Gagasan Anies di Forum Kota Dunia

Jakarta Bergerak Menuju Peradaban Baru

| dilihat 1161

Haedar

Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengajak seluruh pemimpin kota di dunia melihat ke depan. Anies mengingatkan, bagaimana para pemimpin kota untuk merespon perubahan dalam memandang tata ruang, menjadikan kota yang tangguh dan membangun kolaborasi sosial. Jakarta Bergerak menuju peradaban baru.

Hal itu dikemukakan Anies dalam konferensi internasional secara virtual betajuk "Cities Against Covid-19 Global Summit 2020," dengan tema besar "Together we Stand," yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2020 dan ditayangkan real time via YouTube.

Pertemuan Tingkat Tinggi Gubernur - Walikota yang diinisiasi oleh Walikota Seoul, Park Won-Soon itu melibatkan 40 gubernur dan walikota di seluruh dunia. Anies menjadi pembicara utama bersama Walikota London, Mr. Sadiq Khan; Gubernur Maryland, Mr. Larry Hogan; dan Walikota Moscow, Mr. Sergei Sobyanin. Dia beroleh kesempatan menjadi pembicara pertama.

Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 5 Juni 2020, itu jug membahas tentang 10 bidang, termasuk iklim & lingkungan dan budaya untuk era pasca Covid-19, dengan menggunakan metode komunikasi yang "tidak biasa." Di sesi lain, Jared Diamond, penulis "Failure State," dan "Guns, Germs and Steel" juga diundang menyampaikan berbagai pandangan dan pemikirannya.

Dipilihnya Anies sebagai pembicara utama dalam sesi dialog para pemimpin kota dunia, itu membanggakan. Tidak hanya karena keberadaannya menandai keberhasilan dia sebagai pemimpin dengan formula dan platform yang jelas dalam menghadapi serangan nanomonster yang banyak memakan korban mati, juga karena Anies dinilai mempunyai kapasitas yang pas untuk bicara tentang pergeseran paradigma dunia setelah Covid-19, sebagai salah satu indikator penting bagi dasar aliansi megacity melawan dunia sebagai deklarasi Seoul.

[ Artikel Terkait: Anies Mendayung di Antara Kemanusiaan dan Keadilan ]

Anies menjadi satu dari sekitar 120 orang, termasuk walikota kota-kota dari seluruh dunia dan para pakar di berbagai bidang akan bersatu untuk mencari cara melawan Covid-19 dan berbagi pengalaman dalam peristiwa bersejarah yang 'nyaris' tak akan berulang lagi.

Inisiatif Seoul itu sendiri merupakan upaya pertama di dunia menggelar konferensi global untuk membahas cara-cara menanggapi penyakit menular di semua bidang masyarakat dari perspektif kota.

Terutama, karena semakin banyak organisasi internasional dan kota-kota di dunia yang ingin belajar penanggulangan karantina Covid-19 Seoul dari beberapa kota terpilih sebagai pengetahuan. Apalagi forum internasional tersebut, telah memberikan semua informasi tentang tindakan penanggulangan Covid-19 yang sejauh ini telah diambil Seoul, Jakarta, London, Moskow, Maryland sejauh ini. Muaranya adalah mengambil langkah maju menuju pembangunan solidaritas global dan sistem kerja sama.

Tindak lanjut dari forum ini -- dan Deklarasi Seoul -- adalah terbukanya pembahasan kerjasama pembangunan berbagai proyekmasa depan, sekurang-kurangnya di sepuluh wilayah pada era pasca-Covid-19. Termasuk pembahasan tentang disinfeksi, kontrol iklim, lingkungan, budaya, transportasi umum, kota pintar (smartcity), dengan titik berat pada pendidikan jarak jauh, ketahanan perkotaan, keberlanjutan, dan tata kelola.

Dalam konteks itu, sinergi dan solidaritas antara kota-kota dunia (termasuk Jakarta), menjadi penting, seperti termaktub dalam "Proposal Seoul untuk Mengatasi Krisis Global di Era Pandemi." Para pemimpin kota sepakat mendirikan CAAP (the Cities Alliance Against Pandemic) yang akan menjadi organisasi internasional pertama kota-kota dunia yang menangani penyakit menular. Ini bertujuan untuk membuat solidaritas dan kerja sama antara kota-kota untuk secara preemptif merespons penyakit menular global dan menetapkan model yang dapat diterapkan untuk kota-kota di seluruh dunia.

"Deklarasi Seoul" sendiri mencakup peran seluruh kota yang berpartisipasi, dengan fokus pada pembentukan sistem pengenalan sebelumnya terhadap penyakit menular dan membuat kerja sama untuk respons preemptive; berbagi informasi dan melaksanakan upaya bersama untuk mengatasi penyakit; memasok sumber daya manusia dan material dengan cepat dalam krisis penyakit menular; bertukar modal manusia manusia (human capital) antar kota untuk membina para profesional yang tanggap terhadap penyakit menular; mendukung pergerakan bebas manusia dan barang antara kota dan kegiatan ekonomi untuk mengatasi kesulitan sosial dan ekonomi.

