Rakyat Tak Mau Lagi Dibohongi Caleg

| dilihat 994

CALON anggota legislatif dari partai manapun, akan menghadapi tantangan tak mudah dari konstituen. Tak hanya para pemilih pemula dan swing voters, bahkan dari pemilih konvensional di pedesaan, yang pada pemilihan umum legislatif sebelum-sebelumnya manut begitu saja pada tokoh panutan mereka.

“Sekarang kita kepingin tahu lebih detil mereka. Asal usulnya, orang tuanya, keluarganya, komitmennya terhadap nasib rakyat, dan perilakunya,” ujar Haji Aang, salah seorang pemuka masyarakat Saketi – Kabupaten Pandeglang – Banten.

Hal yang sama dikemukakan oleh Durmawel, pemuka generasi muda Rawalele – Jakarta Barat. “Kita gak mau lagi dibohongi,” ujar lelaki tegap, itu.

“Kalo gak turun langsung, ketemu ama kita-kita, rakyat, gak usah dipilih,” sambut Benny, warga Gondrong – Tangerang.

Pandangan seperti ini tak hanya mengemuka dari ketiga sosok pemuka masyarakat itu. Kardi, penduduk Batujajar – Bandung Barat, juga menyatakan hal yang sama. Begitu juga halnya dengan Tine – penduduk Ngamprah, Bandung Barat.

“Caleg musti langsung ketemu kita. Diskusi dengan kita. Kita akan menilai, seberapa mampu dia mengatasi masalah kita dan membawa aspirasi kita. Baik di tingkat Kabupaten, Provinsi atau nasional,” ujar Tine.

“Anggota DPR dan DPRD juga jangan enak-enak aja. Menebar janji, bagi-bagi duit recehan, sesudah duduk di DPR dan DPRD lupa. Sekarang mulai pada nongol lagi,” tegas Herman.

Dalam pantauan akarpadinews di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, terasa kesadaran rakyat untuk menilai dan memilih wakil rakyat yang bakal berlomba dalam Pemilu Legislatif 2019 mendatang.

Kendati begitu, tak sedikit pemilih yang kecewa dengan pengurus partai di tingkat cabang dan anak cabang. Seperti diungkap Phian, penduduk Congkrang – Kecamatan Bejen – Temanggung.

“Gimana kita mau pilih dia, wong yang datang cuma potretnya dan kaki tangannya. Orangnya harus datang juga dong,” ungkap Phian mengomentari bakal caleg yang memasang baliho di dekat kampungnya.

“Untung sudah diturunkan oleh satpol PP kecamatan, kalau tidak, kita yang bakal merobohkan,” ungkapnya sambil ngakak.

Phian cerita, ada bakal caleg dari salah satu partai peserta Pemilu 2019. Begitu partainya diumumkan sebagai peserta Pemilu dan dapet nomor urut, kaki tangan bakal caleg itu langsung pasang baliho.

Rakyat yang muak, langsung mengoyak baliho itu, dipakai menjadi alas pupuk kandang. “Sekarang gak berani pasang lagi,” sambung Phian, yang lama tinggal di Jakarta, dan kini berprofesi sebagai peternak itu.

Dari desa Krinjing, Kecamatan Dukun – Kabupaten Magelang, kontributor akarpadinews mengabarkan, kesadaran rakyat terhadap hak pilih dan penilaian terhadap para bakal calon anggota legislatif, semakin meningkat.

“Kita gak mau tertipu dengan baliho. Senyum mereka sering senyum palsu,” ujar Kamidi. Dia mengaku ‘mewakili’ suara yang berkembang di kampungnya, yang kecewa berat dengan para anggota legislatif yang tidak amanah.

“Waktu perkenalan dan kampanye, bukan main seperti orang baik.. Eh.. sesudah jadi, malah sebaliknya, tahu-tahu dicokok KPK,” ujarnya.

Kamidi, seperti halnya yang lain, mengaku mengetahui kelakuan para anggota legislatif yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui berita berbagai media. Terutama media sosial.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Magelang, itu mengatakan, untuk Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019, rakyat tak lagi bisa dikibuli.

“Jangan anggap remeh kita-kita, rakyat di pedesaan lo. Kita rajin nonton acaranya Bang Karni Ilyas di TV-One itu,” ungkapnya.

Pandangan kritis juga dikemukakan oleh orang-orang tua yang setiap pagi berolah raga di alun-alun Kabupaten Wonosobo. Salah seorang di antaranya, Pak Kamid.

Pensiunan karyawan pabrik kayu, itu mengatakan, dalam obrolan sehari-hari mereka, telah berkembang komitmen kolektif, termasuk penjual kopi dan minuman angkringan.

“Kita akan lihat, bibit, bebet, dan bobotnya caleg,” ujarnya.

Dia bercerita, dulu pernah ada caleg yang bagus dari dua partai yang banyak diisi aktivis NU dan Muhammadiyah. Dua tahun di awal, setelah dilantik menjadi anggota DPR, mereka masih sempat menyambangi rakyat setiap reses.

“Sekarang tidak lagi. Para pendukungnya, termasuk saya, sekarang menarik diri, walaupun mereka meminjam wibawa kyai pesantren,” ujar Pak Kamid.

“Datanglah langsung temui kami. Gak usah pake nyuruh – nyuruh orang. Apalagi pengurus partai yang gak bagus akhlak dan kelakuannya,” tambah dia.

Bagai gayung bersambut, pandangan yang sama mengemuka dari Harjanto, seniman di Kaliboto – Purworejo. “Tunjukkan akhlak yang baik, yang membuat kami percaya dan mau memberikan amanah. Datang ke sini, diskusi dengan kami, apalagi mereka yang bukan penduduk sini,” ujarnya.

Harjanto menjelaskan, zaman sudah berubah. Sudah banyak anak-anak desa yang kuliah di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya.

Setiap kali mereka pulang kampung, mereka membawa dan menularkan pandangan kritis kepada rekan-rekannya, juga kepada para orang tua.

“Obrolan mereka mempengaruhi cara berfikir masyarakat dalam memilih,” tegasnya.

Pandangan sama dikemukakan oleh Nanto, aktivis pergerakan petani di Temanggung. Dalam percakapan sore di dekat Masjid Agung dan alun-alun Temanggung, sarjana lulusan Undip – Semarang, itu mengemukakan, “Mau jadi caleg dan mau menang yang musti kenal dan dikenal oleh masyarakat pemilihnya.”

Menurutnya, media seperti baliho, spanduk, dan sejenisnya tak digubris oleh masyarakat. “Coba saja perhatikan, Pilkada sudah semakin dekat, tapi masyarakat tenang-tenang saja. Untuk itu, ubah cara berjuang,” ujarnya.

Sebagaimana dikemukakan Phian, Nanto mengatakan, sekarang rakyat memerlukan bukti kongkret. Saat ini, ketika masih menjadi bakal caleg. Antara lain melalui diskusi dan komunikasi tatap muka, membahas berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

“Kalaupun caleg tidak menguasai masalah secara rinci, minimal mereka mau tahu dengan persoalan yang dihadapi rakyat, dan tahu pula cara mengatasinya,”  ungkap Phian.

Dia katakan, rakyat lebih suka memilih caleg yang masih segar dan belum terkontaminasi oleh permainan politik. Faktor partai juga menentukan. Dia kemukakan, hanya sedikit partai yang mesin organisasinya sampai ke tingkat desa dan dusun bergerak.

Pandangan itu selaras dengan sikap Haji Aang dari Saketi. Pedagang kelontong yang pernah berkali-kali menjadi tim pemenangan anggota legislatif itu mengatakan, “Jelaskan dulu siapa diri mereka dan apa pikiran mereka untuk mengatasi masalah yang dihadapi rakyat,” ujarnya.

Pendek kata, para bakal caleg, kudu tahu diri dan paham, sekarang banyak rakyat yang berfikir, bersikap, dan bertindak kritis. Mereka itu jauh lebih mampu mempengaruhi konstituen katimbang para caleg. Terutama, caleg yang diturunkan langsung oleh partainya.

Ketika rakyat tak mau lagi dibohongi, menurut Nanto, yang musti dilakukan para bakal caleg dan caleg nantinya, adalah kemauan dan kemampuan meyakinkan rakyat, bahwa mereka layak dipercaya dan dipilih.

“Jangan sembarangan milih tim sukses, apalagi yang hanya mengandalkan informasi dari kalangan sendiri,” ujar Nanto.

“Mau nyebar duit? Kagak mempan lagi dah. Pan Pilkada DKI Jakarta udah kebukti. Kita kudu lawan jual beli suara. Makanya, penyelenggara Pemilu, termasuk Panwas juga kudu diawasin,” kata Benny.

Kalo mao aman, ungkap Benny, partai kudu pasang orang asal daerah pemilihannya. “Apalagi kalo pucuknya dikenal sebagai orang baek dan banyak amalnya di kampung kelahirannya,” tegas Benny. | (tim kontributor : choir, rijal, siti, boim, mulyanto)

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
Sporta
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1289
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
12 Okt 17, 06:56 WIB | Dilihat : 798
Perkumpulan UMA Gelar Unity Golf Tournament 2017
16 Jan 17, 11:59 WIB | Dilihat : 998
Tim Elit Membidik Lallana
05 Jan 17, 10:12 WIB | Dilihat : 378
Laga Pembuktian Si Rubah
Selanjutnya