Komisaris Vijay dan Tuan Takur dalam Cermin Demokrasi

| dilihat 78

Bang Sém

Di luar lagu dan tarian, yang saya suka dari film India adalah watak penokohannya. Salah dua tokoh yang mengemuka adalah Komisaris Vijay yang protagonis dan Tuan Takur yang antagonis.

Tuan Takur alias tuan tanah dengan segala aksesnya yang kuat dengan kekuasaan, khasnya politisi yang memainkan peran sebagai penyelenggara negara, selalu digambarkan sebagai sosok yang kekuasaannya melebihi kekuasaan penyelenggara negara.

Akan halnya komisaris Vijay, digambarkan sebagai sosok penegak hukum yang konsisten dengan fungsi utamanya sebagai pejuang keadilan dan berpihak kepada rakyat.

Bila film merupakan deskripsi realitas kedua yang berangkat dari realitas pertama, boleh dikata sistem dan praktik kekuasaan dan penyelenggaraan negara di India, cenderung semacam itu. Penguasa selalu berpihak kepada pengusaha, dan penyelenggaraan negara dilakoni secara kapitalistik. Penyelenggara negara, termasuk penegak hukum, bukan sahabat rakyat.

Secara sosiologis, dengan pendekatan clientelisma yang sangat kuat dipengaruhi oleh patron client relationship, diperkuat oleh struktur sosial berbasis kasta, hubungan rakyat dengan penguasa adalah hubungan hamba dengan tuan. Rakyat berada dalam posisi yang tak berdaya.

Film India memberikan gambaran praktik demokrasi yang friksional, rakyat selalu berhadapan dengan penguasa, dan yang membelanya, hanya sesosok hero bernama komisaris Vijay. Suatu sistem demokrasi dengan pragmatisme politik yang proses pengambilan keputusan bisa dilakukan secara transaksional, dan hanya menguntungkan kalangan yang mempunyai akses kuat dan mampu 'mengendalikan kekuasaan.'

Rakyat tentu tak berdaya. Meskipun diperjuangkan sejak abad ke 18 ketika mengemuka gagasan tentang hak asasi manusia, film India menggambarkan, sistem demokrasi yang berlaku lebih mendapatkan hak sipil sebagai hak warga negara untuk menikmati kemerdekaan dalam berbagai hal, hanya berada dalam teks ideal konstitusi. Dalam praktik pada realitas pertama kehidupan, tidaklah demikian.

Demikian pula halnya dengan hak atas kemerdekaan dan keselamatan warganegara, yang harus dijamin negara, hanya berhenti pada teks, dan berada di luar konteks. Karena dalam praktik kekuasaan sehari-hari, kemerdekaan dan keselamatan rakyat, tidak tertjamin.

Kapan saja, rakyat dapat ditangkap dan ditahan, serta mengalami derita dari perlakukan persekusi yang sewenang -wenang dari petugas negara, tanpa  melalui proses peradilan yang jujur dan tak memihak.

Hak rakyat untuk memperjuangkan ide-ide dan gagasan politiknya, akan selalu menemui jalan buntu, karena tembok kekuasaan yang sedemikian kokoh.

Hanya mereka yang menjadi bagian dari kekuasaan atau yang berpihak pada kekuasaan, beroleh hak mengeluarkan dan mempublikasi pendapat mereka. Termasuk pendapat yang mengkritisi kebijakan pemerintah. Selebihnya, tak kan mendapat hak yang sama. Terutama, karena kesetaraan dan keadilan di hadapan hukum, hanya tersimpan di dalam kitab konstitusi. Bukan dalam kehidupan nyata.

Karena cerita dalam film, yang selalu berada dalam platform kebaikan akan selalu unggul, komisaris Vijay selalu diceritakan mampu menegakkan keadilan dan kebenaran , dan Tuan Takur tak selamanya akan berada di atas angin.

Dalam film, platform semacam itu diperlukan, untuk memberi kesan positif terhadap dedikasi dan perjuangan penegak hukum - keadilan. Sekaligus memberikan deskripsi tentang praktik demokrasi secara tepat dan benar.

Sekitar 82.000 surat kabardi India, dan dibaca oleh 130 juta pembaca, selalu menggambarkan, berlangsungnya sustainable democracy -- demokrasi berkelanjutan --, setelah memerdekakan dirinya dari dekolonisasi, dan berada pada tingkat perkembangan sosial-ekonomi yang relatif rendah.

Demokrasi India sering digambarkan, sedang berproses untuk tujuan pemersatu dan egaliter dengan mengemban misi sosial lebih luas. Demokrasi sebagai cara mencapai harmoni kebangsaan dan mempersatuan rakyat yang terpisah (Hindu, Sikh dan Muslim) dalam semangat unitarian. Khasnya untuk menegaskan kembali persatuan India dan kesetaraan seluruh rakyat India.  

Konsolidasi demokrasi India saat ini melibatkan pelestarian dan penguatan persatuan India dan rasa kebangsaan yang ingin dibangun melalui konstitusi oleh para pemimpin negara. Kendati untuk hal tersebut, India harus menghadapi realitas ketidaksetaraan teritorial, pemisahan diri dan mayoritarianisme.

Pertarungan antara komisaris Vijay dengan Tuan Takur dalam adegan film, memang masih ada di beberapa negara bagian dan mengemuka di setiap jelang pemilihan umum. Tapi, dalam pandangan Jean-Luc Racine, sejak 2003, India yang berjuluk 'negara berpenduduk satu miliar,' itu telah menunjukkan ambisi baru dari negara dekolonisasi andalan, menjadi negara demokrasi terkemuka di India.  Termasuk dalam bidang ekonomi, teknologi informasi, industri manufaktur, dan pengendali nuklir.

Realitas India kini, seolah menerangkan juga ambiguitas dinamika penegasan diri. Komisaris Vijay tak lagi sendiri dan Tuan Takur tak lagi mudah berkomplot menghadapinya. Terjadi proses ekuitas dan ekualitas yang terasa dinamikanya secara domestik.

Bahkan, India tak henti meneriakkan wacana advokasi, mengecam ketidakadilan tatanan dunia, menyerukan redefinisi arsitektur dunia sehingga lebih seimbang. Demokrasi India, memang tak sepenuhnya sudah memisahkan relasi Tuan Takur dengan penguasa, warisan kritis sampai dekade awal pasca kolonial. Tetapi prinsip  lawas Lord Palmerston, "Negara tidak memiliki teman tetap. Mereka hanya memiliki kepentingan permanen," masih tetap hidup di kalangan politisinya.

Komisaris Vijay dan Tuan Takur sama melihat paradigma global dan mengubah cara India melihat dunia, sebagaimana India melihat dirinya sendiri.

Tentu, sejumlah persepsi mengemuka, bahwa dalam keadaan lebih dari satu miliar penduduk, demokrasi parlementer dengan tradisi intelektual yang kuat, pers pluralis, kelas politik besar yang terstruktur dalam banyak partai, dan galaksi organisasi non-pemerintah, India mengubah cara pandang dan berupaya mencapai reputasi internasional. |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
03 Okt 19, 22:48 WIB | Dilihat : 183
Dengan Glamping Membaca Tapak Kekuasaan Ilahi
13 Sep 19, 23:21 WIB | Dilihat : 1299
Yeo dan Siti Segeralah Bertemu, Halau Asap
13 Sep 19, 21:15 WIB | Dilihat : 1307
Asap Menyergap Udara Pengap Petinggi Bersilang Cakap
Selanjutnya
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 411
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 841
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1663
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2580
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya