New York Membara Terbelam Ketimpangan

| dilihat 199

Bang Sém

Tak ada lagi kunang-kunang di Manhattan, seperti pernah dituliskan Allahyarham Umar Khayyam. Kawasan mewah di New York City, bekas ibukota Amerika Serikat, yang juga dijuluki sebagai ibukota keuangan dunia -- karena besarnya pengaruh NewYork Stock Exchanges di wilayah WallStreet -- yang sempat menjadi kota mati ketika COVID-19 menjemput nyawa 15.461 penduduknya, per 25 Mei 2020.

Sampai waktu yang sama, selain di New York City, korban COVID-19 yang mati di Negara Bagian New York, tercatat: 2.094 di Nassau, 1.834 di Suffolk, 1.337 di Wetchester, 618 di Rockland, 480 di Erie, 429 di Orange, 194 di Monroe, 137 di Dutches, 115 di Onondaga, 97 di Albany, 73 di Ulster, 59 di Niagara, 58 di Putnam, selebihnya dari Broome sampai Hamilton berkisar antara 42 sampai 1 orang mati.

Sejak beberapa hari lalu, antara 30 Mei 2020 sampai 2 Juni 2020, suasana kota yang menjadi pusat impian Amerika, itu dikabarkan mencekam. Tak lagi hanya karena jalan yang sunyi dan 'terlelap' - kebalikan dari biasanya, yang nyaris tak pernah 'tidur' selama 24 jam, disertai dengan raungan sirine ambulan pengangkut jenazah.

Kota tumpuan para imigran dari seluruh dunia yang pernah dikuasai Belanda, itu mencekam karena membara, terbakar oleh sekam persoalan sosial tersembunyi, yang membara oleh aksi protes dan demonstrasi, menyusul kematian George Floyd di bawah lutut polisi brutal, Derek Chauvin di Minnesota.

Aksi protes rakyat, terutama warga beragam ras, termasuk kulit putih menuntut keadilan atas kematian Floyd, menjalar bagai wabah Covid-19, dari Minnesota ke kota-kota lain di berbagai negara bagian Amerika Serikat. Di beberapa kota pada beberapa negara bagian, polisi setempat yang membentang simpati dan empati dengan 'berlutut,' sudah mulai mereda. Tapi, membara kembali ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus berkicau lewat akun twitter-nya. Bahkan melontarkan kata yang tak patut ketika berbicara dengan jurnalis di Gedung Putih, Washington DC.

Akibatnya, terjadilah berbagai kerusuhan yang dilakukan demonstran. Toko-toko penjual barang mewah, seperti Channel, Gucci, Louis Vuitton, Chanel, Dolce Gabana, Hermes, Rolex, Goyard, sampai Moncler hancur dan barang-barang mewah dagangannya dijarah. Belakangan, tak hanya kedai penjual barang mewah pemuas kaum pemuja kemewahan yang dijarah. Kedai-kedai dan supermarket penjual barang produksi pengusaha menengah dan kecil, juga mereka jarah. Termasuk kedai rokok , kedai kopi dan wine.

Pusat belanja SoHo dan supermarket yang sudah sudah tutup sejak pemberlakukan penjarakan sosial di seluruh dunia, relatif sudah tutup sejak CPOVID-19 menerjang dan menjalar ke berbagai belahan dunia, menyusul pemberlakuan pandemi corona virus oleh World Health Organization (WHO).

Penjarahan di NewYork City tercatat, terjadi di penghujung hari keenam rally demonstrasi yang sebelumnya sudah melanda berbagai kota di berbagai negara bagian lainnya, yang mendorong para Walikota dan Gubernur-nya mengambil keputusan, menetapkan jam malam.

Kota-kota itu adalah Beverly Hills, Los Angeles dan San Francisco di negara bagian California, Denver (Colorado), Miami (Florida),  Atlanta (Georgia), Chicago (Illinois),  Louisville (Kentucky), Minneapolis dan St Paul (Minnesota), Reno (Nevada), Rochester (New York), Cincinnati, Columbus, Cleveland, Dayton, Toledo, Eugene, Portland (Oregon), Philadelphia, Pittsburgh (Pennsylvania), Charleston, Columbia (Carolina Selatan), Nashville (Tennessee), Salt Lake City (Utah), Seattle (Washington), dan Milwaukee (Wisconsin). 

Gubernur New York, Andrew Cuomo, akhirnya menetapkan jam malam untuk New York City, per Senin (1/6/20). Cuomo nampak masygul ketika mengumumkan berlakunya jam malam.

Kematian George Floyd di Minnesota, bukan sebab utama terjadinya kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan oleh rakyat. Penyebab utamanya adalah ketidak-mampuan Donald Trump dan para pembantunya yang sedang berkuasa di negara yang pernah menjadi superpower dan menjadi penggerak utama globalisasi kapitalis dunia, itu.

Dari berbagai pemberitaan media dan analisis para intelektualnya, terindikasi, aksi penjarahan itu, tidak sepenuhnya terikat dengan gerakan protes yang terpicu oleh kematian Floyd. Dari pola awal aksi penjarahan yang  menjadikan kedai-kedai mewah sebagai sasaran utama, persoalan dasarnya adalah ketimpangan dan ketidak-adilan.

Secara sosiologis dan psikososial, penjarahan itu merupakan artikulasi kebencian beberapa orang terhadap produk-produk bermerek yang hanya untuk memenuhi selera tak lebih dari 1 persen penduduk saja. Ketimpangan sosial di Amerika Serikat relatif tinggi.

Merebaknya COVID-19 yang tak cepat dikendalikan dan standar ganda yang dipakai Trump mengatasi situasi, menimbulkan dampak sosial yang sangat besar. Termasuk memicu meningkatnya angka pengangguran sampai mencapai 40 juta penduduk. Yang terkait dengan dampak sosial dan ekonomi COVID-19 pun, diduga tak terjadi di seluruh Amerika Serikat.

Dari aksi vandalisme yang mengekspresikan ketidak-adilan rasial dan kepongahan penguasa yang dalam banyak hal tak mau merespon berbagai kritik dan saran yang diajukan berbagai kalangan. Trump tak hanya menutup telinga pada kritik yang dilontarkan kepadanya dan lebih sibuk melakukan berbagai aksi yang dianggap tidak relevan. Termasuk menunjukkan sikap 'perang' terbuka dengan siapa saja yang ditetapkannya sebagai musuh bisnis, terutama China. Bahkan, belakangan, juga WHO. Dia tidak fokus menyelesaikan masalah : memutus matarantai penularan COVID-19, supaya segera dapat menyelesaikan persoalan sosial dan ekonomi.

Akibatnya persoalan bertimbun. Persoalan yang menonjol adalah lonjakan pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja akibat COVID-19 yang sangat tinggi itu. Pada saat bersamaan, CNBC melaporkan, pada 21 Mei miliarder Amerika secara kolektif menjadi $ 434 miliar lebih kaya. Mereka yang hanya 1 persen jumlahnya, itu tetap menjadi buruan produsen barang mewah, seperti tercermin dalam promosi Louis Vuitton yang tidak tepat waktu, menjajakan koleksi tas terbarunya. Ketika influencer yang dibayarnya berbagi posting tas baru, dua pekan lalu, banyak netizen yang membanjiri postingan itu dengan kekecewaan. Bahkan, konsumen pengguna produknya sendiri.

"Saya sangat kecewa pada kalian. Mestinya, kalian menyatakan sesuatu yang bermakna -- bagi orang banyak yang sedang menderita -- pada saat seperti ini. Tidak ada yang peduli dengan tas sekarang. Uang bukanlah segalanya," respon seorang konsumen dalam salah satu akun influencer Louis Vuitton di instagram. "Tokomu dijarah di tengah kerusuhan," komentar yang lain.

Tak hanya pengguna, pemimpin redaksi situs web Fashionista, Tyler McCall, juga mengecam lewat cuitan di akun twitter-nya. "Benar-benar perlu memahami, mengapa sebuah merek mewah bisa bergerak maju dengan dorongan media sosial besar-besaran yang berpengaruh untuk meluncurkan tas baru hari ini! Itu pemasaran yang buruk kalian! Tunda dulu!" tulis McCall.

Louis Vuitton, mestinya mengikuti langkah Nordstrom menulis surat terbuka kepada karyawannya tentang kematian George Floyd, dan mengatakan bahwa peristiwa itu adalah "saat yang menyakitkan" bagi Amerika Serikat dan kejadian yang terjadi "memilukan."

"Pembunuhan orang yang tidak perlu dan tidak adil tidak boleh diterima. Masalah ras dan pengalaman getir orang kulit berwarna yang terlalu banyak, tidak bisa diabaikan," ungkap Nordstrom. dalam surat terbukanya.

"Kami berutang kepada karyawan kami, pelanggan kami, dan komunitas kami untuk sangat jelas dalam mengutuk tindakan kekerasan ini. Mereka mewakili pengabaian terhadap hak asasi manusia dasar yang tidak memiliki tempat di komunitas atau negara kami, dan tentu saja tidak di Nordstrom," itu berlanjut.

Tak urung, kantor pusat Nordstrom di Seattle juga dijarah, beberapa produk  tas tangan dari desainer ternama yang diproduksinya, juga diambil penjarah. Tapi, banyak kedainya, dijaga dan dilindungi oleh para mantan karyawannya yang terkena PHK dan ikut ambil bagian dalam aksi protes. Nordstrom menutup semua lokasi pada hari Ahad (31/05/20) setelah protes.

"Untuk membantu menjaga keamanan semua orang, kami memutuskan untuk sementara waktu menutup toko kami kemarin," kata Nordstrom dalam pemberitahuan yang diposting di situs web-nya pada hari Senin (1/6/20). "Beberapa toko kami terpengaruh oleh aksi di berbagai kota akhir pekan ini, dan kami ingin meluangkan waktu untuk menilai kerusakan, memperbaiki dan membuka kembali toko-toko itu, sehingga kami dapat terus melayani pelanggan sesegera mungkin."

Pendekatan simpatik yang dihidupkan oleh empati terhadap rakyatnya di Negara Bagian New York, tercermin dari sikap Gubernur New York, Andrew Cuomo, yang memberlakukan jam malam atas New York City pada hari Senin (1/6/20). Jam malam berlaku dari pukul 23.00 sampai pukul 5 pagi keesokan hari, di hari keempat kerusuhan terjadi di New York City.

"Akan ada jam malam di New York City yang kami pikir akan membantu," katanya dalam wawancara radio, sekaligus memberitahu, ada penambahan petugas NYPD (New York Police Department) yang menggandakan kehadirannya, dari 4.000 menjadi 8.000 petugas, menyusul protes selama akhir pekan. Termasuk evaluasi atas penangkapan ratusan pemrotes di beberapa sentra bisnis yang dirusak dan dijarah.

Ketika jam malam diumumkan, ribuan pekerja masih menggunakan sistem kereta bawah tanah pada larut malam dan dini hari.

Cuomo menyatakan -- lewat rilis --, "Saya berdiri di belakang para pemrotes dan memahami isi pesan protes mereka, tapi sayangnya ada orang yang ingin mengalihkan perhatian dan mendiskreditkan momen ini." kata Cuomo dalam rilis berita. "Kekerasan dan penjarahan telah berdampak buruk bagi kota, negara dan seluruh pergerakan nasional ini, merusak dan menyimpang dari tujuan yang benar aksi ini. Padahal, kami mendorong rakyat untuk memprotes secara damai dan membuat suara mereka didengar. Keselamatan masyarakat umum adalah yang terpenting dan tidak dapat dikompromikan. " |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 306
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 315
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 278
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 606
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 527
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 220
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya