Kompetisi Ketat Rindu vs Duo DM di Pilkada Jabar 2018

| dilihat 2648

Catatan Bang Sem

PENGELOMPOKAN pemilih dalam Pilkada Jawa Barat (Jabar) 2018 mulai menampakkan bayangnya. Pandangan Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte, boleh dirujuk sebagai satu dari banyak cara pandang.

Vermonte melihat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra cukup keteteran di Pilkada Jabar. Artinya, Pilkada Jabar hanya akan merupakan ajang ‘perang besar’ bagi pasangan Ridwan Kamil – Uu R. Ulum (Rindu) dan Deddy Mizwar-Dedi Muliadi (Duo DM).

Bila hendak merujuk pada hasil survei Cyrus Network yang dipaparkan di Jakarta (Senin, 5/2/2018), pandangan Vermonte mendekati realitas kedua yang akan menjelma menjadi realitas pertama.

Hasil survey elektabilitas Cyrus menggambarkan, suara calon pemilih mengelompok pada pasangan Ridwan Kamil-Uu R Ulum (45,9 persen) dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (40,9 persen).

Survey dilakukan sepanjang 16-22 Januari 2018, dengan 1000 responden, yang tersebar di 27 kabupaten/kota, itu dan berbasis di wilayah kota (66 persen) dan wilayah desa (34 persen), dengan tingkat kepercayaan (significant level 95 persen – dengan margin of error sebesar 3,1 persen. Khalayak sasaran yang menjadi sample survey ini adalah lelaki : perempuan masing-masing 50:50.

Dilihat dari basis survey-nya, hasil survey Cyrus ini sangat wajar, normal, dan dapat dipercaya. Meski boleh jadi, bisa saja muncul hasil survey yang bakal berbeda, khasnya dari lembaga survey yang selama ini kerap berbeda dan dikenal sangat pro partai-partai pemenang Pemilu 2014.

Kewajaran hasil survey ini, tercermin juga dari pendapat Eko Dafid, Managing Director Cyrus, yang menyatakan adanya ironi besat dari parpol terbesar di Jabar : PDIP dan Gerindra.

Dengan basis survey dan kegemaran Rindu bermain di media sosial, sangat wajar bila elektabilitas Rindu lebih besar dari duo DM. Lain soal ketika Duo DM memainkan aksinya melakukan penetrasi hipodermis menyajikan tidak hanya popularitas dirinya, melainkan juga program-programnya yang khas.

Duo DM memang nampak belum maksimal menggunakan media sosial, kecuali ekspresi kearifan, kecerdasan, dan keikhlasan keduanya, ketika dikhianati partai-partai pendukung, dan ‘di luar kesadaran empiris’ keduanya beroleh dukungan penuh Partai Demokrat dan Partai Golkar.

Pengalaman perih pasangan Duo DM dan pengalaman setengah pedih pasangan Rindu menggerakkan arus simpati pada kedua pasang kandidat ini, sekaligus menggerus pasangan yang didukung oleh Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Berbagai alasan yang dikemukakan Presiden (dan pimpinan lain) PKS – Shohibul Iman dan Ketua Umum PAN – Zulkifli Hassan, selepas menarik dukungan mereka kepada Deddy Mizwar, serta la politique puériles (politik kekanak-kanakan) PKS yang mencuat dalam tweet war antara Hidayat Nur Wahid (anggota Majelis Syuro PKS) dengan Deddy Mizwar, melemahkan pasangan Adjat Sudradjat – Akhmad Syaikhu.

Apalagi ketika Presiden PKS dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, di awal sudah memainkan politik identitas : Nyunda, Nyantri, Nyakola, dan Nyantika (berjiwa Sunda, Santri, Sekolah, dan Beretika), yang justru menjadi boomerang bagi mereka. Sesuatu yang berbanding diametral dengan realitas pertama yang dilihat langsung masyarakat.

Belum lagi luahan idiom Sunda adalah Islam dan Islam adalah Sunda, yang diikuti dengan ‘serangan tak langsung’ dari kader senior PKS terhadap Deddy Muliadi, justru memberi nilai plus kepada pasangan Duo DM.

Akan halnya Tb Hasanuddin dan Anton Charlian yang diusung PDIP, boleh dikata terlambat masuk gelanggang. Jadi, wajar pula bila beroleh elektabilitas yang rendah. Apalagi dengan menghadirkan idiom Hasanah yang cenderung menghilangkan karakter partai pendukungnya sebagai representasi nasionalis.

