Pemimpin

| dilihat 227

N. Syamsuddin Ch. Haesy

SALAH satu hal menonjol yang membedakan pemimpin berkualitas dan tidak, bukanlah seberapa besar penerimaan rakyat kepadanya. Melainkan seberapa tangkas dan benar logikanya dalam memimpin, dan seberapa sering dia mempermainkan perasaan rakyat. Hal itu tak hanya terlihat dari dirinya sendiri, melainkan dari bagaimana logika pendukungnya dalam menyikapi aksi yang dia lakukan.

Faktor utama pembeda yang sederhana, dapat dilihat dan dirasakan langsung adalah:  Pemimpin berkualitas berorientasi pada cara, pemimpin tak berkualitas berorientasi pada alasan.

Pemimpin berkualitas memilih cara terbaik dalam proses pengambilan keputusan. Tidak grasa-grusu. Tidak pula memandang remeh ekspektasi dan reaksi negatif yang akan didapat dari suatu keputusan yang diambil. Ia berpijak pada obyektivitas yang melatari keputusannya.

Pemimpin yang tak berkualitas sibuk mencari alasan dan menggerakkan pendukung – pendukungnya mencari alasan subyektif untuk melakukan pembenaran atas keputusan yang diambilnya.

Bagi Benjamin Disraeli, pemimpin yang berkualitas, adalah pemimpin yang berfikir, dirinya wajib mengikuti aspirasi rakyat, dan kerap bertanya pada diri sendiri: Apakah saya bukan pemimpin mereka?

Bukan pemimpin yang sibuk memproduksi citra, seolah-olah dia mengikuti dan sedang berjuang menyejahterakan rakyat. Padahal, yang sedang dia lakukan hanya sekadar mengemas diri, agar rakyat melihat dirinya seolah-olah sedang berjuang untuk rakyat.

Seorang imagineer, Jack Welch yang berhasil melakukan perubahan besar pada General Electric dan beberapa perusahaan mengingatkan: “Sebelum menjadi pemimpin, kesuksesan adalah semua hal yang berkaitan dengan ikhtiar mengembangkan diri sendiri. Ketika Anda menjadi pemimpin, kesuksesan adalah bagaimana mencapai tujuan mengembangkan orang banyak.”

Artinya, tidak seperti yang diyakini Napoleon Bonaparte, bahwa pemimpin bertugas mendistribusikan harapan. Karena, ketika harapan itu tumbuh menjadi ekspektasi tak terkendali, dan kemudian tak terwujud, rakyat akan meninggalkannya dengan berbagai cara.

Dalam hal penyelenggaraan negara dan pemerintahan, hal pertama yang dilakukan oleh seorang pemimpin adalah menyimak dan merasakan derita rakyatnya, bukan mendengar apa yang dibisikkan orang-orang terdekatnya atau orang-orang yang dituakannya.

Tidak mudah mendapatkan pemimpin semacam itu. Seperti kata Sir Winston Churchill, “The nation will find it very hard to look up to the leaders who are keeping their ears to the ground.” Bangsa ini akan merasa sangat sulit mencari pemimpin yang mampu menjaga telinganya ke bumi.

Pemimpin yang mau menyimak dan kemudian menemukan serta melaksanakan cara mewujudkan aspirasi rakyat adalah pemimpin yang logikanya lurus. Jalan pikirannya benar, diikuti oleh naluri yang tepat, perasaan yang terkendali, dan indria yang terorganisasi baik. Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh pemimpin teladan hingga kini. Pikirannya lurus, cara pandangnya obyektif, keputusan yang diambilnya tepat dan dapat diterima oleh semua kalangan. Artikulasi kebijakannya mengalirkan kasih sayang dan apresiasi seorang pemimpin terhadap umatnya.

Ketika menghadapi masa sulit, Rasulullah Muhammad SAW menjauhi alasan pembenaran, yang dilakukannya adalah mencari, menemukan, dan melaksanakan cara melalui proses musyawarah dan muzakarah. Misalnya, memberikan penguatan akses umat terhadap modal dan sumberdaya ekonomi (baitul mal wat tamwil) dan penguatan akses umat terhadap jaminan sosial (baitul mal wal ihsan).

Cara yang ditempuh Rasulullah SAW adalah mengelola perencanaan yang baik, untuk mengelaborasi niat yang baik, dengan cara (sistem) dan kebijakan yang baik. Yaitu cara dan kebijakan yang secara praktikal dilakukan simultan secara jujur dan benar, disosialisasikan dan didiseminasikan secara cerdas, dan mendorong umat menggerakkan potensi dirinya. Antara lain dengan tanpa henti memelihara optimisme dalam mengatasi kesulitan.

Beranjak dari pandangan demikian, kita boleh bertanya: seperti apa kualitas pemimpin yang dimiliki bangsa ini, kini? Terutama, ketika yang kita terima sebagai rakyat, lebih banyak alasan yang dikemas dengan argumen pembenaran. Bukan cara yang benar.

Hadapkan realitas kepemimpinan negeri ini dengan parameter keteladanan Rasulullah SAW: Mengutamakan kemanfaatan daripada kesia-siaan, Mendahulukan yang lebih mendesak daripada yang bisa ditunda, Mementingkan rakyat daripada dirinya sendiri, Mau menempuh jalan tersukar bagi dirinya, tapi termudah untuk umatnya, Tidak bohong – tidak plin-plan – konsisten dan konsekuen terhadap apa yang sudah dinyatakannya, dan Mendahulukan tujuan akhir daripada kepentingan sesaat.. |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 248
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 318
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 141
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya