Obsesi Keindonesiaan

| dilihat 379

Renungan Bang Sém

Jakarta adalah cermin Indonesia. Apapun suasana yang tertampak di Jakarta, selalu dipandang sebagai gambaran situasi dan kondisi Indonesia yang sesungguhnya.

Orang-orang asing, setidaknya para sahabat saya, bertanya: "Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Indonesia? Mengapa terkesan suasana 'mencekam' di jelang pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin? Mengapa suasananya berbeda dengan 20 Oktober 2014?"

Ketika menjelang, saat, dan sesudah pelantikan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, suasana sungguh penuh sukacita. Usai dilantik di Gedung Parlemen Senayan, berlangsung arak-arakan yang meriah dari bundaran Hotel Indonesia ke Istana Merdeka.

Orang-orang ramai menyambut dan mengelu-elukan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berdiri di atas kereta kencana. Lantas ketika memasuki halaman istana, masuk ke dalam Istana Merdeka, suasana juga sedemikian rupa meriah. Bahkan, ketika Presiden Jokowi dihantar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memeriksa gelar pasukan di halaman istana, rakyat dengan sukacita menyaksikan.

Waktu itu, terasa antusiasme rakyat menyambut pemimpin baru Indonesia yang begitu rupa diidolakan. Di tempat lain, di sepanjang jalan menuju Puri Cikeas, kediaman Presiden SBY kala itu, rakyat juga menyambut dengan sukacita pemimpinnya yang baru saja purna tugas, dan kembali menjadi 'rakyat biasa.'

Indonesia bersukacita melepas dan menyambut pemimpinnya. Sepanjang sejarah Indonesia, boleh jadi 20 Oktober 2014 merupakan peristiwa pisah sambut Presiden Republik Indonesia yang paling indah. Momen dan suasana saat itu sangat berkesan. Tidak saja bagi rakyat Indonesia, bahkan bagi masyarakat dunia. Indonesia menjadi contoh sebagai negara berpenduduk muslim terbesar menyelenggarakan praktik demokrasi.

Demokrasi memang telah dipilih oleh para pendiri Republik Indonesia sebagai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Berbeda dengan negara demokrasi lain, prinsip dasar demokrasi Indonesia adalah musyawarah mufakat, yang dilandasi oleh nilai-nilai religius, kemanusiaan dan keberadaban, persatuan -- karena realitasnya sebagai suatu bangsa plural dan multi kultural, yang orientasi perjuangannya adalah menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Orientasi demokrasi Indonesia, tidak berhenti hanya pada kebebasan dan kekuasaan semata. Bagi Indonesia, demokrasi adalah cara mencapai harmoni kebangsaan, sebagaimana dicontoh-teladankan oleh para pendirinya.

Demokrasi Indonesia adalah demokrasi berbudaya -- berkeadaban. Demokrasi yang mencerminkan nilai-nilai dasar kehidupan masyarakat, terutama adat resam budaya yang saling memuliakan. Mendahulukan kepentingan bangsa, katimbang kepentingan orang per orang, kelompok orang, atau golongan, apalagi partai politik. Kendati partai politik menjadi perangkat sistem berdemokrasi yang telah disepakati dan diatur melalui undang-undang.

 Obsesi keindonesiaan mendeskripsikan bangsa ini sebagai bangsa yang bertegal di atas kedaulatan rakyat murni (pure souverignity). Inilah yang memotivasi para Sultan di masa lalu, melepaskan otoritasnya dan bersepakat, bahwa Indonesia merdeka merupakan ladang kontribusi dan kolaborasi menuju kemakmuran rakyat berkeadilan, yang dinamika hidup dan kehidupannya ditupang oleh  kesadaran dan antusiasme besar menghidupkan simpati, empati, apresiasi, respek dan cinta. Khasnya cinta tanah air.

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat cinta damai dan terlahir oleh perjuangan panjang patriotis -- kecintaan kepada tanah air. Karenanya, peristiwa pelantikan pemimpin nasionalnya, mesti dirayakan dengan sukacita. Tidak terganggu oleh kesan multitafsir, termasuk kesan seolah-olah ada sesuatu yang tidak selesai dalam proses pemilihannya.

Aparatus negara sebagai alat negara dengan segala performanya, termasuk aparatus bersenjata, mesti selalu harus dihadirkan dalam suasana keserasian. Siapapun yang mengganggunya, termasuk para produsen wadul (hoax) dan sebangsanya yang menerbitkan opini pemantik disharmoni, mesti ditindak. Supaya tak menjadi selilit bagi kenyamanan bangsa ini.

Rakyat Indonesia tak suka pertikaian. Karenanya, siapapun yang menjadi pemantik pertikaian mesti ditindak tegas. Rakyat Indonesia tak suka dengan kegaduhan. Karenanya para pegaduh, siapapun mereka, tak boleh mendapat tempat di seluruh aspek kehidupan rakyat. Apalagi, sampai mengganggu proses penting, pelantikan pemimpin negara.

Untuk itulah senjata paling ampuh, yakni: kejujuran dan kebenaran mesti diutamakan, meskipun kita sedang berada di era post trust, politik pragmatis, dan bahkan mungkin politik transaksional.

Fase baru penyelenggaraan pemerintahan dan negara, akan dilalui oleh seluruh warga bangsa, mulai dar pemimpin formal, pemimpin informal, pemimpin non formal, dan rakyat kebanyakan. Partisipasi aktif dan kritis dari rakyat sangat diperlukan, dan memerlukan infrastruktur sosial, politik, ekonomi , yang memadai.

Adalah tugas utama pemimpin -- di seluruh peringkat -- mendidik rakyat, dengan memberikan contoh teladan, sebagaimana para pendiri bangsa ini melakukannya di masa lalu. Tugas dan fungsinya berbeda-beda, ada yang merencanakan, melaksanakan, mengontrol, dan mengevaluasi kinerja penyelenggara pemerintahan dan negara. Masing-masingnya mesti terjamin keberadaannya.

Menjadi masyarakat majemuk dan multikultural seperti Indonesia memang tidak mudah. Tapi, konsistensi dalam melaksanakan komitmen kebangsaan secara konsekuen, dapat merupakan cara sekaligus ciri untuk sungguh menjadi Indonesia.

Indonesia mesti terus tumbuh dan berkembang sebagai negara yang berdaulat, sejahtera, adil, dan unggul dalam peradaban. Tak ada tawaran lain untuk itu.

Negara Republik Indonesia mesti dikelola secara kolektif dengan cara yang benar. Obsesi ini, mudah-mudahan menjadi kenyataan, sesegera mungkin. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 237
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1353
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 457
Sumpah (Serapah) Pemuda
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 630
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 467
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
Selanjutnya