Ke Jakarta Anwar Ibrahim Pelihara Ghirah Reformasi

| dilihat 2579

BARU beberapa hari keluar dari penjara Sungai Buluh dan dibebaskan tanpa sarat oleh Yang Dipertua Agong Malaysia ke XV, Mohamad V dari Negeri Kelantan, tokoh pembangkang Malaysia Anwar Ibrahim terbang ke Jakarta.

Ahad (20/5/18), Anwar yang juga Ketua Umum Parti Keadilan Rakyat (PKR) tiba di Jakarta dan melakukan kunjungan kepada bekas Presiden RI sekaligus sesepuh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) BJ Habibie.

Anwar yang didampingi Azmin Ali, Menteri Besar Selangor yang ditunjuk Perdana Menteri Hal Ehwal Perekonomian.

Anwar punya hubungan khusus dengan Indonesia, sejak masih memimpin Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM).  Pada masa itu, ABIM berhubungan erat dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Hubungan erat itulah yang menyebabkan terbentuknya Perhimpunan Mahasiswa Islam Asia Tenggara yang kemudian dipimpinnya.

Hubungan antar organisasi ini, membuat hubungan persaudaraan Anwar Ibrahim dengan tokoh-tokoh HMI, seperti Nurchalis Madjid, Ekky Syachruddin, Mar’ie Muhammad, Akbar Tandjung, Fahmi Idris, Adi Sasono, dan Amin Rais menjadi sedemikian erat.

Karena kiprahnya, Anwar Ibrahim ditarik oleh Tun Dr. Mahathir Mohamad menjadi anggota Partai UMNO (United Malay Nations Organization) dan otomatis menjadi salah satu penggerak koalisi permanen Barisan Nasional (BN).

Karir Anwar gemilang, sehingga menjabat sebagai Wakil Presiden UMNO dan Wakil Pengerusi BN, yang otomatis menjadi Timbalan (Wakil) Perdana Menteri, ketika Tun Dr. Mahathir menjabat Perdana Menteri ke 4 Malaysia.

Sebelum sampai ke puncak, sebagai Wakil Perdana Menteri, sebelumnya Anwar telah mengisi beberapa pos kementerian, termasuk Menteri Keuangan. Pada masa krisis 1986-1987, sebagai Menteri Keuangan, Anwar berbeda sikap dalam mengatasi krisis.

Anwar lebih cenderung memilih jalan mendekati IMF (International Monetery Fund) dan Mahathir bertahan dengan kemandirian tak mau mengikuti skema IMF. Ketika itu terkenal ucapan Tun Mahathir, “Rakyat Malaysia sedia miskin, daripada dijajah asing.”

Perseteruan Tun Mahathir dan Anwar pecah, sekembali Tun Mahathir kembali dari lawatannya di Jepang, dan mendapati konflik panas antara Anwar Ibrahim dengan Abdul Gafar Baba. Bersama ‘tiga budak Melayu.’ Anwar menguasai media (Utusan Melayu, New Straits Times, dan TV3), dan memperoleh pemberitaan yang membuatnya menjadi sangat populer.

Di era kepemimpinan Tun Mahathir – Anwar Ibrahim, Malaysia menemukan jalan perubahan dahsyat menjadi negara modern yang maju di Asia. Terutama, ketika keduanya berhasil memimpin perumusan Wawasan Malaysia 2020.

Selepas itu, Anwar Ibrahim dijebloskan ke penjara terkait kasus liwath (sodomi) selepas dipecat oleh Mahathir.

Ketika itu, Anwar sudah terpinspirasi dengan aksi reformasi yang terjadi di Jakarta. Anwar pun menyerukan gerakan reformasi, terutama setelah dia dan beberapa orang kanannya, seperti Ezam Mohd Noer, dan kawan-kawan mendirikan Parti Keadilan Rakyat (PKR), sebagai partai terbuka, lintas kaum dan agama.

Setelah berhasil menunjukkan eksistensi Malaysia sebagai negara bertumbuh di Asia, Tun Mahathir turun gelanggang dan meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri Malaysia, 2003, setelah memerintah selama 22 tahun.

Abdullah Badawi meneruskan kepemimpinan Tun Mahathir sampai 2009. Pada masa itu, Anwar Ibrahim dijebloskan kembali ke penjara. Kepemimpinan PKR ditangani oleh Wan Azizah Wan Ismail (isterinya) dan puterinya Nurul Izzah.

Partai itu beroleh kursi di parlemen, dan mencapai keberhasilan pada Pilihan Raya Umum (PRU) 12 dan berhasil merebut Negeri Selangor, sehingga berhak membentuk pemerintahan tempatan. Anwar keluar dari penjara dan mengikuti Pilihan Raya Kecil di daerahnya, Permatang Pauh dan menang.

Kemenangan ini memberinya tiket ke Parlemen. Wan Azizah mengundurkan diri dari posisinya dan menyerahkan kepemimpinan PKR kepada Anwar. Di bawah kepemimpinan Anwar Ibrahim inilah terbentuk Pakatan Rakyat, terdiri dari PKR, DAP pimpinan Lim Kit Siang, dan Partai Al-islam Se-Malaysia (PAS) pimpinan Hadi Awang.

Lima Negeri yang sebelumnya dikuasai UMNO/BN berhasil direbut oleh Pakatan Rakyat (Selangor, Perak, P. Pinang, Kelantan, dan Kedah). Anwar berusaha menggulingkan partai penguasa (BN/UMNO), tapi gagal. Anwar dijebloskan kembali ke penjara. PAS menarik diri dari Pakatan Rakyat dan berjalan sendiri.

Abdullah Badawi menyerahkan jabatan Perdana Menteri kepada Moh Najib Tun Razak, wakilnya, sejak 2008 dan berakhir 9 Mei 2018, ketika BN/UMNO dikalahkan oleh Pakatan Harapan (PKR, DAP, Amanah, dan Bersatu).

Sejak hampir dua tahun terakhir, meski dalam penjara, Anwar tetap menggerakkan orang-orangnya, antara lain dengan melakukan konsolidasi gerakan rakyat Bersih yang melakukan demonstrasi besar di Kuala Lumpur.

Tun Dr. Mahathir yang menjadi musuh utama Anwar, diterima masuk dalam Pakatan Harapan dan memimpin pakatan itu, selama Anwar di penjara. Atas permintaan resmi Tun Mahathir yang kembali menjadi Perdana Menteri ke 7, Anwar bebas tanpa syarat.

Kebebasan itu meluahkan lagi aksi reformasi Malaysia, yang terkesan disepakati Tun Mahathir. Dalam konteks memperingati Gerakan Reformasi di Indonesia itulah Anwar Ibrahim datang ke Jakarta, yang sedang demam dengan #2019GantiPresiden.

Anwar yang disiapkan akan menjadi Perdana Menteri Malaysia dua tahun ke depan, selepas Mahathir merampungkan konsolidasi perubahan Malaysia, sekaligus bermakna sebagai hubungan diplomasi kuat.

Anwar merasa berkepentingan datang ke Jakarta, karena di era kepemimpinan Habibie selepas Reformasi 1988, demokrasi Indonesia bertumbuh cepat dan mekar.

Anwar mengatakan kepada media di Jakarta, “Tanggal 21 Mei merupakan momentum penting bagi rakyat Indonesia yang berhasil menggulingkan rezim lama, dan dimulainya transisi kekuasaan disertai pembentukan lembaga-lembaga demokratis, yang dimulai pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.”

Anwar percaya, pertemuannya dengan Habibie akan meningkatkan hubungan antara kedua negara kami, dan akan memperkuat agenda Reformasi Malaysia.

Bagi Rakyat Malaysia, gerakan Reformasi dikenal sejak Anwar memekikkannya pada 2 September 1998 sebagai awal gerakan mengganti rezim Barisan Nasional, yang akhirnya berhasil dicapai pada 9 Mei 2018.

Anwar bertemu Habibie, di kediaman Habibie, Taman Patra – Kuningan. Dari banyak keputusan Habibie yang bisa dipelajari dan dicontoh oleh Anwar adalah menjamin kebebasan dan kemerdekaan pers, sebagai penggerak penting berlangsungnya demokrasi Indonesia.

Anwar juga mengunjungi Wakil Presiden Jusuf Kalla di kediamannya, Jalan Diponegoro - Jakarta Pusat. Di situ dia berdialog juga dengan Yusril Ihza Mahendra - Ketua Umum Partai Bulan Bintang yang konsisten memperjuangkan keislaman dan keindonesiaan dalam satu tarikan nafas. Anwar dan Yusril sesama pengagum Moch Natsir - yang pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia dan tokoh Masyumi. Anwar juga jumpa Said Aqil Siradj - Ketua Umum Lajnah Tanfidziah Nahdlatul Ulama, dan beberapa kalangan lainnya. | Jeehan

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
19 Jul 18, 02:01 WIB | Dilihat : 648
Karena Kita Adalah Rakyat
26 Jun 18, 08:14 WIB | Dilihat : 1157
Jadikan Suara Pemilih Pilkada Berarti
24 Jun 18, 00:18 WIB | Dilihat : 599
Pilih Yang Paling Siap Melayani Rakyat Jawa Barat
Selanjutnya
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 1455
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 616
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1042
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya