Merindu Pers Berkarakter

| dilihat 1419

N. Syamsuddin Ch. Haesy

PERJUANGAN pers Indonesia belum selesai dan masih akan tetus berhadapan dengan beragam tantangan masa depan. Tak hanya karena kuatnya arus globalisasi dalam perekonomian Indonesia. Juga, karena perkembangan teknologi informasi yang sedemikian kuat.

Media-media arus utama (media mainstream) akan terus bersanding dan bertanding dengan perubahan orientasi hidup dan budaya masyarakatnya.

Lompatan-lompatan budaya yang terjadi dari era informasi ke era konseptual saat ini, berbanding diametral dengan lompatan budaya yang terjadi dari era agraris ke era industri, bahkan dari era industri ke era informasi.

Kesemua itu langsung dan tak langsung mengubah pola konsumsi informasi media. Bila pada mulanya konsumen media cenderung pasif. Kini konsumen media sangat aktif dan agresif.

Kemampuan memproduksi berita tak lagi hanya dikuasai para jurnalis atau juruwarta, bahkan oleh konsumen media itu sendiri.

Di tengah fenomena demikian, media arus utama atau pers yang dimaksud oleh Undang Undang No. 40/99, harus berfikir ulang tentang posisi dan fungsinya secara kongkret. Termasuk dalam menyikapi fenomena dinamis terkait perubahan format, platform, channel, dan sistem tatakelolanya. Dalam konteks itu perubahan cara berfikir (mindset changes) pengelola media menjadi penting.

Tentu semua itu berkaitan erat dan mendalam dengan relasi – korelasi pemimpin media yang bertanggungjawab pada konten dan produk dengan pemilik media yang mempunyai daya kendali sangat kuat.

Jurnalis yang berperan sebagai pemimpin media harus mempunyai posisi tawar terhadap pemilik media (termasuk investor – dengan segala kepentingannya) dalam menjaga dan mengendalikan news room. Utamanya, terkait dengan independensi media.

Piagam Palembang pers Indonesia terkait kesepakatan perusahaan pers mengawali komitmennya tentang kemerdekaan pers sebagai wujud dari keadilan berekspresi rakyat, berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, supremasi hukum, hak asasi manusia dan profresionalitas.

Piagam itu juga menegaskan, bahwa kemerdekaan pers merupakan sarana hakiki setiap warganegara untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi guna meningkatkan dan mengembangkan mutu kehidupan dan penghidupan manusia.

Dalam konteks itu, pers Indonesia mengakui adanya kepentingan umum, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama yang tidak dapat diabaikan.

Untuk itulah, sebagaimana para jurnalis, perusahaan pers juga berkomitmen menjalankan prinsip-prinsip tata kelola pers Indonesia sesuai dengan kode etik jurnalistik, standar perusahaan pers, dan standar perlindungan wartawan Indonesia.

Komitmen itu selaras dengan komitmen wartawan Indonesia dalam mematuhi kode etik jurnalistik berbasis kompetensi. Tanpa kompetensi tak berlaku profesionalitas dalam menjalani profesi jurnalistik.

Komitmen ideal itu tak serta merta mewujud dalam praktik jurnalisme yang dalam banyak hal dipandang tidak lagi konsisten dengan semangatnya sebagai institusi sosial yang mempunyai peran sosial kontrol berkeadilan.

Dalam berbagai momen, masyarakat dengan mata telanjang menyaksikan masih sangat banyak pers yang tak lagi independen. Beragam reaksi masyarakat melalui berbagai jejaring warga dan lini masa menunjukkan, masih sangat banyak media yang tak konsisten dengan komitmennya sendiri.

Sepanjang sejarah bangsa dan sejarah perkembangan pers Indonesia, baru di paruh pertiga abad ke 21 ini, masyarakat begitu kuat memilah pers.

Realitas di lapangan, masyarakat membagi pers menjadi beberapa kategori, yakni: pers cupu, bipolar pers, dan pers berintegritas.

Pers cupu adalah pers yang news room dan seluruh kontennya dikendalikan dan sangat bergantung kepada  orientasi kepentingan politik dan bisnis pemiliknya. Pers cupu bertumpu pada kepentingan profitasi (langsung atau tidak langsung) pemiliknya. Media, platform, dan channel yang berada dalam lingkup pers cupu, berada dalam kendali kepentingan politik dan bisnis sesaat dan mengikuti irama : ganti rezim ganti politik redaksional. Pers cupu, langsung dan tidak langsung, sadar dan tidak sadar menempatkan dirinya sebagai sarana massa semata. Pers cupu lebih banyak berperan sebagai sarana pencitraan, bahkan menjadi produk image engineering politik.

Bipolar pers adalah pers yang juga bergantung kepada orientasi kepentingan pemiliknya yang berada dalam posisi swing interested yang berubah-ubah dalam waktu (kadang) seketika. Bipolar pers, saya sebut juga sebagai pers kadang-kadang bergantung angin kepentingan bertiup. Kadang-kadang konsisten sebagai institusi sosial yang berpihak kepada khalayak. Kadang-kadang inkonsisten sebagai institusi sosial yang berpihak kepada rezim. Kadang-kadang tidak jelas menyuarakan apa.

Akan halnya pers berintegritas adalah pers yang konsisten pada asas independensi dan kemerdekaan pers yang teguh memainkan peran sebagai nation enlighter. Inilah pers yang konsisten dan konsekuen menempatkan dirinya sebagai pers perjuangan. Menyuarakan kebenaran berdasarkan prinsip-prinsip jurnalisme yang benar. Menjalankan kode etik jurnalistik secara tepat dan teguh. Profesional dan jelas keberpihakannya, sehingga mampu menjalankan fungsi edukasi sebagai medium yang mempertemukan kepentingan publik dan republik. Sekaligus mampu memainkan peran watchdog yang cerdas dan berkepribadian.

Secara umum, pers berintegritas dapat dihitung dengan bilangan jari sebelah. Selebihnya: pers cupu dan pers bipolar mendominasi jagad pers Indonesia saat ini.

Dalam situasi semacam yang kita alami sekarang ini, tiba-tiba kita merindukan sosok-sosok jurnalis berkarakter seperti RM Tirto Adhi Soerjo, Djamaloedin Adinegoro, Adam Malik, Mochtar Lubis, BM Diah, Rosihan Anwar, TD Hafas, Moh Said, A. Azis, Ojong PK, Suardi Tasrif, Sakti Alamsjah, Atang Ruswita, Mahbub Djunaedi, LE Manuhua, dan kawan-kawan. Para jurnalis sebagai anak kandung Republik Indonesia, yang menjalankan profesinya dan menjadikan pers Indonesia, sungguh berpijak di atas kebenaran dan keadilan.

Kita Rindu Pers berkarakter dengan integritas jelas. |

 

Penulis seorang Jurnalis. Kini instruktur  Imagineering Mindset Training 

Editor : sem haesy
 
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1666
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 618
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 370
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
02 Jun 18, 20:37 WIB | Dilihat : 2565
Anggur yang Terapung
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2766
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 780
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 681
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya