Rima Politik Malaysia Selepas Anwar Kembali ke Parlemen

| dilihat 495

N. Syamsuddin Ch. Haesy

DATO’ Seri Anwar Ibrahim kembali ke Parlemen Malaysia, setelah memenangkan Pemilihan Raya Kecil (PRK) di Port Dickson – Negeri Sembilan, Sabtu (13/10/18). Anwar Ibrahim yang kini berusia 71 tahun, itu berhasil meraih 31.016 suara, mengalahkan calon dari PAS (Parti Islam se Malaysia) Mohd Nazari Mokhtar, dan lima calon independen (bebas), masing-masing : bekas pembantu dekatnya, Saiful Bukhari Azlan (82 suara) -- yang pengakuannya tentang liwath menjadi alasan Anwar Ibrahim dipenjara, bekas Menteri Besar Negeri Sembilan Tan Sri Mohd Isa Abdul Samad (4.230 suara), Lau Seck Yan (214 suara), Steven Chan (337 suara), dan Kan Chee Yuen (154 suara).

Port Dickson adalah wilayah ‘pertarungan’ yang baru bagi Anwar Ibrahim, mantan Wakil Perdana Menteri / Menteri Keuangan Malaysia, pemimpin pembangkang (oposisi) di masanya. Anwar dimungkinkan bertarung di Port Dickson, setelah Datuk Banyak Balagopal Abdullah (68 tahun), mundur dari kursinya, dan ikhlas memberikan jalan kepada Anwar Ibrahim untuk kembali ke parlemen. Datuk Danyal, pada PRU ke 14 (9/5/18) menang di Port Dickson mengalahkan calon BN Datuk V.S Mogan dan calon PAS Mahfuz Roslan.

Anwar tidak bertarung di daerah basisnya, Permatang Pauh, yang telah menjadi wilayah kemenangan bagi Nurul Izza, puterinya – yang sebelumnya pernah mengalahkan Syharizat dari BN di Lembah Pantai pada Pilihan Raya Umum ke 12. Bagi Izza, Lembah Pantai adalah ‘cinta pertama’ dan Permatang Pauh adalah ‘cinta abadi.’ Wan Azizah, isteri Anwar Ibrahim yang juga pernah memenangkan amanah rakyat di Permatang Pauh, pada PRU (Pilihan Raya Umum) ke 14 (9/5/18) merebut kemenangan di Pandan, yang kemudian menghantarkannya sebagai Timbalan Perdana Menteri Malaysia, mendampingi Tun dr. Mahathir Mohammad (Dr. M) yang menang di Langkawi dan menghantarkan dirinya sebagai Perdana Menteri Malaysia untuk kali kedua. Anwar memperoleh kembali hak politiknya, setelah  mendapat pengampunan penuh dari Yang Di-pertuan Agong Malaysia, Sultan Muhammad V, pada 16 Mei 2018, sepekan setelah Pakatan Harapan memenangkan PRU ke 14 dan menjatuhkan pemerintahan Barisan Nasional (BN) pimpinan Dato' Seri Najib Razak.

Kemenangan Anwar Ibrahim dan kembalinya dia ke parlemen (15/10/18), memungkinkan lagi dia duduk berdampingan dengan politisi senior Lim Kit Siang – DAP (Democratic Action Party) yang menang di Iskandar Puteri -- seperti ketika dia menjadi Ketua Pembangkang tempo hari. Anwar senang bisa duduk di sebelah Kit Siang – veteran anggota parlemen itu, karena lebih memungkinkan untuk terus bertukar pikiran dan gagasan. Khasnya dalam mereformasi parlemen sebagai bagian dari upayanya membantu pemerintah yang dipimpin Tun Mahathir dan Wan Azizah.

Seluruh tokoh berpengaruh bersatupadu turun ke Port Dickson untuk memenangkan Anwar Ibrahim, mulai dari Tun Mahathir, Wan Azizah, Guan Eng, Mat Sabu, sampai Nurul Izza. Bahkan, Kit Siang memperpendek lawatannya di Canberra – Australia.

Semua turun untuk kemenangan gemilang Anwar Ibrahim yang berhasil memperoleh lebih dari 70 persen suara, lintas kaum, dan pemilih lokal – termasuk orang asli.

Spirit yang mengemuka adalah memperkuat hasil besar dan bersejarah Pakatan Harapan dalam Pilihan Raya Umum ke-14, yang menurut Kit Siang, memberi kesempatan kedua bagi warga Malaysia untuk mereset kebijakan pembangunan bangsa untuk menolak lintasan menuju negara gagal, demokrasi jahat, kakistokrasi di mana para Menteri Kabinet tidak dapat membedakan antara telur penyu dan pada telur biasa, dan kleptokrasi global.

Bagi Kit Siang dan para pembangkang yang kini menjadi penguasa pemerintahan, kemenangan Pakatan Rakyat menuju lintasan negara plural yang bersatu, harmonis dan sukses yang merupakan model demokrasi, memimpin bangsa yang berintegritas dan negara kelas dunia teratas di setiap bidang usaha manusia.

Kembalinya Anwar Ibrahim ke parlemen, dipercayai oleh banyak warga Malaysia, terutama kalangan muda, menjadi pemangkin perubahan. Kendati mulai muncul kesadaran, bahwa pilihan reformasi, memerlukan waktu yang lama dan melelahkan. Bisa satu atau dua dekade, atau bahkan lebih dari itu.

Anwar dan para petinggi Pakatan Harapan mesti cermat mengelola reformasi, bila tidak, gerakan reformasi itu justru akan berubah menjadi deformasi, seperti yang dialami Indonesia. Dalam konteks itu, muncul beragam pertanyaan mutakhir akankah Anwar Ibrahim melangkah menuju Puterajaya, sebagai Perdana Menteri Malaysia, dua tahun ke depan? Atau, Anwar Ibrahim mesti memperkuat dulu posisinya di Parlemen bersama Kit Siang dan kawan-kawan koalisinya.

Terutama, karena Wan Azizah (isterinya) masih memangku tanggungjawab tak kecil sebagai Wakil Perdana Menteri, sekaligus Menteri Pembangunan Wanita – Keluarga dan Masyarakat (PWKM).

Bila Anwar Ibrahim diplot sebagai Perdana Menteri, kelak, akankah Wan Azizah sekali lagi berkorban untuk Anwar Ibrahim, melepaskan jabatannya sebagai Wakil Perdana Menteri, dan fokus hanya sebagai Menteri PWKM.

Kalau hal itu terjadi, siapa pula akan diplot menggantikan Wan Azizah sebagai Timbalan Perdana Menteri. Akankah Guan Eng menggantikan Wan Azizah untuk mendampingi Anwar Ibrahim selaku Perdana Menteri.

Dalam konteks ini, peran Anwwar Ibrahim dan Kit Siang amat penting. Meski, Dr.M dan Mat Sabu – kendati datang dari partai partai kecil, tak bisa diabaikan perannya.

Bagi Dr. M sendiri, kali kedua kepemimpinannya sebagai PM Malaysia, akan sekaligus memungkas penyelesaian Wawasan 2020 Malaysia.

Secara historis, Dr. M akan merupakan pemimpin Malaysia yang meletakkan dokumen di Mercu Wawasan – Puterajaya, dan kelak akan mengambil kembali dokumen itu, untuk melihat seberapa konsisten atau menyimpangnya penyelenggaraan pembangunan, pemerintahan, dan pemajuan rakyat Malaysia sejak awal abad ke 20 itu?

Kembalinya Anwar Ibrahim ke parlemen, kali ini, menjadi menarik dibincangkan, karena banyak hal bisa terjadi. Anwar bisa menjadi pemangkin sekaligus penambah baik kualitas parlemen. Terutama karena para anggota parlemen dari Barisan Nasional (yang dimotori politisi UMNO) belum terbiasa menjadi pembangkang.

Semangat BN menjadi pembangkang berkualitas dan bermartabat belum tampak pesonanya, karena aktualisasi peran diri sebagai pembangkang belum sepenuhnya dipahami. Khasnya oleh anggota parlemen yang selama ini menjadi penguasa.

Belum lagi, sejumlah anggota parlemen dari BN, seperti Najib Razak (Pekan) sedang berurusan dengan hukum di mahkamah. Pun demikian halnya dengan Zahid Hamidi (Bagan Datuk) masih harus berurusan dengan SPRM (Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia) – KPK-nya Malaysia. Belum lagi, satu dua anggota parlemen BN dari unsur UMNO, satu-satu mengundurkan diri.

Bagi Anwar Ibrahim, Dr.M, dan Muhyidin (Menteri Dalam Negeri) menghadapi BN sebagai pembangkang di parlemen tak terlalu berat, karena ketiganya cukup lama berkiprah di BN – khasnya UMNO. Ketiganya paham bagaimana nilai dan budaya yang berkembang di partai yang pernah berkuasa selama 60 tahun itu. Apalagi, Dr. M punya pengalaman berkuasa lebih dari dua dasawarsa sebagai PM Malaysia.

Persoalan berat yang dihadapi Pakatan Harapan dalam konteks Anwar Ibrahim justru persoalan internal, terutama di Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang menjadi gerbong utama. Ada cara untuk menguatkan landasan reformasi Malaysia.

Yaitu, berlangsung aksi reformasi paralel.  Di sebelah politik, Anwar Ibrahim dan Kit Siang berkonsentrasi penuh menambah nilai parlemen sebagai padang utama reformasi dan memperkokoh sistem demokrasi berbasis keadilan, demokrasi, persatuan, dan kesungguhan memikul amanah rakyat. Di sebelah pembangunan (ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan) Dr.M bersama Wan Azizah, Guan Eng, Mat Sabu, Muhyidin, Azmin Ali, dan kawan-kawan berkonsentrasi membenahi pemerintahan, memperkuat fundamental ekonomi, menambah nilai kesejahteraan rakyat, dan memberi ruang luas bagi kaum wanita dan generasi muda untuk berperan secara aktif dan kritis.

Melihat sikap Anwar Ibrahim sejak lima tahun terakhir, dengan melihat dua cara aksi reformasi paralel, tersebut, boleh diyakini Manifesto Pakatan Harapan dapat terwujud.

Apalagi, bila Anwar Ibrahim terus mengubah pola aksinya menjadi semakin bijak dan sungguh mencerminkan sosoknya sebagai Bapak Reformasi Malaysia.

Bila bercermin dari perjalanan gerakan reformasi Indonesia, Anwar Ibrahim lebih berpeluang sebagai Perdana Menteri Malaysia dibandingkan obsesi Amien Rais menjadi Presiden Republik Indonesia.

Bila Anwar Ibrahim tak mau mengendalikan obsesinya untuk berkuasa langsung di Puterajaya, realitas akan menjadi lain. Rakyat akan dikepung oleh berbagai pertanyaan serius yang tak mudah menjawabnya. Umpamanya, persoalan domestik: mengapa Nurul Izza tak membagi peluang bagi ayahnya di Permatang Pauh, dan kemenangan Anwar Ibrahim di Port Dickson sangat mungkin ditafsir sebagai cara membangun dinasti politik yang berbeda dengan Kit Siang dengan Guan Eng atau Dr.M dengan Mukhriz.

Saya percaya, Anwar Ibrahim sangat paham, apa yang semestinya dia lakukan ! |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 535
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 399
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 347
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya
Budaya