Lima Tahun Najib Menabung Kekalahan

| dilihat 1490

Catatan Sem Haesy

BERANDA salah satu kedai makan di Sunway Putra Mall, siang itu sejuk. Hujan rinai turun. Bersama dua wartawan senior Malaysia, saya duduk di situ, sembang-sembang dan berbual ihwal politik Malaysia.

Di depan kami berdiri megah kompleks Putra World Trade Center (PWTC), termasuk hotel Seri Pasific, yang menyatu dalam satu kawasan dengan Menara UMNO (United Malays Nation Organization). UMNO adalah partai kaum Melayu yang telah berkuasa lebih tujuh dekade, sejak berdiri.

Jejantas untuk pejalan kaki membentang di hadapan kami.

Siang itu paruh kedua April 2018. Di depan kami, di pagar jejantas terbentang banner Pemuda UMNO dan Mahasiswa UMNO yang memberikan dukungan kepada Perdana Menteri – Presiden UMNO – Pengerusi Barisan Nasional (BN) Mohd Najib Tun Razak.

Di media, selalu seru dan hangat pertarungan BN dengan Pakatan Harapan yang dipimpin mantan Perdana Menteri Malaysia 4 – Tun Dr. Mahathir Mohamad, Wan Azizah Wan Ismail, Lim Kit Siang, Muhammad Sabu dan kawan-kawan. Suara nyaring  Muhyiddin Yassin (mantan Timbalan Presiden UMNO / Timbalan Perdana Menteri) – Mukhriz Mahathir (mantan Menteri Besar Kedah) dari Parti Pribumi Bersatu Malaysia, dan para pembangkang lain: Azmin Ali (Menteri Besar Selangor) dan Nurul Izzah  (Parti Keadilan Rakyat), Lim Guan Eng ( Ketua Menteri Pulau Pinang / Sekjend Democratic Action Party), mewarnai pemberitaan media, dan menjadi santapan rakyat Malaysia sehari-hari.

Khasnya, ihwal raswah – korupsi dan suap, yang paling populer ada isu tentang dana Pangeran Arab Saudi yang disimpan di dalam akun Najib dan diperuntukkan bagi aktivitas bisnis 1MdB (1Malaysia Development Berhad), yang antara lain sedang membangun satu menara di kawasan Ampang – Kuala Lumpur. (Baca : Tun Mahathir Umumkan Deklarasi Rakyat Singkirkan Najib )

Menabung Kekalahan

BN dan Pakatan Harapan saling serang, saling tuduh, saling melontar aib sesamanya. Di dalam Pakatan Harapan, selain Kit Siang – Guan Eng – Mat Sabu – dan kalangan muda yang baru terjun ke kancah politik, adalah veteran UMNO yang mempunyai pengikut fanatik. Tun Dr. M, bahkan sudah sejak 18 tahun lalu meramalkan, UMNO akan mengalami kemunduran serius dan akhirnya kalah oleh pembangkang.

Ramalan itu terbukti, dua tahun lebih cepat dari yang diramalkan Tun (2020). Dan, yang menarik adalah Tun Dr. M dan Anwar Ibrahim yang berada paling depan gerakan rakyat merobohkan kekuasaan UMNO dan BN. Sesuatu yang boleh jadi tak pernah diduga oleh Najib, yang karir politiknya -- seperti Anwar Ibrahim dan Abdullah Badawi – berkat sentuhan perkaderan Tun Dr. M.

Bila Najib kalah dan turun dari pemerintahan? Tanya seorang dari dua orang sahabat itu.

Saya katakan kepada teman-teman wartawan, itu Najib sudah lima tahun Najib menabung kekalahan. Sejak dia mengangkat Tengku Adnan menjabat setia usaha agung UMNO. Setarikan nafas, dia juga merekrut sejumlah orang yang akhirnya menjadi barisan anai-anai, yang meminjam istilah Tan Sri Rafidah Azis telah ‘merosakkan tiang-tiang rumah.’ 

Lalu, sejak dia membuka pintu di bawah green dome kepada sejumlah orang yang membuahkan macam-macam skandal, seperti: 1MdB – terkait masuknya dana RM2.6 miliar ke akun pribadinya. Kasus 1MdB, menjadi kian menarik dan menyita perhatian, ketika Menteri Keuangan II – Ahmad Husni Hanazlah (27/6/16) meletakkan jabatan. Husni menafikan keputusannya terkait dengan 1MdB, karena dia sejak Desember 2015 tak lagi berbicara soal itu. (Baca: Najib : Tindakan Mahathir dan Muhyidin Salah Besar)

Tak Mau Dengar

Husni hanya mengatakan, dia meletakkan jabatan, selepas beribadah umrah. Husni merupakan kawan baik Najib, sejak sama menjadi EXCO Pemuda – UMNO. Sebagai kawan, tentu dia tak ingin Najib mengalami persoalan, karena itu dia bersikap kritis tentang pembentukan 1MdB yang terus bergulir sebagai bola salju itu.

Kasus 1MdB tak menggoyahkan Najib. Putera Tun Razak, itu merasa tak ada yang salah dengan pembentukan korporat itu. Di kalangan khalayak, sikap Najib dianggap sebagai ‘aksi tutup telinga’ atas semua kritik, bahkan dari kalangan sahabat terdekatnya.

Najib terkesan tak mau mendengar kritik wakilnya sendiri, Muhyiddin Yassin – Timbalan Perdana Menteri, Timbalan Presiden UMNO / BN. Najib terkesan tak mau mendengar siapapun, kecuali dari ‘termites gang.’  Dalam situasi demikian, Najib kian rapat dikelilingi para Yess Man, yang hanya paham bagaimana mengalu-alukan, mengumbang Najib. (Baca: Majelis Tinggi UMNO Gantung Kedudukan Muhyiddin)

Bahkan, tak satupun yang mengingatkan Najib – termasuk adik kandungnya Nazir Razak – Chairman CIMB. Terutama, ketika Najib mengambil sikap melawan Tun Dr. M, yang masa itu masih berada di dalam UMNO. Padahal Tun Dr.M, kala itu lebih memainkan peran sebagai chatty grandpa. Kakek cerewet acap melihat ada sesuatu yang janggal. Di mata Nazir, Tun Dr. M dan Tun Razak -- ayahnya (yang juga ayah Najib) – telah berbagi tekad yang sama untuk membangun bangsa dengan kemampuan dan batas pengorbanan pribadi mereka yang terbaik.

Celakanya, para termites gang, malah beramai-ramai mencerca Tun Dr. M. Ketika Najib membiarkan sejumlah pimpinan UMNO berusaha mendongkel Mukhriz Mahathir dari jabatannya sebagai Menteri Besar Negeri Kedah, pun tak seorang pun yang mengingatkan. Akhirnya Najib memberhentikan Mukhriz dari jabatannya. Najib boleh jadi lupa, Mukhriz merupakan orang pertama yang meminta Pak Lah mundur, menyusul kekalahan UMNO/BN di lima Negeri pada PRU12, yang memberi peluang Najib naik posisi sebagai PM Malaysia. (Baca: UMNO Kedah Menggoyang Mukhriz Mahathir).

Pecat Veteran UMNO

Najib makin menunjukkan sikap ‘tak mau mendengar kritik.’ Ketika membentuk kabinet baru pemerintahannya, dia memasukkan orang-orang yang tunduk dan patuh kepadanya. Para pembangkang di parlemen Malaysia kian keras menentang dan mengeritiknya. Pun, media sosial, tak bisa dikendalikan. Pembangkang menggalang massa melakukan aksi ‘perhimpunan haram’ Bersih 4.0. Tun Dr. M, ikut ambil peran dalam aksi demonstrasi besar-besaran yang ricuh di Kuala Lumpur itu.

Belakangan, Najib memecat para senior dan veteran UMNO : Rafidah Azis, Daim Zainuddin, dan Rais Yatim (yang juga penasehat sosio budaya kerajaan). Tengku Adnan – Sekjen UMNO beralasan, ketikanya dipecat, karena dituduh menghantam UMNO dan menyokong pembangkang. (Baca: Tak Ada Permainan Gasing di Perhimpunan Agung UMNO)

Setarikan nafas, sejumlah tokoh netral dan profesional yang sungguh diperlukan sebagai pemberi second opinion, turut pula disingkirkan. Termasuk dari kalangan veteran media dan budayawan.

Untuk memelihara citranya, Najib berusaha berlaku baik dengan pers. Dia merestui peringatan Hari Wartawan Nasional (Harwana) Malaysia I, tetapi satu tarikan nafasn pemerintahannya, juga ‘mengancam’ kebebasan pers dengan undang-undang baru.

Di hadapan Najib, pada peringatan Harwana (11/4) dan dalam artikelnya di Star (16/4) Tan Sri Johan Jaaffar (JJ) – wartawan dan budayawan senior Malaysia mengingatkan : “Hubungan cinta-benci atau bahkan hubungan benci-benci antara pers dan publik dan antara pers dan elit penguasa bukanlah hal baru. Ada keluhan tentang pemberitaan yang tidak adil dan kecenderungan yang bias dalam kepemimpinan media di negara ini sejak jaman dahulu. Crescendo ketidakpuasan terhadap pers akan menembus stratosfer saat kita mendekati hari pemungutan suara PRU14.”

Menanggung Sendiri

Tan Sri JJ memberi aksentuasi, “Dunia sedang berubah. Internet adalah pengganggu media tradisional terbesar. Dunia cyber mengubah berita dan membagikan berita.” Lalu, JJ memberi kata kunci, harapan besar, mendorong pemerintah pada hari untuk memungkinkan wartawan bekerja di bawah suasana yang kondusif tanpa rasa takut dan mendukung. Ini akan membantu memastikan demokrasi yang sehat. (Baca : Melihat Pemilu Malaysia dari Kacamata Tan Sri JJ)

Tak cukup waktu bagi Najib mengubah sikapnya. Dan.., PRU 14 – 9 Mei 2018 menghadapkan dia pada realitas pahit dan teruk : Barisan Nasional (termasuk UMNO di dalamnya) dikalahkan oleh Pakatan Harapan. Rakyat Malaysia tak lagi mendukung partai dan koalisasi permanen yang sudah berkuasa 70 tahun, itu.

Najib, kini mesti menanggung deritanya sendiri. Hanya segelintir petinggi UMNO/BN yang membelanya. Selasa (22/5) mendatang, Najib harus menghadap ke kantor SPR – Suruhanjaya Pencegahan Raswah (Komisi Pemberantasan Korupsi) Malaysia.

Najib harus mengkonfirmasi keberadaan uang dan perhiasan mewah yang disita polisi di kediamannya beberapa hari terakhir. Termasuk soal dana 1MdB yang disangkakan sebagai gratifikasi – yang termasuk kategori raswah.

Tak banyak yang dilakukan Najib memaknai kekalahannya, kecuali mengunjungi ibunya, Tun Rahah dan masjid jamek Kampong Bahru, melaksanakan taraweh di awal Ramadan 1439 Hijriah yang berbeda suasananya. |

 

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 507
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 515
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 651
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1431
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
Selanjutnya
Lingkungan
25 Jun 18, 16:31 WIB | Dilihat : 1714
Perlawanan Budaya Warga Sempur Bogor
24 Jun 18, 11:58 WIB | Dilihat : 653
Kreativitas Anak Betawi dalam Toponimi Jakarta
19 Jun 18, 11:09 WIB | Dilihat : 445
Merawat Hutan Memelihara Peradaban
Selanjutnya