Hasil survey Cyrus bagi saya, juga menunjukkan gambaran yang proporsional. Terutama, ketika menjelaskan, pasangan Rindu unggul tipis 48% berbanding 43% atas duo DM di wilayah I (Cianjur, Kokab Sukabumi, Kokab Bogor, dan Depok) dan unggul telak 61% berbanding 27% atas duo Deddy di wilayah IV (Kokab Bandung, Cimahi, Bandung, dan Bandung Barat, Sumedang, Kokab Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Pangandaran). Akan halnya Duo DM unggul di wilayah II  (Kokab Bekasi, Purwakarta, dan Subang) dengan suara 57% berbanding 25%, di wilayah III (Kokab Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) dengan perolehan 44% berbanding 37%

Secara keseluruhan, hasil Survey Cyrus  Network, menggambarkan prosentase perolehan suara, bila Pilkada Jabar dilakukan pada saat survey berlangsung, adalah: Ridwan-Uu (Rindu) 45,9%; Deddy Mizwar – Dedi Muliadi: (Duo DM) 40,9%; Adjat Sudrajat-Syaikhu (Asyik): 5%; Tb Hasanuddin-Anton (Hasanah): 2,5%; Belum memutuskan: 5,2%, dan,Tidak menjawab: 0,5%.

Bila hasil survey Cyrus ini hendak dijadikan sebagai referensi utama, maka sejak kini, Tim Pemenangan masing-masing kandidat harus betul-betul mempertimbangkan siapa yang bakal harus diturunkan ke medan kampanye. Terutama dari kalangan juru kampanye tingkat nasional.

Siapa saja boleh dan bisa diturunkan menjadi juru kampanye, khasnya para Ketua Umum masing-masing partai pengusung dan pendukung. Rindu dan Duo DM harus sangat hati-hati, karena salah mengirim juru kampanye, justru akan membuat kedua pasangan ini bermasalah.

Semua juru kampanye dan tim pemenangan yang di masa Pilkada DKI Jakarta 2016 diturunkan untuk berkampanye, bahkan jadi juru bicara, jangan diturunkan di Jawa Barat. Kedua pasangan ini akan beroleh tambahan suara, jika yang diturunkan adalah mereka yang selama ini memberikan kesejukan kepada umat Islam dan masyarakat Sunda.

Para tokoh (khasnya tokoh muda berkualitas) yang clear and clean wajib diturunkan, sebaliknya, mereka yang selama ini viral karena citra negatifnya, jangan coba-coba diturunkan.

Ketua Umum dan Sekjend seluruh partai pengusung, mesti sadar dan paham betul untuk memilih siapa dari kalangan nasional yang layak dan tidak layak, serta patut dan tidak patut, yang bakal diterjunkan.

Tidak saja karena 67 persen konstituen masih sangat mungkin berubah dan bukan pemilih loyal, sensitivitas mereka terhadap pesona persona tokoh sangat menentukan. Yang paling realistis adalah menghadirkan tokoh asal Jabar.

Kita sudah terbiasa menggunakan istilah "politis" untuk menggambarkan sebuah fakta atau fenomena yang berkaitan dengan pemenangan kontestasi Pilkada, Pemilu dan Pilpres. Tapi, kecenderungan ini hanya berkontribusi untuk mempertahankan konsepsi politik yang terbatas.

Tokoh-tokoh pendidikan tinggi andalan, tokoh-tokoh masyarakat (selebritas), dan media, mempunyai pengaruh kuat sampai ke seluruh strata. Mereka berkontribusi pada pembentukan opini, menciptakan dan menghidupkan asosiasi, dan ‘bertarung’ dengan kelompok (mesin partai) militan untuk mendominasi pencitraan.

Jadi, masing-masing Tim Pemenangan para kandidat yang berkontestasi, terutama pimpinan parpol, perlu sungguh-sungguh putar otak. Termasuk dalam meyakinkan sebagian terbesar konstituen yang tidak terjangkau oleh survey ini.. |

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
07 Agt 18, 10:55 WIB | Dilihat : 1282
Igauan Intelektualisma Pasal Lawan dan Libas
27 Jul 18, 10:57 WIB | Dilihat : 1903
Pegiat Budaya Depok Silaturrahmi Ke PCNU Kota Depok
21 Jul 18, 14:02 WIB | Dilihat : 1095
Gigi
Selanjutnya
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 1454
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 616
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1042
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya