Pak Tua Tak Lagi Berkuasa

| dilihat 490

SEPUCUK surat dikirim Presiden Republik Zimbabwe, Robert Gabriel Mugabe ke parlemen. Kedatangan surat itu cukup mengejutkan para wakil rakyat yang sedang memperdebatkan rencana memakzulkan sang presiden (impeachment). 

Sejenak, mereka terdiam dan mendengarkan secara seksama saat surat itu dibacakan juru bicara parlemen, Jacob Mudenda. Lewat surat yang dikirim pada Rabu, (22/11) itu, Mugabe menyatakan lengser dari tampuk kekuasaan yang dikendalikannya selama 37 tahun. Keputusan itu dinyatakannya dengan sukarela. Mugabe pun memastikan proses peralihan kekuasaan berlangsung mulus, damai, tanpa kekerasan.

Sontak, sorak-sorai membahana di dalam gedung parlemen. Beberapa anggota parlemen menari. Ada pula yang turun ke jalan merayakan berakhirnya kekuasaan Mugabe. Proses politik di parlemen untuk mengadili Mugabe pun diakhiri. Di beberapa sudut kota, masyarakat pun bersuka cita. Di jalan-jalan, terdengar bunyi klakson kendaraan, disertai sorak-sorai masyarakat yang selama ini alergi terhadap kepemimpinan Mugabe.

"Saya adalah orang yang paling bahagia, karena saya selalu percaya bahwa Mugabe akan mengundurkan diri dan ini terjadi," ujar aktivis hak asasi manusia (HAM) Linda Masarira. "Sekarang saatnya oposisi mengatur dan memastikan bahwa kita akan memiliki pemerintahan yang peduli terhadap rakyat."

Sebelumnya, Mugabe menolak diberhentikan. Dia tak peduli dengan ultimatum yang dilayangkan lawan politik yang mengancam akan memakzulkannya. Namun, Mugabe sulit berkutik. Posisinya di ujung tanduk setelah komite sentral Partai ZANU-Patriotic Front (ZANU-PF) yang berkuasa, memecatnya sebagai pemimpin.

Para pentolan partai itu memberi tenggat waktu 24 jam padanya agar meninggalkan kantor kepresidenan. Konflik politik yang sempat meruncing, memaksa militer mengambil alih kekuasaan. Mugabe pun ditetapkan sebagai tahanan rumah.

Berakhirnya kekuasaan Mugabe, membuka celah bagi Emmerson Mnangagwa untuk menjadi presiden. Mantan wakil presiden yang dipecat Mugabe itu menapaki puncak kekuasaan karena proses peralihan kekuasaan diatur dari presiden ke wakil presiden diatur dalam konstitusi.

Mugabe seharusnya tak terguling dari kekuasaan lewat cara yang memalukan jika tidak memaksa untuk berkuasa di usia senja. Pada Pemilihan Umum 2013, Mugabe pernah menyatakan, untuk terakhir kalinya mengikuti ajang suksesi. Namun, pada November 2015, dia mengumumkan niatnya untuk kembali maju sebagai calon presiden pada pemilihan umum 2018. Penegasan sanada juga disampaikannya pada Februari 2016. Dia menyatakan, tidak berencana pensiun dan akan tetap berkuasa.

Lalu, pada Februari 2017, usai perayaan ulang tahunnya yang ke-93, Mugabe menegaskan, tidak akan memilih penggantinya, meski mempersilakan partainya mengusulkan penggantinya jika dianggap cocok.

Isteri Mugabe, Grace Mugabe kala itu memintanya untuk memberi nama penerusnya. Hal itu kian menyakinkan publik jika Grace yang kini berusia 52 tahun, berambisi menggantikan Mugabe.

Grace tidak menyangkal jika disebut-sebut ingin mengambil alih kekuasaan dari suaminya. "Mereka bilang saya ingin menjadi presiden. Mengapa tidak? Apakah saya bukan orang Zimbabwe?" katanya. Grace dan Mugabe nampaknya tidak peduli dengan kritik kelompok oposisi yang menentang dinasti politik di Zimbabwe.

