Perang Verbal dan Kekerasan

| dilihat 289

Syaiful Bahri Ruray

 

“open your mouth only

if what you are going to say

 is more beautiful than

the silence”

(Budha)

 

Dunia kita, seakan tiada hentinya dari kekisruhan. Belum lagi satu negara menemukan solusi tuntas dan efektif melawan pandemi Covid-19, kita diributkan dengan kekerasan yang terjadi karena kebebasan berekspresi media yang dianggap melampaui etika kebebasan berekspresi itu sendiri.

Tersebutlah Charlie Hebdo, sebuah majalah satiris terbitan Prancis, menjadi pemicu hingga berimplikasi kemana-mana. Untuk membela kekebasan berekspresi Presiden Prancis Emanuel Macron pun membela tradisi satiris dan sinikal Charlie Habdo tersebut.

Kita jadi teringat kasus Salman Rushdie, yang menulis novel The Satanic Verses (1989), memicu kemarahan yang relatif sama. Manusia merasa terusik spirit riligiusitasnya, karena sebagai sesuatu yang prinsip terusik. Namun prinsip ini, bukan hanya melanda dunia Islam.

Dari catatan seorang jurnalis, kita mengetahui bahwa Charlie Hebdo juga melakukan hal yang sama terahadap Jesus Kristus dan kaum Yahudi. Bahkan Hebdo juga membuat gambar karikatur tentang Macron dan isterinya yang terpaut 24 tahun tersebut. Yang dalam sudut pandang manusia beradab, apalagi kita orang timur, adalah sangat tidak etis alias kurang beradab. Hebdo memang majalah satir yang didirikan untuk anti-establishment.

Lalu, melalui medsos, Wakil Bupati Halmahera Utara, Muhlis Tapitapi, memposting resensi buku lama yang ditulis Charles Kimball: When Religion Become Devil (2013). Karena semakin banyaknya pelaku teror sering mengatasnamakan agama akhir-akhir ini. Sebaliknya agama juga dimanipulasi oleh kelompok tertentu untuk mengklaim kebenaran tunggal dan menafikan eksistensi orang lain.

Sikap altruistik menjadi jauh dari apa yang sesungguhnya merupakan cita dan idealitas agama itu sendiri.

Pada beberapa waktu lalu, dalam sebuah webinar yang dipandu Imam Shamsi Ali dari New York yang menampilkan Prof. Jonathan Fox dan Azyumardi Azra, membahas juga tentang tema kekerasan ini. Menariknya karena kekerasan mengatasnamakan agama disebutkan seringkali tidak berbasis pada ajaran sesungguhnya dari agama itu sendiri.

Oleh Jonathan Fox disebut dunia tengah mewarisi tradisi Yunani dan Romawi, dimana dalam perang dan penaklukkan selalu menggunakan kekerasan dan membantai yang kalah.  Dunia Barat sendiri, mengalami beberapa momentum sejarah yang bersentuhan dengan Islam yang menyisakan memori kolektif bagi mindset Barat terhadap Islam.

Sebutlah Perang Salib, dan menangnya Salahuddin Al Ayubi, bahkan sebelumnya Umar bin Khattab, yang menduduki Jerusalem tidak dengan perintah membantai penduduk setempat yang berlainan keyakinan agamanya.

Juga trauma Eropa atas jatuhnya Konstantinopel oleh Mehmed Al Fathih, lalu pengepungan Lasykar Ottoman selama 3 tahun atas gerbang kota Wina, sebagai pintu masuk ke Eropa Barat oleh Mustapha Kara.

Disamping penguasaan selama tujuh abad di Andalusia, Spanyol, telah memberikan pelajaran yang tidak dapat begitu saja dikesampingkan dalam pembentukan mindset Eropa modern sekarang.

Kimball yang juga seorang pendeta ahli teologi lulusan Harvard dan guru besar studi agama pada Oklahoma University menulis, agama sering berwajah ganda karena di salah gunakan jika tidak meletakkan sejarah dan tradisi ajarannya dengan benar.

Senada dengan Azyumardi Azra dan Jonathan Fox, Imam Ali Shamsi dalam sebuah wawancara setelah kasus 9/11 di New York, menyatakan bahwa Islam sendiri telah dibajak.

Memang rentang waktu yang panjang perjalanan agama-agama besar, tidak dapat tidak, dapat saja mengalami deviasi dalam penafsiran idealitasnya ke realitas kehidupan nyata kita. Hal ini dialami oleh hampir seluruh agama-agama besar dunia. Yahudi sendiri, terjadi perbedaan dalam memaknai Judaisme, Yahudi dan Zionisme atau cita-cita atas Judenstaat.

Seorang teman saya, mengirimkan warning dari pendetanya, bahwa setelah blasphemy terhadap Islam yang dilakukan Charlie Hebdo, berikutnya Kristen juga akan mengalami hal yang sama. Ternyata benar, hanya berselang sehari, Sinagog Yahudi di pusat Wina diserang orang bersenjata dan menewaskan 7 orang, termasuk aparat polisi setempat.

Kata-kata Charlie Hebdo atas Jesus, juga sangat sarkastis. Rupanya kekerasan verbal, dianggap sebagai kebebasan berekspresi ini, oleh media Barat khususnya di Prancis. Padahal, kita di Halmahera, adalah bagian yang pernah menyatakan diri menjadi bagian dari Kekaisaran Prancis.

Pierre Poivre, seorang misionaris Prancis, adalah orang Prancis pertama yang dua kali datang ke Maluku Utara, dan menyeludupkan cengkih. Cengkih dan Pala dari Batang Dua dan Patani ini, diselunupkan ke Mauritius, lalu ke Madagaskar.

Cengkih Zanzibar sebagai cengkih termahal dunia sekarang ini, adahal hasil seludupan Prancis dari bibit cengkih raja tersebut. Bahkan Sangaji Patani dan Maba, pernah mengibarkan bendera Prancis dan menurunkan bendera Belanda lalu menginjak-injaknya, dan menyatakan ikrar bahwa Halmahera menjadi bagian dari Prancis.   

Bahwa rasisme di Barat, memang menyisakan teror yang luar biasa. Setiap menjelang terjadinya krisis global, dunia selalu dilanda oleh rasisme. Lothdrop Stoddard (1921) menyebut tentang bangkitnya kulita berwarna sebagai ancaman bagi hegemoni Barat, menjadi rujukan bagi Hitler dalam melancarkan holocaust. Tercatat 6 juta orang Yahudi meregang nyawa di kamar gas selama Perang Dunia II.

Perang ini diawali dengan isu rasisme yang menguat, lalu dipicu lagi dengan krisis ekonomi yang dikenal sebagai zaman malaise dengan diawali The Black Tuesday pada 29 Oktober 1929, dimana Pasar Saham Wall Street (the crash of Wall Street) tersebut jatuh.

Perang Dunia I juga disertai ancaman pandemi global Flu Spanyol, yang menewaskan 50 juta penduduk dunia, termasuk di Indonesia (Hindia Belanda) pada 1918. Rasisme di Amerika karena perlakuan atas kaum negro Amerika, juga sedang terjadi dan memicu demonstrasi yang menuntut keadilan dan persamaan hak dimana-mana.

Gunnar Myrdal (1942) menulis tentang negro Amerika dan Demokrasi Amerika, telah mempersoalkan akan soal rasisme ini. Myrdal menulis: An American Dilemma; The Negro Problem and Modern Democracy tersebut, ternyata hingga kini masih terbukti kebenarannya. Dunia masih terbelah oleh rasisme dan sarkasme verbal karena berbeda entah rasa atau keyakinan. Sikap altrusime masih jauh dari harapan. 

Motto: liberte, fraternite, dan egalite, mungkin masih perlu dimaknai ulang oleh Prancis. Padahal Thomas Carlyle, menulis demikian rinci tentang revolusi yang mengawali demokrasi tersebut.

Carlyle juga terkenal sebagai ilmuan yang memperkenalkan Nabi Muhammad kepada dunia Eropa modern, ketika menulis: On Hero-Worship, and the Heroic in History (1840). Juga Maurice Bucaille, dokter ahli bedah Prancis yang menulis La Bible, Le Qur’an et la Science (1976), demikian mencerahkan bagi konvergensi persepsional peradaban modern berbasis saintifik sekarang dan agama. Buku ini seakan menyambung garis putus sekularisme Barat, antara agama dan sains. Pendeta Kimball juga dalam bukunya menyebut tentang sekularisme Barat yang memisahkan sains dan agama dalam tradisi Barat.

Oleh The Wall Street Journal, gerakan ini disebut dengan frasa ‘Bucaileisme’ dimana kisah penciptaan peradaban manusia terkait erat antara sains dengan ajaran agama-agama langit. Namun, dunia kita seakan tidak sekedar berada dalam ancaman pandemi global, namun juga ancaman bangkitnya neo-fascisme, sebagaimana peringatan Madeleine Albright (2018), mantan Menlu Amerika Serikat tersebut. Ia resah dengan kutipan Trump akan kalimat Benito Mussolini: “It is better to live one day as a lion than 100 years as a sheep.”

Dalam catatan sejarah, Ir. Soekarno pernah dibenci oleh Presiden Prancis Jenderal Charles de Gaulle, karena Bung Karno adalah mendukung keras kemerdekaan koloni-koloni Prancis di Asia dan Afrika. Namun pada 1961, Bung Karno dalam kunjungannya ke Austria, bertemu de Gaulle di Wina, Soekarno sebagai orang yang lebih muda, kemudian mendatangi de Gaulle. Yang tak disangka-sangka oleh de Gaulle, Soekarno berdiskusi dengan bahasa Prancis yang lancar, menjelaskan sikap Indonesia membela kemerdekaan bangsa-bangsa eks jajahan Prancis, karena di ilhami oleh Revolusi Prancis dengan semboyan liberte, egalite, fratenite tersebut.

Soekarno membuat de Gaulle terkesima dan takjub. Soekarno menyebut Revolusi Prancis sebagai “la grand revolution” dengan mengutip adagium Prancis yang terkenal “exploitation l’homme par l’homme.”

Namun saja sekarang, kita seakan melihat kemunduran peradaban, karena satirnya Charlie Hebdo yang merembet kemana-mana. Kita kadang lupa bahwa kekerasan verbal itu juga adalah sebuah bentuk terorisme modern.

Memang frasa terorisme sendiri berawal dari sejarah Prancis. Kita mengutuk kekerasan dalam bentuk apapun, karena hal itu bertentangan dengan idealitas agama apapun.

[Halmahera, 3 November 2020]

-------

Dr. Syaiful Bahri Ruray, putera Ternate, lulusan Universitas Hasanuddin dan Universiteit Utrecht, anggota DPR RI 2014-2019 daerah pemilihan Maluku Utara

Editor : Sem Haesy
 
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 135
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 154
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 09:08 WIB | Dilihat : 104
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 107
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya
Budaya
30 Nov 20, 11:25 WIB | Dilihat : 120
Buku Adalah Subversif?
26 Nov 20, 21:50 WIB | Dilihat : 134
Mencuci Piring Melatih Pikiran
25 Nov 20, 07:25 WIB | Dilihat : 125
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 160
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
Selanjutnya