Menilik Drama Politik September Malaysia (3)

Mahathir Usulkan Pemungutan Suara Mosi Tidak Percaya

| dilihat 113

Bang Sém

Drama Politik September Malaysia agaknya sedang menguji sitasi kuno jaman lampau. Paling tidak, sedang memperlihatkan, bahwa yang dikemukakan Léon Gambetta (1838-1882), mewujud nyata. "Politik adalah seni kemungkinan."

Kemungkinan itu, menurut Jaures, sejarawan hebat Revolusi Perancis, bahwa  dalam politik, angka saja yang terhormat. Inilah sebabnya, mengapa pihak ketiga mengajukan haknya sebagai sesuatu yang tak terbantahkan dan, pada gilirannya, berkata seperti Louis XIV:" Negara adalah saya."

Di tengah drama politik bulan September Malaysia, hal itulah yang sedang terjadi.

Anwar Ibrahim mengumumkan, dirinya memperoleh dukungan mayoritas dari anggota parlemen, khasnya dari Melayu dan Islam.

Dugaan yang segera mengemuka adalah, UMNO sedang memainkan siasat untuk menunjukkan dirinya paling menentukan perpolitikan di negeri itu, ketika semua petinggi partai sedang fokus bertarung memenangkan Pilihan Raya Negeri Sabah, yang berlangsung di tengah pandemi nanomonster Covid-19.

Pernyataan Presiden UMNO/BN, Zahid Hamidi, bahwa partai dan koalisinya bukan pendiri Perikatan Nasional (PN) pimpinan Muhyiddin Yassin yang kini sedang memerintah, adalah isyarat yang jelas dan terang benderang.

Apalagi Zahid mengatakan dirinya tidak bisa menghambat kemungkinan anggota parlemen dari BN/UMNO banyak yang mendukung Anwar Ibrahim.

Mahathir Mohammad pendiri Partai Pejuang, anggota parlemen dari Langkawi segera merespon lewat pernyataan tertulis, Kamis (24/09/20).

Bapak Pembangunan dan Modernisasi Malaysia yang biasa dipanggil Tun M, itu menyatakan, ketika Zahid Hamidi mengatakan bahwa dia sudah diberitahu banyak anggota parlemen UMNO yang mendukung Anwar Ibrahim, artinya Muhyiddin Yassin telah kehilangan mayoritasnya untuk terus melanjutkan jabatannya sebagai Perdana Menteri.

Politisi paling senior itu mengatakan, "Jika kita menerima pernyataan Zahid Hamidi dalam kedudukannya sebagai Presiden UMNO dan ketua BN, itu benar, maka Muhyiddin Yassin tidak bisa mengatakan dirinya masih mempunyai dukungan mayoritas sebagai Perdana Menteri."

Apalagi, ungkap Tun M, umum tahu, bahwa mayoritas yang dipunyai Muhyiddin sebelum ini "amat tipis." Karenanya yang penting sekarang ini adalah meneliti apakah Perdana Menteri masih mempunyai dukungan mayoritas untuk terus menduduki kursinya.

Akan halnya klaim Anwar Ibrahim, bahwa dirinya memperoleh dukungan mayoritas, menurut Tun M  adalah soal kedua yang masih harus dibuktikan. Untuk menyelesaikan masalah ini, Tun M meminta perhatian koleganya di parlemen untuk mengajukan pemungutan suara mosi tidak percaya.

Jika Muhyiddin Yassin, berhasil menang dan mengalahkan mosi tidak percaya, setelah itu tidak akan timbul lagi isu, bahwa dirinya tidak mendapat dukungan mayoritas anggota parlemen (Dewan Rakyat).

"Jika dia kalah, anggota Dewan Rakyat berpeluang megusulkan calon Perdana Menteri yang baru, dan sesiapa yang mendapatkan dukungan mayoritas akan membentuk pemerintahan, tanpa terlalu banyak tekanan berkaitan dengan legitimasi," ungkapnya.

Bila hal ini dapat ditempuh, menurut Tun M, Malaysia dapat menghindari perlunya menyelenggarakan pemilihan umum di saat masih bergelut dengan wabah Covid-19.

