Silaturrahmi Dandim dengan Ulama Cianjur

Melihat Kemananggulan TNI - Rakyat dari Cianjur

| dilihat 199

Haédar Muhammad

PEMBEDA utama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan tentara lain di dunia adalah proses kelahirannya, yang sungguh dari rahim rakyat. Melalui proses panjang dan tak terpisahkan dari pergerakan kebangsaan, sekurang-kurangnya sejak 1905.

Pada fase-fase perjuangan kebangsaan kemudian rakyat membentuk berbagai laskar, tak terkecuali dari lingkungan pesantren, seperti laskar Hizbullah sebagai manifestasi dari prinsip hubbul wathan minal iiman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Bahkan dari kalangan pelajar juga lahir apa yang kemudian dikenal dengan Tentara Pelajar (TP).

Pada proses perkembangan lanjut, berbagai laskar itu kemudian berhimpun dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang kelak menjadi titik awal persemaian TNI sebagai kelanjutan dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dari agresi penjajah Belanda, yang berambisi untuk menjajah kembali melalui kekerasan senjata.

Secara organisatoris, TNI merupakan perkembangan lanjut dari TRI (Tentara Rakyat Indonesia) yang merupakan penyempurnaan organisasi sesuai dengan dasar militer international.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pendiri Tentara Keamanan Rakyat, berasal dari lingkungan Muhammadiyah, karena sebelumnya merupakan seorang guru di madrasah Muhammadiyah. Jenderal Sudirman memimpin perang gerilya yang herois dan amat bersejarah. 

PADA 3 Juni 1947 - Pemerintah yang dipimpin Presiden Soekarno mengesahkan secara resmi berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang dalam situasi sangat kritis selama Perang Kemerdekaan (1945-1949) mampu mewujudkan dirinya sebagai tentara rakyat, tentara revolusi, dan tentara nasional.

TNI kemudian menjadi pasukan garda depan dalam menjaga dan memelihara negara dan bangsa dari berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, misalnya, TNI menghadapi rongrongan-rongrongan yang berdimensi politik maupun militer.

Secara politik, TNI menghadapi rongrongan komunis (PKI) yang berambisi menempatkan TNI dibawah pengaruh mereka melalui Pepolit, Biro Perjuangan, dan lain-lain.

Rongrongan secara militer datang dari pergolakan bersenjata di beberapa daerah, seperti pemberontakan PKI di Madiun dan Darul Islam (DI) di Jawa Barat yang mengancam integritas nasional.

Dari luar negeri TNI menghadapi tantangan Agresi Militer Belanda dengan organisasi dan persenjataan yang lebih modern. Kondisi ini menghidupkan semangat bangsa ini, melaksanakan Perang Rakyat Semesta.

Dalam konteks perang rakyat semesta, itulah  segenap kekuatan TNI dan masyarakat serta potensi nasional dikerahkan untuk menghadapi agresi tersebut.

BERSAMA rakyat, integritas dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia telah dapat dipertahankan oleh kekuatan TNI bersama rakyat. Banyak lagi peristiwa, semenjak itu, yang menjadi tantangan TNI dari masa ke masa dengan beragam dinamika politik kebangsaan.

Tanggungjawab TNI tidaklah ringan. TNI konsisten dengan sikap, apa yang terbaik baik rakyat, terbaik bagi TNI. Terutama, karena TNI di masa damai, memainkan peran strategis sebagai penjaga utama di garda depan pertahanan dan keamanan bangsa, dari berbagai dimensi dan perspektif.

Dalam konteks itulah peran institusi teritorial TNI, mulai dari level Daerah Militer, Resort Militer, Distrik Militer, dan Rayon Militer menjadi penting. Tak terkecuali prajurit TNI yang mengemban amanah sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa).

Upaya-upaya TNI dalam keadaan apapun untuk menciptakan rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengembangkan partisipasi aktif rakyat dalam proses pembangunan. Di situ, TNI dengan berbagai programnya yang bersentuhan langsung dengan rakyat, memanifestasikan tanggungjawab negara, tak terkecuali dalam mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat.

Kini di tengah pandemi COVID-19, TNI memainkan peran strategis memelihara hubungan karib TNI dengan rakyat, di seluruh wilayah tanah air Indonesia. Salah satu wujudnya tercermin di Cianjur, melalui Kodim 0608 yang terkenal dengan sebutan Kodim Badak Putih.

Tak hanya dalam upaya kolektif meningkatkan disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol yang diwawar oleh World Health Organization (WHO) sesuai petunjuk pemerintah. Bahkan mengambil berbagai inisiatif lain yang terus memotivasi rakyat untuk terus produktif, seperti pertanian dalam konteks ketahanan pangan, penyediaan fasilitas internet gratis untuk pelajar di Koramil, layanan kesehatan, dan lain-lain.

Upaya menjalin hubungan Kodim dengan rakyat, melalui para tokoh agama, tokoh masyarakat, termasuk intelektual, budayawan, profesional, petani, nelayan, kaum perempuan, generasi muda, lembaga swadaya masyarakat, aktivis, politisi, dan lain-lain terus berlangsung secara berkesinambungan.

Interaksi dan kunjungan Komandan Kodim 0608, Let.Kol Kav Ricky Arinuryadi, SH.,MM dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur, serta sejumlah pesantren ( antara lain Al Muthma'innah - Bojongherang; Al-Ittihad dan Tanwiriyah - Karang Tengah - Rawabango; Gelar - Cibeber) kita maknai sebagai upaya reaktualisasi hubungan umara' dengan ulama.'

