Kebenaran Sudah Mati

| dilihat 1236

SAYA tidak sedang menuliskan topik anyar. Topik ini sudah berlangsung dua tahun lalu, ketika kamus Oxford memasukkan satu kosakata baru sebagai istilah, ‘Post-truth.'

Ada yang memahami istilah itu sebagai ‘pasca kebenaran.’ Kata atau istilah ini masuk selepas berlangsungnya referendum tentang Brexit, keluarnya Inggris dari persekutuan Uni Eropa dan Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang memecah belah, menyeruaknya berita dan informasi wadul (hoax) yang dilahap begitu saja oleh media, kemudian disebarluaskan, dan disantap dengan sukacita oleh khalayak.

Tentang istilah ‘post truth’ itu sendiri, kamus Oxford mendefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan atau menunjukkan keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, daripada emosi dan ‘kepercayaan’ pribadi.

Amy Wang, dalam artikel opininya di The Washington Post (The Post) – 16/11/16, menemukan kalimat menarik untuk menggambarkan apa yang berlaku dan terjadi dalam era ‘Post Truth,’ yakni: Kebenaran sudah mati, fakta sudah berlalu.

Era ini adalah era yang melahirkan begitu banyak kaum (menurut istilah Geisz Chalifah) otak dikit, untuk mengganti istilah dungu dan pandir. Kaum yang karakternya sering disebut bebal atau bedegong (dalam bahasa Sunda). Kaum yang memproduksi wadul dan perwadulan, kaum yang selalu bersukacita menyantap perwadulan, sebagai bagian dari proses pembebalan khalayak yang dilakukan media (sengaja atau pura-pura tidak sengaja).

Yang paling anyar adalah berita yang ditulis dan disiarkan Asiasentinel yang ditulis sendiri oleh pemimpin redaksinya, John Berthelsen (10/9/18). Setelah SBY yang menjadi korban kewadulan meradang dan menuntut, media yang bernarkas di HongKong, itu buru-buru mencabut berita itu.

Lantas, 19 September 2019, menyatakan maaf, melalui rilis singkat yang dia publikasikan di laman berita utama. Dalam rilis permohonan maaf, itu Asiasentinel menyatakan, menarik beritanya tentang pemerintahan Yudhoyono dan kasus Bank Century di Indonesia.

Media itu kemudian menyebut, “Dalam berita yang ditulis sendiri oleh pemimpin redaksi Asia Sentinel, John Berthelsen, kami secara tidak adil menebar banyak tuduhan terkait dengan gugatan yang sedang berlangsung mengenai dampak dari Bank Century. Kami mengakui, bahwa kami tidak mencari komentar yang adil dari orang-orang yang disebutkan dalam artikel itu dan artikel (yang) hanya satu sisi itu, melanggar praktik jurnalistik yang adil. Ini berita utama yang juga tidak adil bagi mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan membuatnya meradang.”

Selanjutnya Asiasentinel meminta maaf sepenuhnya dan tegas kepada mantan Presiden Yudhoyono, Partai Demokrat, dan siapa saja yang dihina oleh artikel tersebut dan lebih dari itu kepada rakyat Indonesia atas penghinaan yang mungkin kami timbulkan dengan cerita itu.

“Kami sangat menyesal (atas) rasa sakit yang tediakibatkan oleh penghakiman dan ketidakkeadilan ini. Akhirnya Asia Sentinel ingin menyatakan rasa hormatnya yang tinggi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah melayani negaranya secara demokratis dan secara luas dihormati sebagai negarawan Asia.”

Ulasan di atas, soal perwadulan yang sengaja diproduksi dan dipublikasi oleh media dengan mengabaikan praktik jurnalistik yang berbeda, termasuk code of conduct yang mengikat profesi jurnalis.

Pilihan kata Wang, tepat : kebenaran sudah mati dan fakta sudah berlalu.

Bagaimana dengan kebohongan seorang Presiden?

Jennifer Rubin, penulis opini di The Post (7/5/18) menurunkan wawancara Jake Tapper – CNN dengan Senator Roy Blunt, yang sangat pro Trump. Blunt lebih banyak memainkan retorika dan berkelit menjawab substansi pertanyaan. Dia banyak berkilah. Begini cuplikan wawancara, itu :

JAKE TAPPER: Apakah Anda terganggu, ketika Presiden Trump tidak jujur? Apakah itu mengganggumu ketika dia mengatakan hal-hal yang jelas, kebohongan yang dapat dibuktikan kepada rakyat Amerika?

BLUNT: Anda tahu, dia berkomunikasi secara berbeda dari saya atau hampir dari semua orang lain…… Tapi saya pikir orang lebih peduli tentang ekonomi dan persiapan (memperluas) lapangan pekerjaan. Dan ada banyak peluang bagi setiap wartawan untuk mengajukan pertanyaan tentang Presiden Trump. Tidak ada yang melakukannya. Dan ...

TAPPER: Apakah itu masalah jika presiden Amerika Serikat berbohong kepada rakyat Amerika? Mayoritas rakyat Amerika tidak menganggapnya jujur ??dan dapat dipercaya. Itu masalah.

BLUNT: Nah, Anda tahu, bahwa persona Trump belum berubah sejak kampanye.

TAPPER: Apakah itu mengganggu Anda?

BLUNT: Ini akan mengganggu saya, jika kami tidak menyelesaikan pekerjaan.

Rubin menulis, pemeriksa fakta Washington Post telah mengidentifikasi lebih dari 3.000 kebohongan yang dikatakan Donald Trump, sejak dia menjadi presiden Amerika Serikat. Sekurang-kurangnya, Trump telah membuat hingga sembilan pernyataan palsu sehari.

Celakanya, pendukung fanatik Trump termasuk kalangan jurnalis, tak ada yang merasa buruk dan tak ada yang menegur idolahnya, bahkan sibuk menutupi kebohongan itu. Kenyataan ini berbeda, tulis Rubin, Ketika Presiden [Bill] Clinton berbohong kepada rakyat Amerika, banyak Republikan sangat marah tentang hal itu. “Demokrat berkata, yah, negara ini hebat, mari kita abaikan fakta bahwa dia berbohong.”

Rubin mengungkapkan, setelah 18 bulan Trump memerintah, pemerintah kita kurang manusiawi, kurang protektif terhadap norma demokrasi dan kurang jujur ??- oleh banyak hal.

“Kita seharusnya tidak membiarkan keturunan Trumpkins yang tak tahu malu ke dalam kemalasan moral menjadi biasa atau dapat diterima. Ujian tengah semester seharusnya tidak terutama tentang impeachment atau Rusia atau item kebijakan lainnya. Sebaliknya, rakyat Amerika akan melakukannya dengan baik untuk melihat Republik dan bertanya pada diri sendiri apakah mereka ingin dipimpin oleh orang-orang yang selalu membenci kebaikan dan kejujuran. Apakah ini Amerika yang benar-benar mereka inginkan?” tulis Rubin.

Pernyataan Rubin itu merefleksikan kegusaran akan matinya kebenaran dan terabaikannya fakta. Media mengabaikan fakta itu. Rubin menulis lebih lugas, “Kami mengakui semua politisi berbohong. Namun demikian, Donald Trump berada di kelas sendiri."

Ini kondisi terburuk sepanjang sejarah, di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, yang menurut Rubin, lebih banyak mempermainkan emosi dan kepercayaan pribadi orang perorang, yang berotak dikit.

Rubin menuliskan, di era politik pasca-kebenaran ini, siapa saja sangat mudah memilih data dan sampai pada kesimpulan apa pun yang Anda inginkan. Politik pasca-kebenaran (juga disebut politik pasca-faktual dan politik pasca-realitas) adalah budaya politik di mana perdebatan dikemas oleh ujaran yang membakar emosi, sehingga terputus dari perincian kebijakan yang dilakukan pemerintah.

Kebenaran dan fakta ditutupi oleh kebohongan oleh pernyataan yang berulang-ulang yang merupakan pembenaran atas kebohongan yang dilakukan Presiden, yang memperkuat kebohongan media. Dan hal ini dilakukan secara sistemik melalui pasukan saiber dan orang-orang yang memberi harga murah atas kreativitas mereka yang sesungguhnya mahal dan istimewa.

Matinya kebenaran dan terabaikannya fakta, tapi semua ini tampaknya tidak penting bagi mereka yang mendukungnya. "Tidak ada keraguan bahwa terjadi peregangan kebenaran empat-tahunan yang terjadi dalam kampanye kepresidenan, Trump telah membuat catatan untuk fabrikasi kebohongan yang dilakukannya," tulis Chris Cillizza beberapa hari menjelang pemungutan suara. | Delanova

Editor : Web Administrator | Sumber : The WashingtonPost dan Asiasentnel
 
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 407
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 677
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 511
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya
Budaya