[ Artikel Terkait: Integritas dan Sikap Negarawan Anies Baswedan ]

Dalam pidatonya, Walikota Seoul, Park memperkenalkan "S-Karantina" dalam tiga hal, meliputi : kecepatan, transparansi, dan inovasi; kepemimpinan pemerintah kota sejalan dengan pemerintah pusat, dan kewarganegaraan tingkat tinggi yang mengikuti pedoman karantina, seperti menjaga jarak sosial dan memakai masker; dan  membuat solidaritas dan kerja sama komunitas internasional.

Gubernur Jakarta Anies Rasyid Baswedan tampil dengan bahasa Inggris yang fasih (dengan logika bahasanya) menyajikan pemikiran dengan performa budaya Indonesia yang cerdas sekaligus bijak, selepas moderator memberi pengantar singkat.

Moderator memberikan Anies kesempatan pertama, setelah mengemukakan, bahwa sampai bulan Mei 2020, Jakarta merupakan satu dari empat kota terbesar keempat di Asia Tenggara yang menghadapi masalah terberat menghadapi Covid-19. "Namun Jakarta berhasil mengubah keadaan, dengan jumlah kasus yang terus menurun," katanya.

Dengan rendah hati Anies mengemukakan, bahwa para pemimpin kota yang bicara di forum itu mempunyai pengalaman yang relatif sama, tetapi perlu melihat berbagai hal di balik aksi pandemik itu. "Selama enam bulan kita berjuang menyelamatkan warga kita, dan memastikan mereka dapat hidup normal kembali," ungkapnya, kalem.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengemukakan, "80 persen kasus yang dikonfirmasi datang dari Jakarta. Saya ingin mengambil peluang krisis ini untuk melakukan perubahan paradigma masa depan."

Tegas Anies menyatakan, masalah utama pandemik ini adalah krisis kesehatan (yang kemudian berdampak menjadi) krisis ekonomi. Di sisi lain adalah terobosan-terobosan dalam bidang digital dan lingkungan yang lebih asri.  Pandemik Covid-19 memberikan peluang-peluang baru. Anies mengatakan, bagi Jakarta, polusi merupakan salah satu tantangan. "Tapi, dalam tiga bulan terakhir kita mendapatkan langit yang biru kembali," katanya. Hal itu menyadarkan masyarakat, untuk bergerak untuk memiliki ekonomi berbasis lingkungan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Dia mengemukakan, "Kita mulai saling berbagi nilai-nilai yang baru tentang bagaimana mengelola kota." Ia menyebut amsal tentang Jakarta, dari sisi transportasi, dari car oriented development menjadi transit oriented development. Realitas dan reposisi ini yang mendorong dirinya dan Pemprov Jakarta membangun transportasi publik, stasiun-stasiun (kereta commuter) dan property di sekitarnya.

 

[ Artikel Terkait : Waja Sampai Kaputing dengan Ruh Kebangsaan Lawan COVID 19 dan Wujudkan MASPRO Jakarta ]

Anies menjelaskan arah pergerakan transformasi ke depan tentang digital oriented development, sebagai masa depan yang harus diantisipasi. Juga transformasi dari pembangunan monosentrik ke pembangunan polisentrik untuk kelak bergerak ke pembangunan mikrosentrik. Pun, demikian pula halnya dengan transformasi pelayanan, dari penyediaan layanan dasar yang kurang memenuhi (underprovided sevices) ke pelayanan yang sangat memenuhi (well provided) warga. Tapi, pada masa pandemik, yang diperlukan warga adalah layanan perkotaan yang tangguh (resilient services).

Dari pengalaman itu, menurut Anies, pengelolaan kota mesti dilihat jauh ke masa depan, yang sekaligus mengubah cara bagaimana memimpin kota. Khasnya untuk mengubah kota yang mampu merespon tantangan masa depan. "Kami mesti memberikan kembali apa yang telah diberikan Jakarta, kepada warganya," tegas Anies. Dia juga mengemukakan, KSBB (Kontribusi Sosial Berskala Besar) dari warga, menjadi ukuran bagaimana kita membangun solidaritas (sosial) di perkotaan.

Walikota London Khan mengatakan, "Walikota bukan tembok tetapi pembuat jembatan. Saya sangat setuju dengan memperkuat solidaritas global dan kerja sama antara kota-kota dunia yang ditekankan dalam Deklarasi Seoul."

Gubernur Hogan mengatakan Maryland saat ini fokus pada tindakan pencegahan preemptive dan aktif untuk memerangi Covid-19 dan menyatakan rasa terima kasihnya kepada Korea atas dukungan untuk pembelian 500.000 test kit mereka April lalu.

Walikota Moskow Sobyanin mengatakan, Moskow mengalami penyebaran virus corona lebih lambat dari kota-kota lain, sehingga kota itu dapat belajar dari kota-kota lain. "Rusia juga sedang bekerja keras untuk mengembangkan vaksin. Jika tes klinis berhasil, kita akan melihat beberapa hasil nyata di sekitar musim gugur ini," ungkap Sobyanin menambahkan.

Selain Gubernur Anies Baswedan dan tiga walikota dunia tersebut, dalam forum begengsei itu juga, para Walikota dari 14 kota termasuk Toronto, Delhi, Budapest, dan Hanoi, berbagi tentang upaya kota mereka dan setuju dengan kebutuhan untuk bertukar informasi antara kota-kota dan untuk memperkuat kerjasama internasional untuk mengatasi krisis pandemi ini. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1549
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1961
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1098
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 180
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 161
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 349
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya