MALAYSIA

Kontroversi Mundurnya Menteri Pendidikan Malaysia

| dilihat 355

KUALA LUMPUR. Dr. Mazlee Malik, Menteri Pendidikan Malaysia mundur dari jabatannya. Langkah mundur yang dilakukannya, merespon surat Perdana Menteri Malaysia, Tun dr. Mahathir Mohammad.

Politisi Partai Bersatu Malaysia yang didirikan Tun dr. Mahathir dan anggota parlemen dari daerah pemilihan Simpang Regam, itu dinilai melakukan 'perlawanan' atas keputusan rapat kabinet pemerintahan koalisasi Pakatan Harapan (PH) yang didominasi para menteri dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Dato' Seri Anwar Ibrahim.

Mazlee, yang sebelumnya pensyarah (dosen) di Universiti Islam Antarabangsa, itu selama ini, dalam berbagai acara resmi selalu duduk di formasi tengah, paling dengan posisi duduk Perdana Menteri dan Wakil Perdana Menteri.

Lewat suratnya kepada Tun dr. Mahathir, Kamis (2/1/20) dia menyatakan mundur sebagai Menteri Pendidikan Malaysia, sesuai kehendak kabinet. Dia resmi meletakkan jabatan mulai Jum'at (3/1/20).

Dia memilih sikapnya untuk berteguh mempertahankan pengajaran huruf pegon Jawi (Arab Melayu) di seluruh lembaga pendidikan se Malaysia, termasuk sekolah-sekolah khusus untuk kaum Cina dan India.  Sikap itu bertolak dari prinsipnya tentang pendidikan untuk semua.

Sikap Mazlee yang konsisten mempertahankan pengajaran huruf pegon Jawi, ditentang para pengelola lembaga pendidikan Cina dan memperoleh dukungan dari sejumlah anggota parlemen dari PKR dan DAP (Democratic Action Party) yang didirikan oleh Lim Kit Siang, dan kini dipimpin Lim Guan Eng - Menteri Keuangan Malaysia.

Pilihan mundur dari jabatan Mazlee tak terelakkan, menyusul surat dari Perdana Menteri Tun dr. Mahathir, 27 Desember 2019, seperti dikabarkan Malaysian Insight.

Portal berita ini mengabarkan, surat itu meminta Mazlee mundur karena beberapa masalah terkait kebijakan Mazlee sebagai Menteri Pendidikan, yaitu : tidak mengikuti saran tentang masalah Jawi (desakan kaum Cina yang menimbulkan isu perkauman), internet gratis untuk sekolah-sekolah, serta program sarapan gratis untuk siswa.

Selama beberapa bulan sepanjang tahun 2019, kebijakan Mazlee tentang pemberlakukan huruf Jawi untuk seluruh sekolah di Malaysia, telah menyebabkan berkembangnya aksi permusuhan dari kaum Cina di Malaysia yang rasis.

Belakangan, bahkan menimbulkan isu-isu yang menekan bangsa Melayu untuk menutup sekolah lokal.

Mazlee yang diangkat sebagai Menteri Pendidikan pada 10 Mei 2018, itu tak goyah dengan sikapnya. Namun demikian, di sisi lain, ia juga dikenal sebagai tokoh kontroversial bagi kaum Melayu, karena sejak menjadi pensyarah, kerap menyerang kebijakan pemerintahan Barisan Nasional yang didominasi oleh politisi UMNO (Uni Malaysian Nation Organization) yang memerintah Malaysia selama 63 tahun.

Belakangan mengemuka isu, Mazlee korban rasisme di lingkungan PH.

Wartawan Negara Malaysia, Tan Sri Johan Jaaffar (JJ), menyatakan, Mazlee bukan sosok yang sempurna. Namun, dia korban dari sistem yang sejak awal menjanjikan kegagalan

Dalam kolomnya di portal berita berbahasa Inggris, The Star Online (Senin, 6/01/20) JJ bercerita, bagaimana pandangan dan sikap Mazlee, ketika pertama kali diundangnya dalam talk show Bicara Minda untuk TV online, Sinar Harian (19/07/18), dua bulan setelah diangkat menjabat Menteri Pendidikan Malaysia.

Menurut JJ, hanya dua kali, ruangan tempat merekam acaranya (Aula Karangkraf), itu dikunjungi khalayak secara membludak. Yakni, ketika Mazlee tampil sebagai narasumber. Hampir menyamai jumlah pengunjung ketika Tun dr. Mahathir tampil  di acara yang sama.

Dalam wawancara yang disiarkan langsung selama satu jam, itu Mazlee melontarkan isu yang tak biasa bagi rakyat Malaysia dalam memandang apa yang ada dalam pikiran seorang menteri atau petinggi.

JJ tak bertanya prioritas Mazlee sebagai menteri, tetapi hal-hal yang menurutnya harus dilakukan secepat mungkin.

 “Saya nak murid-murid pakai kasut hitam.” (Saya ingin anak sekolah memakai sepatu hitam) ungkap Mazlee.

Aula meledak merespon, bersetuju dengan ucapan Mazlee.  Ucapan itu, menurut JJ, mencerminkan pandangan kritis Mazlee tentang ketidak-adilan yang selama ini berlaku.

"Kasut hitam" menjadi label yang terkait dengannya, tulis JJ. Tajuk rencana surat kabar, merespon dan menulis tentang seorang menteri yang gagal menetapkan prioritas dengan benar. Sepatu hitam, menurut mereka (media), harus menjadi hal terakhir dalam skema hal-hal yang terkait dengan pelayanan.

