Debat Publik Kedua Pilkada Jabar

Mencoreng Jelaga di Muka Sendiri

| dilihat 1429

Catatan Bang Sem

DEBAT kandidat Pilkada Jabar 2018 yang digelar di Balairung – Universitas Indonesia (UI) – Depok, Senin (14/5/18), itu ternoda. Salah satu pasangan (Asyik), pada kesempatan closing statement, menjanjikan, jika dirinya menang, akan terjadi pergantian presiden. Selembar kaos bertuliskan tagar terkait, pun disorot kamera.

Spontan, pendukung pasangan calon No.2 (Hasanah) bereaksi. Suasana riuh. Pasangan No 4 (Deddy & Dedi) ‘terampas’ waktunya. Giselawati, isteri Deddy Mizwar, nampak terkesiap. Deddy segera membawanya ke bibir pentas. Keduanya duduk di trap pentas debat itu.

Secara hukum, boleh jadi, apa yang dilakukan Paslon 3, itu tak salah. Secara etis, perlu dipersoalkan. Tak relevan menarik isu penggantian Presiden ditarik masuk ke ajang debat kandidat yang sedang bicara tentang lingkungan dan kesejahteraan rakyat Jawa Barat itu.

Di layar televisi, persoalan segera usai, begitu jam tayang juga usai. Di luar itu, boleh jadi akan ada ketegangan tersendiri antara pendukung Paslon 2 dengan Paslon 3.

Paslon 3 nampak tak punya sentivitas dalam membaca situasi dan medan debat. Apa yang dilakukan di penghujung acara itu, bak menoreh jelaga di muka sendiri.

Lantas, bagaimana kapasitas dan kompetensi para pasangan calon di ajak debat sendiri? Mereka yang cerdas mencermati seluruh proses debat, itu tentu melihat, bagaimana kapasitas dan kompetensi mereka. Terutama melalui pertanyaan dan tanggapan yang mereka sajikan dalam siaran langsung televisi itu.

Pasangan Ridwan Kamil dan Uu (Rindu) menampilkan sosoknya secara verbal sebagai paslon paling kompeten, tapi performanya tak sejalan dengan citra yang dibangun secara verbal. Khasnya, ketika Paslon lain menyoal sisi teramat teknis persoalan-persoalan yang menghimpit kota Bandung dan Kabupaten Tasikmalaya.

Menghadapi Paslon No.2 dan No.3 yang tak menguasai medan persoalan di Jawa Barat, Rindu masih bisa berkelit dengan beragam argumentasi non datum.   Terutama karena paslon No.1 ini lebih sibuk berkilah dengan fantacy trap (jebakan fantasi). Apa yang mereka sajikan sebagai ‘seolah-olah visi,’ pada ghalibnya hanya fantacy trap.

Beberapa kali, pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi (Deddy & Dedi) menyodok paslon ini dengan hal-hal ringan, tapi substansial. Deddy & Dedi tampak menguasai persoalan. Keduanya juga mempunyai argumentasi vis datum yang jelas.

Deddy dan Dedi yang masing-masing punya pengalaman ‘panggung,’ tak berhasil diseret Rindu ke dalam jebakannya. Baik karena basis akademik Deddy Mizwar adalah ilmu pemerintahan dan Dedi Mulyadi ilmu hukum, namun keduanya berkecimpung dalam dunia seni budaya.

Deddy & Dedi mampu bertahan dengan argumentasi ringan dan mudah dipahami khalayak, dan tentu dengan mudah mengambil jarak nalar dan naluri keduanya dengan semua paslon, termasuk Paslon 2 – Hasanah dan Paslon 3 – Asyik.

Hampir semua penetrasi yang dilakukan Paslon 3 dan Paslon 1 untuk menyudutkan Paslon 4, berubah jadi boomerang. Paslon 3 terlihat bingung untuk melakukan penetrasi argumentasi, lantaran, salah-salah ‘menikam,’ yang justru akan tertikam adalah jejak kinerja Ahmad Heryawan – yang secara politis merupakan pendukung utama Paslon 3.

Paslon 2 berulang kali kehilangan momen dalam merespon peluang untuk menegaskan kapasitas dan kompetensinya. Sangat terkesan, Paslon 2 ini, tak didukung oleh tim yang andal. Minda (tata pikir) Paslon 2 mirip dengan Paslon 3, sangat linear.

Dari keseluruhan sajian Debat Kandidat Pilkada Jabar yang ditayangkan beberapa stasiun televisi, itu terlihat memang hanya Deddy & Dedi yang menguasai lapangan. Mereka berpijak pada realitas pengalaman yang dimilikinya. Keduanya konsisten untuk menjawab langsung semua persoalan yang disorong kepada mereka. Termasuk dalam menangkis argumentasi paslon lain.

Hal ini berbeda dengan Paslon 1 yang ketika secara penetratif disoal kinerja di basis pengalaman mereka, yang dilakukan adalah mengambil jurus lempar kambing (seperti yang berulang dilakukan Ridwan Kamil, yang melemparkan semua persoalan Banjir Bandung ke dalam kewenangan Gubernur Jawa Barat – Ahmad Heryawan), dan lempar tikus (seperti yang dilakukan Uu, yang senang menyalahkan Camat).

Secara head to head, Rindu vs Deddy & Dedi, yang tampak adalah sikap jumawa vs sikap rendah hati, dan Hasanah vs Asyik – yang tampak adalah pertarungan ilusi dalam format improvisasi.

Dalam konteks budaya Sunda, performa keempat paslon dalam debat, itu bisa dihadapkan langsung dengan parameter nilai kepemimpinan Sunda, yakni : "Kewes pantes tandang gandang, sinatria pilih tanding. Handap asor pamakena, nyarita titih rintih. Ati-ati tur nastiti. Mun nyaur diukur-ukur. Nyabda diunggang-unggang. Bubuden teu ieu aing. Panatana Satria tedak Pasundan."

Itulah anasir-anasir karakter kepemimpinan yang fit and proper, bermoral, dan berakhlak mulia : fit and proper, siap berkompetisi, rendah hati, argumen vis datum, mikir sebelum bicara, dan akurat. Kata kuncinya, bicara data dan fakta sebagai basis argumen. Di situ dimensi luar dan dimensi dalam sosok pemimpin tak bisa disembunyikan.|

 

Editor : sem haesy
 
Polhukam
12 Jun 18, 17:50 WIB | Dilihat : 314
Wartawan Muslim di Tengah Ghibah - Buhtan dan Fitnah
03 Jun 18, 21:50 WIB | Dilihat : 2179
Kritik Oposisi dan Rakyat itu Perlu
20 Mei 18, 08:20 WIB | Dilihat : 2541
Ke Jakarta Anwar Ibrahim Pelihara Ghirah Reformasi
Selanjutnya
Budaya
20 Mei 18, 22:08 WIB | Dilihat : 4455
Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam
04 Apr 18, 14:35 WIB | Dilihat : 3313
Budaya Tanding dari Wine ke Bir Pletok
06 Mar 18, 09:59 WIB | Dilihat : 1669
Jangan Sembarangan Nyomot Betawi
Selanjutnya