Hikmah Idul Fitri 1440 Hijriah

Langkah Ringan Sultan Ibrahim Kesampingkan Konflik

| dilihat 469

Catatan Bang Sém

SULTAN Johor, Sultan Ibrahim Ibni Almarhum Sultan Iskandar, selepas menunaikan salat ied merayakan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1440H (Rabu, 5/6/19) di istana Bukit Serene, Johor Bahru.

Sultan melaksanakan salat ied di Masjid Sultan Abu Bakar, Johor Bahru bersama 3 ribu umat Islam lainnya. Sultan diiringi Tuanku Mahkota Johor (TMJ), Tunku Ismail Ibni Sultan Ibrahim dan anak-anaknya yang lain, termasuk menantunya, Dato’ Dennis Muhammad Abdullah.

Mereka khusyuk dalam salat yang diimami oleh Imam Besar Negeri Johor, Makhadzir Abdan. Lantas, seperti biasa menerima ucapan selamat dari jama'ah.

Di Istananya, selain menerima ucapan selamat dari seluruh kerabat dan kaki tangan Kesultanan Johor, juga menerima kunjungan dari wakil Pemerintah Singapura, laiknya kunjungan tradisi sejak berbilang tahun.

Pemerintah Singapura mengutus Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan Heng Swee Keat dan Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan. Kehadiran kedua menteri itu, menunjukkan hubungan hangat antara Singapura dan Johor, yang bertetangga dekat dan dihubungkan dengan dua jembatan.

Sultan dan keluarganya yang dikenal sangat dekat rakyat Johor dan kerap mengunjungi bazar Ramadan di berbagai tempat dan kampung, serta melakukan iftar di berbagai masjid di Negeri Johor, itu merayakan Idul Fitri dalam kesederhanaan menurut ukuran adat kebiasaan Kesultanan.

Setelah itu Sultan melangkah ringan, menghadiri momen 'Rumah Terbuka' yang digelar oleh Setia Usaha Kerajaan Negeri ( di Indonesia, Sekretaris Daerah). Setelah itu, Sultan Johor berkunjung ke Kediaman Resmi Menteri Besar (Gubernur) Kerajaan Negeri Johor. Dato' Dr. Sharuddin Jamal, di Saujana untuk hal yang sama.

Kunjungan selama 30 menit itu sangat berkesan bagi rakyat Johor di tengah suam-suam friksi antara pemerintah koalisi Pakatan Harapan pimpinan Tun Dr. Mahathir Mohammad dengan Kesultanan Johor (Sultan dan TMJ).

Biasanya Menteri Besar dan Setia Usaha kerajaan yang datang menghadap Sultan di istananya. Kali ini, justru Sultan yang kerap terlihat bersama rakyat di surau dan kampung, itu yang datang berkunjung lebih awal.

Kesultanan Johor sendiri, menghelat momen Rumah Terbuka Hari Raya Idul Fithri 1440 H, di istananya, pada Kamis (6/6/19).

Beberapa teman pensyarah di Universiti Teknologi Mara (UTM) Johor berspekulasi, Sultan mengambil inisiatif melakukan kunjungan untuk menyejukkan hati rakyat, yang belakangan hari menyaksikan 'perseteruan' antara dirinya dan TMJ dengan Tun Dr.M selaku pemerintah.

Sultan Johor dan keluarganya berpegang pada hadits nabi Muhammad SAW, "insan terbaik adalah yang makin tinggi pangkat dan derajatnya makin rendah hatinya."  Karena sebaik-baik insan adalah yang paling ta'at kepada Allah SWT.

Akhlak mulia yang diekspresikan dengan sikap rendah hati, tak menghilangkan ketegasan sikap dan integritas diri. Dalam konteks demokrasi, selalu ada yang bisa dimusyawarahkan dan dimufakatkan, ada pula yang tidak, terpelihara sebagai perbedaan sikap.

Sejak Maret 2019, terjadi 'war of words' antara Tun Dr.M dengan TMJ dan kemudian Sultan. Rakyat Johor menyebut sebagai pertengkaran baru antara pemerintah Malaysia dengan Kesultanan, dan hanya terjadi ketika Dr.M memangku amanah sebagai PM.

Perseteruan antara Dr.M dengan Kesultanan Johor pernah terjadi pada dekade 1990-an, ketika pemerintahan Dr.M menghapus kekebalan penguasa Melayu setelah episode serangan oleh Kesultanan Johor.

Pada Maret 2019, Dr.M mengeluarkan pernyataan yang dipublikasikan media, seputar campur tangan Kesultanan dalam urusan politik praktis, seperti persetujuan Kesultanan Negeri atas Menteri Besar yang diangkat Perdana Menteri. Meskipun tak persis sama, agaknya Dr.M teringat kasus Idris Jusoh yang ditolak Sultan Terengganu, Tuanku Mizan Zainal Abidin untuk memangku amanah sebagai Menteri Besar, meski Idris Jusoh diangkat oleh PM Muhammad Najib.

Dr.M hendak merativikasi Statuta Roma dalam konteks praktik monarki konstitusional yang dalam banyak hal membatasi kewenangan Sultan, termasuk dalam hal pengadilan jenayah (International Crime Court). Tapi, belakangan Dr.M mengatakan, "Tampaknya ada banyak kebingungan tentang Statuta Roma, jadi kami tidak akan menyetujui."

Alasan Dr.M? Bukan karena pemerintahannya menentang statuta terswebut, melainkan karena kebingungan politik tentang dampak yang ditimbulkan Statuta Roma, yang disebabkan oleh orang-orang dengan kepentingan pribadi.

Pernyataan Dr.M spontan disambar TMJ, Tunku Ismail lewat akun tweeter-nya yang menyatakan, pemerintah (Pakatan Harapan pimpinan Dr.M) telah gagal berkonsultasi dengan Conference of Rulers ketika menyetujui Statuta Roma. RMJ menegaskan, keputusan pemerintah, melemahkan posisi penguasa.

Sultan Ibrahim pun menuduh pemerintah Malaysia melanggar Konstitusi Federal dengan menandatangani Statuta Roma. Dr.M menanggapi, dan menyatakan, hanya ketentuan yang baik yang akan diterima dari perjanjian internasional seperti Statuta Roma.

Awal April, Dr.M kembali menyatakan, Tunku Ismail tidak berada di atas hukum. Dr. M menyatakan pula, pangeran bebas mengkritik pemerintah Pakatan Harapan selama tidak melanggar hukum. "Jika ada pernyataan yang dianggap menghasut, kami akan menindaknya. Dia tidak di atas hukum," ungkap Dr.M.

Tunku Ismail merespon Dr.M, dan mengatakan dirinya siap menghadapi tindakan kriminal jika dia memang membuat pernyataan hasutan. "Sila (tolong lakukan). Jika saya harus turun untuk menegakkan Konstitusi, penguasa Melayu dan Islam. Dengan segala cara. Anda tahu di mana menemukan saya," ungkap TMJ dalam kicauannya.

TMJ juga menyatakan, "Seperti warga negara biasa, saya punya hak untuk bertanya dan memberikan pendapat. Selesaikan apa yang kamu mulai."

Di hari yang sama, Dr M juga mengatakan, Datuk Osman Sapian telah mengajukan pengunduran dirinya sebagai Menteri Besar Johor pada 8 April. Dr. M menegaskan, peran mengangkat Menteri Besar Johor yang baru terletak pada partai yang memenangkan pemilihan, bukan dengan Sultan Johor.

Tegas Dr. M menyatakan, "Ini keputusan politik," ketika didesak  media, apakah Sultan Johor yang akan menunjuk Menteri Besar, yang mengepalai pemerintahan negara bagian.

Pada hari yang sama, Sultan Ibrahim mengatakan di beberapa tempat, dia ingin menghentikan keributan dan bertengkar tentang politik dan fokus pada upaya menjaga bangsa." Lewat akun facebook-nya, Sultan menyatakan, "Pada hal-hal mengenai Johor, jangan mencoba mencampuri urusan negara, karena ini adalah negara berdaulat yang masih memiliki seorang Sultan. Saya akan membuat keputusan terbaik untuk rakyat ketika saatnya tiba."

Dr M menanggapi pernyataan Sultan, itu dengan mengécé gagasan ihwal kedaulatan negara. "Saya percaya Johor adalah bagian dari negara ini, kecuali bila merupakan negara asing. Saya tidak ikut campur dalam urusan internal negara-negara asing."

Sultan Ibrahim menepis, dan mengatakan bahwa pemerintah federal harus berhenti "membuang-buang waktu" berbicara tentang siapa yang memiliki wewenang atas Johor.

Selepas melantik dan mengambil sumpah Menteri Besar Johor yang baru, Dato' Sultan menyatakan, "Saya ingin menyarankan pemerintah berhenti membuang-buang waktu dengan berbicara terlalu banyak tentang hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan membuat cerita, hanya untuk menarik perhatian atau membingungkan rakyat."

Sultan mengajak semua kalangan fokus membantu kesejahteraan rakyat dan meningkatkan pembangunan ekonomi negara. "Pemerintah Johor telah lama didirikan, di mana ia memiliki budaya dan cara mengelola sendiri. Mereka yang berada di luar tidak harus mulai berbicara tentang siapa yang memiliki kekuatan dan bagaimana mengatur negara."

Proses pelantikan Menteri Besar Johor (ke 17) yang baru berlangsung tenteram. Tetapi, beberapa hari kemudian setelah  Menteri Besar mengumumkan 'kabinet'-nya, sejumlah petinggi Parti Pribumi Bersatu Malaysia mengatakan, Dr M merasa tersinggung.

Dr.M kembali 'teriak,' lewat sebuah posting di blog-nya, mengingatkan publik bahwa pemerintahlah yang menentukan siapa Menteri Besar, bukan raja konstitusional. Dr.M mengkilas peristiwa yang mengarah pada adopsi Konstitusi Federal Malaysia, dimana disepakati bahwa Malaya - dan kemudian Malaysia - akan menjadi negara demokrasi, rakyat akan memilih pemerintahnya.

Tunku Ismail menanggapi, dan memposting kutipan Konstitusi Federal tentang hak dan kekuasaan Penguasa di halaman facebook-nya pada hari yang sama.

Dia mengutip Pasal 71 (1) yang menyatakan, bahwa "Federasi akan menjamin hak Penguasa suatu Negara untuk berhasil dan untuk memegang, menikmati dan menggunakan hak dan hak konstitusional Penguasa Negara itu".

Sultan Ibrahim berharap, dengan penunjukan Dr. Saharuddin Jamal sebagai Menteri Besar Johor yang baru, serta anggota dewan eksekutif negara, segala kesalahpahaman atau perselisihan antara pemerintah negara bagian dan federal dapat dikesampingkan. "Saya berharap semua pihak akan memberikan kerja sama penuh mereka untuk memastikan pemerintahan berjalan dengan lancar," tulis Sultan Ibrahim di halaman facebook resminya.

Sultan menambahkan, kepemimpinan negara harus bekerja sama dan menggandakan upaya untuk membantu rakyat. "Lebih baik kita bertemu dan membahas ini dengan cara yang matang untuk kepentingan semua orang - terutama rakyat," katanya.

Tapi, Dr M tetap keras, dan berseru, hanya rakyat Malaysia yang dapat mengangkatnya sebagai Perdana Menteri. Di Beijing, dalam kunjungannya ke KTT China, Dr.M, masih sempat menyatakan,"Kita perlu mengingat masa lalu ketika seorang putra mahkota harus turun tahta dan posisi itu diberikan kepada adik laki-lakinya. Itulah putra mahkota, seorang putra mahkota dapat diubah. Hanya rakyat yang dapat mengubah perdana menteri, bukan hanya seseorang yang berpikir dia besar."

Menjawab pertanyaan ihwal pernyataan videotik Tunku Ismail, Dr.M menyatakan, "Dia mengira dia orang besar, tetapi dia hanya anak kecil. Jika dia pikir dia besar, pergi dan pilih saya."

Permaisuri Kesultanan Johor, Raja Zarith Sofiah binti Sultan Idris Shah, ibu dari Tunku Ismail, bereaksi dan membela puteranya.  Dia menyatakan, dirinya tidak tahan melihat Tunku Ismail dihujani kritik dari semua pihak setelah komentarnya bahwa ayahnya, Sultan Ibrahim, memiliki otoritas mutlak untuk memilih Menteri Besar Negara.

TMJ, Tunku Ismail menghibur ibunya. "Jangan khawatir Mama. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak peduli seberapa mungkin gelap badai, akan selalu ada sinar matahari. Aku berjanji padamu. Allah Peliharakan Sultan," katanya dalam posting di laman facebook-nya.

Dr.M, akhirnya menyatakan kepada media, "Saya tidak ingin mengomentari sultan karena jika saya mengatakan sesuatu yang tidak baik, itu tidak baik karena dia sultan. Tetapi TMJ (Tunku Ismail) ini adalah anak kecil ... Dia bodoh, karena dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jadi jangan bicara. Ketika kamu tidak tahu apa-apa, jangan bicara."

Lantas, apa kata Anwar Ibrahim, PM in waiting? Di Sandakan, pemimpin Partai Keadilan Rakyat (PKR) - partai terbesar koalisi Pakatan Harapan, itu menyatakan, "Ketegangan antara Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Pangeran Mahkota Johor Tunku Ismail Sultan Ibrahim bukan karena perseteruan pribadi."  

Dia melanjutkan, "Tun Dr Mahathir hanya berusaha untuk memastikan bahwa semangat Konstitusi Federal dipertahankan. Masalahnya bukan masalah pribadi. PM ingin memastikan semangat konstitusional diamati dan saya pikir, kita bersama dia dalam hal itu."

Hassan Karim, Ketua PKR Johor, juga menyerukan 'gencatan senjata' antara Dr M versus putra mahkota. Hassan mendesak keduanya memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mengakhiri pertengkaran publik mereka. Dan.. Sultan Ibrahim dengan langkah ringan menempuh cara terbaik, memanfaatkan momen Hari Raya Idul Fitri, menunjukkan jiwa besarnya.

Pemimpin yang merakyat dan dicintai rakyat Johor, itu memilih jalan mengutamakan rakyat, mengesampingkan konflik.|

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber, foto-foto Royal Pers Office, KNJohor
 
Budaya
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 540
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 373
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
21 Agt 19, 15:14 WIB | Dilihat : 489
Tilik Literasi Betawi
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 616
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
Selanjutnya
Polhukam
13 Sep 19, 10:20 WIB | Dilihat : 208
Menghantar Bapak Demokrasi, Mengenang SU MPR 1999
10 Sep 19, 10:36 WIB | Dilihat : 308
Transformasi Jakarta Tidak Terbendung
07 Sep 19, 21:04 WIB | Dilihat : 242
Jakarta Jantung Ekonomi dan Budaya
Selanjutnya