JJ mengungkapkan, selama hampir satu jam wawancara dengan dirinya dan hadirin, Mazlee berbicara tentang hampir semua hal tentang pelayanan dan visinya untuk masa depan.

"Sedihnya, gerakan sepatu hitam itulah yang paling menarik perhatian," tulis JJ.

Kendati begitu, ungkao JJ, orang tua (di Malaysia) senang. Sepatu putih itu memberatkan. Harus dicuci dan diputihkan hampir setiap hari. Di banyak negara, sepatu hitam adalah bagian dari seragam sekolah. Sebagian besar sekolah swasta dan internasional di Malaysia mewajibkan siswanya mengenakan sepatu hitam.

Sayangnya, tulis JJ, orang tua yang bersyukur tentang aturan baru itu diam saja. Beberapa yang berisik mungkin bahkan tidak memiliki anak di sekolah nasional.

Menurut JJ, Maszlee bukan tanpa kesalahan. Ada kebijakan yang diperkenalkannya, yang mungkin tidak dipikirkan dengan baik, sehingga menciptakan kontroversi yang tidak perlu. Ada masalah yang bisa ditangani secara berbeda. Dia terlihat berusaha untuk menjadi mediator bagi kelompok-kelompok tertentu, yang menyinggung kelompok lainnya.

JJ menulis, yang benar adalah, sistem pendidikan Malaysia kini, tidak menyatukan semua kaum. "Kami mengizinkan keragaman untuk memecah belah kami dalam hal pendidikan. Anak-anak kita, tidak seperti anak-anak di kebanyakan negara lain, tidak pergi ke sekolah yang sama. Kami telah memperjuangkan penyebab kompetisi masing-masing dengan mengorbankan Malaysia yang benar-benar bersatu."

Kendati demikian, tulis JJ, Maszlee tidak memulai kebusukan dalam pendidikan, yang dimulai beberapa dekade lalu. "Kami kekurangan dinamisme untuk membawa pendidikan ke tingkat selanjutnya. Kami terhambat oleh masalah kecil berdasarkan tuntutan komunal. Kita terkungkung oleh keegoisan kita sendiri."

Selebihnya, secara aksentuatif JJ menulis, "Kami bertengkar di hampir semua hal. Maszlee, yang tidak memiliki pengaruh politik, tentu tidak dapat bertahan dari (situasi) ini. Dia memiliki terlalu banyak di piringnya dan dia memimpin salah satu kementerian yang paling tidak terkelola dalam sejarah negeri ini."

Tentang pengunduran dirinya, JJ mengungkap, "Dia berada di bagian bawah daftar persetujuan dalam banyak survei. Paku terakhir di peti mati adalah kritik Tun Daim Zainuddin baru-baru ini terhadap menteri karena tidak mendapatkan prioritasnya dengan benar."

Menurut JJ, yang juga budayawan, sastrawan dan pelakon teater, itu, mungkin Maszlee hanyalah pion dalam skema yang lebih besar dan kompleks. Mungkin ada (yang) lebih (besar) dari itu daripada apa yang terlihat. Ketika segala sesuatu berjalan ke selatan untuk pemerintahan mana pun dan ketika ketidakbahagiaan terjadi di antara penduduk, kita harus menemukan domba kurban. Maszlee adalah pilihan alami dalam kondisi seperti itu.

Ironisnya, tulis JJ, dia seharusnya menjadi bintang yang sedang naik daun di konstelasi para pemimpin muda Parti Pribumi Bersatu Malaysia, partai yang didirikan oleh Dr Mahathir.

"Kita dapat menganggap ini sebagai tampilan kegagalannya yang menyedihkan, tetapi biarkan sejarah menilai dia dengan singkat jika ada kejadian penting di kementerian," lanjut JJ.

Agar adil, menurut JJ, (harus diakui) dia telah mengguncang universitas negeri kita sampai ke inti. Dia telah mendorong budaya keunggulan dalam lebih dari satu cara. Dia tahu bagaimana universitas negeri kita dipersepsikan. Dia tidak memulainya, tetapi dia menganut gagasan keterlibatan industri dalam membantu universitas untuk mengatasi relevansi dan daya jual lulusan mereka.

Lebih penting (dari itu), meskipun kontroversial, ia melihat salah satu hal (biasa bagi banyak orang) yang penting bagi orang tua dan siswa - sepatu hitam. Tapi kemudian, kami mengharapkan mukjizat darinya, sehingga ia jatuh dari rahmat. | sémHaésy

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
20 Jan 20, 09:10 WIB | Dilihat : 121
Negara Tidak Punya Hak Menyadap Percakapan
09 Jan 20, 12:07 WIB | Dilihat : 168
Amerika Tak Mudah Prediksi Serangan Balik Iran
06 Jan 20, 09:03 WIB | Dilihat : 356
Kontroversi Mundurnya Menteri Pendidikan Malaysia
Selanjutnya
Humaniora
19 Jan 20, 12:54 WIB | Dilihat : 152
Chairul Montir Terbang dari Pinrang
15 Jan 20, 12:30 WIB | Dilihat : 223
Cinta adalah Kedalaman Nurani
13 Jan 20, 16:27 WIB | Dilihat : 261
Civitas Akademika ITB Jangan Berhenti Menebar Inovasi
12 Des 19, 14:29 WIB | Dilihat : 166
Harmoni
Selanjutnya