Cermin dari Perancis

Perjuangan Akal Sehat Memenangkan Bangsa

| dilihat 419

Charita Al Kayla

November hingga Desember 2018 adalah hari-hari yang buram bagi Perancis. Paris, kota mode yang banyak menawarkan estetika, nyaris lantak oleh aksi amok - rakyat meluahkan kemarahan yang tak terkendali.

Apa pasal? Presiden Perancis Emanuel Macron, yang semula diidolakan, meghadirkan sosok pemerintahan yang tak lagi berpihak kepada rakyat. Dia mengingkari janji politiknya selama kampanye dan perdebatan.

Kritik yang dilontarkan melalui beragam media tak digubris. Bersama kabinetnya mereka mengeluarkan beragam kebijakan yang berdampak buruk dan dialami langsung oleh rakyat.

Tak hanya kebijakan ihwal kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas yang meroket dan kemudian memicu kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok rakyat. Pun, kebijakan soal investasi asing dan pendekatan ekonomi - politik Uni Eropa yang membuat rakyat mengalami depresi.

Di sisi lain, kebijakan Kabinet Macron juga dipandang keluar dari tatanan budaya Perancis yang demokratis, namun tak kehilangan dimensi integritas diri. Kebijakan Macron dinilai tak mengindahkan realitas pertama kehidupan sosial rakyat.

Di tengah kondisi perekonomian Eropa, khasnya Perancis yang sedang tak kokoh fundamentalnya, mulanya, kehadiran Macron -- Mei 2017 -- sebagai Presiden baru Perancis, disambut sebagai tibanya fajar baru.

Kala itu, begitu banyak kalangan di Eropa, khasnya Jerman yang paling kritis, memandang Macron sebagai harapan. Dia membawa visi segar ihwal "Membangun kembali rumah dan persaudaraan baru Eropa" untuk mengatasi krisis yang berlangsung bertahun-tahun dan solidaritas Eropa yang babak belur.

Dalam spirit yang bergairah dan berapi-api, en marche !, dia menawarkan syair baru peradaban Eropa, " Ode à la joie." Syair sukacita yang diharapkan, tak hanya oleh rakyat Perancis saja, melainkan oleh seluruh masyarakat di Eropa. Terutama, ketika beberapa negara Eropa seperti Polandia dan Hungaria, kudu membayar mahal menghadirkan diri mereka di tengah persaudaraan bangsa-bangsa di Eropa.

Tapi semua berubah. Ketika orientasi dunia tak lagi bergerak ke Eropa-Amerika dan mengalihkan haluan ke Asia - Pasifik, persoalan menjadi lain.

Di dalam negerinya sendiri, Macron dihempang oleh rakyatnya. Macron dilihat tak sadar, kalkulasi numerik yang selalu menghadirkan angka=angka investasi (yang lantas tak terbukti), tak terasakan oleh rakyat Perancis. Tingkat ketimpangan sosial ekonomi merangkak naik, pada bilangannya seputaran 0,4.

Sosialisme yang menjadi nafas budaya Perancis dalam mengelola persoalan sosial, ekonomi, dan politik hendak dikoyak dengan pendekatan kapitalistisme yang dalam banyak hal, melabrak isu-isu laten ihwal pemerataan dan keadilan.

Macron tak berkutik menghadapi vision killer, realitas yang membunuh visinya, dan kemudian membunuh visi besar Perancis, kala dia mengalihkan persoalan yang kian kompleks dalam realitas pertama kehidupan rakyat, dengan semangat besar Eropa.

Visi Macron terbunuh oleh realitas pahit kebijakan yang ditempuhnya: pajak bahan bakar yang mencekik, rancangan pajak digital, dan agenda reformasi sosial yang mandeg. Macron bukan lagi harapan baru. Ia tak jauh beda dengan Nicolas Sarkkozy dan François Hollande yang dinilai gagal melakukan reformasi serius dalam menghadapi situasi ekonomi negara yang kian sulit.

Macron tak bisa diharapkan menjadi energi baru reformasi zona eropa yang direncanakan. Macron tidak banyak mencapai apa yang dijanjikannya selama kampanye. Celakanya, dia tak melihat realitas sesungguhnya, dan tak menyadari visi yang ditawarkannya telah berubah menjadi fantacy trap, jebakan fantasi seorang pemuda Perancis yang congkak dan sedang mabuk dengan kekuasaan dan pengaruhnya dalam pemerintahan.

Macron terjebak dalam fantasinya tentang kekuatan partai politik dan supoort beberapa negeri tetangga yang mendukungnya. Macron gagal di dalam dan di luar negerinya.

Selama berminggu-minggu, rakyat Prancis berteriak bahwa mereka tidak ingin mati secara ekonomi, sosial atau budaya. Rakyat tidak ingin mati sebagai manusia dan mengklaim keadilan sosial dengan banyak keluhan yang diwujudkan dengan naluri konservasi yang disebut Perancis.

Rakyat pun bergerak dengan rompi kuning, mengepung Paris, dan melantakkan kota itu berhari-hari. Mereka meluahkan kemarahan, lalu mengidentifikasi diri dengan simbol pencerahan dan keadilan.

Dalam situasi itulah, kaum intelektual yang sadar politik, terpanggil untuk menghadirkan akal sehat, meredam kemarahan.

Akal sehat mengklarifikasi visi Macron yang sudah berubah menjadi jebakan fantasi, kemudian sepenuhnya mengambil posisi. Mulanya diinisiasi aksi La Manif dengan "gerakan konservatif" pada 18 November. Aksi yang didedikasikan untuk "keberlanjutan hidup rakyat..

Politisi dan intelektual berpartisipasi dalam pertemuan yang memusatkan tema besar aksinya pada enam sumbu utama aksi untuk menarik kembali gerakan aksi rakyat yang sudah melantakkan Paris, dan tak menyelamatkan rakyat dari masalah mereka.

Adalah seorang emak, Laurence Trochu, presiden gerakan itu yang menghidupkan kembali nation dignity dengan memberi prioritas pada perjuangan kesejahteraan keluarga, pendidikan, ekonomi, otonomi wilayah, dan ekologi - yang bernampak pada kebangkitan Eropa secara keseluruhan.

Gerakan aksi massa yang sudah bergerak brutal, merewka tarik dengan meluruskan kembali visi kesejahteraan dan keadilan rakyat. Trochu memekik, "Kami bangga dengan siapa kami, kaum yang berjuang dengan akal sehat, dan memastikan kepada seluruh rakyat Perancis dan Eropa, akal sehat masih ada."

Dia terus berteriak dan menyerukan rakyat Perancis, "Jika Anda tidak mendefinisikan diri sendiri, orang lain melakukannya untuk Anda," lanjutnya, merujuk pada munculnya "lanskap politik budaya baru".

Lantas, turunlah sejumlah intelektual mutakhir, bergabung dalam Perjuangan Akal Sehat para intelektual , seperti François-Xavier Bellamy, Pierre Manent, Mathieu Bock-Côté, Jean-Philippe Vincent dan Roger Scruton.

Mereka bersatupadu dan berhasil meyakinkan rakyat yang bergerak dengan 'rompi kuning,' bahwa masih ada tempat bagi akal sehat berkembang biak, yang sesuai dengan harapan Perancis. Akal sehat akan menuntun rakyat dengan refleksi dinamis atas krisis identitas, kebutuhan untuk rooting, globalisasi liberal atau ekologi hati nurani.

Kaum intelektual dan politisi negarawan yang berhimpun, itu lalu serempak menebar memetika, bahwa "Kemarahan hanya akan menambah buruk persoalan dalam menghadapi kegagalan negara memainkan perannya."

Trochue menggedor halaman muka media ihwal eugenics, sebagai genetika Eropa yang dicirikan oleh perjuangan akal sehat. Perjuangan akal sehat menurutnya, adalah cara agar gagasan-gagasan segar tidak lagi memberi tempat bagi permainan akal-akalan politik.

Kepada Boulevard Voltaire, Trochue menyatakan, kini akal sehat harus menghiasi lagi setiap kolom surat kabar dan setiap ruang pemberitaan media.

Dia mengatakan, akal sehat adalah taji kanan. Sengatan yang sering dianggap mengganggu oleh penguasa, meskipun sesungguhnya merangsang perubahan tata kelola negara menjadi lebih baik !

Akal sehat harus dihidupkan sebagai ruh perjuangan untuk menemukan dan menerapkan garis yang jelas - dengan refleksi nyata - melalui berbagai solusi kongkret yang sangat penting bagi rakyat. Komodifikasi segala sesuatu, tubuh dan pikiran, hak untuk memiliki tugas untuk menemukan panggilan perubahan tatakelola negara. Ketika rakyat sudah tak punya apa-apa lagi, kaum intelektual dan para ibu sebagai pengendali manajemen keluarga, harus menyebarluaskan memetika (virus akalbudi) yang tersimpan di dalam akal sehat. Inilah pertahanan rakyat untuk terus hidup secara berkelanjutan dan seimbang.

Perjuangan akal sehat, kata Trochue adalah memenangkan bangsa. Untuk itu, bergabung dalam gerakan perjuangan akal sehat, para intelektual dan pakar terpilih, serta politisi negarawan. Karena merekalah yang diperlukan rakyat mengartikulasi gagasan perubahan antara mereka yang berpikir dan mereka yang bertindak ... dan untuk menghubungkan mereka yang berperan sebagai tulang belakang!

Perjuangan Akal Sehat akan harus memenangkan bangsa Perancis, ketika Eropa sedang kehilangan cara menemukan solusi di tengah pusaran krisis yang bakal merampas kesejahteraan dan keadilan sebagai ekspresi peradaban, pungkas Trochue. |

Editor : sem haesy | Sumber : Guardian, BoulevardVoltaire
 
Humaniora
17 Jun 19, 19:03 WIB | Dilihat : 120
Benahi Minda, WAG Cerdas
13 Jun 19, 17:31 WIB | Dilihat : 224
Integritas Syeikh Abdul Qadir Jaelani
01 Jun 19, 16:05 WIB | Dilihat : 663
Selamat Menjumpai Sumber Kebajikan, Bu Ani
Selanjutnya
Lingkungan