KEPEMIMPINAN

Integritas dan Sikap Negarawan Anies Baswedan

| dilihat 303

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Ketika kita surplus petinggi, tapi sedikit elite; surplus guru besar, tapi sedikit intelektual; surplus pemuka agama, tapi sedikit ulama - wiseman; surplus pejabat, tapi sedikit pemimpin; surplus influencer, tapi sangat sedikit komunikator, saya masih tetap optimistis.

Kecemasan saya tentang masa depan, melihat bagaimana para petinggi  menghadapi krisis kesehatan yang dipicu oleh serangan COVID-19 berkurang dan berubah menjadi harapan. Terutama, di antara yang sedikit, itu kita masih punya Gubernur Jakarta, Anies Rasyid Baswedan yang konsisten dan konsekuen dengan sikapnya untuk selalu mendahulukan rakyat. Orientasinya jelas: keadilan dan kesejahteraan rakyat.

Appeal dan instruksi Anies kepada kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jakarta (Jum'at, 29/5/20) yang juga dihadiri Wakil Gubernur A. Riza Patria, jelas dan gamblang.

Anies menggunakan bahasa terang dalam menjelaskan kondisi obyektif yang sedang dihadapi pemerintah Provinsi Jakarta. Tanpa basa-basi, Anies secara terbuka menyampaikan penurunan pendapatan Pemerintah Provinsi Jakarta, sampai kurang lebih 50 persen, yang berpengaruh langsung terhadap komposisi anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Anies tak hanya mengingatkan para ASN di lingkungan Pemprov Jakarta pesan dalam lambang 'Abdi Negara' yang melekat di seragam bagian dada sebelah kiri yang mengandung makna "civil servant dan civic mission," pelayanan kepada rakyat sebagai bagian dari misi negara. Tegas dia mengatakan, lambang itu merupakan isyarat bagi setiap aparatur sipil negara untuk menunjukkan sikap sebagai pelayan rakyat.

Optimisme saya menguat, ketika dia mengatakan, "Tugas kita adalah melindungi rakyat. Keselamatan rakyat adalah prioritas nomor satu. Dalam kondisi apapun, sikap kita harus jelas: menomorsatukan rakyat daripada diri sendiri.

Pernyataan ini relevan dengan apa yang pernah saya kemukakan, bahwa sebagai pemimpin, Anies membangun kesadaran kolektif di lingkungan pemerintah Provinsi Jakarta yang dipimpinnya untuk bersama warga melawan COVID-19.

Antusiasme kesadarannya dalam memimpin 'perang terhadap rebakkan virus yang lantas dinyatakan sebagai pandemi global oleh organisasi kesehatan dunia - WHO (World Health Organization), adalah antusiasme berjuang, karena menyadari ancaman yang ditimbulkan virus ini adalah ancaman kemanusiaan.

Terbayangkan, kesadaran kolektif rakyat -- khasnya di Jakarta -- akan terbangun dan terus memelihara optimisme  dan keyakinan besar, kita mampu mengatasi tantangan petaka ini. Terutama, bila seluruh ASN di Pemprov Jakarta, sungguh memahami dan mewujudkan pesan Anies. (Baca: Anies Mendayung di Antara Kemanusiaan dan Keadilan).

"Tunjukkan di depan keluarga, di depan warga, di depan kolega: dalam kondisi penuh cobaan seperti ini ASN DKI tangguh. Kita ditakdirkan untuk menjadi angkatan yang berjuang menghadapi wabah dan semua dampaknya. Jalani tanggung jawab sejarah ini dengan rasa bangga, dengan penuh semangat, dengan penuh rasa tanggung-jawab."

Demikian juga halnya dengan perintah dia selaku pemimpin,  “Segeralah bergerak di bidang masing-masing untuk mengembalikan kondisi kesejahteraan rakyat. Itu fokus kita, itu tanggung-jawab kita. Itu sejarah yang kita torehkan untuk Ibukota dan inilah sikap Pemprov DKI Jakarta!”

