Langkah Anies Sudah Tepat dan Berprestasi

| dilihat 502

Bang Sèm

Dua tahun sudah Anies Baswedan memangku amanah. Karena kekhususan Jakarta, kepadanya disandangkan sebutan Gubernur, dan pasti berbeda dengan para gubernur lain di seluruh Indonesia.

Anies adalah gubernur yang melayani masyarakat urban, yang terus bergerak sebagai kaum metropolis.

Banyak hal sudah dilakukan Anies. Satu persatu janji kampanye ditunaikan. Tentu, baru akan terlihat seberapa besar janji kampanye ditunaikan adalah ketika kelak ia mengakhiri amanahnya.

Tidak mudah memang. Terutama, karena perjuangan terberat seorang pemimpin adalah mewujudkan kata-kata yang yang telah menjelma menjadi janji politik.

Hanya kalangan yang cerdas, visioner, dan berkomitmen kuat memajukan Jakarta dan membahagiakan warganya, yang akan bersetuju dan menuntut Anies memenuhi janjinya. Apalagi, janji yang terkait dengan upaya mewujudkan keadilan sosial.

Kalangan ini juga yang bersetuju dengan sikap kepemimpinan Anies yang bergerak ke arah populis modes secara proporsional.

Selebihnya, yang masih berkutat dengan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri, tentu tak akan bersetuju dengan berbagai kebijakan yang ditempuh Anies. Termasuk penataan sarana prasarana dan infrastruktur kota yang mengacu pada lingkungan sehat, lingkungan cerdas, dan lingkungan mampu secara ekonomi.

Bagi saya, keberhasilan Anies sebagai pemimpin Jakarta adalah seberapa konsisten dia mewujudkan (melunasi) janjinya, termasuk mengubah pola komunikasi pemimpin dengan rakyatnya.

Tentu, Anies mesti menularkan kepiawaiannya berkomunikasi dengan rakyat kepada aparatus Pemerintah Provinsi Jakarta, mulai dari Sekretaris Daerah sampai ke Lurah. Karena dengan cara demikian, akan semakin kuat terjalin komunikasi yang lebih karib antara pemimpin dengan rakyatnya.

Komunikasi sedemikian menjadi sangat penting bagi Jakarta, terutama ketika kinerja Gubernur dan Pemerintah Provinsi tidak beroleh ruang yang memadai di media arus utama.

Selain itu, komunikasi demikian diperlukan, untuk membangun kesadaran kolektif warga atau rakyat Jakarta secara nyata dan wajar melawan beragam kecenderungan mengepung Anies dengan beragam rekayasa opini, yang tak kan pernah berhenti berusaha menebar opini negatif.

Dalam konteks ini, Anies perlu mewanti-wanti tim-nya, terutama yang berhubungan dan bertanggungjawab langsung dengan proses komunikasi sosial untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas layanannya.

Mereka perlu terus menerus dan tanpa henti mengabarkan, sekaligus memproduksi informasi benar tentang berbagai kebijakan yang ditempuh Gubernur. Termasuk mengabarkan perubahan baik yang terjadi di Jakarta.

Bukan hanya prinsip-prinsip good governance yang harus mereka lakoni. Jauh dari itu adalah, bagaimana memelihara dengan sebaik-baiknya partisipasi aktif dan kritis masyarakat terhadap kinerja Gubernur dan Pemerintah Provinsi.

Memasuki tahun ketiga pemerintahannya, Anies bersama seluruh aparatur  Pemerintah Provinsi  Jakarta, perlu melakukan evaluasi kritis kinerjanya. Tentu, Anies dan aparatur Pemerintah Provinsi Jakarta, perlu mengabarkan kepada masyarakat - warga Jakarta, apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan beberapa janji yang belum terpenuhi di dua tahun masa pemerintahannya. Juga, apa saja prioritas program dan pencapaian yang akan diwujudkan pada tahun ketiga.

Salah satu prioritas yang perlu dikabarkan kepada masyarakat - warga Jakarta, antara lain proses reformasi birokrasi. Termasuk perencanaan transformasi berbasis kompetensi, integritas, dan kredibilitas aparatus.

Saya percaya dengan kemampuan Anies memimpin, termasuk dalam mengelola manajemen pemerintahan. Tapi, sebagai manusia, Anies tentu punya keterbatasan-keterbatasan. Apalagi, sampai saat ini, belum juga pasti siapa yang akan menjadi pendampingnya sebagai Wakil Gubernur Jakarta.

Pemilihan Wakil Gubernur Jakarta sangat bergantung kepada proses politik yang menjadi wilayah para politisi. Kendati begitu, Anies perlu diberi peluang untuk menentukan kriterium pendampingnya.

Selama dua tahun kepemimpinannya, mestinya partai-partai yang punya hak menyeleksi figur Wakil Gubernur, sudah punya gambaran umum, figur dengan kualitas integritas dan kompetensi bagaimana yang mesti dipilih. Apalagi, di penghujung kepemimpinannya kelak, Anies mesti mempersiapkan secara matang arah baru Jakarta, setelah ibukota pindah ke Kalimantan Timur.

Banyak pilihan model pengembangan Jakarta ke depan yang bisa dipilih sejak sekarang. Sejumlah bekas ibukota di berbagai belahan dunia, dapat dijadikan benchmarks.

Sebut saja sebagai misal, Amsterdam dengan pencapaian indeks kebahagiaan warganya yang menonjol; Melbourne yang kini memusatkan perhatian sebagai kota utama pendidikan bagi generasi millenium, setelah mampu menjadi sentra industri keuangan; New York yang menjadi ibukota industri keuangan dunia, dan lainnya. Apalagi, Jakarta masih akan terus memainkan peran sebagai ibukota ASEAN.

Selama dua tahun memimpin Jakarta, Anies sudah mengubah wajah Jakarta dengan berbagai kemajuan akseleratif, tetapi tetap terkoneksi dengan fase-fase perubahan yang pernah dilakukan para gubernur sebelumnya.

Anies sudah memulai langkah strategi menempatkan pembangunan sebagai gerakan kebudayaan yang bermuara pada transformasi peradaban baru, khasnya peradaban metropolis yang religius, manusiawi, berdimensi 'unity and diversity,' demokratis dengan pendekatan konsultatif - musyawarah, dengan menempatkan perjuangan keadilan sebagai tema sentral.

Langkah Anies sudah tepat dan berprestasi. Tak boleh berhenti di tengah jalan. |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 145
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 618
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 159
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 987
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1016
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 989
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 576
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya