Membaca Politik Malaysia

| dilihat 237

Catatan Bang Sèm

Mimpi Anwar Ibrahim menjadi Perdana Menteri ke 8 Malaysia, tak akan pernah terjadi. Kalaupun terjadi, sangat jauh jalan yang harus ditempuhnya.

Hal itu sudah saya kemukakan dengan beberapa sahabat di Malaysia, sejak sebelum koalisi Pakatan Harapan (PH) memenangkan Pilihan Raya ke 14  (9 Mei 2018).

Pakatan Harapan yang terdiri dari Parti Keadilan Rakyat (PKR), Democratic Action Party (DAP), Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) dan Parti Amanah Negara (Amanah) memang berhasil menumbangkan kekuasaan lama (lebih enam dasawarsa) koalisi Barisan Nasional (BN) yang terdiri dari Parti UMNO (United Malay Nation Organization), MCA (Malaysia China Association), MIC (Kongres India Malaysia), Parti Gerakan, dan beberapa partai lain).

Tapi, kemenangan itu tercapai, karena ada faktor M (Tun Dr. Mahathir Mohammad) yang mendirikan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu). Tun M, Perdana Menteri Malaysia (16 Juli 1981 - 30 Oktober 2003) menjadi faktor penentu kemenangan itu.

Anwar Ibrahim (PKR) dan Lim Kit Siang (DAP) yang berkoalisi dalam Pakatan Rakyat, sudah beberapa kali pemilihan umum tak mampu menumbangkan dominasi BN. Walaupun pada pemilihan umum 8 Maret 2008 (Pilihan Raya Umum ke 12) mampu menguasai 5 dari 9 Negeri, tetap saja tak mampu menumbangkan kekuasaan.

Isu reformasi yang menjadi obsesi Anwar Ibrahim, tak mampu membuat Pakatan Rakyat menjadi pemenang. Terutama karena Pakatan Rakyat tidak mendapat respek dan dukungan yang kuat dari bangsa Melayu.

Tun Mahathir yang pernah menjadi Presiden Barisan Nasional dan Ketua Umum UMNO -- meski pernah juga dipecat oleh partai itu -- tetap punya pamor dahsyat sebagai 'Bapak Pembangunan Malaysia' yang hendak dikesampingkan oleh Mohammad Najib (Perdana Menteri Malaysia ke 6).

Tun tidak memilih isu rumit dalam memimpin Koalisi Pakatan Harapan untuk memenangkan Pilihan Raya Umum ke 14.

Cukup satu isu sentral yang dilansirnya, "Menumbangkan Najib dan rezim kleptokrasi."

Kemenangan PH menghantarkan kembali Tun M ke Putrajaya sebagai Perdana Menteri ke 7.

Fokus perhatian Tun M juga simpel: memulihkan kondisi negara secara politik (dengan demokrasi a la Malaysia), ekonomi, sosial, dan budaya. Dan, menempatkan bangsa Melayu sebagai inti penggerak Malaysia dengan cara yang kritis, yang bahkan dianggap 'menghina.'

Anwar Ibrahim dengan PKR, agaknya tak juga paham dengan situasi yang sebenarnya. Ia dan para pengikutnya terus sibuk dengan isu reformasi dan terobsesi dengan gerakan yang di Indonesia mampu menjatuhkan rezim Soeharto. Meski kemudian baru disadari, reformasi sebagai gerakan perubahan melelahkan yang mudah melenceng menjadi deformasi.

Anwar Ibrahim terlalu rindu berkuasa, dia hanyut dengan obsesinya dan akhirnya terjebak ke dalam fantacy trap, karena obsesi rakyat Malaysia adalah memulihkan kembali kemakmuran negara.

Tak mudah bagi Anwar menghilangkan kesan gelap di otak rakyat tentang dirinya yang kelam. Anwar pun akan sangat susah menghilangkan pamor Tun M di hati rakyat Malaysia, meski Anwar menganggap aksi politik dirinya dan para pengikutnya berhasil merambah benak dan hati generasi millenial.

Anwar lupa, kalau orang-orang muda yang pernah menjadi pengikut utamanya, juga kecewa dan ramai-ramai meninggalkan sekaligus menghantam balik dirinya.

Setarikan nafas, Lim Kit Siang dan penerusnya (Lim Guan Eng) pun tak sabar diri, melakukan serangan-serangan frontal kepada bangsa Melayu dengan beragam isu yang melukai hati, perasaan, dan kemelayuan.

Dalam situasi semacam itu, Tun M mengambil jarak dengan medan pertarungan politik yang ada. Ketika partai yang didirikannya (Bersatu) menyatakan keluar dari koalisi Pakatan Harapan, Tun M bereaksi cepat mundur dari jabatan Perdana Menteri dan Pengerusi Partai Bersatu (Senin, 24 Februari 2020).

Banyak kalangan lantas berfikir, Timbalan Perdana Menteri Wan Azizah Wan Ismail otomatis akan menggantikan. Perlembagaan atau konstitusi Malaysia tidak menggariskan seperti itu.

Faktanya kemudian adalah Raja - Yang Dipertuan Agong Malaysia, Al Sultan Abdullah Riayatuddin Al Mustafa Billah Shah - melantik Tun M menjabat Perdana Menteri interim (PM ke 8). Kabinet bubar. Artinya Tun menjabat Perdana Perdana Menteri yang ketiga-kali (24 Februari 2020) untuk memastikan pemerintahan masih ada dan berjalan, meskipun tanpa kabinet.

Roda pemerintahan tetap berlangsung digerakkan oleh birokrasi, polisi, tentara dan institusi-institusi negara lainnya, sambil menanti keputusan Agong menentukan siapa yang akan menjadi Perdana Menteri definitif.

Untuk memastikan siapa figur yang memperoleh dukungan mayoritas anggota parlemen, mulai Selasa (25 Februari 2020) Agong akan memanggil satu persatu seluruh anggota parlemen dari seluruh daerah pemilihan -- lintas partai dan independen -- untuk mengetahui langsung, siapa sungguh yang mereka dukung.

Spekulasi yang berkembang sampai 23 Februari 2020, 130 dari 222 anggota parlemen memberikan dukungan kepada Tun Dr.M., termasuk DAP dan Gabungan Partai Serawak.

Raja (Agong) mempunyai dua opsi, yaitu: Langsung membubarkan parlemen dan menyelenggarakan Pilihan Raya Umum ke 15 untuk mendapatkan kondisi obyektif dukungan rakyat yang sebenarnya; atau Mengangkat Tun M sebagai Perdana Menteri definitif (PM ke 9) atau siapa figur yang diusulkan Tun M. Perdana Menteri inilah, yang pada masanya (2022) menyelenggarakan Pilihan Raya Umum ke 15.

Saat artikel ini ditulis dan dipublikasikan, satu-satunya figur yang mempunyai jarak dengan hiruk pikuk politik praktis Malaysia hanya Tun M. Keberadaannya sebagai anggota parlemen, boleh jadi masih terkait dengan Partai Bersatu yang didirikannya, karena Tun M belum keluar dari partai itu.

Di kancah perpolitikan Malaysia, politisi kampiun yang sangat senior kini tinggal Tun M dan Lim Kit Siang.

Di lapisan kedua politisi senior, ada Anwar Ibrahim, Najib, Zahid Hamidi, Mahyudin Yasin, Hadi Awang, Hishamudin Onn, Mat Sabu, Lim Guan Eng, Wan Azizah Wan Ismail, Azmin Ali, Zuraida Kamaruddin, Azalina, dan beberapa lainnya.

Lapisan ini yang kerap merumit-rumitkan politik Malaysia dan membawa dinamika politik Malaysia ke dalam pusaran katastrop. Mereka gemar dan kerap berpuas hati dengan kepentingannya masing-masing dan seringkali sibuk 'mencari ketiak ular.'

Di lapisan kalangan muda, termasuk generasi milenial ada Khairy Jamaluddin, Nurul Izza, Mukhriz Mahathir, Syed Shadiq, dan lain-lain. Mereka potensial menentukan arah baru perpolitikan Malaysia, tetapi pengalaman politik praktis mereka dalam banyak hal terkontaminasi oleh perilaku politik para seniornya.

Mereka punya kans untuk menerobos dan menjadi bagian dari arus pencerah perpolitikan Malaysia, bila mampu mengubah perilaku politik. Termasuk mengembangkan nalar politik baru. Azmin Ali nampak punya spirit hal itu, tapi sayang, dia mengambil jarak dengan lapisan ini.

Bagaimana masa depan politik Malaysia? Akan terus pelik, ketika para senior dengan banyak kepentingannya, masih manggung. Di sini, Tun M mesti membuka laluan lebih luas bagi politisi generasi baru.. termasuk generasi millenial. |

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1047
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1457
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 646
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1071
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Lingkungan
22 Mar 20, 20:46 WIB | Dilihat : 79
Konferensi Virtual Bahas Covid 19
22 Mar 20, 19:06 WIB | Dilihat : 206
Aromaterapi dan Parfum Pernah Dipakai Melawan Wabah
17 Mar 20, 11:00 WIB | Dilihat : 134
Darurat Corona untuk Keselamatan Rakyat
Selanjutnya