Ketika Tuhan Menempa Anies

| dilihat 630

Sém Haésy

Meski nasab berpengaruh dalam konteks nasib dan nasib bisa diubah dengan do'a, banyak cara Tuhan menempa seseorang sebagai pemimpin yang sungguh pemimpinnya manusia.

Anies Rasyid Baswedan, salah seorang pemimpin di negeri ini yang sedang ditempa oleh Tuhan.

Sejak dilantik sebagai Gubernur Jakarta di Istana Merdeka - Jakarta, Senin (16/10/2017), Anies tak pernah henti dihadapkan oleh berbagai tantangan.

Mulai dari problem klasik (banjir, lalu lintas, dan sampah), problem reguler - tak semua staf di lingkungan Pemprov DKI Jakarta bisa mengikuti gerak cepatnya, problem insidental - mundurnya Sandiaga S. Uno sebagai Wakil Gubernur - karena mengikuti Pemilihan Presiden sebagai Calon Wakil Presiden 2019-2024 -, problem 'selilit' - yang dilontarkan para pengganggu dan kalangan kaum pandir - sampai problem besar kemanusiaan berskala global, serangan virus corona COVID 19 yang tengah berlangsung.

Problem besar kemanusiaan COVID 19 boleh jadi merupakaan tempaan multi dimensi yang berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan dan sungguh menguji konsistensi dan sikap konsekuennya dalam menegakkan keadilan bagi seluruh warga.

Dalam konteks budaya, meminjam pepatah Minang, Anies sedang dihadapkan oleh situasi taimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit di atas, terkurung di luar).

Analisis prediktifnya tentang virus corona yang sudah dikajinya sejak menjelang tiba Januari 2020, direspon dengan aneka canda dan senda para petinggi negeri di barisan Kabinet Kerja Jilid 2, yang kurang patut.

Bahkan, ketika virus corona sudah sungguh memakan korban, rancang kebijakan dan aksi reaksi cepat menghadang penyebaran virus tersebut, justru terhadang oleh proses 'slow motion policy,' sehingga kurva penyebaran virus dan jumlah korban, terus meningkat. Meskipun per Senin, 13 April 2020 tren penyembuhan pasien meningkat lebih baik.

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSSB) yang rada sulit diserap rakyat kebanyakan, relatif terlambat - mulai Jum'at 10 April 2020. Kendati berbagai item yang diatur dalam PSSB tersebut - pembatasan sekolah, kantor, rumah ibadat, dan peningkatan jarak sosial ke jarak personal -- sudah diberlakukan.

Akibatnya, Jakarta menjadi episenter penyebaran dan telah berhadapan dengan berbagai persoalan sosial -- yang dipicu oleh kurang merata dan serempaknya informasi --, antara lain : penolakan terhadap tenaga kesehatan berjuang di garis depan untuk kembali ke lingkungan sosialnya, sampai sikap 'berjarak' pula dengan jenazah korban yang tewas.

Anies dengan basis akademik ekonomi, kebijakan moneter, dan kebijakan ekonomi pembangunan (berbasis tatakelola pemerintahan), menghitung dengan cermat policy design atas pilihan-pilihan prioritas kebijakan, antara lain: Mendahulukan penyelamatan jiwa rakyat dengan mengutamakan perekonomian. Terutama, karena virus COVID 19 menerjang menjelang bulan Ramadan.

Dalam situasi demikian terlihat Anies, sambil berpacu dengan waktu percepatan penyebaran virus, mampu mengimplementasi dimensi kepemimpinannya sangat strategis. Melawan COVID 19 dengan COVID 19 juga. Yakni Cooperation, Optimisme, Vitality, Integrity, Dedication + penguatan intensitas spiritual. Bagi umat Islam adalah intensitas mendekatkan diri kepada Allah Penguasa Tunggal jagad raya (17 rakaat salat fardhu dan 2 rakaat salat sunat).

Anies tak hanya mengelola manajemen penanggulangan keadaan darurat yang biasa-biasa saja. Kekuatan kepemimpinannya ditampakkan dengan aksi membangun kerjasama (cooperation) dengan berbagai kalangan, dimulai dari lingkungan dalam pemerintahan sendiri. Mulai dari keputusan menyediakan Hotel BUMD milik Pemprov Jakarta untuk tempat pulang dan rehat para pejuang kemanusiaan di garis depan, konvergensi pola belanja yang digerakkan Pasar Jaya, sampai penyebaran bantuan sosial.

Lewat berbagai medium, meski terus disalak oleh kaum pandir, Anies bergerak menghidupkan semangat dan optimisme warga, dengan keyakinan, bahwa kita mampu melakukan perlawanan dan mengatasi persoalan superberat ini. Reaksi positif terlihat dengan bergeraknya berbagai kalangan masyarakat ambil bagian dalam partisipasi langsung dan nyata. Meski masih saja ada, kalangan 'selilit' yang sibuk menyerang dengan beragam cara, yang juga pandir.

Anies juga melakukan vitalitas elemen dan komponen masyarakat - terutama RT/RW untuk menjalankan fungsi sosialnya, sehingga terlihat komposisi peran yang proporsional dan fungsional. Petugas kesehatan di garis depan penanganan dan penyembuhan (curative) pasien -- termasuk pengendalian ancaman infeksi nosokomial --  dengan aneka keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD). Kendati masih harus berhadapan dengan birokrasi yang masih gemar surat menyurat dalam situasi darurat yang genting. Terutama, karena pemegang stempel pemberlakuan PSSB adalah pemerintah pusat.

Vitalisasi RT/RW menunjukkan kepekaan Anies sebagai pemimpin untuk menjaga pertahanan yang seimbang di sisi masyarakat dengan fokus pada pemutusan matarantai penyebaran virus. Langkah ini merupakan aksi penting, untuk mengatasi kesenjangan antara petugas kesehatan dengan pasien yang harus ditangani. Sekaligus memberi ruang bagi para saintis melakukan berbagai upaya melakukan aksi untuk menemukan vaksin anti COVID 19, terintegrasi dengan para saintis lain yang berkiprah di tingkat Kementerian. Meskipun terkesan, Kementerian Kesehatan belum melibatkan berbagai ilmuwan dan akademisi di sektor sosial dan humaniora untuk menemukan sistem penanggulangan masalah karena dampak penyebaran nanomonster ini.

Integritas kepemimpinan dan pemerintahan yang dipimpinnya terasa, ketika Anies menunjukkan dalam situasi darurat yang genting - negara hadir, tidak absen. Sebagai pemimpin, Anies berada di tengah rakyatnya, dan memastikan pemerintahan tetap berjalan untuk melayani rakyat. Tegas Anies menyatakan, dirinya tidak pernah takut dengan aneka serangan - bahkan cacian melalui media-sosial, dan konsisten menjaga momentum menorehkan tanggungjawab, yang kelak akan menjadi lembaran sejarah perjalanan bangsa di masa depan. Termasuk komunikasi dan pengembangan sinergi yang dilakukannya bersama para pemimpin kota yang menghadapi persoalan relatif sama sebagai episenter.

Apa yang tampak dalam kepemimpinan Anies dalam tempaan Tuhan saat ini menunjukkan dedikasi luar biasa, bahkan plus perspektif kemanusiaan yang lebih dalam. Anies mendedikasikan dirinya pada kepentingan kolektif dan adil. Bahkan dia memberikan layanan prima kepada orang yang selama ini menempatkannya sebagai musuh.

Dari sudut pandang budaya Jawa, sejak di awal masa kepemimpinannya, Anies sadar dengan situasi ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorakè - berperang tanpa dukungan (sepenuh hati) dan menang tanpa euforia dan bahkan merangkul. Kini, kita melihat realitas Anies sedang "Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan."  Menuliskan kebaikan orang lain di atas batu supaya tidak hilang dari ingatan. Menulis kebajikan sendiri di atas tanah, meski akan segera hilang dari ingatan.

Anies terlihat tenang dan mampu mengendalikan emosi walau dalam situasi jengkel dan understressed. Tak terbayangkan beban berat yang dipikulnya. Tak semua orang bisa menjalankan kepemimpinan dengan baik dalam situasi semacam ini, yang ditopang oleh sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siasah (strategi). Teguh pada keyakinan, bahwa Tuhan memenangkan manusia, seperti apapun manusia itu Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa

Terutama, kala bertempur menghadapi samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (semua yang tampak oleh mata - makhluk kasat mata, dan lainnya termasuk makhluk halus) seperti COVID 19.

Anies sudah membuktikan kiprahnya sebagai pemimpin yang taqwa, berada di depan memberi teladan (hing ngarsa sung tulada), di tengah memberikan motivasi (hing madya mangunkarsa), dan memberi dukungan dari belakang (tutwuri handayani).

Dia selalu waspada memonitor dan sanggup memberi koreksi kepada staf (waspada purbawisesa), dapat memilih prioriotas dengan tepat (ambeg parama arta) sabar dan sederhana dalam ikhtiar (prasaja), loyal kepada atasannya (satya), efektif dan efisien (gemi nastiti), serta rela dan berani mempertanggungjawabkan keputusannya (belaka). Sebelumnya ketika diakhiri pengabdiannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dia sudah legawa, rela dan ikhlas melepaskan jabatan. Dari nilai-nilai ini Anies klop dengan Doni Monardo.

Ketika Tuhan menebar ujian dan tantangan global, tantangan itu sekaligus menempa Anies sebagai pemimpin Abad ke 21, yang menurut pemikiran James Martin dari Oxford University, akan harus mengoreksi dampak pusaran global, seperti: membalik kemiskinan, memerangi wabah penyakit, menyelamatkan ekosistem, pengendalian stabilitas pertumbuhan penduduk - pemanfaatan struktur demografi, mengembangkan gaya hidup lestari - berkelanjutan, menghadapi globalisme secara efektif, pengembangan budaya kreatif, memperluas potensi manusia, singularitas, menghadapi risiko eksistensial, menjelajah transhumanisme, merencanakan peradaban lanjut selepas COVID 19 berlalu, dan menjembatani kesenjangan keterampilan (skill) dengan kearifan (wisdom).

Generasi millenial yang tangkas dan visioner, bisa berinteraksi dan menjadikan Anies sebagai row model dalam mengembangkan kreativitas, inovasi dan invensi, mentransfer kemajuan sains dan teknologi Barat dengan ruh kearifan dan kecerdasan lokal. Saya sudah tertinggal masa untuk belajar dari pengalaman Anies..| (stay at home, 13.04.20)

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
18 Mei 20, 05:16 WIB | Dilihat : 148
Anies Mendayung di Antara Kemanusiaan dan Keadilan
17 Mei 20, 05:33 WIB | Dilihat : 141
Realita Kepemimpinan Pandir
09 Mei 20, 08:35 WIB | Dilihat : 296
Jumhur Sebut Kartu Pra Kerja Skandal
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1193
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1584
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 775
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1196
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya