Pasangan Prabowo Sandi Memang Pas

| dilihat 2218

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Apa sungguh yang akan kita (rakyat Indonesia) hadapi lima tahun ke depan? Dari bejibun persoalan, setidaknya ada lima hal yang paling nampak di depan mata.

Pertama, ketersediaan bahan pokok (khasnya pangan) dan daya beli rakyat sesuai dengan perkembangan pola konsumsi yang terus meningkat dan beragam. Hal ini, tentu berkaitan langsung dan tak langsung dengan ketersediaan lapangan kerja dan peluang untuk berusaha. Titik beratnya adalah kemampuan membalik kemiskinan, bukan lagi mengentaskan kemiskinan. Dalam konteks ini, penguatan inklusi keuangan yang nyata sangat penting. Khasnya, ketika nilai mata uang rupiah tak bisa dijamin mempunyai posisi kuat atas UD Dollar.

Kedua, penguatan akses rakyat terhadap ekstensi pendidikan dan kesehatan, bukan sekadar sekolah gratis dan perawatan kesehatan yang murah, serta jaminan sosial yang memadai, tak terguncang oleh defisit berkepanjangan dan berkelanjutan. Terutama, karena ketimpangan sosial ekonomi yang nyata dan nyaris terus melebar.

Ketiga, singularitas – sebagai akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dan gaya hidup gadget yang berubah menjadi kebutuhan  -- pokok, yang akan berdampak langsung tak langsung pada transhumanisme. Muaranya adalah konflik nilai yang meruncing dan dalam banyak hal akan menimbulkan friksi dan konflik sosial. Muaranya adalah penurunan kesadaran dan tanggungjawab untuk menempatkan musyawarah sebagai cara berdemokrasi.

Keempat,  penguatan kecerdasan budaya berbasis kearifan dan kecerdasan lokal yang nyaris hanya menjadi buah bibir dan terabaikan dalam praktik penyelenggaraan negara, pembangunan, dan pemberdayaan rakyat. Bila terbiarkan akan mendorong merosotnya kecerdasan yang lebih luas, kecerdasan bangsa. Terutama, karena berkembangnya pola komunikasi yang mengabaikan akalbudi. Muaranya adalah ketakberdayaan menghadapi arus besar dalam pusaran globalisasi dan glokalisasi.

Kelima, narrow nasionalism yang dalam banyak mereduksi nilai-nilai asasi sebagaimana terkandung dalam Pancasila, khasnya dalam konteks kebangsaan, relijiusitas, dan kecendekiaan. Khasnya, ketika nilai-nilai dasar perjuangan bangsa (Pancasila dan UUD 45) terpersonalisasi dan terfirqah-firqah menjadi spora yang berujung pada polarisasi kelompok dan golongan, muaranya adalah disintegrasi bangsa dan luruhnya nation dignity.

Pembiaran atas berbagai persoalan kehidupan kemasyarakatan sehari-hari, mulai dari ketidakmampuan mengendalikan harga-harga yang melambung tinggi (dan bertentangan dengan program yang dijanjikan) sampai kriminalisasi atas pemikiran kritis, serta ketidakmampuan memberangus korupsi dan penyalahgunaan narkoba, akan membuat negara dan bangsa ini limbung ke depan.

Dari kunjungan ke berbagai dusun dan desa di Jawa, Nusa Tenggara (Barat dan Timur), Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera, selama empat tahun terakhir, saya melihat ancaman sangat laten atas bangsa ini. Yakni: bergeraknya gaya hidup instan dan lambannya inovasi di banyak sektor. Ini pertanda, ada persoalan serius terhadap pembangunan manusia dan budaya. Apalagi, setarikan nafas, yang sangat cepat bertumbuh adalah kemampuan bergibah, menciptakan rumors, dan hoax.

Dampak aksi pencitraan yang dilakukan para cybertrooper sejak 2014, pada pengidolaan figur pemimpin secara berlebihan, menafikan akal sehat. Dan ironisnya beroleh tempat di berbagai media mainstream. Diskusi dan debat politik yang semestinya meningkatkan kecerdasan khalayak, berubah menjadi aksi ‘pembebalan’ secara sistemik : penetratif dan hipodermis.

Satu-satunya harapan yang nampak di belakang hari (sejak 2016) adalah tumbuhnya kembali rasionalitas dalam membuat keputusan, termasuk dalam menyikapi informasi rendah. Situasi ini, dalam pandangan Popkin (1991), akan memberi pengaruh bagi rakyat dalam membuat keputusan mereka menggunakan hak pilih dalam berbagai momen demokrasi terbuka (dari Pilkades, Pilkada, Pileg, dampai Pilpres 2019).  

Lima persoalan besar yang akan kita hadapi dikaitkan dengan realitas bergeraknya ‘kesadaran baru’ sebagian terbesar rakyat – sebagaimana tercermin dalam dinamika konten media sosial sampai saat ini – akan mendorong munculnya situasi baru : sebagian rakyat menuntut perubahan kongkret, sebagaimana tercermin dalam gerakan #2019GantiPresiden, siapapun penggagas dan motor penggeraknya.

Gerakan ini akan terus bergulir sampai ke dusun, karena direspon oleh penguasa dengan cara defensif, sehingga kadung abai terhadap lima persoalan besar itu. Apalagi, penguasa dan para petinggi partai pendukung + pengusungnya tak mampu melihat fenomena : sebagai pemilih, rakyat tidak selalu memiliki rumus matematika yang konsisten, khasnya untuk secara obyektif melihat angka-angka parameter keberhasilan penguasa.

Rakyat, sebagai pemilih, akan semakin digerakkan oleh naluri politik mereka untuk membuat keputusan akhir untuk memilih pemimpin mereka. Apalagi, sebagai pemilih, rakyat memiliki pengetahuan umum tentang kandidat, lingkungan politik dan ekonomi, dan isu-isu yang yang mengemuka, serta sering dibahas media secara tak tuntas.

Pengetahuan rakyat, sebagai pemilih, tak harus sempurna dalam membuat keputusan dengan berbagai alasannya. Mereka punya sudut pandang tersendiri terhadap kenyataan dan fenomena kebangsaan mutakhir, dan memiliki posisi tersendiri untuk membuat kesimpulan memilih.

Maknanya, rakyat akan paham tentang siapa dan bagaimana perilaku pemimpin dan partai politik serta kalangan yang mendukungnya. Mereka juga berpikir tentang arti dukungan politik untuk perubahan, setelah berpikir tentang apa yang sudah, dapat dan tak mampu dilakukan pemerintah menjawab persoalan laten.

Kinerja pemerintah, partai politik, dan kandidat yang akan berkompetisi di Pemillihan Anggota Legislatif dan Pemilih Presiden – Wakil Presiden 2019, akan mempengaruhi penilaian dan preferensi rakyat.  Pemilih memiliki preferensi yang ditentukan sebelumnya yang membentuk dasar penilaian mereka tentang kandidat.

Dalam situasi ini, keputusan Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno sudah pas. Terutama, karena dari lima persoalan besar yang akan hadapi lima tahun ke depan, yang diperlukan adalah praktisi (dengan wawasan luas) tentang ekonomi, yang mampu mempertemukan dimensi makro dan mikro dalam satu tarikan nafas. Mampu pula mempertemukan kompetensi, profesionalisme, dan komitmen sebagai cara mengatasi masalah, bukan alasan menghindari masalah.

Prabowo – Sandi, merupakan pasangan pas untuk menegaskan politik ekonomi, berbasis penguasaan sumberdaya alam, dan menempatkan rakyat sebagai human invesment sekaligus human capital dalam keseluruhan konteks pembangunan dan pemberdayaan rakyat.

Dalam konteks sosial politik, bagi saya, Prabowo – Sandi merupakan pasangan pas untuk menegaskan daulat rakyat dalam keseluruhan konteks kedaulatan bangsa dan sivilisasi berbasis kearifan dan kecerdasan budaya (termasuk religi dan adat istiadat sebagai ruhnya).

Tinggal lagi, bagaimana Prabowo – Sandi juga menentukan orang-orang pas untuk kelak membantunya mengelola negara. Amat banyak tokoh dan figur prominen dengan kecerdasan dan pengalaman mumpuni yang terlihat bersimpati, berempati, dan mendukungnya.

Tentu, diperlukan juga kesadaran kolektif untuk tidak melihat aksi pemenangan, hanya bergantung pada sistem dan strategi yang sangat sempurna, mesin politik yang sungguh bergerak, dan aksi perang komunikasi yang tangkas. Seperti nasihat McCain (2008), kemenangan bisa diperoleh dengan menggerakkan barisan emak-emak militan.

Lepas dari apapun, bagi saya, Prabowo – Sandi memang pas untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Supaya merah putih berkibar gagah di tiangnya yang juga pas. Boleh jadi banyak orang justru berpandangan sebaliknya.. silakan.. |

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1744
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 692
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 546
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 772
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 536
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 541
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 680
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
Selanjutnya