TIMUR TENGAH

Jendral Qassim Soleimani Tewas, Krisis Baru Dunia Dimulai

| dilihat 376

Mata dunia memandang ke Iran, sejak serangan Amerika Serikat ke Iran, menewaskan Jenderal Qaseem Soeimani, Sabtu: 3 Januari 2020.

Krisis Amerika Serikat versus Iran, pun bermula. Amerika memicu peristiwa yang diramalkan banyak pemerhati akan memngguncang dunia. Lantas, menimbulkan krisis baru yang bisa merebak ke krisis ekonomi.

Jean Pierre Filiu, spesialis sejarah Islam - Perancis, lewat kolomnya di Le Monde mengingatkan, Amerika Serikat pemicu utama krisis melalui Irak. Bahkan sejak Amerika Serikat menumbangkan Saddam Hussein, yang selama ini menjadi seteru utama Iran. Kedua negara bertetangga, tetapi berbeda paham keagamaan dan aliran politik, itu berperang sengit sepanjang 1980-1988.

Kebijakan Barack Obama, yang melepaskan Irak dari belenggu kekuasaan Amerika Serikat, menurut Filiu, menyuburkan milisi paramiliter pro-Iran dan melemahkan pertahanan Irak di Daesh untuk mendapatkan pengaruh lebih lanjut.

Sampai Jum'at, 2 Januari 2020, wilayah itu sepenuhnya dikuasai Iran, di bawah komando Jenderal Qassim Soleimani.

Serangan Amerika Serikat, yang ditengarai atas komando Presiden Donald Trumph, yang menewaskan Jenderal Soleimani, dapat dipastikan, segera menimbulkan instabilitas di kawasan Timur Tengah.

France24 mengulas, serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Irak, sudah berlangsung sejak musim gugur. Dan, Washington segera menunjuk jari ke milisi paramiliter pro-Iran. Tudingan itu terkait dengan kematian seorang warga negara Amerika Serikat, seorang pemimpin psebuah korporasi Amerika Serikat, pada 28 Desember 2019. Keesokan harinya, pasukan Amerika Serikat membalas dan menewaskan 25 pejuang kelompok bersenjata Irak, Hachd Al Chaabi, yang didukung oleh Hezbollah, dekat dengan Teheran.

Situasi memburuk dua hari kemudian, ketika para pendukung kelompok pro-Iran memaksa masuk ke kedutaan Amerika Serikat di Baghdad.

Amerika Serikat merespons dengan serangan drone yang ditargetkan  pada malam tahun baru (1 Januari 2020) dan keesokan harinya, di Baghdad.

Serangan itu, menghancurkan konvoi yang membawa jenderal Iran Qassem Soleimani, tokoh militer Republik Islam Iran, dari brigade Hachd Al Chaabi, Abou Mehdi al-Mouhandis.

Jenderal Soleiman, selama ini tak begitu menonjol. di dunia Barat, yang baru ngeh, ketika kematiannya pada 3 Januari 2020 resmi diumumkan.

Jenderal Qassim Soleimani adalah satu tokoh besar pemerintahan di Iran. Ia, komandan pasukan Qods dari Pengawal Revolusi, yang bertanggung jawab atas operasi eksternal Republik Islam Iran.

Pria berusia 62 tahun yang sangat mencintai ibu, isteri dan anak-anaknya, itu sosok militer paling populer di Iran. Dia diprediksi berpotensi sebagai calon pengganti Presiden Republik Islam Iran Hassan Rohani, dalam Pemilihan Umum mendatang.

Seorang analis CIA pernah mengungkap dalam laporan majalah "Time" (2017), untuk menggambarkan jenderal bermata elang ini, bayangkanlah sosok James Bond.

Amerika Serikat sudah lama mengincar jenderal 3 / Mengapa Amerika Serikat menargetkannya?

Amerika Serikat sudah lama mengincarnya, dan mempelajari sisik melik Jenderal Soleimani sebagai kepala operasi pasukan keamanan luar negeri. Termasuk meyakini, jenderal yang dicintai prajuritnya, ini adalah tokoh utama di baik serangan roket Iran atas pangkalan AS di Irak.  Analis militeri Amerika Serikat meyakini, serangan roket itu sebagai reaksi paling lantang merespon sanksi yang dijatuhkan Amerika Serikat kepada Iran.

Di Iran sendiri, serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bagdad, dipandang sebagai suatu keharusan, sebagai aksi melawan dominasi 'Setan Dunia' yang menghantui umat manusia dengan ketidak-adilan dan dominansi.

Intelijen Amerika Serikat sudah lama mengintai Jenderal Soleimani. Ketika terjadi puncak perang Irak, Presiden Amerika Serikat George Bush tidak menyetujui inisiatif agar pasukan Amerika Serikat menghabisi Jenderal Soleimani secara pribadi. Ketika Barack Obama memerintah, juga mempunyai pandangan yang sama dengan Bush.

Pandangan dan sikap Donald Trump berbeda. Presiden flamboyan, ini menilik di dalam diri Jenderal Qassem Soleimani memiliki darah Suriah, Irak, Yaman, Lebanon, dan di atas semua darah Amerika. Karenanya, harus dibunuh.

Trumph mengambil keputusan melebihi saran Pentagon yang membatasi serangan kepada Jenderal Soleimani, hanya sebatas menimbulkan efek jera. Bagi Donald Trump, "dia seharusnya dihilangkan bertahun-tahun yang lalu."

Keputusan Donald Trump populer ini, menimbulkan kritik yang riuh di luar dan di alam negaranya. Moskow menilai, Washington telah melintasi "platform" secara serampangan, yang akan meningkatkan ketegangan di kawasan itu, seperti tulis Le Echo.

Kematian Jenderal Qassim Soleiman diprakirakan, akan menimbulkan kekuatiran besar dunia diplomasi dunia terhadap kemungkinan meningkatnya kekerasan. Iran merespon lugas peristiwa itu dan berjanji untuk "membalas dendam." Antara lain dengan menanggalkan kepatuhannya terhadap perjanjian damai penggunaan senjata nuklir.

Istana Elysee mengindikasikan inisiatif Presiden Perancis, Emmanuel Macron yang diagendakan bertemu dengan Donald Trump. Kendati demikian, Macron menyatakan "keprihatinannya tentang destabilisasi sebagai akibat langsung serangan kepada pasukan Al Quds yang berada di bawah wewenang dan komando langsung Jenderal Qassem Soleimani."

Macron berseru, "Akhiri dan hentikan eskalasi militer apa pun yang kemungkinan akan menambah ketidakstabilan regional."

Semua kandidat presiden yang demokratis telah mengutuk keputusan Donald Trump untuk membunuh Soleimani.

"Tidak ada keraguan bahwa Soleimani adalah ancaman bagi keamanan kami dan bahwa ia merencanakan serangan terhadap Amerika dan sekutu kami, yang menewaskan ratusan orang. Tetapi pertanyaan serius tetap tentang bagaimana melanjutkan dan bagaimana kita siap menghadapi konsekuensinya, "kata kandidat Pete Buttigieg, yang berjuang di Afghanistan.

Donald Trump, dinilai Kongres Amerika Serikat, telah bertindak melampaui Kongres. Karena hanya memberi memberi tahu anggota parlemen pada hari Sabtu, sehari setelah serangan. Trumph lebih banyak  membela tindakannya dengan alasan "menanggapi ancaman".

Trumph juga akan menghadapi persoalan hukum di dalam negaranya. Keputusannya menyerang dan menewaskan Jenderal Qassim Soleimani, melanggar larangan pembunuhan atas sosok yang ditargetkan, seperti rekomendasi Pentagon.

Menurut radio NPR Amerika, kriteria tertentu menimbang dalam aturan ini: "Pasti ada bukti yang tak terbantahkan bahwa seseorang akan melancarkan serangan militer atau  aksi terori terhadap Anda".

Aturan hukum Amerika Serikat, memandu jalan, "pemerintah pertama-tama harus mencari tahu apakah ada cara lain untuk menangkap Soleimani, seperti penangkapan, dan kemudian menetapkan bahwa itu tidak mungkin." Kemudian, menggunakan kekuatan dalam alasan "kepentingan nasional," untuk menyerang Soleimani, agar serangan itu sah menurut hukum Amerika Serikat.

Donald Trumph, tak disangkal, sejak awal memang sudah menciptakan ketegangan baru Amerika Serikat versus Iran. Sejak awal, milyarder Partai Republik, ini sangat kritis terhadap kesepakatan nuklir Iran, yang berakhir pada 2015 di bawah kepresidenan Barack Obama,

Trumph menerapkan kembali sanksi Amerika terhadap Iran, khususnya dengan kembali memberlakukan embargo pada produk minyak bumi.

Sejak itu, kedua negara tidak pernah berhenti saling berhadapan di bidang diplomatik. Situasi memburuk dan tajam pada musim panas lalu, setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, titik persimpangan strategis di Teluk, oleh Gedung Putih, selalu dikaitkan dengan Iran.  

Amerika Serikat juga menuduh Republik Islam Iran berada di belakang serangan pesawat tak berawak terhadap instalasi minyak di Arab Saudi pada pertengahan September 2019, yang diklaim oleh pemberontak Yaman.  Serangan drone, itu menargetkan dua instalasi utama raksasa minyak Aramco dan menyebabkan krisis besar pada pasokan minyak mentah dunia.

Donald Trump kemudian berseru, bahwa dia sebagai Presiden Amerika Serikat, telah memerintahkan serangan terhadap Teheran pada saat terakhir. | Jeehan / Tique

Editor : Web Administrator | Sumber : France24, La Epos, berbagai sumber
 
Seni & Hiburan
10 Jan 20, 11:34 WIB | Dilihat : 370
Kesenian Menghaluskan Akal Budi
05 Jan 20, 00:26 WIB | Dilihat : 233
Mengenang Gugum Gumbira Sang Maestro dan Inspirator
03 Jan 20, 20:35 WIB | Dilihat : 150
Membuka Topeng Via Lenggok Kepayang Risyani
24 Nov 19, 14:03 WIB | Dilihat : 682
Puisi Novita dan Kefasihan Agustian Jelma Distraksi
Selanjutnya
Polhukam
20 Jan 20, 09:10 WIB | Dilihat : 121
Negara Tidak Punya Hak Menyadap Percakapan
09 Jan 20, 12:07 WIB | Dilihat : 169
Amerika Tak Mudah Prediksi Serangan Balik Iran
06 Jan 20, 09:03 WIB | Dilihat : 356
Kontroversi Mundurnya Menteri Pendidikan Malaysia
Selanjutnya