Pernyataan kepemimpinan Anies, itu relevan dengan fungsi Jakarta sebagai (masih) Ibukota Republik Indonesia sekaligus Ibukota ASEAN. Tidak salah, bila salah seorang mantan Duta Besar salah satu negara ASEAN (yang tak mau namanya disebut) menilai Anies adalah sosok pemimpin masa depan ASEAN.

Dalam suatu percakapan, mantan Duta Besar itu mengatakan, pada diri Anies mengalir responsibilitas seorang intelektual religius, berkualitas sebagai pemimpin sekaligus negarawan untuk mendahulukan rakyat, mengutamakan keadilan dan kesejahteraan.  Kapasitas dan kompetensi Anies yang berlatar keilmuan sosial ekonomi, sejak kecil ditempa dalam lingkungan keluarga intelektual pejuang, mantan aktivis mahasiswa yang peduli kepada rakyat, memungkinkan dia mempunyai daya empati, simpati, apresiasi, respek dan cinta kepada rakyatnya.

Di mata saya, Anies bukan pemburu jabatan, sehingga tak punya beban dalam memanifestasikan prinsip kepemimpinan (populis modes) dan tidak terjebak oleh kerumitan petinggi (beurocratique modes). Karenanya, dia paham dan tahu betul menempatkan prioritas (walaupun tidak mudah) sesuai dengan kapasitas kewenangannya.

Sejak menghadapi ancaman COVID-19, saya melihat, Anies konsisten berfikir tentang tantangan yang dihadapi (dan karenanya concern dengan data, sekaligus tidak menyembunyikan informasi real), peluang mengatasi masalah (dengan parameter aksi yang jelas), dia juga berani membedah kelemahan obyektif organisasi dan aparaturnya, sehingga mampu merumuskan, kekuatan apa yang diperlukan untuk mengatasi krisis kesehatan (yang kemudian disusul krisis sosial ekonomi).

Kesemua itu tampak dengan jelas dengan reposisi minda yang ditempuhnya dari program centric ke people centric, sehingga desain kebijakan dan eksekusi kebijakan -- yang ditempuh melalui koordinasi ketat -- jelas alurnya: program follow people. Bukan sebaliknya.

Kemampuan kepemimpinan ini, yang membuat Anies nampak selalu segar menghadapi persoalan yang rumit ini. Pijakan pertimbangan kebijakan Anies selalu pemimpin, juga jelas: peoples order, regulasi, dan konstitusi. Anies memimpin dengan integritas.

Secara teoritis, integritas dalam pemimpin mengacu pada amanah (dapat dipercaya dan jujur), shiddiq (bertegak di atas kebenaran), fathanah (cerdas dan dapat diandalkan), tabligh (komunikatif).  Pemimpin dengan integritas akan selalu bertindak sesuai dengan kata-katanya (satunya kata dengan perbuatan), atau  mempraktekkan apa yang mereka kemukakan, berani mengakui kesalahan atau kekeliruan dan mengambil alih tanggungjawab, bila terdapat kesalahan dalam tim. Dan, cepat memperbaiki. Tidak 'melempar kambing,' tidak menimpakan kesalahan kepada tim atau staf.

Selain itu, yang juga penting dalam pengamatan saya, adalah selaku pemimpin, Anies tidak pernah lari dari visi yang mesti dia capai, dengan melaksanakan seluruh misi (termasuk dalam konteks akselerasi visi) yang telah diformalkan dalam bentuk Peraturan Daerah.

Anies, seperti nama tengahnya (rasyid) menunjukkan keseimbangan antara kemanusiaan dan keadilan di satu sisi, kearifan dan ketegasan di sisi lain. Di situ integritas kepemimpinannya tertampak.

Kata Dwigh D. Eisenhower (Presiden Amerika Serikat kle 34 - 1953 - 1961), "Kualitas tertinggi kepemimpinan adalah integritas yang tidak diragukan lagi."  

Dengan integritas, itu Anies memberikan harapan, mewujudkan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Juga melibatkan banyak kalangan (antara lain via KSBB - kontribusi sosial berskala besar) bergerak mengikuti kebijakan, menggunakan waktu dan sumber daya pemerintahan daerah-nya dengan tepat, menghormati kolega, cepat merespon laporan langsung dan tidak langsung. Selebihnya adalah perilakunya yang berakhlak, yang mencerminkan reputasinya, sekaligus reputasi reputasi organisasi pemerintahannya.

Itu sebabnya, tidak keliru, survey belum lama berselang yang menempatkan Anies pada posisi pertama kepuasan dan kepercayaan dalam persepsi khalayak dalam mengatasi masalah COVID-19.

Meski terkesan tak pernah memberi 'ruang bernafas' kepadanya, kita berharap, sebagai pemimpin, Anies mengembangkan terus reputasinya. Memberikan way (cara) yang memang diperlukan rakyat, dan bukan alasan (reason) atas suatu kebijakan yang ditempuhnya. Apalagi intuitive reason. Anies menegaskan dan menawarkan visi, bukan fantacy trap (jebakan fantasi), ketika banyak petinggi sibuk bermain-main dengan fantasi dan citra yang hanya akan berujung pada kesan, kitsch leadership.

Saya percaya, reputasi kepemimpinan cucu pahlawan - pejuang nasional AR Baswedan, ini terus mengembangkan reputasinya, untuk menyelamatkan rakyat, dalam peranmg besar melawan nanomonster COVID-19 dan berbagai dampak krisis yang menyertainya.

Saya optimistis, reputasi kepemimpinan di lingkungan Pemprov Jakarta akan terus lebih baik, ketika Wakil Gubernur A. Riza Patria, seperti yang pernah dikemukakannya, memainkan peran proporsional sebagai sesungguh wakil, melangkah seirama dengan Anies sebagai Gubernur. Tentu dengan kualitas integritas yang sama, meski kompetensi dan kapasitasnya bisa saja berbeda. Khasnya, dalam mewujudkan kepemimpinan yang selalu bertindak secara bertanggung jawab, penuh hormat, dan etis.

Akan halnya konsistensi (sikap istiqamah), sebagai cara mewujudkan integritas, tentu tak bisa dilepaskan dengan nilai budaya yang telah disepakati. Termasuk menahan dengan standar moral yang tinggi. Karena pemimpin dengan integritas melakukan apa yang benar secara moral dan etis dan menghindari praktik-praktik yang mudah dipertanyakan. Antara lain, misalnya, pertimbangan konsekuensi potensial pada pemerintahan dan masyarakat dalam mengambil keputusan.

Tentu saja, bertindak dengan integritas juga mencakup kesungguhan bekerja dengan rajin, teliti, tepat, menerima amanah (tanggung jawab) dan bersikap jujur ??dan terbuka kepada staf dan rakyat. Keterbukaan dalam pengertian kejelasan (transparancy) yang wajar (fairness) dalam melaksanakan tanggungjawab (responsibility), kebertanggungjawaban (accountability), dan kemandirian (independency) yang menjadi anasir penting tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).

Secara spiritual, saya memandang, agaknya, dalam konteks menunjukkan keteladanan kepemimpinan berintegritas inilah, Allah Subhanahu wa Ta'ala, al Malik - Penguasa Tunggal Tertinggi atas semesta, mentakdirkan Anies memimpin Jakarta pada periode yang amat berat -- tetapi bernilai historis dalam sejarah kemanusiaan dan kebangsaan ini. Sekaligus mentakdirkan Riza sebagai wakilnya. | #stayathome #jakarta #1juni2020.

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Mei 20, 04:13 WIB | Dilihat : 306
Al Quran Petunjuk Hadapi Krisis
16 Apr 20, 19:11 WIB | Dilihat : 315
Transformasi Digital Total Pertamina
15 Apr 20, 08:14 WIB | Dilihat : 278
Bank Indonesia Longgarkan Kebijakan Kartu Kredit
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1092
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1930
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1616
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya