Sedepnye Ampe ke Tulang Sumsum

Presiden Duterte Siap Jadi Kelinci Percobaan Vaksin Anti Covid 19

| dilihat 217

Bang Sém

Kabar gembira itu datang dari Moskow dan Manila. Presiden Rusia, Vladimir Putin mematlamatkan kepada khayalak se dunia, lewat para pemimpin dalam pemerintahannya, Senin (10/8/20), bahwa Rusia sudah menemukan vaksin pertama anti nanomonster Covid-19.

Pemimpin tulen yang macho itu, bahkan membagitahu, salah seorang puteri kesayangannya, telah mengambil inisiatif menjadi relawan dalam proses uji klinis vaksin yang digarap berbulan-bulan di Gamaleya, itu.

Pekan ini, Rusia bakal mematenkan vaksin pertama anti nanomonster Covid-19 yang diklaimnya, itu.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, tak hanya memuji Putin dan Rusia, negara mitranya itu. Dia juga mengumumkan, dirinya siap berpartisipasi dan bersedia jadi relawan dalam uji klinis vaksin yang memberi harapan di tengah ketidak-pastian dunia itu.

Filipina bersama Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia memang 'terlibat' dalam proses penemuan vaksin itu, ketika negara lain, seperti Amerika Serikat dan Brasil masih berkutat dengan kecongkakan, menolak penggunaan masker, tapi sempoyongan ditimpa nanomonster, itu.

Rodrigo Duterte dan puteri kesayangan Putin, mengambil keputusan dengan risiko tinggi bagi keselamatannya, ketika terlalu banyak canned leader alias pemimpin sarden di berbagai belahan dunia, sibuk mencari rakyat amah menjadi relawan uji klinis vaksin.

Duterte menawarkan diri menjadi kelinci percobaan ketika vaksin itu kelak tiba di Manila. Dia bicara lantang, "Saya bisa menjadi orang pertama yang dapat mereka ujicobakan."

Pernyataan Duterte itu keren. Sedepnyé ampé ke tulang sumsum. Duterte menyediakan dirinya menjadi kelinci persobaan, supaya publik tak takut menggunakan vaksin itu.

Duterte dan Putin berpikir, pemimpin mesti duluan mengambil risiko dalam upaya uji klinis vaksin, daripada menjadikan rakyatnya menjadi tumbal. Sebaliknya, rakyat kudu didahulukan dalam menikmati kesejahteraan hidup yang laik, yang melandasi pertimbangan mereka mengatasi dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh sebaran 'tularan tak terkendali' virus yang tak nampak kasad mata, itu.

Duterte menunggu tak sabar datangnya vaksin, itu menyambut bewara yang dikirim Presiden Putin melalui Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko.

Rusia dikabarkan segera mengirimkan vaksin temuan para saintisnya secara gratis. Sekaligus membuka peluang kerjasama dengan Filipina, untuk memproduksinya secara massal.

Filipina memang memprioritaskan vaksin itu untuk mengatasi persoalan parah yang dihadapinya. Terutama, lantaran jumlah kasus di Filipina terbilang yang tertinggi di Asia.

Jalan Serdadu

Pada hari Senin, 10 Agustus 2020, kasus mereka yang terpapar di Filipina naik menjadi 136.638, setelah rekor lonjakan harian sebanyak 6.958 kasus.

Duterte sempat mengancam tembak ditempat siapa saja yang melanggar protokol Covid-19, termasuk pemberlakuan ulang lock down atas Manila dan sekitarnya. Ketika petugas kesehatan di garda depan melawan nanomonster Covid-19 kewalahan dan memberi isyarat bakal 'angkat tangan,' Duterte mengancam akan menembak mati seluruh pasien dan siapa saja yang terpapar Covid-19.

Duterte ngomong, dirinya memberitahu Putin, dirinya percaya sangat besar pada riset dan penemuan vaksin pertama untuk memerangi Covid-19, itu. Senin (10/08/20), via siaran televisi, Presiden Duterte menyatakan kepercayaannya, vaksin dari Rusia sangat baik untuk kemanusiaan."

Duterte tak peduli Amerika Serikat, mantan sohib negaranya, meragukan vaksin dari Rusia, itu. Di tengah ingar bingar perlombaan antar negara menemukan vaksin Covid-19, Amerika menyebar keraguan yang bikin was-was masyarakat dunia, bahwa kecepatan dan prestise nasional dapat membahayakan keselamatan.

Duterte tak akan menunggu Republik Rakyat China untuk menjadikan Filipina sebagai prioritas jika negaranya Mao Tse Dong, itu mengembangkan vaksin, di tengah kecemasan negara-negara berkembang ihwal pasokan dan ketersediaan vaksin yang tak kunjung tiba, dan diragukan pula khasiatnya.

Sambil menunggu vaksin dari Rusia, itu Agustus ini, Duterte memberlakukan kembali lock down yang ketat di dan sekitar ibu kota Manila selama dua minggu pertama.

Keputusan itu diambil Duterte merespon permohonan petugas garda depan kesehatan, yang mengancam lagi bakal "timeout" di tengah lonjakan infeksi selama periode ketika pembatasan dilonggarkan.

Dan, Duterte bakal mengulang caranya, mengerahkan serdadu untuk menegakkan aturan tentang lock down. Walaupun dia tahu, keputusan lock down merupakan jalan terberat di dunia.

Duterte memilih jalan kemanusiaan yang mungkin dianggap tidak manusiawi untuk menyelamatkan rakyatnya, katimbang mengurusi gerundelan lawan politiknya yang mencela 'jalan serdadu' yang dipilihnya.

Duterte betahan dengan sikapnya, keselamatan rakyat adalah hak asasi terdalam dan hukum tertinggi.  Dia tak peduli belanja negara terkuras untuk mengatasi situasi.

Presiden yang 'berangasan' dalam menegakkan prinsip anti rasuwah, itu berpikir -- yang dianggap 'norak,' tapi bener: atasi krisis kesehatan, krisis ekonomi dan sosial lebih mudah diatasi.

Duterte dan Putin memang pemimpin tulen, bukan pemimpin sarden. Dalam hal menghadapi risiko kematian, jangan rakyat yang didorong jadi kelinci percobaan.|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 105
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 83
Monopoli Pikiran
10 Sep 20, 19:31 WIB | Dilihat : 297
Getar Good Voice Rasil
Selanjutnya
Polhukam
24 Sep 20, 07:26 WIB | Dilihat : 79
Mahathir Usulkan Pemungutan Suara Mosi Tidak Percaya
24 Sep 20, 19:45 WIB | Dilihat : 101
Anwar Ibrahim Konsisten Memburu Kursi PM
24 Sep 20, 18:22 WIB | Dilihat : 122
Anwar Ibrahim Sang Aktor
Selanjutnya