Kritik Oposisi dan Rakyat itu Perlu

| dilihat 2392

Sem Haesy

KRITIK adalah keniscayaan. Tak ada penguasa yang tak menjadi sasaran kritik dari lawan politik atau rakyatnya.

Dalam suatu masyarakat, negara, dan bangsa, akan selalu ada kalangan yang menentang seluruh kebijakan dan praktik penyelenggaraan pemerintahan. Bukan hanya karena perbedaan sikap dan pandangan dalam mengelola manajemen pemerintahan. Lebih dari itu, karena tak ada penguasa – penyelenggara pemerintahan – yang mampu memuaskan semua kalangan.

Dalam menyikapi kritik – sekeras atau sesubyektif apapun – hal pertama yang harus dikuasai adalah bersikap wajar, berjelas-jelas – transparan, tunjukkan secara nyata, bahwa apapun yang dilakukan berdimensi tanggungjawab. Tentu, akuntabel.

Penguasa tak perlu menggunakan organ ekstra apapun untuk menanggapi kritik, karena hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan, seluruh organ pemerintahan berjalan sesuai dengan fungsi dan kapasitasnya masing-masing. Menambah organ ekstra, semisal kelompok relawan yang melakukan aksi cyber trooper, justru akan membuat pemerintah kewalahan. Apalagi, aksi organ ekstra, cenderung tak terkendali.

Hal pertama yang harus dipahami oleh penguasa dalam menyikapi kritik dari oposisi atau rakyat kebanyakan, adalah mengenali dan mendalami, taktik dan strategi lawan politik atau rakyat kebanyakan dalam melakukan kritik.  Apalagi di dalam kritik, sepedas apapun, selalu ada manfaat yang bisa dipetik. Khasnya untuk melakukan koreksi atas penyelenggaraan pemerintahan.

Respon yang paling efektif dan efisien dalam menghadapi kritik – dengan kesadaran, bahwa demokrasi selalu memberi ruang partisipasi kritis rakyat – adalah menjelaskan dengan seksama esensi persoalan yang dikiritik. Tidak perlu ngelés, apalagi ‘lempar kambing.’  Menyalahkan pihak lain, terutama penguasa sebelumnya.

Hadapi kritik dengan cara dan bukan dengan alasan. Karena hanya dengan cara yang tepat, semua isu kritis yang berkembang, akan terjawab dengan sendirinya. Sebaliknya, ketika kritik dijawab dengan beragam alasan, justru akan menimbulkan serangan berkelanjutan.

Di banyak negara, seringkali kalangan penguasa atau penyelenggara pemerintahan gagal menyikapi kritik, lantaran lebih senang mendahulukan alasan katimbang cara. Semakin kerap alasan dikemukakan – apalagi untuk menegaskan, bahwa penguasa seolah-olah telah bekerja sempurna – semakin besar arus kritik dan penolakan rakyat terhadap kerja pemerintah.

Sejarah perkembangan Indonesia menunjukkan, ketika kritik lawan politik dan rakyat dibungkam, kian repot pemerintah mengatasi persoalan. Berbagai alasan yang dikemukakan untuk menangkapi kritik, plus tindakan represif untuk membungkam kritik, justru menjadi kerja sia-sia: menabung masalah.

Dalam imagineering politik, kritik oposisi dan rakyat ditempatkan sebagai cermin untuk melihat kondisi obyektif penyelenggaraan pemerintahan. Kritik, seperti apapun kualifikasinya, dapat menjadi isyarat untuk melakukan evaluasi kebijakan. Sekaligus membuka ruang partisipasi dalam merumuskan policy design. Khasnya dalam mewujudkan janji-janji politik. Karena setiap janji politik, merupakan lubang besar yang akan selalu dimanfaatkan oposisi dan rakyat untuk mengkritisi penguasa.

Lemon Oposisi, Limun Penguasa

DALAM banyak hal, kelemahan penguasa adalah tidak mempunyai kecakapan untuk memahami oposisi. Karenanya, seringkali penguasa keliru dalam memahami strategi oposisi dalam keseluruhan aksi mengkritisi penguasa atau pemerintah.

Kekeliruan itu antara lain disebabkan oleh beberapa hal asasi. Yaitu: Merasa diri kuat dan selalu benar; Merasa serba salah (seolah-olah semua kebijakan pemerintah selalu salah); Inkonsisten terhadap agenda utama (prioritas) sesuai dengan janji politik; Abai menempatkan oposisi sebagai mitra kritis yang keberadaannya harus ada; dan Bertahan dengan kebijakan berbasis pembenaran.

Dalam hal merasa diri kuat dan selalu benar, menyebabkan penguasa alpa pada prinsip check and balance. Semakin kuat oposisi, semakin terjamin berlakunya check and balance. Hal ini akan memberi manfaat besar dalam penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis. Paling tidak untuk memastikan seluruh instrumen pemerintahan berjalan dengan baik, fungsional dan proporsional. Terutama dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan rakyat.

