Kembali ke Azimuth Kemerdekaan Indonesia

Resonansi Pemikiran dari Deklarasi KAMI

| dilihat 388

Bang Sém

KOALISI Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sudah menyatakan eksistensinya melalui deklarasi di Plasa Gedung Pola, Monumen Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 yang kini bernama Jalan Proklamasi.

Sejumlah nama besar dan beken yang kerap muncul dalam berbagai acara gunemcatur televisi, diskusi, dan seminar. Tampak juga Muthia Hatta (putri Bung Hatta - proklamator kemerdekaan RI) dan suaminya Edi Swasono, Titiek Soeharto (putri Presiden Soeharto 1966-1998).

Dari berbagai media dan sudah jelas pesan yang disampaikan melalui Jati Diri dan Maklumat. Tentang jati diri, Ahmad Yani - pengacara yang mantan anggota DPR RI, sudah jelas menyatakan, bahwa KAMI merupakan gerakan yang terorganisir, menerapkan disiplin ketat dan tegas atas kendali presidium yang dapat mengambil keputusan tertentu demi nama baik dan efektivas gerakan.

Dien Syamsuddin seperti biasa, tampil dengan pesona personanya yang bijak -- seperti biasanya -- dan khas mengekspresikan intelektualitasnya sebagai cendekiawan dan Gatot Noermantio dengan pesona khas tentara, dan Rochmat Wahab yang terkesan bersosok kyai, sudah sama menegaskan, KAMI merupakan gerakan moral yang bekjen disebut moral forces.

Gator, Dien, dan Sobri menyatakan, bertanggungjawab atas gerakan itu. Yang menarik dan mengusik adalah perhatian saya adalah, pesan yang disampaikan dalam gerakan itu. Back to azimuth!

Azimuth adalah garis bentang dari titik berangkat ke titik tujuan, yang biasa dipakai untuk kepentingan navigasi penerbangan dan pelayaran. Back to azimuth adalah kesadaran gerakan untuk kembali ke garis pandu menuju tujuan, ketika pesawat terbang atau kapal laut disadari sudah melenceng.

Back to Azimuth tak mesti kembali ke titik berangkat, melainkan kembali ke rute yang sudah digariskan. Dalam konteks bangsa garis azimuth itu jelas, kesadaran kebangsaan sejak 1905, yang menyadari realitas bhinneka tunggal ika; zelf bestuur - gagasan berpemerintahan sendiri yang dikemukakan Omar Said Tjokroaminoto dalam pidatonya yang terkenal di Gedung Concordia (Gedung Merdeka Bandung) -- ketika untuk pertamakalinya kata natie - bangsa, menjadi daya gerak luar biasa.

Lantang, ketika itu Tjokroaminoto menyatakan, “Kita mencintai bangsa kita dan dengan kekuatan ajaran agama kita (Islam), kita berusaha sepenuhnya untuk mempersatukan seluruh atau sebagian terbesar bangsa kita. … dan meminta segala sesuatu yang kita anggap dapat memperbaiki bangsa kita, tanah air kita dan pemerintahan kita.”

Tjokroaminoto memang menempa secara khusus Bung Karno soal kebangsaan dengan pola kaderisasi langsung. Bahkan Tjokroaminoto merestui Bung Karno, ketika meminang Oetari, puterinya, sebagai istri. 

Bung Karno sendiri menyatakan, "Cerminku adalah Pak Tjokroaminoto." Tjokroaminoto dengan Syarikat Islam (SI) berpadu padan dengan KH Ahmad Dahlan - pendiri Muhammadiyah (dengan sasaran perjuangan kaum urban), KH Hasyim Asy'ari - pendiri Nahdlatul Ulama (dengan sasaran perjuangan kaum santri - sub urban dan rural). Lantas, bersama H. Agus Salim Tjokro memusatkan perhatian pada kaum cendekiawan dan memberi ruh atas esensi kebangsaan sebagai paduan : ke-Indonesia-an, keagamaan, dan keilmuan.

Pada perkembangan lanjut gerakan kebangsaan melibatkan seluruh eksponen dan komponen bangsa, yang tercermin dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yang meneyelesaikan persoalan utama bangsa: persatuan, unity and diversity decara proporsional.

Pada fase 28 Oktober 1928 sampai 17 Agustus 1945 azimuth kebangsaan Indonesia dirumuskan -- dengan belajar pada pengalaman sebelumnya: pengkhianatan Sarekat Rakyat yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia  di Madiun --, dan Bung Karno menemukan judul Pancasila pada 1 Juni 2945, kemudian disahkan rumusannya sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD1945 yang dimaklumatkan pada 18 Oktober 1945.

Untuk menjaga konsistensi menjaga bangsa dan negara sesuai dengan garis azimuth-nya, 5 Oktober 1945 disahkan Tentara Rakyat Indonesia yang kemudian menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, dan kemudian Tentara Nasional Indonesia.

PILIHAN perubahan  melalui pembangunan Indonesia yang terumuskan sebagai azimuth ke-Indonesia-an adalah perubahan dramatik (transformasi) dari perubahan cepat (revolusi), katimbang perubahan formasi (reformasi) yang melelahkan dan rawan deformasi. Tapi, perubahan 1998 justru menggunakan format reformasi yang senyatanya menyebabkan deformasi hingga saat ini.

Menyimak jati diri dan maklumat KAMI, dengan berbagai argumentasi dan pemikiran kritis yang mengemuka dalam deklarasi 18 Agustus 2020, saya melihat proses diskusi dan pemikiran yang berkembang dalam perumusannya, sangat menyadari realitas deformasi yang terjadi saat ini.

KAMI terlihat dan terasakan berhasil memadu keseimbangan antara pemikiran analitis kecendekiaan - akal sehat, ghirah gerakan moral - akalbudi, dan gairah aksi praksis menyerap persoalan rakyat (yang bisa saja dipandang - sekaligus dicurigai sebagai aksi politik praktis).

KAMI menyikapi fenomena kehidupan bangsa saat ini dengan kejelian memilah dan memilih persoalan substantif, primer - sekunder, prioritas - non prioritas. Benderang focal concern-nya, jelas pula driving forces-nya (mulai dari praktik demokrasi yang dilantakkan oleh oligarki yang melahirkan pragmatisme dan transaksionalisme politik, dominannya lembaga eksekutif dengan fragmentasi kekuasaan, singularitas dan transhumanisma, pelemahan budaya dan peradaban, sampai ke soal finance viability di tingkat rumah tangga ).

Menyimak dan mencermati buncahan pemikiran yang mengemuka dalam deklarasi, itu sebagai platform gerakan kembali ke azimuth ke-Indonesia-an setidaknya KAMI menjanjikan harapan yang berbeda dari harapan palsu lima tahunan. Terutama, ketika pemikiran yang berkembang memilih posisi head to head dan neck to neck dengan ancaman besar Rencana Undang Undang Omnibus Law yang dikemas dengan jebakan fantasi dalam tajuk RUU Cipta Kerja.

Saya melihat kuatnya reaktualisasi pemikiran kebangsaan para pejuang dan pendiri Republik, dengan platform yang lebih aktual dan visioner. Struktur logika yang mengemuka dalam jati diri dan maklumat menunjukkan pemikiran yang berkembang di antara deklarator sangat realistis.

Bergerak dari kecerdasan dan sikap kritis dari tantangan yang akan dihadapi (mengatasi pandemi, membalik kemiskinan, singularitas, transhumanitas, risiko eksistensial bangsa, penyelamatan sumberdaya alam, penguatan modal manusia, pengendalian sains dan teknologi, penilaian ulang - pengendalian efektif dan efisien globalisasi, dan megaproblema lainnya).

Berbagai pemikiran yang mengemuka pada deklarasi, itu juga melihat masih terbuka peluang kebangkitan dan kembali garis azimuth (jalan kebenaran menuju kondisi adil makmur), sekaligus pembentukan manusia Indonesia sejati yang merdeka -- berwatak religius, nasionalis, dan berbudaya. Berbagai pemikiran yang berkembang membuka nalar untuk melihat konstelasi Indonesia masa depan di tengah perkembangan dunia. Termasuk peluang menilai dengan jeli rapuhnya kapitalisme global dan sosialisme mondial, dan m,emberi tawaran baru yang saya sebut universa prosperitas (kesejahteraan semesta) dalam konteks manusia sebagai rahmat atas alam.

Karenanya, berbagai kelemahan bangsa dan praktik penyelenggaraan negara yang mengemuka dalam berbagai pemikiran dari deklarasi itu, ditelusuri sangat mendalam. Dengan cara ini, saya berpengharapan, KAMI bisa merumuskan kekuatan bangsa macam apa dan bagaimana untuk bergerak maju ke masa depan. Setidaknya gambaran kondisi bangsa saat berusia platinum, 100 tahun Indonesia Merdekla pada 2045 kelak.

Semua itu mesti dimulai dengan mengatasi persoalan saat ini: Menahan liberalisme liar yang memanfaatkan teknologi informasi - media dan media sosial -- gencar mengalirkan infodemi, untuk melantakkan seluruh pilar demokrasi (termasuk pers); Mengatasi pandemi nanomonster Covid-19 yang sudah melemahkan fundamental sosial ekonomi, karena kooptasi di Partai Politik; dan perlawanan terhadap proxy war dengan risiko tinggi karena terkait dengan pola konsumsi urusan perut (ketahanan pangan), otak (pendidikan), dan dada (budaya dan religi). 

Bila dulu ada sesanti: Merdeka ataoe Mati, KAMI -- meski tak diucapkan -- mengirim sinyal: berubah atau punah. Pengalaman Uni Sovyet (glasnost) mesti menjadi pelajaran berharga.

Kuncinya, KAMI :  Kerjasama dengan kata kunci "bersatu," Aksi dengan kata kunci "keadilan," Manajemen dengan kata kunci "Un vrai leader," dan Integritas dengan kata kunci "konsisten dan konsekuen dengan esensi perjuangan," back to nation azimuth.

Di tengah bisunya organisasi cendekiawan dan intelektual, saya respek dengan cara berfikir dan teresonansi dengan pemikiran para deklarator KAMI. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 632
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 208
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 202
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 308
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 122
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 241
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 531
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
Selanjutnya