Dalam urusan politik, "bisikan" Grace sangat mempengarui keputusan Mugabe. Dia disebut-sebut berada dibalik pemecatan dua wakil presiden Joice Mujuru dan Mnangagwa. Grace pernah menuding Mujuru sebagai koruptor, pemeras, tidak kompeten, tukang gosip, dan pembohong. Grace juga menuduh Mujuru berkolaborasi dengan oposisi dan orang kulit putih untuk menggulingkan kekuasaan Mugabe.

Tuduhan serupa juga dialamatkan kepada Mnangagwa. Mantan menteri kehakiman yang loyal dan disiplin itu dituduh berkonspirasi dengan oposisi untuk mengguling Mugabe. Beberapa waktu lalu, Grace secara terbuka memanggil Mugabe agar menyingkirkan Mnangagwa.

Ketika Mnangagwa sakit saat demonstrasi dan harus diterbangkan ke luar negeri untuk perawatan, para pendukungnya menduga ada racun yang diberikan melalui es krim dari peternakan susu Mugabe. Tudingan itu dibantah Mugabe. Sejak aktif dalam politik, Grace dikenal karena lidahnya yang tajam. Dia sering membela suaminya tatkala dikritik kelompok oposisi.

Grace juga dianggap ibu negara yang glamour. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi perselisihan hukum antara Grace dengan seorang pengusaha Belgia yang berbasis di Jerman terkait pembelian cincin berlian seharga US$1,3 juta.

Pembelian barang mewah itu membongkar topeng gaya hidup Mugabe yang selalu mengklaim menjalani hidup dengan kesederhanaan dan hemat. Sosok ibu negara yang gemar berbelanja dan bergaya mewah itu mendapat julukan "Gucci Grace".  Beberapa media melaporkan jika Grace membeli properti dan mobil yang harganya mencapai jutaan dolar di Afrika Selatan.

Grace juga pernah mendapat sorotan publik terkait gelar PhD dalam sosiologi dari Universitas Zimbabwe. Kontroversi mencuat karena ijasah itu diraih hanya dalam waktu dua bulan pada tahun 2014. Disertasinya pun tidak pernah diajukan dalam sidang seperti mahasiswa lainnya.

Jalan Baru Zimbabwe

Dari lokasi yang dirahasiakan, Selasa (21/11), Mnangagwa mengungkap dirinya harus melarikan diri ke luar negeri sejak dua minggu lalu karena mengetahui ada rencana pembunuhan terhadapnya. Mnangagwa yang kini berusia 75 tahun dan veteran perang pembebasan pun menilai, negaranya sedang mengalami demokrasi baru dan terbuka.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan, pengunduran diri Mugabe memberikan kesempatan bagi Zimbabwe untuk membentuk jalan baru yang terbebas dari penindasan. Dia memastikan, sebagai bekas penguasa kolonial, Inggris adalah "teman tertua Zimbabwe" yang akan mendukung proses pemilihan yang bebas dan adil.

Pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai menyarankan Mugabe pergi dan beristirahat di hari-hari terakhirnya. "Biarkan dia beristirahat di hari-hari terakhirnya." Dia pun berharap, terselenggaranya pemilihan umum yang bebas dan adil sehingga mengarahkan Zimbabwe dalam lintasan baru.

Juru Bicara pimpinan pusat Movement for Democratic Change (MDC), Obert Chaurura Gutu menyatakan, pelantikan presiden baru Republik Zimbabwe pada Jumat, 24 November 2017 merupakan momen bersejarah.

MDC berpandangan, rakyat Zimbabwe menantikan era baru yang disegarkan dengan toleransi politik, transformasi sosio-ekonomi, dan regenerasi. Gutu menegaskan, politik ala premanisme, intoleransi, patronase dan korupsi, yang merupakan ciri rezim Mugabe, tidak lagi diberlakukan di Zimbabwe.

MDC juga menuntut terselenggaranya pemilihan umum yang bebas dan adil, termasuk pelaksanaan reformasi di sektor keamanan. Kubu oposisi itu ingin menciptakan "Great Zimbabwe" yang bersatu, progresif dan bahagia. "Kami ingin membangun negara modern, demokratis dan progresif, di mana para pemimpin politik bertanggung jawab kepada rakyat, bukan sebaliknya."

MDC juga menekankan pentingnya penguatan lembaga negara, bukan menciptakan penguasa yang kuat. "Kami adalah bangsa yang sangat beragam. Dengan demikian, kepentingan semua warga Zimbabwe harus dilindungi."

*****

Mugabe yang kini berusia 93 tahun adalah pemimpin tertua di dunia. Dia bersama partainya, memenangkan tujuh kali pemilihan umum. Namun, sejak 15 tahun terakhir, kekuasaan digerakkan dengan cara otoriter.

Rezim Mugabe kerap bertindak represif terhadap lawan-lawan politiknya. Citranya pun runtuh karena gagal mengurai krisis ekonomi yang berkepanjangan. Akibatnya, tingkat kemiskinan di Zimbabwe mencapai 15 persen, lebih tinggi dibandingkan saat Mugabe baru berkuasa di tahun 1980-an. Rezim Mugabe juga dituding korup. Mugabe diyakini memiliki sebuah rumah besar di Harare.

Meski mewarisi serentetan dosa, otoritas militer Zimbabwe menyatakan, akan memberikan imunitas kepada Mugabe dari tuntutan pengadilan. Militer juga memastikan keamanan terhadap Mugabe dan keluarganya.

Sebuah sumber di pemerintahan mengungkap, saat proses perundingan jelang lengser dari kekuasaan, Mugabe menyampaikan keinginannya untuk dikuburkan di Zimbabwe. Dia tidak ingin tinggal di pengasingan. "Baginya sangat penting menjamin keamanan untuk tinggal di negara ini, meskipun tidak melarangnya bepergian ke luar negeri jika dia mau atau harus melakukannya," kata sumber tersebut.

Sumber lain mengungkap, Mugabe mundur dari kekuasaan karena merespons kemarahan warga terhadap isterinya. "Untuk itu, perlu memastikan bahwa seluruh keluarganya, termasuk istrinya, akan aman."

Mugabe dan keluarganya mendapatkan keistimewaan karena jasanya terhadap negara. Sejarah Zimbabwe memang tidak lepas dari peran Mugabe. "Mereka adalah negarawan, akan dihormati, dan diberikan uang pensiun. Dia adalah presiden kita dan dia setuju untuk mengundurkan diri. Jadi, dia dan isterinya akan menikmati keuntungan menjadi mantan presiden. Dia adalah ikon kami," kata Ziyambi Ziyambi, anggota parlemen dari Parta Zanu-PF.

Mugabe akan menerima tunjangan pensiun yang mencakup uang, perumahan, liburan, biaya transportasi, asuransi kesehatan, dan keamanan yang terbatas. Namun, pemberian keistimewaan terhadap Mugabe dan keluarganya itu dikhawatirkan memicu kemarahan masyarakat dan kubu oposisi. Pasalnya, tingkat pengangguran di negara itu sangat tinggi. Banyak warga yang hidup dalam kemiskinan. Belum lagi dosa rezim Mugabe yang secara brutal menekan oposisi selama beberapa dekade.

Mugabe memang berhasil mempertahankan kekuasaan. Kemenangan pada Pemilu 2013, menjungkirbalikan prediksi kubu oposisi. Mugabe yang digambarkan sebagai penguasa lemah, diyakini oposisi, tidak akan berhasil mempertahankan kekuasaannya.