Ada pameo : “Jika pengetahuan adalah kekuatan, ketidaktahuan adalah kelemahan.” Pengetahuan penguasa atas seluruh konteks penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan rakyat, akan menjadi kekuatan besar untuk menyelenggarakan seluruh agenda – rencana kerja. Dalam konteks ini, oposisi dan kritik rakyat yang menjadi penting maknanya.

Pemberian porsi atas ruang kritik bagi oposisi atau lawan politik dan sikap kritis rakyat, akan selalu menyadarkan penguasa untuk selalu berada dalam realitas yang sebenarnya. Dengan cara demikian, penguasa akan memahami keyakinan, latar belakang, dan posisi oposisi atau lawan politik yang sebenarnya.

Dengan cara ini juga, penguasa akan selalu memperkuat posisinya sesuai dengan realita dan bisa lebih kuat merespon serangan kritik. Termasuk, memahami dengan sesungguhnya, apa yang dikehendaki oposan dan rakyat  secara keseluruhan.

Dalam kaitan ini, berlaku rumus, “Ketika oposisi memberi lemon, penguasa dapat mengambilnya untuk membuat limun.”

Hal ini akan berhubungan langsung dengan kemampuan dan kemauan mengubah setiap hal negatif yang dilakukan penguasa, menjadi aksi dan kinerja positif.

Pemerintahan yang baik, selalu mengaktifkan unit-kerjanya untuk menyerap berjuta-juta kritik yang dilontarkan oposisi dan setiap saat menghadapkannya dengan agenda kerja yang sudah dirancang dan ditetapkan. Dalam konteks inilah, pepatah “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,” dipahami. Bukan malah bersikap, “Anjing menggonggong kafilah melepaskan anjing yang lain untuk balik menyalak.”

Setarikan nafas, penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintah sebagai pemegang central command, berkomitmen memperkuat oposisi dan memberikan saluran yang benar untuk kritik rakyat. Antara lain dengan menyiapkan berbagai ruang katarsis, baik dalam makna harafiah maupun simbolis. Khasnya untuk memahami lebih mendasar tentang hakikat riil, bahwa kritik itu perlu.

Karenanya kemerdekaan pers (bukan semata-mata kebebasan) menjadi penting dan relevan. Termasuk memfungsikan dengan sebaik-baiknya pers sebagai pilar keempat demokrasi. Antara lain melalui pemberian jaminan, untuk menjamin kemerdekaan pers, dan tidak menjadikan pers (khasnya media mainstream) menjadi pembenar aksi pemerintah.

Kritik oposan dan rakyat itu penting. Karena kritik yang mereka lontarkan, sesungguhnya merupakan peluang bagi penguasa untuk memenangkan simpati dan rasa hormat, yang kelak bermuara pada terhimpunnya loyalitas rakyat secara lebih luas.

Menghadapi oposisi dan rakyat yang kritis tidak perlu berfantasi tentang pertempuran – seolah – David and Goliath. Fantasi friksional semacam ini akan melemahkan posisi penguasa, apalagi ketika berlaku clientelisma secara berlebihan.

Untuk itu, jangan bergantung hanya pada pendekatan yang sama (misalnya: pencitraan untuk memperoleh simpati rakyat) dalam kurun waktu yang lama, karena kemajuan teknologi informasi, akan menghadirkan jejak digital yang implikasinya menggerus simpati dan kepercayaan rakyat. Jangan bersikap reaksioner dan cengeng dengan mengerahkan kaki tangan untuk menyalak dan melakukan serangan kepada oposan.

Bersikaplah lebih kreatif menyikapi kritik. Perkuat dengan kemampuan nalar, naluri, perasaan, dan dria dalam satu irama yang harmonis. Berikan apresiasi kepada staf yang kritis dan bisa merepresentasikan suara oposan dan suara kritis rakyat. Dengan begitu, penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan dapat terhindar dari stagnansi.

Selebihnya, jangan hanyut dengan pembenaran, karena yang harus dipegang kuat-kuat adalah kebenaran. Dalam konteks itu, pilih staf yang selalu berhubungan dengan media, orang-orang yang tepat dan punya kapasitas. Tidak untuk membela diri atas serangan kritik, melainkan menjelaskan persoalan yang menjadi fokus kritik.

Setarikan nafas, perkuat lingkaran pertama dengan sejumlah staf yang mampu memainkan peran sebagai telangkai (lobbiest) yang piawai mengelola aspirasi menjadi inspirasi. Boleh belajar kepada Jimmy Carter, Clinton, dan Obama dalam mengelola kritik oposan dan rakyat.. |

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto: washington post dan axio
 
Sainstek
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1035
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 1918
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 641
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 597
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
Selanjutnya
Budaya
18 Okt 18, 13:42 WIB | Dilihat : 189
Majelis Adat Bamus Betawi Mesti Kembangkan Kebudayaan
06 Okt 18, 10:24 WIB | Dilihat : 536
ISBI Bandung Garda Depan Transformasi Budaya
15 Sep 18, 01:15 WIB | Dilihat : 301
Di Tengah Pusaran Zaman Fitan
13 Sep 18, 13:36 WIB | Dilihat : 296
Isfahan - Shiraz dan Suara Hati Penyair Fatemeh Shams
Selanjutnya