Jakarta Pantas Terima Penghargaan Kota Terbaik Dunia

| dilihat 1067

Catatan Bang Sém Haésy

Jakarta ditetapkan sebagai kota terbaik pertama di dunia dalam perbaikan sistem transportasi dan mobilitas kota. Predikat itu, seperti kata Gubernur Anies Baswedan, diperoleh pada ajang Sustainable Transport Award yang tahun (2019) ini diselenggarakan di Forteleza, Brazil.

Maknanya? Kata Anies, ini membuktikan kerja orang banyak yang berhasil membuktikan, bahwa (progres pemerintahan daerah) Jakarta diakui, sehingga mendapatkan pengakuan dari lembaga kredibel tingkat dunia. Bukan lewat banyak-banyakan voting di media sosial.

Jakarta berada dalam posisi tiga besar bersama Pune (India) dan Kigali (Rwanda), di ajang itu,  setelah sebelumnya masuk posisi 15 besar dari 200 kota besar dunia.

Yang menggembirakan dan membanggakan, ungkap Anies, Jakarta berhasil mengalahkan kota-kota dunia seperti Kingston (Kanada), Richmond (Amerika Serikat), Bogota (Kolombia), dan banyak lainnya.

Ajang penilaian Sustainable Transport Award (STA) merupakan ajang penghargaan tahunan yang menilai perbaikan mobilitas kota dan inovasi sistem transportasi.

Visi, konsep, dan eksekusi perbaikan yang dijalankan setiap kota dinilai oleh komite yang terdiri dari lembaga-lembaga global seperti Institute for Transportation and Development Policy (ITDP), Bank Dunia, International Council for Local Environmental Initiatives (ICLEI) dan lainnya.

Kata Anies, Jakarta, unggul atas konsep dan eksekusi integrasi antarmoda transportasi publik, peningkatan akses pejalan kaki menuju stasiun dan halte, serta keberhasilan meningkatkan jumlah penumpang TransJakarta sebanyak dua kali lipat dalam waktu dua tahun," ujarnya lagi.

Keberhasilan itu, masih ditambah dengan penilaian TomTom Traffic Index 2018, yang menilai Jakarta mengalami penurunan kemacetan terbesar dibanding 400 kota lain. Maknanya adalah, Jakarta sedang berada di jalur yang benar dan bisa berubah mengatasi tantangan kronis Ibukota. 

Pantaskah Jakarta menerima penghargaan itu? Tentu, pantas. Mengapa baru memperolehnya saat ini, ketika dipimpin Gubernur Anies Baswedan? Itulah kata kuncinya.

Sosok good-bener yang dinilai kaum otak dikit dengan julukan gabener, ini pinjam istilah Betawi, "bener-bener mimpin Jakarta dengan cara bener di jalan yang bener."

Di mana benarnya? Anies membawa Pemprov DKI Jakarta dan dirinya berjarak dengan masalah, tidak menjadi bagian dari masalah, dan tidak pula terperosok dalam jebakan masalah. Meski ada 'ranjau' hari kemarin yang terpasang, sebelum Gubernur DKI Jakarta sebelumnya ngelèos, dan ogah serah terima jabatan dengannya. Bak ayam keok tinggalkan gelanggang. Termasuk ranjau masalah yang terus terpelihara dan sulit diubah Anies, yakni moda transportasi busway yang diimpor modelnya dari Bogota, dan hanya cocok diterapkan di lintas utama jalur transportasi DKI Jakarta.

Jakarta pantas dan patut beroleh penghargaan itu, lantaran Gubernur dan seluruh pihak terkait dengan persoalan transportasi dan mobilitas punya titik mulai yang jelas dalam merumuskan policy design secara komprehensip, sesuai dengan titik jangkau visioneering-nya: Maju Kotanya, Bahagia Warganya.

Sejak kampanye Anies sudah menegaskan, persoalan utama Jakarta adalah keadilan sosial. Banjir, sampah, kemacetan dan sebagainya merupakan hilir dari persoalan utama di hulu itu. Kerangka kerja solusinya juga jelas, dengan simpul smart city.

Anies serta berbagai kalangan terkait dengan perbaikan transportasi dan mobilitas Jakarta, berhasil melihat dan memfungsikan sistem komunikasi dan jejaring sosial yang menyediakan prinsip-prinsip dasar smart city, penginderaan partisipatif, serta data lokasi di dalamnya.

Terutama, karena semut sistem komunikasi dan jejaring sosial sebagai instumen fundamental di era konseptual kini (selepas era informasi), menghasilkan sejumlah besar data mobilitas heterogen yang dapat digunakan untuk manajemen lalu lintas. Dengan begitu, Anies dan timnya dapat melihat dengan terang berbagai masalah. Lantas, menemukan berbagai jenis model dan algoritma lalu lintas terkait dengan sumber data yang berbeda. Termasuk beberapa fungsi kunci manajemen lalu lintas aktif, misalnya, prediksi dan kontrol jangka pendek.

Berbagai kebijakan dan aksi yang dilakukan Gubernur Anies Baswedan dan Pemprov DKI Jakarta nampak jelas berada di track yang benar, khasnya dalam ikhtiar penggunaan Sistem Manajemen Lalu Lintas Lanjut (ATMS). Sistem ini, kelak akan berpadupadan dengan Sistem Informasi Wisatawan Tingkat Lanjut (ATIS) untuk manajemen dan pengendalian arus lalu lintas yang efisien.

Tujuannya adalah terwujudnya peningkatan kualitas kinerja sistem lalu lintas secara keseluruhan, termasuk berbagai hal yang terkait dengan lingkungan hidup, seperti mengurangi emisi, kebisingan dan waktu perjalanan. Sistem ini yang pada fase awal sampai akhir menangkap kondisi lalu lintas, untuk dikendalikan dan dikelola dengan sistem manajemen yang pas. Kendati ada beberapa persoalan budaya, seperti kebiasaan khalayak dan sosial habitus  rural dan sub urban yang terbawa, sebagaimana terlihat di berbagai titik di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

Anies dan aparatusnya dapat lebih cepat melangkah menuju penerapan ATMS, sehingga mampu melihat dengan pendekatan helicopter view. Khasnya melihat dan menggunakan kecepatan, aliran, dan kepadatan pada segmen jalan tertentu. Tak terkecuali, panjang segmen yang bervariasi tergantung pada geometri jalan.

Anies Baswedan dan aparatur Pemprov DKI Jakarta, dengan ATMS dan sifat program aksinya yang menemukan solusi (daripada mencari-cari kesalahan) atas masalah, dapat memperkirakan kondisi lalu lintas, dan berbagai jenis model lalu lintas biasanya digunakan.

Dari berbagai policy design dan kebijakan yang dilakukan -- dan amat sedikit terungkap di media -- Anies dan Pemprov menyadari, bahwa model tidak dapat mencakup semua aspek dari sistem nyata. Karenanya, untuk mendapatkan representasi realitas yang baik, dalam aksi governansi yang dilakukannya, model harus dikombinasikan dengan data yang diukur dari kondisi lalu lintas, antara lain: penghitungan lalu lintas dan pengukuran kecepatan atau waktu tempuh.

Hal ini yang saya serap dan pahami, ketika Anies Baswedan bicara tentang integrated point antar moda dan jalur angkutan umum di beberapa titik, seperti CSW - Kebayoran Baru, Duku Atas, dan beberapa titik lain lagi di kemudian hari (Manggarai, Kota, Kampunng Rambutan, Cawang, Tanah Abang, dan Kelapa Gading).

Dari aksi governansi yang dilakukannya, akan dapat diprediksi, bahwa sistem (khasnya ATMS) akan mengandalkan pengukuran titik tetap (euler) dari loop detector dan radar. Sensor euler dapat mengumpulkan pengamatan terkait arus lalu lintas,  kecepatan, yang terkait dengan sentra-sentra hunian dan hubungannya dengan sentra-sentra khalayak (community center), meski pada pengalaman di berbagai kota di dunia (seperti Bogota), tidak sepenuhnya dapat memberikan pengukuran berbasis lintasan apapun -- berdasarkan pengukuran pengukuran lagrangian. Misalnya, pengamatan perjalanan langsung atau waktu perjalanan pada rute, yang dapat berkontribusi lebih jauh pada pemahaman perilaku dari arus lalu lintas.

Yang sangat bisa diharapkan adalah, kinerja dua tahun kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur, yang sejak 9 bulan lalu menjadi sosok single fighter, sistem yang dipergunakan -- yang terus diperbaiki sangat lambat sejak era Ali Sadikin -- telah menghasilkan sejumlah besar data lokasi ruang-waktu dari berbagai sistem, seperti jaringan seluler, jaringan sosial, dan penginderaan partisipatif.

Terbayang percepatan perbaikan sistem transportasi dan mobilitas di Jakarta, ketika sensor euler dikombinasikan dengan sensor lagrang yang tersedia di kendaraan yang terhubung, serta perangkat pengguna. Kemungkinan terbesarnya adalah pengamatan pola mobilitas skala besar akan berubah secara dramatis.

Sejumlah besar sensor lagrangian memungkinkan era baru pengindraan lalu lintas jalan, sehingga memungkinkan untuk secara langsung mengamati perjalanan untuk penetrasi yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Pengamatan ini memungkinkan pemahaman dan pengalaman dinamis baru tentang waktu perjalanan, waktu keberangkatan, mode dan pilihan rute, yang berhubungan dengan rencana perjalanan. Jika data terperinci tersedia, pola aktivitas pada tingkat individu juga dapat ditangkap.

Perubahan ke depan itulah yang akan menjadi perubahan budaya berdimensi peradaban baru bertransportai dan bermigrasi. Dari titik ini saja, Anies sudah membuktikan kepemimpinannya menerapkan prinsip pembangunan sebagai gerakan kebudayaan. Yang akan didapat adalah 5K : keamanan, kenyamanan, ketertiban, kesehatan, dan kreativitas sebagai bagian dari rute pencapaian realitas pertama kehidupan baru Jakarta, "maju kotanya, bahagia warganya."

pukul rebanè waktu rajaban

deketin kyai lamar anak gadisnyè

transportasi potrèt peradaban

macèt kotanyè, sengsarè rakyatnyè

 

Kebon Jeruk, Jakarta Barat, 060719

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 358
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 795
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1617
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2523
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
10 Sep 19, 14:32 WIB | Dilihat : 295
Atmosfir Pelayanan di Hutama Karya
08 Sep 19, 20:57 WIB | Dilihat : 153
Perkuat Nilai Tukar Rupiah, BI Akselerasi Pasar Keuangan
08 Sep 19, 19:47 WIB | Dilihat : 147
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat
Selanjutnya