Masa Depan Menjemput Prabowo Sandi

| dilihat 844

Catatan N. Syamsuddin Ch. Haesy

Sejak Prabowo Subianto, Calon Presiden No. 02 mengekspresikan kemarahannya terhadap kondisi mutakhir bangsa ini, banyak hal menarik yang mengemuka.

Tak hanya merapatnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantio, mantan Panglima TNI dan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam kegiatan Pidato Kebangsaan di Surabaya, Jum'at (12/4/19).

Kamis (11/4/19), TVOne menayangkan siaran eksklusif dialog Prabowo Subianto dengan Ustad Abdul Somad (UAS). Jum'at, setiba dari Surabaya di kediamannya, Prabowo menerima Ustad Adi Hidayat (UAH), dan Sabtu (13/4) Prabowo menerima Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).

Pada dua pertemuan terakhir, juga nampak Calon Wakil Presiden, Sandiaga Salahuddin Uno.

Saya melihat, 'masa depan sedang menjemput Prabowo Sandi,' sebagai Capres dan Cawapres, yang Sabtu malam akan mengikuti Debat Capres-Cawapres pamungkas yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU).

UAS dan UAH, adalah para ustadz muda usia yang melesat populer dengan basis keilmuan dan kelebihan masing-masing. UAS terkenal dengan kemampuan artikulatif yang sangat populis modes. Ceramah-ceramahnya dihadiri ribuan orang.

UAS dilebihkan Allah dalam hal kemampuan melihat keberbagaian manifestasi ubudiah dengan cara tabligh yang sederhana, namun mengena, masuk ke relung sukma ummat. Akan halnya UAH dilebih Allah dalam hal kemampuan melihat makna di balik esensi firman Allah di dalam Al Qur'an. UAS dan UAH lulus dari universitas islam terkenal, Al Azhar. UAS, kemudian mendalami ilmu hadits di Marokko.

UAH, mendalami tafsir dengan kemampuan ilmu alat (nahwu, sharaf, manthiq, dan bayan) yang sangat mumpuni. Pandangan dan sikap yang tampak dari dirinya adalah sistematika memaknai dan menangkap isyarat dari setiap ayat Al Qur'an.

UAS dan UAH dalam pandangan saya, masa depan tradisi keilmuan Islam bagi Indonesia. Sikap keduanya, juga sama-sama jelas dan tegas. Kedanya memberikan dukungan secara tersirat yang nampak sebagai suatu dukungan jernih dan terang benderang kepada Prabowo Sandi, yang diartikulasikan dengan lugas oleh Aa Gym.

Kehadiran UAS, UAH, dan Aa Gym yang sekaligus memberikan dukungan moril dengan segala pendekatan isyarah kepada Prabowo, senafas dan seirama dengan pernyataan terbuka yang sebelumnya sudah dinyatakan oleh Ustad Bachtiar Natsir, baik di Gelanggang Remaja Bulungan, Gelora Bung Karno, dan beberapa tempat lain. Sebelumnya Ustadz Ali Jaber juga menyatakan dukungannya secara videotik.

Semua satu tarikan nafas dengan apa yang sering diluahkan oleh Habib Riziq Shihab, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi'i, KH Syuqran Makmun, KH Yusuf Muhammad Martak, KH Cholil Ridwan dan lainnya.

Semuanya mengacu kepada isyarah kepemimpinan yang adil dan menempatkan dirinya sebagai energi kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia, yang secara demografis, sebagian terbesar adalah umat Islam. Jadi, bukan sesuatu yang bersifat inklusif.

Tampilnya para kyai tersebut memang tak sertamerta menjawab tudingan, bahwa Prabowo Sandi didukung oleh kaum radikal, tetapi menjelaskan, bahwa sesungguhnya yang merapat dan berada di kubu Prabowo Sandi adalah mereka yang selama ini tak pernah lari dari tugas dan tanggungjawabnya melayani umat. Sekaligus fokus pada tugas utamanya, membimbing dan mengasuh umat. Mereka, sesungguhnya yang menjadi benteng utama untuk tetap menjaga dan memelihara Pancasila dan spirit kehidupan nasionalisme religius.

Isu-isu usang tentang ideologi khilafah yang dihembuskan tak pernah henti di belakang hari, menjadi isu isapan jempol. Apalagi, di Surabaya, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantio dan Dahlan Iskan memberi bold terhadap integritas utuh spirit kebangsaan, religius, dan kerakyatan yang mewarnai konsepsi kebangsaan, sejak HOS Tjokroaminoto pada 1905 meluahkannya ke seluruh negeri, menghadirkan kesadaran kebangsaan.

Bila hendak ditarik ke masa tujuh bulan terakhir, sejak kampanye Pemilihan Umum 2019 resmi dimulai, kehadiran UAS, UAH, dan Aa Gym menjadi bagian pamungkas dari interaksi Prabowo-Sandi ke berbagai pesantren di seluruh negeri. Khasnya pesantren-pesantren dan institusi pendidikan yang menunjukkan eksistensinya selama ini sebagai sumber kader pemimpin.

