Realita Kepemimpinan Pandir

| dilihat 322

Haèdar Muhammad

Mehmet Murat Idan jengkel melihat situasi dan realitas politik.  Penulis Drama, Novelis dan Pemikir Turki itu pun berteriak.

“Wherever in the world a country is governed by spiritually ill, politically empty, ethically rotten and mentally stupid people, over there you can find nothing but chaos, tears and fire!” teriaknya.

Peraih Best Play Award (2000) untuk karyanya bertajuk "Eyes of Magic" itu meneriakkan pikirannya dan menyatakan, di manapun di dunia ini hanya akan ditemukan kekacauan, air mata, dan api -- tiada yang lain -- kala suatu negara diperintah oleh orang-orang yang sakit secara rohani, kosong secara politik, busuk dan pandir secara etis.

Penerima penghargaan AQT 2005 - Vancouver Canada International Playwriting Competition untuk karyanya bertajuk "Beggar's Prophecy," itu seperti peniup peluit untuk menyadarkan khalayak di seluruh dunia, tibanya masa berbagai negara di belahan dunia, tidak layak dan tidak patut memimpin negara mereka. Lantaran kepemimpinan mereka, hanya akan menyeret rakyat pada penderitaan. Jauh melebihi derita yang pernah dialami di masa Luth.

Teriakan Idan bukan laungan sunyi di gurun sahara. Pemikir kelahiran Elazig - Turki Selatan, 16 Mei 1965, yang terkenal juga karena karya-karyanya: Galilei Galileo, Master Moliere is Marrying, Noah’s Ark, Iron Bridge, Pursuit and Endless Race, itu seolah peniup peluit kesadaran dunia, supaya manusia sadar tentang hal paling asasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kesadaran tentang kesejahteraan dan keadilan hidup kolektif yang memuliakan manusia.

Dalam konteks itu, trilogi parameter pembangunan: lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu (secara ekonomi) mesti diawali oleh kesadaran untuk melihat kesehatan, pendidikan, dan lapangan pekerjaan sebagai hak asasi manusia sungguh merupakan pondasi utama kemajuan dunia, bukan sekadar retorika politik yang orientasinya jangka pendek dan sesaat. Dalam konteks itulah, proses rekrutmen politik -- terutama di tengah sistem demokrasi yang mudah terkontaminasi oleh pragmatisme transaksional -- mesti dibenahi secara serentak dan serempak.

Kriteria dan kategori kepemimpinan politik yang selalu ideal, mesti dijaga dari terjadinya situasi lack of leadership, karena miskinnya pemimpin berkualitas yang mempunyai kematangan spiritual dan humanitas yang mampu dengan tegas menentukan prioritas penyelamatan nyawa manusia yang akan berdampak pada kemakmuran dan kesejahteraan berkeadilan. Terutama, ketika terjadi situasi darurat secara alamiah atau terekayasa. Seperti saat ini, ketika terjadi pandemi global yang melantakkan dimensi kemanusiaan dan religiusitas umat manusia.

Karena dalam situasi semacam itu, yang akan tergeletak tak berdaya, bukan hanya mereka yang sudah menjadi korban (terpapar, pesakit, dan wafat) pandemi nanomonster COVID-19. Jauh dari itu adalah terampasnya kedaulatan suatu bangsa dan negara di seluruh aspek kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, agama, pertahanan keamanan). Terutama, karena terampasnya kedaulatan negara bangsa atas kekayaan sumberdaya-alam  yang mereka miliki, sebagai penjamin kehidupan.

Dari praktis politik, teriakan Idan relevan dengan pandangan Kevin Mattson dalam artikelnya bertajuk The Politics of Stupid (Dissent, 2010). Mengambil amsal ketidakpercayaan Christine O Donnell -- dari Partai Republik untuk Senat Amerika Serikat -- yang tidak percaya pada evolusi, sebagaimana dia tidak percaya pada perangkat cegah wabah. Donnel terkenal, ketika dia berteriak, 'kondom tidak mencegah AIDS.'  Karena yang mampu mencegah wabah penebar derita, itu adalah kesadaran religi, kematangan spiritual, kecerdasan dan kematangan profesional dalam mengambil keputusan dan kebijakan yang nyata dalam kehidupan sosial budaya.

Tetapi kemampuan nalar, kematangan nurani dan kepekaan nurani sebagai anasir penting kemanusiaan tidak pernah menjadi syarat mutlak dalam proses rekruitmen politik -- eksekutif, legislatif dan yudikatif. Praktik politik, untuk dan atas nama demokrasi,  lebih banyak ditentukan oleh malapropism dalam retorika politik, sebagai bagian dari kitsch -- produk kelontong politik -- di tengah masyarakat yang disibukkan oleh syahwat politik dan lapar dahaga kekuasaan.

Tapi, lagi-lagi realitas ini tak pernah menyingkir dari praktik politik praktis. Kualitas buruk kepemimpinan Presiden Warren G. Harding (sebagai produk politik kemasan) menguap dan tak pernah diingat, kala rakyat Amerika Serikat memilih Donald Trumph sebagai Presiden. Meskipun, dalam menghadapi pandemi COVID-19 telah menyebabkan ribuan orang tepapar, terkapar, dan akhirnya menggelepar sebelum maut menjemput.

Mattson mengungkapkan, "Apa yang kita miliki di sini (Amerika Serikat) bukan hanya politik dari kebodohan tetapi juga kebodohan. Kebodohan sebagai kehormatan. Mengarang omong kosong sebagai cara untuk dipercaya untuk jabatan publik."

Dia mengisyaratkan, di berbagai negara, juga menjalar situasi yang sama. Rakyat menyaksikan kepandiran pemimpinnya, tapi tak berdaya dan akhirnya tergerus oleh kepandiran yang terdiseminasi secara penetratif - hipodermis. Lantas menganggap malapropisma retorika politik sebagai sesuatu yang niscaya. Terutama untuk menutupi kegagalan kongkret dari globalisme kapitalistik sebagai sistem yang menyangga demokrasi, didukung oleh arus baru budaya digital (internet on think dan artificial intelligent) yang sesungguhnya dirancang untuk menjemput era baru Society 5.0 sebagai era masyarakat digital konseptual, setelah melewati era perburuan (1.0), agraris (2.0), industri (3.0), dan informasi (4.0).

"Kita semua khawatir tentang negara kita," seru Mattson. Bahkan, menurutnya, kaum liberal yang memelihara kepandiran, bisa juga sedikit panik tentang hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan (memproduksi hoax, membully kecerdasan, membunuh karakter pemimpin populis, pemimpin berorientasi keadilan dan kemanusiaan yang total, dan menimang-nimang calon pemimpin kapitalis baru). Mattson membayangkan, kelak akan tiba masa, slogan semua kandidat politik masa yang tertulis pada kaos konyol kampanye mereka adalah: "Aku dengan Bodoh. Pilihlah." Karena kaum cendekia dan wiseman tak lagi memainkan fungsi strategisnya, hanyut oleh perburuan jabatan politik dan formalisme yang pandir.

Salah satu hikmah serangan nanomonster COVID-19 (apapun dugaan: alamiah batau by design), membuka mata kita tentang realitas, banyak negara yang dipimpin oleh kecemasan, ketidakberdayaan, dan kepandiran. Kepemimpinan politik kepandiran, dalam pandangan Jennifer terkait dengan sikap media, yang tidak memberi porsi kepada para calon pemimpin cerdas dan berkarakter secara proporsional pada fase rekrutmen  (Post, 2019)

Media dan konsumen berita, menurut Rubin, mengesampingkan isu-isu penting dan serius. misalnya isu-isu yang dapat mengancam, bahwa kebijakan pandir mereka yang terpilih akan sekaligus membuat pemilihnya menjadi bodoh. Sekurang-kurangnya, tidak berdaya ketika menyaksikan kesalahan konyol, dan berulang-ulang dilakukan mereka yang terpilih sebagai 'pemimpin' resmi.

Ketidakberdayaan itu yang dimanfaatkan influencer, buzzer, dan cyber warrior warrior yang memang dibentuk dan dipelihara para pemimpin pandir untuk memuji dirinya. Sekaligus menyerang, menekan, dan menyingkirkan para pemimpin berkarakter, yang pada umumnya lebih memilih jalan kebaikan dan kebajikan (bukan contra intimidate) dalam menghadapi mereka.

Liputan media tentang aksi kepemimpinan pandir, menurut Jennifer, menjadi idiot, tanpa peduli, bahwa iman dalam demokrasi menderita. Rakyat, kemudian terjebak dalam situasi masabodo menghadapi situasi dan membiarkan media mengabaikan perilaku kepemimpinan pemimpin pandir karena lebih terpaku pada isu 'pencurian anggur.' Media lebih mengutamakan isu tentang dampak ekonomi serangan COVID-19, daripada kebijakan liberal pemimpin pandir yang memiskinkan dan memperluas derita rakyatnya.|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1361
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1755
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 931
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1347
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Lingkungan
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 88
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 209
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
11 Jul 20, 20:32 WIB | Dilihat : 386
Nikmati Ancol, Cocol yang Ngocol
21 Jun 20, 12:43 WIB | Dilihat : 308
Jangan Lelah Mewujudkan Jakarta Tangguh
Selanjutnya