Bagi oposisi, kemenangan itu karena kecurangan. Jelang pemilihan, partai pendukungnya, ZANU-PF menebar hadiah, makanan, dan pakaian untuk mempengarui pilihan politik warga. Intimidasi pun membayangi proses pemilihan. Tak sedikit warga yang takut dengan ancaman kekerasan jika tidak memilih ZANU-PF.

Kemenangan partai itu juga karena politisasi isu ras dan janji pendistribusian tanah yang sangat populer bagi masyarakat pedesaan yang bermata pencarian sebagai petani. ZANU-PF juga menggalang isu yang menghantam MDC. Kubu oposisi itu digambarkan sebagai pembela petani kulit putih dan mengutamakan kepentingan negara-negara barat. Dengan strategi demikian, ZANU-PF berhasil menang telak, dengan meraih suara hingga 61 persen. Partai itu juga berhasil menduduki dua pertiga kursi di parlemen.

Kontroversi Kepemimpinan

Mugabe lahir 21 Februari 1924, di Kutama, Rhodesia Selatan. Namanya tercatat dalam sejarah Zimbabwe. Dia menancapkan kekuasaan dari tahun 1980. Setelah menjadi Perdana Menteri di tahun 1980 hingga 1987, Mugabe dilantik sebagai Presiden hingga kemudian lengser tahun 2017.

Pandangan dan politik praktisnya bercorak Marxisme-Leninisme dan sosialisme. Dia pernah memimpin kelompok pergerakan, Persatuan Nasional Afrika Zimbabwe (ZANU) dari tahun 1975 sampai 1980. Lalu, memimpin partai ZANU-PF dari 1980 sampai 2017.

Mugabe lahir dari keluarga miskin berdarah Shona. Sebelum terjun ke politik, dia menekuni profesi sebagai guru. Setelah lulus dari Kutama College dan Universitas Fort Hare, Mugabe mengajar di Rhodesia Selatan, Rhodesia Utara dan Ghana. Kala itu, Rhodesia Selatan yang merupakan koloni Inggris, dipimpin kelompok minoritas kulit putih.

Mugabe membenci praktik diskriminasi rasial itu. Untuk menghentikan dominasi itu, dia bergabung dan memimpin gerakan kaum nasionalis Afrika dengan cita-cita mewujudkan kemerdekaan negara yang dipimpin warga kulit hitam.

Dia begitu gencar menyatakan sikap anti-pemerintah. Akibatnya, dia harus mendekam di penjara dari tahun 1964 dan 1974. Namun, penjara tak membuatnya jera. Setelah bebas dari penjara, Mugabe pergi ke Mozambik. Dia menggalang dukungan massa dengan membentuk ZANU yang anti-pemerintahan Ian Smith, pemimpin warga kulit putih. Hingga kemudian, pecah konflik bersenjata yang menelan banyak korban jiwa.

Mugabe juga menolak perundingan damai yang difasilitasi Kerajaan Inggris. Perundingan itu menghasilkan Lancaster House Agreement yang salah satu point kesepakatannya adalah penyelenggaraan pemilihan umum 1980. Suksesi kala itu dijadikan momentum bagi Mugabe untuk merebut kekuasaan. Dan, Mugabe meraih kemenangan.

Ketika Rhodesia Selatan meraih kemerdekaan yang diakui internasional sebagai negara bernama Zimbabwe pada April 1980, Mugabe dilantik sebagai perdana menteri. Mugabe yang mencita-citakan terbentuknya masyarakat sosialis, merealisasikan sejumlah program pro rakyat seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan. Pemerintahannya juga menganut kebijakan ekonomi konservatif.

Dia juga melakukan dekolonisasi, dengan fokus meredistribusi lahan yang dikuasai petani kulit putih kepada warga kulit hitam yang tidak memiliki tanah. Awalnya, proses redistribusi berbasis pada kesepakatan jual beli. Namun, karena prosesnya berjalan lambat, pada tahun 2000, Mugabe melakukan cara-cara paksa dengan merampas tanah milik warga kulit putih. Akibatnya, aktivitas pertanian dan perkebunan terhenti. Produksi pangan anjlok yang menyebabkan kelaparan, krisis ekonomi, bahkan sanksi internasional.

Hubungannya pun buruk dengan pemimpin oposisi, Zimbabwe African People's Union (ZAPU), Joshua Nkomo. Bahkan, Mugabe menghancurkan ZAPU di tahun 1982 dan 1985. Sekitar 10 ribu orang, sebagian besar warga sipil Ndebele, dibunuh oleh Fifth Brigade yang dipimpin Mugabe. Dan, seiring tumbuhnya gerakan oposisi, rezim Mugabe mempraktikan cara-cara otoriter dan represif. Dengan cara begitu, kekuasaan dapat dipertahankan.

Mugabe menjadi sosok pemimpin yang kontroversial. Di satu sisi, dia dipuji sebagai pemimpin revolusioner yang memperjuangkan kemerdekaan Zimbabwe dari penjajahan Inggris. Dia juga menghapus kebijakan diskriminatif yang menguntungkan warga kulit putih. Namun, di sisi lain, dia dituduh sebagai diktator yang korup, rasis, melanggar hak asasi manusia (HAM), dan mengekang oposisi.

Guru yang Menjadi Politisi

Mugabe dibesarkan di Desa Kutama, Distrik Zvimba Rhodesia Selatan. Ayahnya, Gabriel Matibiri adalah tukang kayu. Sementara ibunya, Bona, mengajarkan katekismus Kristen kepada anak-anak desa. Mereka telah dilatih oleh para Yesuit, ordo apostolik Katolik Roma yang menjalankan misinya di Afrika.

Gabriel dan Bona memiliki enam anak, yakni Miteri, Raphael, Mugabe, Dhonandhe, Sabina, dan Bridgette. Kakek Mugabe adalah Constantine Karigamombe alias "Matibiri", yang melayani Raja Lobengula pada abad ke-19. Keluarga Mugabe berasal dari klan Zezuru, salah satu klan terkecil di suku Shona.

Ajaran Yesuit begitu kuat berpengaruh dalam diri Mugabe. Dia seorang Katholik yang taat dan sangat disiplin. Wajar jika dia berprestasi di sekolah. Namun, Mugabe kecil sangat tertutup dan suka menyendiri. Dia lebih memilih membaca buku daripada bermain, berolahraga maupun bersosialisasi dengan anak-anak lain. Karenanya, Mugabe sering diejek kawan-kawannya dengan sebutan pengecut dan anak mama.

Sekitar tahun 1930, Gabriel berdebat dengan salah satu pengikut Yesuit. Akibatnya, keluarga Mugabe diusir dari desanya oleh Pastor Jean-Baptiste Loubiere. Lalu, mereka menetap di sebuah desa, yang jaraknya sekitar tujuh mil dari Kutama. Namun, anak-anak Gabriel masih diizinkan sekolah dan tinggal dengan saudaranya di Kutama. Mereka biasanya pulang ke rumah di setiap akhir pekan.

Kondisi keluarga Mugabe kala itu sangat miskin. Kakak Mugabe, Robert Raphael meninggal dunia karena diare. Tak lama kemudian, kakaknya yang lain, Michael meninggal dunia karena mengkonsumsi jagung beracun.

Penderitaan berlanjut kala Gabriel meninggalkan keluarganya dengan alasan mencari pekerjaan di Bulawayo. Namun, rupanya dia menjalin hubungan dengan wanita lain dan memiliki tiga anak.

Setelah Loubiere meninggal dunia, digantikan Pastor Jerome O'Hea dari Irlandia, keluarga Mugabe diminta untuk kembali ke Kutama. O'Hea lebih moderat. Dia menyampaikan ajaran tentang persamaan ras, bukan perbedaan ras. Mugabe berutang budi pada O'Hea yang telah mengurusnya di kala remaja. Dia juga mengajarkan pendidikan Kristen dan menceritakan kisah perang kemerdekaan Irlandia, di mana kaum revolusioner Irlandia berhasil menggulingkan rezim kekaisaran Inggris.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, pada tahun 1941, Mugabe ditawari kursus pelatihan guru di Kutama College. Namun, ibunya tidak mampu membayar. Mugabe beruntung karena biaya kursus ditanggung kakeknya dan O'Hea.

Setelah lulus, Mugabe menjadi pengajar. Penghasilannya digunakan untuk kebutuhan keluarganya. Pada tahun 1944, Gabriel kembali ke Kutama dengan tiga anaknya dari isteri kedua. Dan, beban yang ditanggung Mugabe bertambah setelah Gebriel meninggal dunia. Dia harus menafkahi tiga saudara kandungnya dan tiga saudara tirinya.

Di tahun 1945, setelah mendapatkan ijazah mengajar, Mugabe meninggalkan Kutama. Dia mengajar di berbagai sekolah di sekitar Rhodesia Selatan. Kala itu, Mugabe belum terlibat dalam pergerakan politik. Dia juga tidak terlibat aksi pemogokan besar-besaran tahun 1948.

Tahun 1949, dia meraih beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Fort Hare di Eastern Cape, Afrika Selatan. Dia mulai melek politik setelah bergabung dalam Kongres Nasional Afrika. Dia juga sering menghadiri pertemuan bersama aktivis nasionalis Afrika. Mugabe juga bertemu dengan sejumlah aktivis komunis Yahudi Afrika Selatan yang mengenalkannya gagasan Marxisme. Mugabe pun tertarik menghubungkan ajaran Marxisme dengan upaya Mahatma Gandhi dalam memerdekaan India dari jajahan Inggris.

Pada tahun 1952, setelah mengantongi ijasah Bachelor of Arts dalam bidang sejarah dan sastra Inggris, Mugabe kembali ke Rhodesia Selatan untuk mengajar di Sekolah Katolik, Driefontein Roma, dekat Umvuma. Lalu, dia pindah ke Highfield Government School di Kota Salisbury, Harari. Setahun kemudian, dia mengajar di Sekolah Tinggi milik Pemerintah Mambo di Gwelo.

Dia pun mendapatkan gelar Bachelor of Education dari Universitas Afrika Selatan. Dari tahun 1955 sampai 1958, Mugabe tinggal di sekitar Rhodesia Utara. Di sana, dia bekerja di Chalimbana Teacher Training College. Dia juga melanjutkan pendidikan dan meraih gelar Bachelor of Administration dari Universitas London. Pada tahun 1958, dia pindah ke Ghana untuk bekerja di St Mary's Teacher Training College di Takoradi.

"Saya pergi ke Ghana sebagai seorang petualang. Saya ingin melihat bagaimana keadaan negara Afrika yang merdeka," kata Mugabe. Ghana kala itu menjadi negara Afrika yang pertama meraih kemerdekaan dari kolonial Eropa di bawah kepemimpinan Kwame Nkrumah. Mugabe kagum dengan reformasi yang digerakan kelompok nasionalis di negara itu. Sejak itulah, Mugabe kian yakin dengan ajaran Marxisme untuk dipraktikan di Rhodesia Selatan.

Di tanah kelahirannya itu, gerakan nasionalis anti-kolonialis sudah terbentuk, di bawah kepemimpinan Joshua Nkomo. Kaum nasionalis bergerak lewat bendera Kongres Nasional Afrika Rhodesia Selatan yang didirikan pada September 1957. Keberadaannya kemudian dilarang pemerintah kolonial. Lalu, pada Januari 1960, bermetamorfosis menjadi Partai Demokratik Nasional (NDP) yang berkarakter progresif dan revolusioner. 

Mei 1960, Mugabe kembali ke Rhodesia Selatan dan bertemu dengan sahabatnya, Leopold Takawira, yang dikenal sebagai tokoh nasionalis Afrika. Dan, Mugabe marah ketika Takawira dan dua pentolan NDP ditangkap.

Mugabe melancarkan protes atas penangkapan itu. Dia pun menggalang demonstrasi yang diikuti sekitar tujuh ribu untuk menduduki kantor Perdana Menteri di Salisbury. Demonstrasi tersebut disambut dengan tindakan represif aparat kepolisian.

Tindakan aparat itu justru memancing gelombang massa. Esok harinya, demonstrasi diikuti sekitar 40 ribu orang. Sejak itu, nama Mugabe dikenal. Sejak itu pula, Mugabe mengabdikan diri sebagai aktivis politik, meninggalkan jabatannya sebagai pengajar di Ghana. Dia memimpin kongres NDP pertama, yang diadakan pada Oktober 1960 dan dipercaya mengurusi publikasi partai. Peran itu dilakoninya dengan baik. Mugabe menyebarkan doktrin nasionalisme NDP, dengan harapan memperluas dukungan. Dia juga membentuk Sayap Muda NDP.

Anti Dominasi Kulit Putih

Tahun 1961, Pemerintah Inggris mengadakan konferensi Salisbury untuk menentukan masa depan Rhodesia Selatan. Nkomo memimpin delegasi NDP dengan harapan Inggris merestui terbentuknya negara merdeka yang dipimpin warga kulit hitam. Usulan itu ditentang perwakilan warga kulit putih. Negosiasi pun dilakukan. Nkomo rupanya menyetujui usulan yang memungkinkan perwakilan dari populasi kulit hitam sebanyak 15 orang dari 65 kursi yang tersedia di parlemen.

Sikap Nkomo yang cenderung melunak itu ditentang Mugabe dan pentolan NDP lainnya. Akibatnya, terjadi konflik di internal gerakan nasionalis. Konflik rasial pun meletus. Mugabe menilai, konflik sengaja diciptakan sebagai taktik untuk menggulingkan dominasi kolonial Inggris dan memangkas peraturan yang menguntungkan kelompok kulit putih. Pandangan Mugabe itu berbeda dengan Nkomo yang lebih mengedepankan cara diplomatis.

September 1962, Mugabe dan pejabat partai senior NDP yang frontal ditangkap. Mugabe didakwa pidana subversif. Dia lalu divonis 21 bulan penjara. Selama di penjara, Mugabe mengorganisir kegiatan belajar untuk narapidana. Dia mengajarkan baca tulis, matematika, dan bahasa Inggris. Hal itu memunculkan simpatik sipir penjara berkulit hitam. Dan, Mugabe berhasil mempengarui sang sipir agar menyelundupkan pesan darinya ke para aktivis di luar penjara.

Di penjara, Mugabe merasa sedih kala mengetahui anaknya meninggal dunia karena ensefalitis atau peradangan pada jaringan otak di usia tiga tahun. Mugabe sempat meminta izin agar dapat mengunjungi istrinya di Ghana. Namun, tidak diamini otoritas penjara.

Kala Mugabe di penjara, Agustus 1964, Rhodesia Selatan berada di bawah kendali Ian Smith. Para pentolan dan aktivis gerakan nasionalis ditangkap. Pemerintahan Smith lalu mendeklarasikan kemerdekaan sepihak dari Inggris pada November 1965. Dia menamai Rhodesia Selatan sebagai Rhodesia. Inggris menolak mengakuinya dan menjatuhkan sanksi ekonomi ke Rhodesia.

Pemerintahan Smith yang tidak mengutamakan hak dan kepentingan warga kulit hitam memicu kebencian. Sampai-sampai, terjadi kontak senjata. Tahun 1972, kaum nasionalis melancarkan perang gerilya, melawan pemerintahan Smith.

