan dalam pidato tersebut, secara esensial menghadirkan inisiatif-inisiatif seluruh elemen, komponen, dan eksponen bangsa.

Memperkuat suara kolektif untuk mendahulukan rakyat, mengutamakan persatuan bangsa, yang memungkinkan Indonesia menjadi pemenang di ajang kompetisi regional dan global.

Sejumlah sahabat, intelektual dari Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat Prabowo Sandi sudah membuka ruang partisipasi yang besar untuk memperkuat suara kolektif untuk memajukan kesejahteraan rakyat sebagai cara mewujudkan keadilan. Sekaligus memberi penegasan, bahwa proses konsolidasi demokrasi bertumpu pada kesadaran menjadikan demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan. Bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Pidato Prabowo Sandi menjadi perekat untuk memperkuat hubungan, jaringan, dan kemitraan kolektif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penyelenggaraan negara secara menyeluruh. Sekaligus memberi ruang bagi pertukaran pengetahuan dan inovasi untuk membangun kapasitas anak bangsa secara adil dan merata.

Lewat Pidato Kebangsaan itu, memberikan tawaran cara menempuh jalan konstitusional untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Sekaligus mengusik kesadaran kolektif untuk keluar dari fantacy trap yang menjebak kita selama empat tahun terakhir.

National dignity dialirkan Prabowo Sandi lewat spirit, " Indonesia harus menang. Bukan jadi bangsa yang kalah. Bukan bangsa yang minta-minta. Bukan bangsa yang harus utang. Bukan jadi bangsa yang tidak membela rakyatnya sendiri."

Pernyataan demikian, bagi saya, merupakan awal siasah cerdas dalam menghadapi arus besar perubahan dunia yang sedang bergerak dari Amerika - Eropa ke Asia - Pasifik. Sekaligus mengekspresikan ulang cita-cita awal perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, 73 tahun lalu.

Di sisi lain, saya menerima esensi dan konten Pidato Kebangsaan itu, sebagai weak up call, yang membangunkan kesadaran kolektif agar kita tak terlalu lama terlelap oleh buaian politik monumentasi yang hanya menguntungkan sebagian kalangan.

Pidato yang saya sebut sebagai Imagine Indonesia, itu membuka ruang keterlibatan rakyat melalui proses dua arah, yang melibatkan interaksi dengan realitas pertama kehidupan rakyat, mendengarkan dan menyerap aspirasi rakyat, dengan tujuan melaksanakan (sekaligus melanjutkan) pembangunan yang saling memberi manfaat.

Saling memberi manfaat seluruh elemen dan komponen bangsa merupakan bagian penting dari hakekat persatuan.  Termasuk cara mengembangkan keterampilan baru, wawasan atau ide baru, dalam mewujudkan apa yang tersurat dan tersirat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

Di sisi lain, esensi pidato itu, menawarkan pilihan cerdas bagi rakyat untuk melakukan proses perubahan nasib secara mandiri, bahwa perubahan dimulai dari diri setiap orang di negeri ini.

Pidato itu juga mengusik kesadaran tentang korelasi perjuangan dalam perubahan itu terhadap nasib rakyat secara keseluruhan. Seperti makna puisi yang ditemukan di kantung baju seorang perwira muda yang gugur dalam pertempuran di Banten, tahun 1946:

 

Kita tidak sendirian.

Beribu-ribu orang bergantung pada kita.

Rakyat yang tak pernah kita kenal.

Rakyat yang mungkin tak akan pernah kita kenal.

Tetapi apa yang kita lakukan sekarang akan menentukan apa yang terjadi kepada mereka.

 

Saya menduga, prajurit itu adalah Subianto Djojohadikusumo yang namanya diabadikan menjadi nama belakang Prabowo.

Ya.. Prabowo Subianto, yang punya pengalaman historis yang tak pernah dimiliki orang lain, yakni : Ditempa di medan tempur mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menghadapi peluru dan ditunggu kematian. Ditempa di medan politik dan dikorbankan, menghadapi fitnah dan intrik politik. Karena masih terlalu banyak kaum yang dengki dan hendak merampas hak kemanusiaannya untuk memimpin bangsa ini. |

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
20 Jul 19, 01:26 WIB | Dilihat : 410
Senopati Pamungkas itu Berpulang
18 Jul 19, 13:25 WIB | Dilihat : 322
Hidup Gembira Hidup Bahagia
10 Jul 19, 08:56 WIB | Dilihat : 1152
Hati Bungah Melihat Betawi Mesra
06 Jul 19, 22:27 WIB | Dilihat : 552
Cermin dari Ciswoto dan Evie Tyas
Selanjutnya
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 688
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 963
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 303
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 313
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya