Isyarat dari Cendana untuk Kader Partai Golkar

| dilihat 1401

JALAN Cendana kembali ‘berdenyut’ pada Sabtu (9/12) petang. Sejumlah sesepuh Partai Golkar nampak datang ke rumah nomor 8, rumah yang pernah menjadi pusat kendali kekuasaan di Republik Indonesia.

Itulah rumah kediaman Presiden Soeharto, yang berkuasa lebih tiuga dasawarsa, rumah yang sepanjang masa itu menjadi tempat para tokoh Golkar mengambil keputusan penting menggerakkan Golkar. Presiden Soeharto sendiri merupakan Ketua Dewan Pembina Golkar, yang menentukan kiprah Golkar dalam perpolitikan nasional.

Di rumah yang tak lagi nampak segagah dulu, namun masih menyisakan aura kekuasaan, itu terlihat Try Sutrisno – mantan Wakil Presiden, para mantan menteri Kabinet Pembangunan : Emil Salim, Subiakto Tjakrawerdaya, Haryono Suyono, Cosmas Batubara, Akbar Tanjung, Abdul Gafur dan Theo Sambuaga. Tampak juga Soelastomo. Mereka berbincang dengan Sitti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Siti Hediati Hariyadi (Titiek).

Menurut Akbar Tandjung, Tutut memberi isyarat, bahwa Titiek akan ambil bagian dalam kontestasi untuk menjadi Ketua Umum Partai Golkar, bila partai itu menggelar Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang diperkirakan akan berlangsung bulan Desember 2017.

Tutut memberikan dukungan kepada adiknya itu. Akbar Tandjung, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, memberi isyarat itu, dan akan mengikuti aturan yang berlaku di Partai berlambang Pohon Beringin yang sedang dirundung masalah, karena Setya Novanto, Ketua Umum-nya (kini mengundurkan diri) diciduk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) terkait kasus mega korupsi e-KTP yang menyeret banyak nama anggota parlemen dari berbagai partai.

Akbar Tandjung dan para sesepuh Golkar, itu agaknya sudah mafhum, mereka diundang Titiek ke Cendana untuk tujuan itu. Merebut kembali kepemimpinan partai, dan memulihkan kedigdayaan partai itu yang sejak reformasi dikalahkan pamornya oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pimpinan Megawati Soekarnoputra – puteri mendiang Presiden Soekarno.

Tanda-tanda Titiek akan bertandang dan bertanding di Munaslub Partai Golkar, itu sudah tampak gelagatnya beberapa hari terakhir, sejak sowan kepada Megawati Soekarnoputri bersama pengurus DPP FKPPI (Forum Komunikasi Putera Puteri ABRI). Kemudian, berfoto welfi dengan Presiden Joko Widodo dalam apel besar FKPPI se Indonesia, di Monas, pada Sabtu pagi.

Kesiapan Titiek Soeharto untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum Partai Golkar memang terlihat. Anggota DPR RI dari Partai Golkar, itu melakukan konsolidasi sejak badai menghempas partainya. Penuh keyakinan, Titiek mengatakan, bila kelak dia dipercaya, dia akan menggerakkan lagi roda Partai Golkar sampai ke lapisan akar rumput. Sekaligus menggerakkan seluruh keluarga besar Pak Harto.

Titiek sendiri mengemukakan, niatnya mengikuti kontestasi, itu merupakan langkah kongkret untuk mengembalikan Partai Golkar ke akarnya, dan keluarga Cendana tak kan pernah bisa dilepaskan kaitannya dengan kelahiran dan keberadaan partai itu, sejak terbentuknya Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) dan Tri Karya (Kosgoro, Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong – MKGR, dan SOKSI).

Titiek juga memberi isyarat, senang, tidak senang, di bawah itu rakyat masih menginginkan Golkar kembali ke akarnya. Kembali ke akarnya, menurut Titiek, adalah berarti kembali ke Cendana. Dia mengungkapkan tekad, bila memperoleh kepercayaan memimpin partai yang sudah terburai, tapi masih merupakan satu-satunya partai yang pernah dikelola dengan manajemen yang solid, itu dia dan keluarga Cendana akan turun membantu kampanye, keliling daerah, dan bisa membangun kembali kecintaan rakyat pada Golkar. Selanjutnya adalah mewujudkan cita-cita dan tujuan didirikan dan dibangunnya partai ini, pada paruh kedua dekade 60-an.

Titiek mengemukakan, untuk mengembalikan Partai Golkar ke akarnya, dia dan saudaranya, Tutut memandang sangat penting keterlibatan para sesepuh yang sejak awal menjadi bagian dari kelahiran dan pergerakan Golkar. Dia merasa bahagia, para sesepuh sesepuh mau memberi nasihat. Karenanya, seperti ungkap Akbar Tandjung, Tutut akan menjadikan rumah mantan Presiden Soeharto itu menjadi tempat untuk bertemu.

Di rumah Jalan Cendana yang diniatkan Titiek akan menjadi museum, itu para sesepuh dengan Titiek dan Tutut saling berbagi pemikiran untuk memberikan solusi atas persoalan yang terjadi di tubuh Partai Golkar.

Janda Prabowo Subianto itu sejak Pilpres 2014 lalu menjadi bintang di lingkungan Partai Golkar. Dan kini, dengan isyarat gamblang dari Cendana, ia ingin lebih total berpartisipasi memajukan Golkar. Kendati demikian, Titiek juga bersikap realistis, dia masih akan melihat sejauhmana i masyarakat apakah ingin Golkar kembali ke akarnya.

Dengan isyarat yang dikirim dari Jalan Cendana, itu kini sudah dua nama yang mengemuka dan siap berkontestasi memperebutkan posisi Ketua Umum DPP Partai Golkar, yaitu Airlangga Hartarto – Menteri Perindustrian, yang juga putera Almarhum Hartarto – Menteri Perindustrian dalam kabinet Presiden Soeharto – dan Titiek Soeharto.

Sejak dihempas badai Reformasi, Golkar memang sempat oleng dan nyaris porak peranda. Ketika badai sedang sangat kuat menghempas, antara lain dengan gerakan pembubaran Golkar, tampil Akbar Tandjung memimpin partai itu.

Dengan semangat “Mari Bung Rebut Kembali,” Akbar Tandjung – mantan Ketua Umum PB HMI yang mewakafkan dirinya mengabdi kepada bangsa melalui Partai Golkar – berhasil menyelamatkan partai Orde Baru itu, dan tetap mampu memainkan perannya dalam dinamika kebangsaan.

Belakangan, Partai Golkar menampakkan lagi giginya ketika HM Jusuf Kalla menjabat Wakil Presiden (2004-2009) dan berhasil merebut posisi Ketua Umum DPP Partai Golkar. Namun, ketercerai-beraian kader Partai Golkar tak dapat dihindari. Beberapa kader partai ini menyeberang ke PDIP dan mempunyai posisi penting, seperti Tjahjo Kumolo – yang kini Menteri Dalam Negeri.

Beberapa kader Golkar dari poros Cendana, masing-masing Prabowo Subianto keluar dan mendirikan Partai Gerindra, yang kini menjadi partai oposan. Wiranto mendirikan Partai Hanura, dan mengantarkan kembali dirinya ke posisi sebagai Menko Polhukam dalam Kabinet Joko Widodo. Ketika Munas Partai Golkar berlangsung di Pekanbaru – Riau dan memilih Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum, rivalnya – Surya Paloh mendirikan Partai Nasdem.

Partai ini kemudian pecah, ketika terjadi Munas Bali yang memilih kembali Aburizal Bakrie dan Munas Ancol yang memilih Agung Laksono sebagai Ketua Umum. Lalu, Munaslub, memilih Setya Novanto sebagai Ketua Umum dan menghantarkannya menjadi Ketua DPR RI. Karena kasus ‘Papa Minta Saham,’ Setya Novanto mengundurkan diri dari posisi Ketua DPR RI. Tapi, lewat Munas di Bali Setya Novanto kembali terpilih sebagai Ketua Umum dan kontan menyatakan dukungan kepada Joko Widodo untuk Pilpres 2019 mendatang.

Setya Novanto kembali menjabat Ketua DPR RI menggantikan Ade Komaruddin, yang sebelumnya menggantikan posisi yang ditinggalkannya. Kemudian, KPK menetapkannya sebagai tersangka. Lewat gugatan Pra Peradilan, Setya Novanto sempat melenggang bebas. Tapi, belakangan KPK mencokoknya, kembali menetapkan dia sebagai tersangka, dan kali ini menjebloskannya ke dalam sel tahanan KPK.

Inilah kemudian yang menyebkan Partai Golkar kembali bergaduh dan terombang-ambing. Dalam kondisi demikian, suara mendesak Munaslub dan memecat Setya Novanto makin nyaring. Airlangga Hartarto, yang sempat menjadi kandidat Ketua Umum Partai Golkar di Munas Bali, didorong oleh sebagian besar kader pendukungnya untuk kembali maju dan ambil bagian dalam kontestasi. Kini, Titiek Soeharto mengibarkan bendera.

Boleh jadi akan ada nama lain yang akan ikut dalam kontestasi itu, seperti Syahrul Yasin Limpo dari Sulawesi Selatan. Meski tak terdengar suaranya, tak mustahil juga akan ada yang menyuarakan nama Sri Sultan Hamengkubuwono X. Semua kemungkinan itu bisa terjadi di Partai Golkar, yang terbiasa dengan pragmatisme politik paling praktis, termasuk politik transaksional.

Apalagi, sudah bisa diterka, keputusan mencalonkan Joko Widodo sebagai calon Presiden dalam Pemilihan Presiden 2019 tak akan berubah. Artinya, tak mustahil, bila Ketua Umum Partai Golkar mendatang bakal diplot sebagai Calon Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo. Karenanya, bila takdir menentukan, tak mustahil Titiek Soeharto, bakal memenangkan kontestasi itu.

Bila lulusan Fakultas Ekonomi – Universitas Indonesia, itu yang kelak menjadi Ketua Umum Partai Golkar, kisah politik Indonesia masa depan tentu akan beda. Karena bisa jadi, Prabowo Subianto akan memainkan peran sebagai King Maker, seperti halnya Megawati Soekarnoputri sekarang (baca juga Titiek Soeharto: "Presidennya Perlu Ibu Negara Nggak?).

Isyarat dari Cendana untuk Partai Golkar, akan sangat luas implikasinya, meski belum tentu: suara rakyat adalah suara Golkar. Terutama karena kepemimpinan Partai Golkar di bawah Setya Novanto, telah mencederai suara rakyat itu.. | Bang Sem

 

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 129
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 148
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 09:08 WIB | Dilihat : 104
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 102
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya
Energi & Tambang