Mugabe dan anggota senior ZANU lainnya mencoba menyelundupkan pesan dari penjara agar aktivis membunuh Smith. Namun, rencana itu diketahui. Sithole, pemimpin ZANU ditangkap dan diadili pada Januari 1969. Untuk menghindari hukuman mati, Sithole meninggalkan cara-cara kekerasan. Mugabe menganggapnya sebagai penghianat. Mugabe pun menggantikannya.

Khawatir peperangan menyebar ke arah selatan, pemerintah Afrika Selatan menekan Rhodesia untuk mempercepat perundingan. Hasil perundingan menyepakati pembebasan sejumlah revolusioner kulit hitam. Setelah hampir 11 tahun di penjara, Mugabe akhirnya dibebaskan pada November 1974.

Dia kemudian hijrah ke Highfield untuk bergabung bersama pasukan ZANU dan memimpin perang gerilya. Maret 1975, Mugabe meninggalkan Rhodesia ke Mozambik, untuk mengkampanyekan perang gerilya. Namun, dia khawatir ditangkap setelah temannya, Maurice Nyagumbo dijebloskan ke penjara. Beruntung, Mugabe diselamatkan Ribeiro, pihak berwenang, dan seorang suster yang simpatik dengan perjuangannya.

Setelah situasi aman, Mugabe melakukan perjalanan ke berbagai kamp gerilyawan di Mozambik untuk mendapatkan dukungan dari para perwira militer. Upaya itu berhasil. Bahkan, pada pertengahan 1976, para komandan militer ZANLA memilihnya sebagai sebagai pemimpin untuk memerangi rezim Smith.

Januari 1976, ZANLA meluncurkan infiltrasi besar-besaran yang pertama kali dari Mozambik, dengan melibatkan sekitar seribu gerilyawan. Mereka melintasi perbatasan untuk menyerang peternakan dan toko milik warga kulit putih. Serangan itu memaksa warga kulit putih untuk mengungsi.

Untuk menambah kekuatan, para pekerja kulit hitam yang menganggur direkrut, bergabung bersama ZANLA. Tahun 1979, ZANLA melancarkan serangan di sejumlah kota di Rhodesia Selatan. Akibatnya, sekitar 30 ribu orang terbunuh, sebagian besar warga kulit putih.

Mugabe juga gencar menebar propaganda dan menyampaikan pidato secara reguler lewat siaran radio. Dia tampil sebagai corong Marxis-Leninis dan sering berbicara soal kehebatan pemimpin revolusioner seperti Vladimir Lenin, Joseph Stalin, dan Fidel Castro.

Setelah kekuasaan dan jaringannya kian kuat, Mugabe menyerukan penggulingan pemerintah Rhodesia Selatan dan mengeksekusi mati Smith beserta anak buahnya. Mugabe juga menyerukan perampasan tanah yang dikuasai warga kulit putih dan mendorong transformasi Rhodesia Selatan menjadi sebuah negara Marxis. Bagi Mugabe, perjuangan bersenjata merupakan bagian penting dari terbentuknya sebuah negara. | M. Yamin Panca Setia

Editor : M. Yamin Panca Setia | Sumber : BBC/Reuters/AFP/Guardian
 
Ekonomi & Bisnis
01 Nov 17, 17:04 WIB | Dilihat : 1085
Jalan Panjang Pengaturan Transportasi Online di Indonesia
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1192
Sistem dan Keunggulan
16 Jan 17, 22:32 WIB | Dilihat : 801
Samsung Dililit Krisis Lagi
08 Jan 17, 12:51 WIB | Dilihat : 497
Pramugari Vera dan Kemuliaan Melayani
Selanjutnya
Lingkungan
05 Jan 17, 21:34 WIB | Dilihat : 551
Hidup Sejahtera di Permukiman Terapung Kampong Ayer
02 Jan 17, 15:50 WIB | Dilihat : 331
Merawat Cinta di Bali
28 Des 16, 14:15 WIB | Dilihat : 392
Surga di Jayapura
23 Des 16, 18:26 WIB | Dilihat : 588
Cisomang Bergeser, Cipularang Terganggu
Selanjutnya