DARI sisi pandang agama, langkah yang ditempuh Dandim Ricky - Cianjur, kita maknai sebagai langkah ta'awun -- sinergi -- di jalan kebajikan.

Dalam konteks budaya, merupakan wujud kongkret dari prinsip mendekatkan yang jauh, mengkaribkan yang dekat, membuat komitmen untuk saling memuliakan guna mencapai kemuliaan kolektif - kemajuan Cianjur berbasis kesejahteraan rakyat. Nu jauh dideukeutkeun, nu geus deukeut dipaheutkeun, geus paheut silih wangikeun.

Upaya itu sejalan dengan proses transformasi sosio budaya masyarakat, sebagaimana tersirat dalam Wangsit Siliwangi: “Engke mun geus wajah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon.”

Isyarat itu bermakna, kelak (akan) berlangsung proses pencarian nilai dan peradaban baru berbasis nilai masa lalu dan masa kini, sebagai keniscayaan hidup yang tak boleh berhenti di satu masa. Kelak, kudu banyak orang-orang yang menemukan nilai baru dalam hidup kita. Mereka itu, (dengan pengetahuannya) berpengalaman melakukan interaksi dengan perubahan menuju kebajikan bagi insan sesama, bagi kesejahteraan rakyat.

Kebaikan dan kebajikan yang terpelihara melalui silaturrahmi (dan kemudian Ta'awun) akan menjadi modal besar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhir, karena setiap manusia pasti mulih ka jati, mulang ka asal (kembali ke haribaan Ilahi). Karenanya, semua peristiwa dalam hidup (seperti pandemi COVID-19), menurut Prabu Siliwangi, dihin pinasti anyar pinanggih, sudah ditentukan oleh Tuhan Mahakuasa.

Dalam konteks itu, kesungguhan berdisiplin, menegakkan aturan, akan membawa kebaikan dan kebajikan, atau sebaliknya. Intinya adalah, "Melak cabe jadi cabe melak bonteng jadi bonteng, melak hade jadi hade melak goreng jadi goreng." Apa yang kita tanam, itulah yang akan dituai.  Bila kita menanam kebaikan, walaupun sekecil neutron, akan berbalas kebaikan pula, kalau kita menanam keburukan maka keburukan pula yg didapat.

Itulah sebabnya, manusia mesti memahami hakikat, "Manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna." Burung terbang dengan sayapnya, manusia melesat dengan akalbudi-nya. Kecerdasan dan kearifannya yang seimbang.

PRINSIP kontinuitas kerja kebajikan, sustainabilitas memelihara lingkungan alam dan sosial, mesti dilakukan secara kolektif. Gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak, buyut teu meunang di rempak - merusak gunung (bumi), jangan merusak laut, jangan pula merusak nilai kehidupan dan kebajikan yang diwariskan dari masa lampau.

Integralitas kebersatuan TNI (melalui KODIM) dengan Rakyat, termasuk sinergi dengan para ulama (umara' - ulama) sangat penting di tengah situasi susah karena musuh yang tidak nampak kini (pandemi penyakit - virus COVID-19). Terutama untuk menjawab tantangan yang sudah diprediksi Prabu Siliwangi.

Kita (TNI dan Rakyat) mesti menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), jangan sampai: Laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét.  Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon. Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat!

Negara terpercah belah, diserbu 'monyet' (orang-orang jahil, jahat, usil). Generasi baru (disibukkan oleh kebahagiaan palsu), karena ternyata kehidupan sosial dan ekonomi dirontokkan oleh penyakit, sawah ladang kehidupan habis oleh penyakit, lumbung pangan habis oleh penyakit, kebun (sumber penghidupan) habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut (dan was-was) karena segalahal (sudah) beraroma penyakit. Semua cara dan instrumen harus dikerahkan untuk menyembuhkan penyakit sebab (keadaan) sudah semakin parah. Yang mengerjakannya mesti bangsa sendiri.  (Supaya terkenali) korban yang mati karena penyakit dan kelaparan. Semenjak itu keturunan kita (generasi baru) banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu (serampangan) membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita. Lalu sayup-sayup dari 'laut utara' terdengar gemuruh (kegaduhan).

Silaturrahmi TNI dengan Rakyat, akan selalu berbuah kebaikan dan kebajikan. Ketahanan Nasional, dan itu mesti terasakan di lapisan rakyat kebanyakan. Untuk itu, mesti selalu dihidupkan kerjasama, sinergi untuk menghidupkan optimisme, merevitalisasi kembali potensi dan kekuatan bangsa, menguatkan persatuan dan kesatuan, dilandasi oleh dedikasi untuk rakyat, negara, bangsa dan Tuhan. |

[Cianjur, 13.08.20]

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 632
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 208
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 201
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
17 Jul 20, 00:15 WIB | Dilihat : 308
Budaya Pesisir dan Budaya Sungai Bertemu di Ancol
Selanjutnya
Humaniora
26 Sep 20, 06:38 WIB | Dilihat : 105
Memelihara Harapan
22 Sep 20, 14:32 WIB | Dilihat : 83
Monopoli Pikiran
10 Sep 20, 19:31 WIB | Dilihat : 298
Getar Good Voice Rasil
Selanjutnya