Dalam konteks perjuangan ekonomi dan politik memenangkan Indonesia dalam mewujudkan cita-cita para founding fathers, perjalanan Prabowo - Sandi tujuh bulan terakhir, seolah membentang kembali, benang emas pergerakan ekonomi politik kebangsaan, sejak berdirinya Syarikat Dagang Islam (KH Samanhudi) di Lawean - Surakarta, yang kemudian menginspirasi pergerakan Nahdlatut Tujjar, kemudian Persyarikatan Muhammadiyah, Jami'iyah Nahdlatul Ulama, Al Irsyad al Islamiyah, Persatuan Islam (Persis) dan lainnya.

Dalam Kampanye Akbar di Gelora Bung Karno bahkan berkibar bendera Mathla'ul Anwar Banten. Kesemua itu memberikan sinyal, bahwa pergerakan Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh rangkaian sejarah perjalanan bangsa ini, baik dari aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Boleh jadi, Suluk Kebangsaan yang akan digelar di Jakarta dan bakal dihadiri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Ahad (14/4/19) kian menguatkan nafas nasionalisme religius yang mengaliri seluruh proses pergulatan pemikiran perumusan Pancasila dan UUD 1945. Kemudian diperkuat dengan Mosi Integral Moh Natsir yang mengenalkan kita terminologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang menemukan formatnya dalam politik pertahanan dan ketahanan negara melalui Seminar Angkatan Darat 1966.

Seluruh proses itu memberikan pelajaran amat berharga bagi mereka yang hendak menjadi negarawan untuk memahami momen berakhirnya pemikiran tentang federalisme dan integralisme, sehingga Sila Ketiga dalam Pancasila, meski secara tekstual berbunyi: Persatuan Indonesia, di dalamnya mengandung makna kesatuan. Dengan pemahaman ini, lantas kita kini mengenal prinsip penyelenggaraan pemerintahan di daerah dengan semangat otonomi yang luas, nyata, dan bertanggungjawab dalam bingkai NKRI.

Masa depan itu menghampiri Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno, untuk kiat kuah berkomitmen pada perjuangan menjaga, memelihara dan mengembangkan NKRI untuk mewujudkan Keadilan Sosial, makmur berkeadilan dan adil berkemakmuran melalui demokrasi berbasis musyawarah (demokrasi sebagai cara mewujudkan harmoni kebangsaan), dengan jiwa persatuan dan kesatuan bangsa (bhinneka tunggal ika), berbasis kemanusiaan yang beradab dalam wujud peradaban melalui reorientasi pembangunan sebagai gerakan kebudayaan (bukan semata-mata pemajuan kebudayaan), sebagai suatu negara yang baik dan dalam pemeliharaan Tuhan - sesuai dengan dimensi kedalaman sila Ketuhanan Yang Mahaesa.

Pesan yang disampaikan UAS dan UAH sangat jelas. UAS lugas menyatakan, 'jangan mengundang saya ke istana,' dan UAH lugas menyatakan, 'kunjungilah ulama.' UAS terang benderang menyatakan, 'jangan berikan saya jabatan,' dan UAH tegas menyatakan, 'lakukan kebijakan yang akan membuat bangga di hadapan Allah kelak,' karena kebijakan yang berubah amal saleh dan ibadah kongkret menebar kemanfaatan bagi rakyat seluas-luasnya akan menjadi nilai yang abadi.

Terus terang, peristiwa tiga hari berturut-turut itu menggetarkan hati. Terutama ketika ekspresi kemarahan dan kegundahan Prabowo mewakili apa yang ada dalam perasaan rakyat yang empiristik. Ekspresi 'menggebrak' podium seolah memberi isyarat, ke depan, perjuangan berat yang harus dilakukan adalah 'menghemat kata-kata, menabung kebajikan' dalam kerja nyata, memenangkan Indonesia.

Masa depan dan harapan rakyat itu menjemput Prabowo-Sandi, justru ketika Prabowo-Sandi sedang menjemput Indonesia-Menang. Benar isyarat UAH, kekalahan 2009 ketika berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri adalah peluang untuk melihat realita, dan kekalahan 2014 bersama Hatta Radjasa adalah takdir yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan Mahakuasa untuk sungguh mendalami realita.

Nasrun minallah wa fathun qariib, pertolongan datang dari Allah dan kemenangan itu sudah dekat, untuk sungguh mewujudkan takdir: Inna fatahna la ka fathan mubiina. Liyaghfira laka Allahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhara wayutimma ni'matahu 'alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan (QS Al Fath 29).. Inilah kemenangan yang nyata (yang Allah berikan), agar Allah memberi ampunan kepadamu, terhadap dosa-dosamu yang telah lalu, dan yang akan datang, serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.

Kemenangan untuk rakyat, kemenangan dari Tuhan, menjemput ikhtiar ikhlas dalam perjuangan yang beroleh dukungan rakyat, dukungan moral, bahkan material.|

Editor : Web Administrator
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1236
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 940
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 935
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Polhukam
18 Jun 19, 10:38 WIB | Dilihat : 283
Akhir Tragedi Presiden Morsi
17 Jun 19, 10:23 WIB | Dilihat : 287
Rakyat Tak Perlu Alasan Pemimpin
16 Jun 19, 12:47 WIB | Dilihat : 277
Skandal Video Seks Politisi Malaysia Terus Berulang
14 Jun 19, 10:20 WIB | Dilihat : 338
Gelinjang Ranjang Goyang Politik
Selanjutnya