Tun M mengemukakan, apa yang dia kemukakan, sudah disampaikannya kepada Muhyiddin sejak awal. Ketika itu, menurut Tun M, dia menyatakan (kepada Muhyiddin) menolak kerjasama dengan UMNO secara en-bloc, karena bila dia menerima, dia harus menerima semua anggota parlemen UMNO, termasuk yang menghadapi puluhan kasus di mahkamah.

Apa yang dikemukakan Tun M, terbukti kini. Sejak bekas Perdana Menteri Najib Razak, anggota parlemen Pekan dari UMNO dijatuhkan hukuman oleh mahkamah, terbukti dukungan UMNO memang bersyarat.

Banyak anggota parlemen UMNO yang kecewa atas sikap Muhyiddin yang tak mencampuri urusan mahkamah atas vonis berganda tujuh kasus rasuah (korupsi) Najib.

Nazri Abdul Azis, ceteran UMNO, anggota parlemen Padang Rengas dari membenarkan beberapa pendukung partainya tidak puas dan akan menarik dukungan mereka kepada Muhyiddin. Tapi, dia berkeras agar anggota parlemen UMNO tetap dalam partai dan menunjukkan perasaan kecewa mereka dengan cara menolak Rancangan Undang Undang yang diajukan pemerintah.

Ketidak-puasan sejumlah anggota parlemen dari UMNO telah mereka sampaikan kepada Zahid Hamidi.  Kelompok yang tidak puas, itu membuat kelompok dengan sandi "Backbencher" yang selalu kerap bertemu membahas hubungan Muhyiddin dengan UMNO.

Dari lingkungan dalam UMNO terkonfirmasi, sekitar 15 anggota parlemen, termasuk yang sedang bermasalah dengan hukum, kini sedang memainkan kartu mereka. Bila Muhyiddin tidak ambil peduli, mereka akan menarik dukungan kepada Muhyiddin. Apakah akan mendukung Anwar Ibrahim? Belum tentu.

Mereka memanfaatkan Anwar Ibrahim, tentu dengan pertimbangan-pertimbangan praktis, yang mereka sangat tahu, sedang sangat 'rindu duduk di kursi Perdana Menteri.'

Fantasia politik pragmatis dan transaksional yang mereka tawarkan ternyata kena sasaran, Anwar Ibrahim segera meminta waktu untuk menghadap kepada Yang di-Pertuan Agong, lalu menggelar konferensi pers dan menyatakan dia mendapatkan dukungan mayoritas dan siap segera membentuk pemerintahan sebagai Perdana Menteri Malaysia (ke 9).

Sikap Anwar Ibrahim dipandang oleh sejumlah pemerhati, termasuk pakar konstitusi, tak elok. Pakar konstitusi Malaysia, Prof. Dr. Shamrahayu Ab Azis mengingatkan, supaya Anwar mengajukan pemilihan untuk menyampaikan mosi tidak percaya anggota parlemen di Dewan Rakyat.

Bukan Anwar yang dengan caranya sendiri menyampaikan kepada Yang di-Pertuan Agong dan kepada rakyat melalui media, karena dia bukan Perdana Menteri. De facto, sampai saat ini, Perdana Menteri Malaysia adalah Muhyiddin Yassin dan bukan Anwar Ibrahim.

Lagi, yang menentukan proses demokrasi adalah angka-angka, dan inilah realitas realitas demokrasi dengan praktik politik pragmatisme transaksional.  Dalam hal yang sedang terjadi di Malaysia transaksi, itu tentu berkisar 'dagang kasus' hukum yang sedang menimpa beberapa anggota parlemen UMNO/BN. Tak hanya Najib Razak, melainkan Zahid Hamidi sendiri.

Lagi, terbukti retorika politik adalah seni kemungkinan, muaranya adalah angka-angka dan berbagai kesepakatan di balik meja. Ini yang menyebabkan munculnya politisi katak. |

BACA JUGA : Anwar Ibrahim Konsisten Memburu Kursi PM

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 109
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 96
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 169
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 292
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Budaya
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 127
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
18 Okt 20, 19:10 WIB | Dilihat : 116
Reposisi Seni Budaya di Tengah Ketidakpastian
02 Okt 20, 22:21 WIB | Dilihat : 157
Seni Etalase Peradaban
Selanjutnya