Pidato Kebangsaan Prabowo Sandi

Refleksi Realitas Pahit Derita Rakyat

| dilihat 566

Catatan Bang Sem

Saya tercenung sesaat, ketika Prabowo membacakan sajak dari saku seorang prajurit yang gugur di Banten tahun 1946.

Seketika pikiran saya melayang ke sebuah makam yang (kini) terletak di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) - Tangerang.

Prajurit itu adalah Subianto Djojohadikusumo, yang namanya melekat di belakang nama Prabowo, yang malam itu (Senin, 14/1/19) menyampaikan Pidato Kebangsaan Prabowo-Sandi.

Usai membacakan puisi itu dengan cara baca seorang prajurit, Prabowo Subianto yang Calon Presiden RI dalam Pemilihan Presiden - Wakil Presiden 2019, itu menyatakan:

"Malam ini ribuan dari kita berkumpul di sini, dan puluhan juta terhubung ke ruangan ini dengan teknologi, karena 92 malam lagi kita akan bersama-sama menentukan masa depan bangsa Indonesia," ungkapnya.

Prabowo mengingatkan, ada 92 malam yang bakal dilalui seluruh rakyat Indonesia yang sudah mempunyai hak memilih dan dipilih, untuk menentukan nasib bangsa ini, lima tahun ke depan. Itulah hari Pemilihan Umum.

Lantas, pensiunan TNI berpangkat Letnan Jendral yang tak pernah usai dikuya-kuya sejak Reformasi (1998), itu menyatakan, "Sesungguhnya Pemilihan Umum ini bukan Pemilihan Umum-nya Prabowo, bukan Pemilihan Umum-nya Sandiaga Uno, tapi adalah Pemilihan Umum-nya bangsa Indonesia."

Dan, dia menegaskan, "Kemenangan yang dapat kita rebut di 17 April 2019 nanti bukan kemenangan Prabowo. Bukan kemenangan Sandiaga Uno. Tapi kemenangan bangsa Indonesia."

Pidato Kebangsaan bertajuk Indonesia Menang yang disampaikannya, itu tentu terkait dengan kampanye. Sebagai orang yang belum pernah menjabat sebagai Presiden, tentu lebih banyak menggunakan kata 'akan.' Tetapi, di dalamnya tergambarkan secara gamblang, bagaimana dia dan Sandiaga Uno sudah berpengalaman mendengarkan aspirasi rakyat, berpengalaman menyimak dan kemudian mengekspresikan harapan rakyat, sekaligus mengartikulasikan penderitaan rakyat.

Sebagai oposan, Prabowo melalui Pidato Kebangsaan, itu menunjukkan pengalamannya sebagai oposan yang paham medan dan rimba persoalan yang akan dia bersama Sandiaga Uno, dan 'orang-orang terbaik' yang kelak akan menyertainya mengatasi masalah dan memberi solusi, sekaligus memelihara kepeduliannya terhadap realitas pertama kehidupan rakyat.

Prabowo bukan Barack Obama yang punya kemampuan retorika yang memukau dengan kualitas vocal yang khas, dan masuk ke sanubari rakyat Amerika Serikat, saat menyampaikan pidato politik saat kampanye (7/11/12). Tapi esensi persoalan yang terungkap dalam Pidato Prabowo, mengingatkan saya pernyataan nilai, imaji Amerika Serikat, untuk memecahkan berbagai persoalan berat yang bakal dihadapi Obama.

"Anda, orang-orang Amerika, mengingatkan, bahwa sementara jalan kami sulit, sementara perjalanan kami panjang, kita telah bangkit, kita berjuang untuk kembali, dan kami tahu dalam hati kita bahwa untuk Amerika Serikat yang terbaik belum datang."

Malam itu, Obama dengan retorika yang terkelola baik menyatakan, "Saya tahu bahwa kampanye politik terkadang tampak kecil, bahkan konyol. Dan itu memberikan banyak makanan bagi kaum yang sinis, yang memberi tahu kita bahwa politik tidak lebih dari sebuah kontes ego atau ranah kepentingan khusus. Tetapi jika Anda pernah mendapatkan kesempatan berbicara dengan orang-orang (rakyat), Anda akan temukan sesuatu yang lain."

Persoalan yang dihadapi Obama berbeda dengan yang dihadapi Prabowo, namun dalam konteks kemanusiaan dan kebangsaan, esensi persoalannya tak jauh berbeda. Prabowo melihat ada sesuatu yang harus dicegah, yaitu jangan sampai negara kita kehilangan eksistensi dan kalah.

Prabowo mengekspresikan realitas pahit dalam pusaran perjalanan bangsa terkini. Tentang Hardi rakyat di Desa Tawangharjo, Grobokan, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya, lantaran tidak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang ia pikul dirasa terlalu berat.

Prabowo juga mengungkap berbagai peristiwa serupa, yang dialami seorang guru di Pekalongan gantung diri, dan yang dialami ibu Sudarsi di Desa Watusigar, Gunungkidul. Prabowo juga mengungkap hasil pertemuannya dengan petani-petani beras yang bersedih di Klaten, karena saat mereka panen, pasar 'dibanjir' beras impor dari luar negeri. Pun, demikian nasib petani tebu di Jawa Timur, yang dikepung gula impor.

Bagian pidato ini mendeskripsikan interaksi Prabowo Sandi dengan rakyat yang diucapkannya dengan lugas, tanpa euphemisma. Apa yang disebutnya Paradoks Indonesia, itu diartikulasikannya dengan semangat berlebih.

Dari mimbar pidatonya, Prabowo memekikkan spirit baru yang menjadi standar derajat bangsa: Reorientasi Pembangunan dalam pengelolaan Republik Indonesia (yang) diperlukan, karena bangsa yang kokoh hanya bisa diwujudkan jika negara tersebut bisa Swasembada pangan, Swasembada energi, dan Swasembada air bersih, yang memang menjadi concern bangsa-bangsa di dunia.

Prabowo juga memekikkan tata kelola pemerintahan yang lebih segar, melalui lembaga-lembaga pemerintahan yang kuat, seperti sistem yudikatif, hakim-hakim yang unggul dan jujur, jaksa-jaksa yang unggul dan jujur, polisi-polisi yang unggul dan jujur, intelijen yang unggul dan setia kepada bangsa dan rakyat, dan juga, angkatan perang yang unggul.

Prabowo mengekspressikan subyektivitasnya, dengan vibrasi suara seorang prajurit, ketika dia mengatakan, bangsa ini memerlukan "Tentara yang kuat, tentara rakyat yang setia kepada rakyat dan bangsa. Tentara yang tidak kalah dengan tentara-tentara terbaik di dunia."

Kalimat itu pernah saya dengar puluhan tahun lalu, ketika menghadiri pertemuan dengannya dan prajurit Kopassus ketika Prabowo memangku amanah sebagai Komandan Pusdikpassus di Cililin - Bandung. Kala itu, Prabowo mengundang Deddy Mizwar, saya dan beberapa teman lain, untuk baca puisi di hadapan prajurit Kopassus.

Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto, Senin malam (14/1/19) menunjukkan konsistensinya dalam mewakafkan diri kepada bangsa ini. Dalam konteks lain, Pidato Kebangsaan itu juga menunjukkan, sebagai seorang satria, dia masih saria yang dulu memimpin perguruan silat Satria Nusantara. Perguruan Silat yang mampu menghimpun dan mengintegrasikan seluruh jurus silat tradisi Nusantara menjadi pakem dalam silat prestasi.

Saya konsisten memilih Prabowo dan tambah teguh, karena dia bersama Sandiaga Uno. Terutama, karena focal concern perjuangannya, sesuai dengan pandangan saya selama ini, yang disebutnya sebagai lima fokus perjuangan. Yakni:

Fokus pertama, mewujudkan ekonomi yang mengutamakan rakyat, ekonomi yang adil, ekonomi yang memakmurkan semua orang Indonesia, dan ekonomi yang melestarikan lingkungan Indonesia. (Fokus perjuangan ini menjanjikan harapan bergeraknya kembali pertumbuhan ekonomi yang berdampak upaya membalik kemiskinan, gaya hidup lestari, dan terintegrasi dengan sustainable development global, saya sebut ini sebagai Pembangunan Ekonomi Konstitusional);

Fokus kedua, meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial. (Fokus Perjuangan ini relevan dengan pencapaian indeks pembangunan manusia dan indeks kebahagiaan optimum);

Fokus ketiga, memastikan keadilan hukum dan menjalankan demokrasi yang berkualitas. (Fokus Perjuangan ini merupakan cara menebar dan mendahulukan rasa keadilan, mengutamakan demokrasi sebagai cara mewujudkan musyawarah dan mufakat, dengan menempatkan rakyat sebagai subyek);

Fokus keempat, menjadikan Indonesia rumah yang aman, yang nyaman bagi seluruh rakyat Indonesia.(Fokus Perjuangan ini, akan memungkinkan, rakyat Indonesia menanam harapan di negerinya sendiri).

Fokus kelima, penguatan karakter dan kepribadian bangsa. (Fokus perjuangan ini, saya yakini, mampu menjadikan pembangunan sebagai Gerakan Kebudayaan - Kebudayaan dengan huruf K - kapital, yang bermuara pada keunggulan peradaban).

Pidato Prabowo memang tidak menjawab dan tidak mengartikulasikan semua hal, dan saya yakini selaras dengan sikap serta pandangan Rendra, dalam sajak Paman Doblang, bahwa Kesabaran adalah bumi, Keberanian menjadi cakrawala, Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. |

 

Baca Juga : Seruan Kebangkitan Memilih Cara Perubahan.

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
07 Jul 19, 18:14 WIB | Dilihat : 915
Jakarta Pantas Terima Penghargaan Kota Terbaik Dunia
28 Jun 19, 14:02 WIB | Dilihat : 1457
Nasib Rakyat Tidak Ditentukan di Bilik Suara
28 Jun 19, 11:03 WIB | Dilihat : 1449
Sofhian Mile : Selamatkan Bangsa, Utamakan Rakyat
27 Jun 19, 22:41 WIB | Dilihat : 1372
ISWAMI Sinergi Tunggal Jurnalis Malaysia - Indonesia
Selanjutnya
Sainstek
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 653
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1481
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2393
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 1103
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
Selanjutnya