- Hasil Survey Bukan Faktor Utama

Mega Belum Putuskan Jokowi Bakal Capres PDIP

| dilihat 1178

JAKARTA,AKARPADINEWS.COM | Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belum putuskan Jokowi sebagai bakal Capres usungan partai berlambang banteng gemuk bermoncong putih, itu. Mega seolah mengabaikan hasil survey yang mengemuka selama ini.

 HASIL 21 lembaga survey yang kebanyakan menempatkan Jokowi sebagai orang pertama yang dipandang cukup mempunyai popularitas dan elektabilitas untuk menjabat Presiden RI 201-2019, tak membuat PDIP bergeming. Megawati memandang, boleh saja lembaga survey menempatkan kadernya sebagai orang yang patut dijagokan untuk maju ke Pilpres 2014, tapi otoritas dan prerogatif ada pada Ketua Umum PDIP.

“Orang boleh saja mengusulkan dari eksternal atau internal membuat analisa, nanti siapa yang akan dijadikan capres oleh PDIP. Tetapi, seperti yang telah berulang kali saya katakan, saya Ketum PDIP yang terplih oleh kongres itu (punya) hak prerogatif pada rakernas ketiga," ujar Megawati. Pernyataan itu disampaikan Mega, usai menggelar upacara peringatan HUT PDIP ke 41 di DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat (10/1/14).

Akan halnya Sekretaris Jendral PDIP, Tjahjo Kumolo menegaskan pada tempat dan waktu yang sama, PDIP sudah melakukan corsscek. "Ada 21 lembaga yang melakukan survey,” ungkapnya. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semua lembaga survey, itu Tjahjo menegaskan, “Tapi, itu (hasil survey) bukan bagian yang utama."  Artinya, meskipun PDIP mengapresiasi hasil yang sudah dikeluarkan lembaga-lembaga survei itu, DPP PDIP masih akan terus mencermati tingkat elektabilitas hasil survei Joko Widodo alias Jokowi, yang menjadi bintang survey itu. Tjahjo mengemukakan, PDIP menjadi perhatian untuk dicermati. Tapi, bukan merupakan salah satu bagian yang paling penting dalalm proses pengambilan sikap partai mengenai capres maupun cawapres."

Megawati Soekarnoputri sendiri masih merahasiakan, siapa calon Presiden yang bakal diusung partainya pada Pemilu 2014 ini. Mega menegaskan, PDIP baru akan mengumumkan bakal calon Presiden 2014 yang akan diusung partainya, setelah pemilihan umum anggota legislati 9 April 2014 berlangsung dan dinyatakan sahih secara hukum. “Memilih orang untuk menjadi pemimpin negara yang besar dan punya kekayaan luar biasa, ini tidak mudah,” tegas Mega. Salah memilih, justru akan merugikan PDIP sendiri.

Dalam peringatan itu, Mega mengimbau kepada kader dan loyalis PDIP untuk fokus memenangkan Pemilihan Umum anggota legislatif. Ia berharap, kader PDIP tidak terbawa arus besar yang sibuk menyoal sosok calon Presiden. Mega mengharapkan seluruh kader PDIP fokus untuk meraih 20 persen suara dalam Pemilu, April 2014 mendatang. Pernyataan itu menunjukkan makna, meski hasil survey menunjukkan Jokowi merupakan orang pada peringkat pertama yang dikehendaki rakyat memimpin bangsa ini. Mega seolah ingin menepiskan beragam aspirasi yang berkembang di dalam dan di luar PDIP yang secara berterang-terang telah menentukan sikap: Jokowi untuk Capres, bukan Cawapres.

Jokowi sendiri berulang kali menyatakan dia tidak memikirkan soal pencapresannya. Dia akan berkonsentrasi mengatasi berbagai masalah Jakarta, mulai dari sampah, kemacetan lalu lintas, dan banjir. Meskipun demikian, begitu banyak akun kurcaci maya (cyber trooper) di jejaring media sosial, tak pernah henti memformat dan merekayasa citra positif Jokowi. Meskipun kadang terkesan berlebihan dan sangat subyektif.

Para kurcaci maya itu cenderung reaktif setiap kali merespon kritik yang dilontarkan siapa saja yang mengeritik Jokowi. Situasi ini dikritik oleh peserta Konvensi Capres Partai Demokrat, Endriartono Sutanto.

"Saat ini masyarakat terlalu aneh, memilih tokoh hanya karena terkenal. Harusnya melihat dari rekam jejak bukan karena pemberitaan," ungkap Endriartono Sutarto dalam acara meet the press yang digelar Komite Konvensi di Jalan Patiunus, Jakarta Selatan, Senin (6/1) lalu.

Sindiran terhadap Jokowi juga dilontarkan Marzuki Ali, Ketua DPR RI yang juga peserta Konvensi Capres Partai Demokrat. Ia menilai, hasil survei bukanlah penentu dan tidak menentukan, karena keniscayaan demokrasi adalah kompetisi. “Bukan semata-mata mengedepankan citra,” ungkapnya, usai beber visi dalam meet the press, Kamis (9/1) lalu. | din

 

Editor : Web Administrator
 
Budaya
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 172
Dimensi Kaum Betawi
21 Jul 19, 14:19 WIB | Dilihat : 209
Refleksi dari Arena Lebaran Betawi
12 Jul 19, 13:30 WIB | Dilihat : 943
Menikmati Instalasi Bambu Avianto di Pusar Jakarta
11 Jul 19, 16:53 WIB | Dilihat : 1006
Mengikuti Langkah Diro dan Yesmil Mengolah Daya Haiku
Selanjutnya
Seni & Hiburan
04 Jul 19, 13:22 WIB | Dilihat : 688
Jakarta Melayu Festival 2019 Merengkuh Keadilan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 963
Kejujuran
12 Jun 19, 14:16 WIB | Dilihat : 303
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 313
Perempuan di Makam Ibu
Selanjutnya